Chapter 21

Featured Image

Chapter ini diterjemahkan oleh Kak Nadita (LatifunKanurilkomari)

Editor: Kak June | Proofreader: Kak Glenn

.

.

Qiao JingJing merasa jengkel di dalam hatinya, tapi dirinya tahu bahwa dia tidak marah.

Hanya saja dia tidak mau mengakuinya.

Yu Tu berdiri. Setelah beberap saat pria itu berujar dengan suara yang sedikit serak, “Kamu tidak membalasku di WeChat, jadi aku sengaja datang untuk bertanya apa kamu masih membutuhkanku untuk mengajarimu?”

Qiao JingJing menggigit bibirnya dan mengalihkan tatapannya ke samping, “Aku juga sudah mengatakan hal yang tidak sopan pada hari itu. Tolong aku untuk menyampaikan permohonan maafku kepada gurumu.”

“Sudah kulakukan.” Jawab Yu Tu, “Istri guruku bahkan mengirimiku pesan beberapa hari yang lalu dan bertanya kalau-kalau JingJing temanku itu adalah aktris Qiao JingJing.”

“…Oh.”

Suasana kembali hening.

“Ketika aku tidak ada, kamu sudah bermain dengan sangat baik.”

“Kamu tahu itu.” JingJing merasa sedikit kesal.

“Aku melihat status pencapaianmu semalam.” Yu Tu mendesah dan kembali bertanya, “Jadi kamu masih membutuhkanku?”

Qiao JingJing merasa pria ini sangat pemaksa, tapi dirinya tidak mampu mengatakan apapun yang seharusnya dirinya katakan. Tidak ada pilihan lain bagi JingJing selain berujar marah, “Peralatan aneh yang kamu pesan dari Taobao akhirnya datang. Kamu menulis alamat rumahku tapi nomor yang dihubungi adalah nomormu. Untung saja management propertiku sengaja menyimpan semua itu untukmu. Jangan bilang kalau kamu ingin meninggalkan semua itu di rumahku dan tidak mau mengurusnya!”

Yu Tu berkata, “Aku memang mau mengurus semua itu.”

Humph!~

Qiao JingJing terlihat ragu. “…Kalau begitu naik dan makan dulu.”

“Masih memerlukanku?”

…. Tentu saja tidak.

Yu Tu tertawa, “Aku akan datang besok. Setelah naik kereta semalam penuh, aku sangat bau sekarang.”

Naik kereta semalam penuh?

Baru sekarang Qiao JingJing melihat penampilan Yu Tu yang lusuh. Pakaiannya kusut, rambutnya berantakan dan matanya merah.

JingJing merasa sangat marah sekarang, “Kamu… naik kereta semalam suntuk tapi malah datang kemari untuk main game!”

“Yah, untungnya aku membawa powerbank, kalau tidak baterenya mati.”

Qiao JingJing tidak tahu harus mengatakan apa. Jelas sekali kalau dirinya merasa marah, tapi diam-diam dirinya juga merasa senang di dalam hatinya. JingJing memelototi Yu Tu sejenak dan akhirnya mengaku kalah, dengan tidak senang JingJing berujar, “Aku akan menyuruh supir mengantarmu pulang.”

“Kamu tidak boleh menolak. Jangan naik kereta bawah tanah untuk menciptakan polusi bagi hidung orang lain!”

Yu Tu tidak menolak.

.

.

.

Qiao JingJing sedikit sibuk sepanjang siang sehingga level minimalnya tidak terlalu stabil. Setelah sepuluh kali kemenangan beruntun, dengan penuh gemilang JingJing menembus sebelas kali kekalahan beruntun. Sebelum pergi tidur, JingJing menghitung total kekalahan dan kemenangannya dan akhirnya levelnya naik ke Diamond bintang 1.

JingJing kehilangan semua poin yang telah dirinya dapatkan dari bermain duo queue bersama Yu Tu.

Qiao JingJing mulai serius memikirkan nasibnya – mungkinkah dirinya ditakdirkan bisa maju ke level King hanya dengan bermodal solo queue?

Qiao JingJing merasa bersalah ketika dirinya memikirkan Yu Tu yang menatapnya dengan penuh kekecewaan besok. Sebagai hasilnya, ketika Yu Tu tiba keesokan paginya, JingJing menyerahkan ponselnya dan berujar lebih dulu, “Lihat, aku kehilangan sepuluh bintang.”

