YTD Chapter 16

Featured Image

Sun Tiantian yang dipegang seperti itu oleh Shen Nianshen, merasa terkejut setengah mati.

Dia menatapnya sebentar dan bertanya, “Membicarakan apa?”

Shen Nianshen berkata: “Pindah tempat, di sini bukan tempat untuk berbicara.”

Sun Tiantian menatapnya dan mengatupkan bibirnya, dalam hatinya berpikir, orang ini aneh sekali. Dulu menyuruhnya untuk jangan mengganggu, sekrang tiba-tiba berinisiatif untuk mencarinya.

Dia ragu-ragu sebentar dan menggunakan kembali kata-kata yang pernah diucapkan oleh Shen Nianshen untuk membalasnya, “Cepatlah kalau ada yang perlu dibicarakan. Aku sangat sibuk, tidak punya waktu untuk menemanimu main.”

Shen Nianshen tersedak sebentar dan mengangguk, “Oke.”

Sun Tiantian mengikuti Shen Nianshen meninggalkan lapangan basket, Shen Nianshen berkata, “Apa perlu ke kedai kopi?”

“Tidak usah, ke ruang terbuka di Gedung Pengajaran 7 saja. Tempat kami biasa main roller skate.”

Gedung pengajaran 7 tidak terlalu jauh dari lapangan basket, hanya perlu beberapa menit untuk sampai ke sana.

Shen Nianshen mengiyakan dan pergi bersama dengan Sun Tiantian.

Sun Tiantian duduk di bawah pohon beringin, mendongak untuk menatap Shen Nianshen, “Katakan saja jika ada yang ingin dikatakan.”

Sikap Sun Tiantian benar-benar berbeda dengan gadis yang dulu selalu tersenyum manis sepanjang hari.

Shen Nianshen mengerutkan keningnya, entah mengapa tiba-tiba di pikirannya muncul sebuah pepatah: Tidak dapat menghindari kesalahan yang telah dibuat sendiri.

DIam-diam dia menghela napas dan duduk di samping Sun Tiantian.

Sun Tiantian menggeser duduknya lebih ke samping.

Shen Nianshen: “…Apa yang kamu lakukan?”

Sun Tiantian mengangkat dagunya dan menatap ruang terbuka di depannya. Nada suaranya menusuk, “Aku harus menjaga jarak darimu, jangan sampai kamu bilang aku mengganggumu.”

Shen Nianshen: “…”

Gadis ini begitu pendendam?

Shen Nianshen tidak berbicara cukup lama, Sun Tiantian menoleh menatapnya, “Kamu sebenarnya ingin membicarakan apa? Jika tidak mengatakannya lagi, aku pergi saja.”

Membicarakan apa?

Sebenarnya, Shen Nianshen sendiri juga tidak tahu mau membicarakan apa. Tadi saat dia melihat Sun Tiantian dan Xie Xun berdiri begitu dekat, hatinya tiba-tiba gelisah.

Dia juga teringat ketika Xu Li mengatakan bahwa Xie Xun sedang mengejar Sun Tiantian. Dia takut jika dia masih tidak melakukan sesuatu, nanti dia akan benar-benar menyesal.

Jadi, saat Sun Tiantian lewat di sampingnya, dia tidak bisa menahan diri untuk segera menarik tangannya.

Awalnya dia berpikir bahwa dia bisa menghentikan kekacauan. Lagipula dia tidak pernah berpikiran untuk pacaran, dan sama sekali tidak pernah berpikir ingin bersama dengan gadis mana pun.

Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan gadis seperti ini, yang senyumannya tanpa sadar masuk ke dalam hatinya.

Selama setengah bulan ini, tidak satu detik pun Shen Nianshen berhenti memikirkan gadis ini.

Jadi, dia sudah menyerah.

Setelah keheningan sejenak, dia berkata, “Sun Tiantian, ayo kita coba jalani.”

Sebuah kalimat yang membuat hati Sun Tiantian bergetar tak terkendali.

Dia memalingkan wajahnya dan menatap Shen Nianshen dengan terkejut. “Kamu… bukankah kamu membenciku?”

