YTD Chapter 22

Featured Image

Begitu kata-kata ini terucap, wajah Sun Tiantian langsung memerah, dia mengangkat kapanya dan matanya mengerjap sambil menatap lekat pada Shen Nianshen. Mata gelap itu sama-sama mulai membawa sedikit harapan.

Shen Nianshen yang tiba-tiba mendengar kata-kata Sun Tiantian ini, tubuhnya tanpa sadar menjadi kaku, menatap gadis itu dengan dalam. 

Dua pasang mata itu saling bertemu, keduanya berdiri dengan tenang seperti itu. Angin malam bertiup di sisi telinga mereka, untuk sesaat tidak ada seorang pun yang bicara.

Para pasangan di sekeliling mereka berjalan ke sana dan kemari, hanya mereka berdua yang berdiri di tempat tanpa bergerak. 

Entah waktu sudah berlalu berapa lama, Sun Tiantian melihat Shen Nianshen terus diam dan tidak ada pergerakan lain, tidak bisa menahan diri untuk tertawa mengejek. Matanya berkilauan saat menatap Shen Nianshen dan berkata dengan pelan, “Kamu tidak bisa, ya? Aku juga tidak bisa.”

Tatapan Shen Nianshen jatuh di bibir Sun Tiantian, bibir yang berwarna merah muda dan lembut itu, membawa godaan yang tak dapat dijelaskan. Tenggorokannya tanpa sadar bergerak sedikit dan berbisik, “Aku bisa mencobanya.”

Jantung Sun Tiantian bergetar, sebuah perasaan bahagia yang luar biasa besar tiba-tiba memnugi hatinya, disertai dengan perasaan gugup yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. 

Shen Nianshen tiba-tiba menyentuh wajah Sun Tiantian, menundukkan kepala dan bibirnya perlahan mendekati gadis itu.

Jantung Sun Tiantian berdegup kencang, matanya menatap lekat pada Shen NIanshen dan dia begitu gugup hingga bibirnya sedikit bergetar.

Kedua bibir itu semakin mendekat, begitu dekatnya hingga dapat merasakan napas satu sama lainnya. 

Sun TIantian begitu gugup hingga tubuhnya menegang, menatap bibir Shen Nianshen yang sepertinya sudah hampir menempel dengan bibirnya sendiri. Hatinya sedikit berdesir, tanpa sadar mulai memejamkan mata.

Shen Nianshen juga tidak lebih baik daripada Sun Tiantian, dia juga gugup. Begitu gugupnya sampai tanpa sadar menahan napasnya.

Seperti reka film dalam adegan lambat, bibir itu terus mendekati bibir Sun Tiantian dan akan menempel pada bibir Sun TIantian. 

Tetapi, tepat ketika bibirnya sudah hampir mencium bibir Sun TIantian, di dalam otaknya tiba-tiba terdengar suara yang sangat ribut: Anak haram, dia anak haram! Kami tidak mau main dengannya, mamanya mencuri orang lain. Papanya juga tidak menginginkan dia lagi!

Tubuh Shen Nianshen bergetar, wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Dalam gerakan refleks dia langsung melepaskan Sun TIantian.

Sun Tiantian tertegun, tiba-tiba membuka matanya, “Shen Nianshen…”

Shen Nianshen melepaskan Sun Tiantian, bahkan tubuhnya melangkah mundur satu langkah.

Dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tatapan matanya begitu dalam saat menatap Sun Tiantian. Dalam hatinya tiba-tiba muncul sebuah perasaan putus asa yang tak dapat dikatakan pada orang lain. 

Bagaimana dia bisa lupa, dia bahkan berani…

Tampak seperti ada kekuatan besar di dalam hatinya yang menarik dirinya, yang tidak membiarkan dirinya untuk mengotori Sun Tiantian.

Sun Tiantian tidak tahu apa yang tiba-tiba terjadi pada Shen Nianshen, tetapi melihat raut wajahnya yang tidak beres, dia maju satu langkah dan tanpa sadar menyentuh pergelangan tangannya. Menatapnya dengan cemas, “Shen Nianshen, kamu kenapa?”

Shen Nianshen menatap gadis itu, tenggorokannya tiba-tiba luar biasa sakit. Terdiam cukup lama hingga akhirnya berkata dengan suara serak, “Sun Tiantian, aku benar-benar tidak sebaik yang ada di dalam pikiranmu.”

Sun Tiantian, “Aku tahu. Semua orang punya kekurangan, aku juga memiliki sangat banyak kekurangan.”