JingJing terdengar bangga, membuat Yu Tu berpikir bahwa dirinya sudah salah dengar. Mungkin maksud JingJing adalah dia sudah mendapat sepuluh bintang?

Yu Tu mengambil ponselnya dan melihat untuk mengonfirmasi – dia benar-benar sudah kehilangan sepuluh bintang.

“Kamu bangga dengan ini?”

“Pastinya ada masalah dalam sistem pertandingannya, kemungkinan untuk kalah setelah menang berturut-turut sangat tinggi.” Qiao JingJing membela dirinya sendiri, “Selain itu aku 5 kali menjadi MVP (Most Valuable Player) di pihak yang kalah.”

Yu Tu menurunkan pandangannya, jarinya yang ramping mengusap layar ponsel. Dia hanya berdiri di depan pintu dan mempelajari statistik peringkat dari permainan solo queue JingJing kemarin.

Qiao JingJing berdiri di sisinya dan berpura-pura melihat layar ponselnya bersama-sama, tapi dirinya tidak bisa menahan diri untuk diam-diam melirik Yu Tu dan memandangi wajah seriusnya.

Selamat datang kembali, Guru Yu.

“Apa yang terjadi di permainan Shouyue sehingga berakhir dengan DPS (Damage Per Second) 16%?”

… Itu benar, Pelatih Yu.

“Masalah ada di support!” Qiao JingJing buru-buru melemparkan kesalahan. Setelah itu dirinya tidak lagi melirik si pelatih tapi menatap layar ponselnya. Ketika data statistik JingJing yang hancur sudah ditampilkan, dirinya langsung menjelaskan bahkan sebelum Yu Tu punya kesempatan untuk bicara.

Yu Tu tidak berkomentar sampai dirinya selesai membaca data itu. Setelah itu dirinya mengembalikan ponsel JingJing.

Qiao JingJing bertanya, “Setelah ini, haruskah aku bermain solo queue? Atau kamu akan bermain sehingga menjadi duo queue?”

“Aku akan bermain denganmu.” Yu Tu menjawab dengan tegas.

Ya ampun Guru Yu, bagaimana bisa kepribadianmu langsung berubah drastis setelah kamu pergi dari perjalanan bisnis.

“Apa ada sesuatu yang terjadi dalam perjalananmu?” Jika tidak, kenapa Yu Tu menjadi lebih lembut dan baik.

Yu Tu melepaskan jaketnya dan baru saja akan menggantungnya. Mendengarkan pertanyaan JingJing, Yu Tu terdiam untuk sesaat.

Qiao JingJing tidak menyadari apapun dan bertanya hal lain yang baru dia ingat, “Ngomong-ngomong, kamu baru pergi dari mana? Mendadak sekali, apakah ada hal yang penting?”

“Xi’an. Aku tidak bisa bicara banyak karena ini hal yang sangat rahasia.” Yu Tu menggantung jaketnya, memutar tubuhnya dan penampilannya sudah biasa lagi.

“Ketat sekali, bahkan kepada keluarga sekalipun?” Qiao JingJing bertanya lebih lanjut karena penasaran. Setelah bertanya dirinya baru menyadari bahwa pertanyaannya terlalu ambigu sehingga dia langsung menambahkan, “Maksudnya… bukan aku.”

“Tidak boleh.”

“Membosankan sekali tidak punya topik pembicaraan.” Qiao JingJing mendesah kecewa tanpa berpikir lebih lanjut.

“Mungkin.” Kelopak mata Yu Tu agak bergetar dan dia melangkah masuk, “Ayo mulai.”

.

.

.

Rumahnya saat ini sedikit panas. Qiao JingJing tidak terlalu suka mengenakan terlalu banyak pakaian. Ketika suhu udara agak dingin beberapa hari yang lalu, JingJing langsung menyalakan pemanas rumahnya. Karena itulah suhu udara di dalam rumah lebih tinggi dibandingkan dengan suhu udara di luar. Setengah permainan di awal dan mengambil kesempatan dari Qiao JingJing yang sudah mengorbankan dirinya di daerah sungai, Yu Tu melepaskan sweaternya, menyisakan kaus putihnya.