Shen Nianshen: “Kapan aku bilang membencimu?”

Sun Tiantian berkata, “Setengah bulan yang lalu, di depan gerbang sekolah. Kamu menyuruhku menyerah saja, bilang kamu sangat sibuk, tidak punya waktu menemaniku main.”

Sun Tiantian sampai sekarang masih marah jika teringat kata-kata itu, tatapan Shen Nianshen saat menatapnya hari itu, seperti sangat membenci dan kesal padanya.

Tatapan kesalnya itu yang pada akhirnya mengalahkan tekad Sun Tiantian.

Dia mengakui bahwa terkadang dia memang tidak punya malu, berpikiran sederhana, tetapi dia juga punya harga diri dan punya batas.

Karena Shen Nianshen begitu membencinya, dia pergi saja.

Setengah bulan lalu, pada malam itu, Shen Nianshen memang sangat kesal. Tetapi, dia bukan kesal pada Sun Tiantian. Dia kesal pada dirinya sendiri.

Saat di gang hari itu, setiap kata yang diucapkan oleh Lin Li, bagaikan sebilah pisau yang menusuk dalam hatinya.

Dia dan Sun Tiantian memang dua orang dari dunia yang berbeda, dia ingin bersama dengannya, tapi juga takut.

Takut jika Sun Tiantian telah bersamanya, akan menyadari bahwa dia sebenarnya tidak sebaik yang ada dalam pikiran gadis itu. Takut Sun Tiantian akan menyesal, membencinya karena dia membosankan.

Dia kira, jika telah memutuskan hubungan dengan gadis itu, maka dia akan dapat melepaskan semuanya. Siapa sangka, Shen Nianshen sudah terbiasa melihatnya tiap hari. Melihat senyumnya yang bagai sinar matahari dan matanya yang melengkung sipit saat tersenyum.

Sun Tiantian yang tiba-tiba menghilang, bagaikan sinar matahari yang ikut hilang dari dalam hidupnya. Memikirkannya saja dia tidak tahan.

Tetapi, Shen Nianshen tidak tahu bagaimana menjelaskan kejadian tadi malam. Dia tidak ingin Sun Tiantian melihat sisi dirinya yang picik dan rendah.

Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya dia berbicara lagi, “Sun Tiantian, aku belum pernah pacaran, juga belum pernah berpikiran untuk bersama dengan gadis mana pun. Tetapi, aku akan berusaha keras untuk bersikap baik terhadapmu. Memberikan semua yang bisa kuberikan padamu, tidak membuatmu merasa sedih, dan tidak akan membiarkanmu mendapatkan kesulitan.”

Dia menatap Sun Tiantian dan mata itu menunjukkan keseriusan yang belum pernah ada sebelumnya.

Sun Tiantian agak bingung, apakah ini termasuk sedang… menyatakan cinta?

Shen Nianshen menyatakan cinta padanya? Apakah dia bermimpi?

Kejutan datang dengan terlalu tiba-tiba, sehingga agak sulit untuk beradaptasi.

Sun Tiantian menatap dingin pada Shen Nianshen cukup lama, bicaranya agak gagap, “Itu… kamu menyukaiku? ”

Shen Nianshen mengangguk, “Iya, suka.”

Sun Tiantian tiba-tiba merasa sangat bahagia, rasanya dia sudah tidak dapat menahan dirinya sendiri.

Tepat ketika dia sudah menyerah secara total, orang yang dia sukai ternyata mengatakan bahwa sebenarnya dia juga menyukainya?

Sun Tiantian merasa dirinya seperti sedang bermimpi, Tanpa sadar dia mencubit telapak tangannya sendiri, perasaan sakit sedikit itu membuatnya sedikit tersadar.

Hatinya sangat senang, tetapi wajahnya tenang dan suaranya dingin, “Kamu bilang kita coba terus kita langsung mencobanya? Shen Nianshen, aku ini manusia, bukan bola. Kamu suruh aku menjauh, kamu tinggal menendangku jauh-jauh. Sekarang kamu menyesal, kamu kembali untuk mencariku dan bilang ingin mencobanya. Kenapa aku harus menerimamu?”