Berbicara dan dia kembali tersenyum kembali, memeluk lengan Shen Nianshen dan menyandarkan kepalanya di pundaknya, “Di dalam hatiku, kamu adalah yang terbaik.”

TIba-tiba mengangkat kepalanya dan melengkungkan matanya pada Shen Nianshen, “Kamu tahu tidak apa saja kekurangan yang aku miliki?”

Shen Nianshen tertegun, menggelengkan kepalanya.

Sun Tiantian menyeringai, “Kekuranganku sangat banyak. Matematikaku tidak bagus, Bahasa Inggrisku juga tidak bagus, aku tidak terlalu bisa mengerjakan PR, juga tidak bisa masak. Hmm, selain itu…”

“Ini semua bukan kekurangan,” Shen Nianshen memotong ucapannya. 

Sun Tiantian mengerjapkan matanya, “Tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tidak termasuk kekurangan?”

Shen Nianshen menggelengkan kepalanya, “Kamu tidak perlu melakukannya.”

Sun TIantian langsung tersenyum, “Lalu kalau nanti kita sampai menikah, kamu yang mengerjakan pekerjaan rumah?”

Hati Shen Nianshen tanpa diduga bergetar, tatapannya menatap lekat pada Sun Tiantian. Setelah cukup lama, dia bertanya dengan suara rendah, “Kamu mau menikah denganku?”

Sun Tiantian tersenyum dan mengangguk, “Aku mau.”

Lalu dia menoleh dan bertanya lagi, “Kamu mau menikahi aku?”

Shen Nianshen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Aku mau.”

Setelah hidup selama 20 tahun, ini pertama kalinya dia begitu ingin memiliki seseorang. Jelas-jelas tahu tidak pantas untuknya, tapi masih tidak bisa menahan diri untuk berharap. 

Sun Tiantian mendengar ini, begitu senang hingga tak bisa menahan diri untuk menghambur ke dalam pelukan Shen Nianshen. Kedua tangannya memeluk leher lelaki itu dan tersenyum padanya, “Kalau begitu, jika ke depannya aku tidak bisa melakukan pekerjaan rumah. Kamu tidak boleh protes padaku, ya.”

Shen Nianshen mengangguk, “Iya.”

Sun Tiantian tak bisa menahan diri untuk tersenyum, “Kenapa kamu selalu menjawab iya akan semua hal.”

Shen Nianshen menatapnya dan terdiam sesaat sebelum tiba-tiba berkata, “Sun Tiantian, aku akan memperlakukanmu dengan baik.”

Ekspresi Shen Nianshen luar biasa serius dan tulus, seperti sedang membuat sebuah ikrar yang sangat serius.

Sun Tiantian tiba-tiba merasa tergerak dalam hatinya, dia sebenarnya tidak pernah menyangka Shen Nianshan akan begitu serius terhadapnya. 

Begitu melihat Shen Nianshen begitu serius, hatinya tidak bisa tidak merasa terharu. Senyum di wajahnya perlahan memudar, juga menjadi serius. Menatap Shen Nianshen sebentar dan tiba-tiba memanggilnya dengan lembut, “Shen Nianshen.”

“Hmm.”

Sun Tiantian tiba-tiba berjinjit dan menempelkan bibirnya dengan lembut pada bibir Shen Nianshen. 

Saat kedua bibir itu saling menempel, terasa sebuah kelembutan. 

Tubuh Shen Nianshen sedikit kaku, untuk sesaat benaknya menjadi kosong dan lupa harus bagaimana bereaksi. 

Sun Tiantian sebenarnya seorang gadis, sedikit banyak memiliki rasa malu. Dia hanya menempelkannya untuk sesaat dan langsung melepaskannya. 

Dia mundur satu langkah dan langsung mendongak, tersenyum dan menatap ke arah Shen Nianshen.

Shen Nianshen menatapnya, tertegun beberapa saat. Suaranya rendah dan sedikit serak, “Apa yang kamu lakukan?”

Sun Tiantian, “Menciummu.”

Shen Nianshen, “…”

Shen Nianshen tiba-tiba sedikit merasa ingin menangis dan maju selangkah dan mengulurkan tangan untuk membelai kepala Sun Tiantian dan berkata, “Ayo jalan, kuantar kamu pulang ke asrama.”

“Hmm.” Sun Tiantian memeluk lengan Shen Nianshen dengan senang, mereka berdua berjalan berdampingan, begitu mesra berjalan meninggalkan lapangan olahraga. 

Saat Shen Nianshen mengantar Sun TIantian kembali ke asrama, waktu tepat menunjukkan pukul 9:30 malam.