Karakter game milik Yu Tu belum dipulihkan sehingga pandangannya jatuh ke Qiao JingJing. Kemungkinannya karena lantainya menjadi hangat, JingJing tidak duduk di sofa tapi duduk di karpet sambil memainkan ponselnya. Karpet wol putih yang lebar, kuku kaki yang indah dan rambut berwarna hitam pekat yang panjang terurai dengan indah. Dalam benak Yu Tu, gadis ini memang selalu tampil cantik dan lembut. Tapi pada saat ini tidak disangka begitu menggetarkan hati.

Ketika JingJing menatap ke atas dan memandangi dirinya dengan ekspresi bingung, semuanya menjadi semakin jelas.

“Kenapa kamu diam saja di mata air…” JingJing teringat sesuatu dan ekspresinya langsung menjadi malu, “Aku tidak bermaksud menjadikanmu tumbal….”

“Aku tahu karena aku percaya padamu.” Yu Tu dengan tenang mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke permainannya, “Ikuti aku ke hutan lawan untuk mendapatkan BUFF merah (berfungsi untuk meningkatkan status karakter untuk sementara).”

“Oke.” Qiao JingJing dengan senang hati mengikuti Li Yuanfang (marksman) milik Yu Tu untuk berburu.

.

.

.

Yu Tu bermain sedikit berbeda hari ini jika dibandingkan dengan kemarin, hari ini dia sangat galak, menyerang terus menerus dan menahan area hutan milik lawan juga menggunakan karakter yang tidak biasanya dia gunakan seperti Li Yuanfang, Han Xin (assassin/warrior), Baili Xuan Ce (assassin) dan semacam itu. Ritmenya meningkat dan setiap permainan berakhir dengan cepat. Yang lebih mengejutkan lagi, JingJing meraih level King bintang sepuluh lebih cepat dibandingkan kemarin.

 Yang lebih mengejutkan lagi, JingJing meraih level King bintang sepuluh lebih cepat dibandingkan kemarin

Li Yuanfang

Baili Xuan Ce

Akhirnya Yu Tu meletakkan ponselnya, melihat jam dan berujar, “Kamu bermain sendiri dulu, aku akan perbaiki layarnya.”

… Kenapa ada perasaan seperti – “Lihat, ini adalah bintang yang Raja ini raih untukmu. Bermainlah sesukamu dan hamburkan sebanyak yang kamu inginkan.”

Qiao JingJing cepat-cepat mengenyahkan pikiran yang tidak jelas ini, mengambil ponselnya dan mengikuti Yu Tu ke home theater miliknya dan berjongkok di sebelahnya untuk melihat Yu Tu yang memperbaiki layarnya.

“Butuh waktu berapa lama?”

“Lumayan cepat.”

“Finalnya tiga hari lagi. Kalau kamu tidak bisa memperbaikinya, apa kita boleh menyusup ke pameran untuk menonton?”

Yu Tu menurunkan kepalanya untuk memindahkan beberapa peralatan, “Kamu sebenarnya mau pergi atau tidak?”

“Tergantung dari level kemampuanmu.”

“Kalau begitu jangan ganggu aku yang sedang memperlihatkan kemampuanku.”

“Oh.” Qiao JingJing terdiam, menatap Yu Tu untuk sesaat dan kemudian JingJing duduk di karpet tedekat dan mulai bermain solo queue.

JingJing memilih Luna (mage/warrior) karena di permainan sebelumnya Yu Tu menggunakan karakter ini. Terlihat begitu tampan, satu lawan lima di markas musuh, membuat JingJing ingin mencobanya.

 Terlihat begitu tampan, satu lawan lima di markas musuh, membuat JingJing ingin mencobanya

Luna

Akan tetapi setelah dua pertandingan, JingJing meyesali pilihannya dan ingin menangis. Luna ternyata sangat sulit untuk dimainkan. Orang-orang mengatakan “keberhasilan tak terbatas di bawah sinar rembulan”. Apakah untuk dirinya justru “kegagalan tak terbatas di bawah sinar rembulan”?

Sebenarnya JingJing masih ingin bertahan sedikit lagi. Walaupun anggota timnya tidak mengatakan sesuatu yang kasar, Su Lie (warrior, tank/support) dari tim lawan mulai mengatakan hal yang kasar dan tidak sopan serta menyuruh dirinya untuk menyerah. JingJing merasa marah dan langsung memberikan ponselnya kepada Yu Tu.