Tubuh Shen Nianshen menegang.

Cukup lama, dia memikirkan dalam hatinya dan tersenyum. Apa haknya menyuruh orang pergi dan kembali seenaknya?

Setelah keheningan sesaat, dia menatap Sun Tiantian dengan dalam dan berkata, “Aku akan mengejarmu.”

Sun Tiantian tertegun, “Apa?”

Shen Nianshen berkata: “Aku akan mengerjarmu, bagaimana? Mengejarmu sampai kamu mau padaku.”

Sun Tiantian membeku sambil menatapnya dan tidak berbicara.

Ketika dia keluar rumah hari ini, harusnya dia melihat kalender dulu. Apakah ini adalah hari baik yang hanya terjadi satu kali dalam ratusan tahun?

Shen Nianshen bukan hanya menyatakan perasaannya, dia masih bilang akan mengejarnya?!

Sun Tiantian benar-benar merasa dirinya seperti sedang bermimpi, dalam hatinya ada suara lain yang terus berteriak, “Terima dia, terima dia!” Di sisi lain masih ada suara yang membujuk dengan sekuat tenaga, “Tenang, tenang!”

Dia duduk di sana tanpa bergerak, setelah cukup lama dia baru merasa tenang. Dia menatap Shen Nianshen dan mendengus, “Tentu harus melihat kinerjamu juga.”

Sekali lagi Shen Nianshen merasakan apa yang namanya tidak dapat menghindari kesalahan yang telah diperbuat, dia mengangguk, “Iya.”

Kemudian dia bertanya, “Malam ini kamu ada waktu?”

Sun Tiantian, “Kamu mau apa?”

Shen Nianshen, “Mengajakmu makan, boleh?”

Sun Tiantian sangat senang dalam lubuk hatinya, tetapi dia berpura-pura tenang dan berkata, “Aku ada janji dengan teman sekamarku nanti malam. lain kali saja.”

Shen Nianshen: “…”

“….Oke.”

Sun Tiantian sebenarnya sangat emosional sampai dia sudah hampir gila, tidak sabar untuk segera mencari temen sekamarnya dan menceritakan tentang Shen Nianshen yang akan mengejar dirinya.

Dia bangkit berdiri dari kursi batu dan berkata pada Shen Nianshen, “Aku kembali ke lapangan basket dulu, teman sekamarku sudah menunggu untuk makan bersama.”

Shen Nianshen juga ikut berdiri dan berkata, “Aku akan mengantarmu.”

Sun Tiantian tidak menolak, menatapnya sekilas dan melangkah maju.

Shen Nianshen mengikutinya dan berjalan beiringan dengannya.

“Sabtu ini kamu ada waktu?” Shen Nianshen tiba-tiba bertanya.

Sun Tiantian berkata, “Sabtu ini? Tidak ada waktu, ada kemping bersama dengan anggota klub roller skate. Sabtu dan minggu ini kita akan pergi ke gunung.”

Shen Nianshen: “…”

Gedung Pengajaran 7 sangat dekat dengan lapangan basket, beberapa menit saja sudah sampai.

Teman sekamar Sun Tiantian sedang menunggunya di sisi jalan. Ketika Sun Tiantian melihat mereka, dia segera meninggalkan Shen Nianshen dan berlari ke arah mereka..

Cheng Duo berbisik: “Bagaimana? Apa yang kalian bicarakan?”

Sun Tiantian diam-diam mengedipkan mata padanya, mengisyaratkan bahwa sebaiknya nanti saja baru dibahasnya.

Dia menoleh dan berkata pada Shen Nianshen, “Kami pergi dulu.”

Shen Nianshen mengangguk dan berkata, “Nanti malam aku akan mengirimimu pesan.”

Ketika kata-kata ini keluar, teman di sekitar Shen Nianshen dan Sun Tiantian, semuanya tertegun.

Shen Nianshen yang begitu dingin, ternyata bisa berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepada seorang gadis!

Sun Tiantian dalam hatinya sangat senang, tapi dia tidak menunjukkannya. Dia mengiyakan dengan datar sambil menarik teman-temannya berjalan ke arah gerbang sekolah.