Pada jam ini, ada banyak anak gadis yang baru kembali dari luar. Shen Nianshen bertubuh tinggi, juga sangat tampan. Dia berdiri di depan asrama perempuan, sangat menarik perhatian.

Ketika para gadis melewatinya, satu per satu tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang beberapa kali dan melihatnya. 

Sun Tiantian tak henti-hentinya menatap para gadis yang menoleh pada Shen Nianshen, memiliki perasaan bahwa pacarnya sendiri terlalu menggoda bagi orang lain. Rasa pelit dalam hatinya mulai muncul, dia langsung menarik Shen Nianshen ke sisi yang lebih gelap dan bersembunyi di belakang pohon besar. 

Shen Nianshen kebingungan, “Ada apa?”

Sun Tiantian mendengus kesal, “Mereka semua terus menatapmu!”

“Siapa?”

“Para gadis itu!” Sun Tiantian mengatupkan bibirnya dengan erat, terlihat sangat marah. 

Shen Nianshen mulai mengerti dan tertawa geli, “Sun Tiantian, kenapa kamu begitu cemburuan?”

Sun Tiantian yang pelit mulai meledak, luar biasa tidak masuk akal berkata sambil mengangkat kepalanya, “Aku memang cemburuan, tidak mengizinkanmu melihat orang lain!”

Shen Nianshen merasa dituduh, “Kapan aku melihat orang lain?”

Sun Tiantian mendengus, “Bagus kalau tidak lihat, aku orangnya pelit.”

Shen Nianshen mengangkat tangan untuk menggosok pelipisnya, merasa tak berdaya, “Hmm, terlihat sangat jelas.”

“Sudah, sudah. Kamu cepat pulang saja. Aku juga mau pulang,” Sun Tiantian marah dengan cepat namun juga reda dengan cepat. Dia mendorong tubuh Shen Nianshen, membiarkannya pulang untuk istirahat. 

Shen Nianshen mengiyakan, “Kalau begitu aku pulang dulu. Kamu istirahat lebih awal.”

Terdiam sebentar, dia bertanya lagi, “Besok siang kamu ada kelas?”

Sun Tiantian, “Jam ke-1 dan 2 tidak ada, jam ke-3 dan 4 ada, kelasnya di studio.”

Shen Nianshen berkata, “Kebetulan aku tidak ada kelas di jam ke-4. Kalau begitu aku akan datang lebih awal untuk menjemputmu.”

Sun TIantian tersenyum senang, “Oke.”

“Pulanglah.”

“Hmm.”

Sun Tiantian yang tidak punya kelas dalam 2 jam pertama, tidur di asrama sampai jam 10 baru bangun. Kemudian dia dengan linglung pergi bersama dengan Cheng Duo ke studio untuk kelas jam ke-3 dan 4. 

Ketika tiba di studio, baru saja duduk di mejanya sendiri, ada seorang wanita yang berbalik ke arahnya dan berkata dengan semangat, “Xi Xi, kalian tahu tidak? Shen Nianshen sudah punya pacar!”

Sun Tiantian tiba-tiba tersedak dan terbatuk dengan canggung.

Cheng Duo melirik Sun TIantian, ekspresinya terlihat ingin melihat kehebohan dan bertanya dengan sengaja, “Yang benar saja? Kalian kok bisa tahu?”

Tang Wan bergosip dan berkata, “Kalian tidak mendengarnya? Kemarin malam ada orang yang melihat Shen Nianshen di lapangan olahraga. Dia bersama dengan seorang gadis, mereka berdua berciuman!”

“Berciuman ya—” Cheng Duo sengaja menyeret cara bicaranya, menepuk pundak Sun Tiantian dan bibirnya tersenyum dengan senyuman menggoda, “Tiantian, apa kamu mendengar soal ini?”

Wajah Sun Tiantian sedikit memerah, menyingkirkan tangan Cheng Duo dan memelototinya diam-diam.

Tang Wan menumpukan dagu di kedua tangannya, matanya menatap ke langit-langit ruangan. Wajah itu terlihat sangat iri, “Entah kenapa gadis itu bisa begitu beruntung. Apa mungkin pada kehidupan sebelumnya dia pernah menyelamatkan galaksi bimasakti? Dia bisa berpacaran dengan Shen Nianshen, masih bisa berciuman dengannya! Ah, bagaimana ya teknik berciumannya? Tapi, berciuman dengan pria tampan seperti itu, rasanya pasti luar biasa, kan?”

Sun Tiantian, “…”

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.