Yu Tu baru saja menggulung lengan bajunya untuk memperbaiki komponen. Dia tidak punya waktu untuk mengelap tangannya dan skor 0-4 milik Luna langsung disodorkan kepada dirinya.

Orang yang menyodorkan ponsel itu dengan marah memohon, “Kalahkan Su Lie tim lawan yang sudah menghinaku.”

Yu Tu melirik uang milik JingJing, “Aku belum bisa mengalahkannya sekarang.”

Akan tetapi ketika Yu Tu bertemu Su Lie, Yu Tu memposisikan dirinya untuk menindas Su Lie dan kemudian pergi.

Biasanya ini bukan gayanya Yu Tu. Mengikuti kata-katanya, ini termasuk menghabiskan tenaga secara percuma.

Biasanya Guru Yu tidak akan menghabiskan tenaganya untuk melakukan hal seperti ini.

Pandangan Qiao JingJing berpindah ke layar ponsel dan kemudian ke wajah Yu Tu.

Dirinya merasa Yu Tu yang baru pulang dari perjalanannya menjadi sedikit lebih lembut dan bahkan sedikit sabar kepada dirinya.

JingJing tidak mampu mengatakannya secara tepat dan jelas. Mungkin juga Yu Tu sendiri tidak menyadarinya.

Tapi JingJing bisa merasakannya.

Dan dirinya bersemangat untuk melihat reaksi Yu Tu.

.

.

.

Qiao JingJing ingin menguji sesuatu.

“Yu Tu, bolehkah aku menggunakan ponselmu untuk bermain selama beberapa hari nanti?” tiba-tiba JingJing menanyai Yu Tu.

Yu Tu melirik JingJing dari layar ponselnya. Mata JingJing berbinar penuh semangat dan dirinya sudah siap untuk memberikan alasan, “Selama pertandingan, aku harus menggunakan merek ponsel yang sudah ditentukan dan mereknya sama dengan ponselmu. Modelnya juga mirip jadi aku ingin latihan.”

Yu Tu mengangguk, “Passwordnya xxxx. Ambil saja di ruang tengah.”

Memberikan satu inchi tapi JingJing ingin satu mil.

“Apa kamu ikut grup teman SMA?” Qiao JingJing sudah mengambil ponsel Yu Tu dan mulai bertanya meskipun dirinya sudah tahu jawabannya.

“Iya.”

“Aku tidak ikut… agak penasaran bagaimana kabar mereka sekarang. Bolehkan aku membuka WeChat milikmu dan melihat Moments (fungsi jejaring sosial pada aplikasi WeChat di ponsel) mereka?”

Yu Tu bergumam, “Moments itu bisa dilihat oleh teman dan kamu juga termasuk teman mereka.”

Hei~ intinya bukanlah supaya JingJing bisa melihatnya atau tidak, tapi agar JingJing bisa menggunakan WeChat Yu Tu.

Qiao JingJing memutar bola matanya, “Semua orang?”

Dalam hatinya, Yu Tu tidak begitu mengerti kenapa JingJing sedikit memaksa. Dirinya ingin mengatakan, “Aku juga belum lihat, memangnya apa yang ingin kamu lihat?” Tapi pada akhirnya Yu Tu tidak mengangkat kepalanya dan melanjutkan permainannya seakan dirinya sudah menjawab seperti biasanya.

Qiao JingJing mendesah, orang ini benar-benar tidak mengerti maksudnya ah~~~ lupakan saja, dia tidak paham juga bagus. Melihat Yu Tu yang masih menggunakan Luna untuk membalaskan dendam dirinya, JingJing memutuskan untuk membalas budinya dan membantu Yu Tu memenangkan permainan dengan akunnya.

Sedangkan untuk masalah Moments itu hanya pura-pura. JingJing terlalu malas untuk melihatnya.

.

.

.

Sebenarnya Qiao JingJing sudah menggunakan ponsel Yu Tu untuk bermain pertandingan peringkat pada hari pertama pelajaran mereka. Tentu saja setelah itu dirinya juga sudah pernah menggunakan ponsel Yu Tu, tapi hanya untuk bermain game . Untuk pertama kalinya JingJing membuka password Yu Tu, seakan dirinya sudah mendapatkan izin untuk mengintip dunia milik Yu Tu,

JingJing menahan diri untuk tidak membuka sembarangan di ponselnya. JingJing dengan mudah menemukan aplikasi King of Glory, membukanya dan mulai bermain.