Begitu mereka sampai di restoran hotpot, tiga orang temannya segera mengelilingi Sun Tiantian, “Katakan! Sebenarnya apa yang terjadi?! Shen Nianshen mengajakmu bicara tentang apa?!”

Sun Tiantian bersandar di atas meja, bersandar pada tangannya dan tersenyum manis, “Shen Nianshen menyatakan cinta padaku.”

Begitu Sun Tiantian mengatakannya, kamar itu berubah menjadi hening.

Gadis-gadis itu membelalakkan mata, seakan mendengarkan sebuah hal yang sulit dipercaya.

Cheng Duo Yang pertama kali bereaksi, “Tuhanku, yang benar saja? Shen Nianshen menyatakan cinta padamu??”

Kedengarannya kenapa begitu mustahil??

Sun Tiantian tersenyum, “Aku sendiri saja merasa mustahil, tapi ini sungguhan. Dia sudah mengaku kalau dia menyukaiku.”

Xie Yan berjalan mondar-mandir di dalam kamar, menyentuh dagunya dan wajahnya seakan sangat mengerti, “Ini namanya pria! Pada awalnya, dia begitu sombong. Setelah setengah bulan tidak mempedulikannya, dia akhirnya sadar bahwa kamu itu penting.”

Sun Tiantian mengangguk dan setuju.

Cheng Duo menarik kursi dan duduk di samping Sun Tiantian, “Kamu tidak begitu cepat menyetujuinya kan?”

“Tentu saja tidak!” Sun Tiantian menambahkan, “dia menyuruhku pergi dan kembali seenaknya, aku tidak selemah itu.”

Cheng Duo tertawa dan sangat tidak percaya pada pengendalian diri Sun Tiantian, “Lihat saja berapa lama kamu dapat bertahan.”

Sun Tiantian melotot, “Kalian jangan tidak percaya padaku, kali ini aku sangat keras hati.”

Xie Yan tertawa dan duduk di seberangnya, “Mari kita tebak berapa lama Tiantian dapat menahan dirinya. Kalau menurutku, paling lama satu minggu.”

He Miao berkata, “Kurasa juga sama, paling lama lagi juga dua minggu. Tiantian begitu menyukai Shen Nianshen.”

Sun Tiantian hampir muntah darah, “Tolonglah, bisa tidak kalian sedikit mempercayaiku?”

Cheng Duo tertawa, GIliranku, menurutku paling lama tiga hari. Kalau orang lain masih mungkin. Tolong deh, ini Shen NIanshen lho. Gantengnya itu sampai di luar batas nalar. Paling dia membujukmu beberapa kali saja, kamu pasti sudah bertekuk lutut padanya. Percaya tidak?”

Sun Tiantian memegang teguh pendiriannya, “Mana mungkin begitu cepat!”

Cheng Duo tertawa dan berkata, “Kalau begitu kita bertaruh, yang kalah traktir makan?”

“Traktir ya traktir! Mau makan apa, silakan kalian pilih.”


Di sisi lain, Shen Nianshen dan Xu Li kembali ke asrama setelah makan. Xu Li mendengar Shen Nianshen berkata bahwa dia akan mengejar Sun Tiantian, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya sampai tubuhnya gemetaran, “Ini namanya apa?! Ketika TIantian mengejarmu, kamu begitu sombong dan keras kepala. Balas dendam kan ini? Aduh lucu sekali!”

Shen Nianshen: “…”

“Ah, tapi tak kusangka ternyata Tiantian orangnya cukup pendendam.”

Shen Nianshen duduk di meja belajarnya, sedang menerjemahkan sebuah dokumen di depan komputer dan bertanya dengan santai, “Tiantian bilang, klub roller skate sabtu ini mau pergi kemping.”

“Oh, Tiantian? Panggilannya sudah berubah? Dulu bukannya kamu selalu memanggilnya Sun Tiantian?” Xu Li terlalu senang untuk menggodanya, kembali tertawa terbahak-bahak.

Shen Nianshen mengerutkan kening dan akhirnya memandangnya ke arahnya, “Sudah tidak ingin lulus ujian akhir?”

Xu Li biasanya tidak terlalu mendengarkan penjelasan dosen. Setiap ujian akhir dia bergantung pada Shen Nianshen untuk memberikan kisi-kisi padanya. Ini adalah titik kelemahannya, jadi dia langsung berkata, “Jangan, jangan, jangan! Dewaku, aku sudah salah! Aku salah! Kalau aku menertawakanmu lagi, aku adalah seekor babi! Aku bersumpah!”

Shen Nianshen meliriknya sekilas dan bertanya lagi, “Banyak yang ikut kemping?”

“Banyak, klub kami ada 18 orang. Ditambah dengan teman sekamar Tiantian, 3 orang. Eh, masih ada Xie Xun dan beberapa teman sekamarnya.”

Mendengarkan ini, Shen Nianshen langsung mengerutkan alis, “Xie Xun, untuk apa dia ikut?”

Sejak tahu bahwa Xie Xun sedang mengejar Tiantian, nama ini bagi Shen Nianshen bagaikan sebuah b*m.

Sun Tiantian pergi kemping, untuk apa dia ikut pergi?

Xu Li, “Omong kosong, dia sedang mengejar Tiantian. Tiantian pergi kemping, tentu saja dia akan ikut.”

Shen Nianshen: “…”

Xu Li menatapnya, “Bagaimana? Akhirnya bisa merasakan tekanan dari musuh ya?”

Shen Nianshen: “…”

Melihat ekspresi Shen Nianshen yang sedang kesal, entah kenapa tapi Xu Li sangat ingin tertawa dan bertanya, “Kemping Hari Sabtu ini, perlu tidak aku menyisakan satu tempat untukmu?”

Shen Nianshen kesal, “Nggak penting!”

Xu Li tampak seperti terkejut, “Bukankah biasanya kamu tidak ikut serta dalam kegiatan membosankan semacam ini? Kenapa? Takut calon istri direbut orang lain?”

Shen Nianshen: “Xu Li, kulitmu sudah gatal ya?”

Xu Li, “…”


Di malam hari, Sun Tiantian berbaring di atas ranjang. Dia sangat bersemangat sampai tidak bisa tidur.

Dia sedang menunggu pesan dari Shen Nianshen, dan setelah menunggu cukup lama hasilnya nihil. Dalam hatinya dia memberikan review untuk kinerja hari pertama Shen Nianshen: Hmmph! Setengah bintang dan tidak bisa lebih lagi!

Menunggu hingga pukul 10.30 malam, saking kesalnya dia sudah hampir mematikan ponselnya. Baru saja dia akan menekan tombol power, telepon dari Shen Nianshen masuk.

Sun Tiantian masih mengira dia akan mengirimkan pesan WeChat, ternyata dia langsung menelepon.

Dia menatap ID penelepon cukup lama, berpikir ingin mengangkatnya setelah berdering lebih lama lagi. Jika tidak, akan terlihat seperti sedang menunggu telepon darinya.

Menunggu, menunggu, dan menunggu. Dalam hatinya diam-diam menghitung, hingga bunyi dering terakhir telepon, dia pun mengangkatnya.

Meletakkan ponsel di samping telinganya, terdengar suara Shen Nianshen yang sangat lembut dari seberang sana, “Sudah tidur?”

Sun Tiantian mengiyakan, “Sudah bersiap untuk tidur.”

Dalam hatinya berpikir, bukannya mau mengirimkan pesan? Ternyata sampai sekarang baru meneleponnya.

Baru saja memikirkannya, suara Shen Nianshen kembali terdengar, “Aku mengirimkan pesan WeChat, tapi sepertinya kamu sudah menghapus kontakku.”

Sun Tiantian: “…”

Shen Nianshen, “Aku juga sudah mengirimi pesan teks, tetapi kamu tidak membalasnya. Apa kamu lupa mengeluarkanku dari daftar blokir?”

Sun Tiantian: “…”

YTD Chapter 15 [2]
YTD Chapter 17

One thought on “YTD Chapter 16”

Leave a Reply

Your email address will not be published.