Setelah beberapa menit, telepon dari Xiao Zhu masuk. Qiao JingJing sedang sibuk sehingga dirinya memencet tombol speaker di ponsel miliknya sendiri.

Suara Xiao Zhu langsung terdengar.

“JingJing, merek yang kamu promosikan mengirimkan hadiah ulang tahunmu. Ada tiga kotak besar, apa aku harus menyuruh supir untuk membawanya ke atas?”

Qiao JingJing baru saja akan setuju tapi tiba-tiba teringat dengan Guru Yu yang ada di sisinya.

Oh~~~

JingJing ingin menyuruh Yu Tu membawa barang-barangnya~

“Tunggu sebentar.” Ujarnya kepada Xiao Zhu dan tersenyum ke arah Yu Tu. “Tidak begitu bagus ketika supir naik kemari. Guru Yu, bisakah kamu ke lift dan menolong untuk membawakan semua barang itu?”

Guru Yu langsung ke bawah untuk mengambil semua barang itu. Qiao JingJing masih memegang ponsel untuk bermain sambil menunggu di depan pintu lift.

Ketika permainan sudah mencapai markas lawan, pintu lift terbuka. Xiao Zhu memegang sebuah kotak kecil sementara Yu Tu membawa sebuah kotak besar. Yang dua lagi keluar bergantian. Qiao JingJing menengok ke dalam lift dan di sana masih ada dua kotak besar.JingJing merasa aneh, “Merek yang mana yang mengirimkanku hadiah begitu banyak dan begitu mewah?’

“Setiap tahun merek B juga selalu mengirimkan kenaikan hadiah.” Jawab Xiao Zhu. “Oh, tiga kotak ini bukan dari mereka. Semua ini pakaian, tas dan sepatu yang kamu minta untuk ambilkan dan mereka dikirim bersama-sama. Aiya, mereka datang tepat waktu sehingga kamu bisa mix and match untuk kompetisi beberapa hari lagi.”

Tangan Qiao JingJing bergetar dan dirinya mati.

“…Bukannya kamu bilang ada yang dikirimkan dari merek yang aku promosikan?”

Xiao Zhu mengangkat kotak kecil di tangannya, “Yang ini.”

Qiao JingJing, “….”

Teman timnya berhasil menghancurkan Kristal lawan dan kata “pemenang” muncul di layar. Akan tetapi hati Qiao JingJing terasa muram.

Dengan kaku JingJing meletakkan ponselnya, berjalan ke depan Yu Tu dan berniat untuk membantunya. Yu Tu berujar, “Biar aku yang melakukannya. Ini sangat berat.”

Oh…

Mana mungkin tidak berat? Dirinya bahkan tidak tahu ada berapa pakaian yang dijejalkan dalam satu kotak itu.

Kenapa dirinya melakukan hal bermasalah semacam ini… kenapa dirinya tidak menyuruh supir menyelundupkan semua ini ke kamarnya dan berpura-pura tidak tahu apapun.

.

.

.

Yu Tu memindahkan tiga kotak besar ke dalam rumah. Setelah menutup pintu, Xiao Zhu terus mengoceh, “JingJing, lemarimu untuk pakaian musim gugur dan musim dingin sudah terlalu penuh. Aku akan memilah pakaian yang tidak cocok dengan pakaian yang baru kamu beli ini. Banyak yang labelnya belum dilepas. Mau dipisah seperti dulu dan dikirim ke Pei Pei?”

Qiao JingJing, “….”

Bagus sekali, sekarang membeberkan mengenai dirinya yang suka belanja berlebihan!

JingJing benar-benar ingin tahu kenapa asistennya punya kecerdasan emosi (EQ) yang begitu rendah?

Punggung JingJing menghadap Yu Tu dan bibirnya menggerakkan “diam” ke arah Xiao Zhu. Xiao Zhu bisa dikatakan cukup peka karena dia langsung berhenti bicara. Tapi kenapa bibirnya terkatup rapat dan matanya terbuka lebar pada saat ini?

… siapa yang sudah mengajari Xiao Zhu acting?

Qiao JingJing benar-benar ingin memotong gaji Xiao Zhu.

.

.

.

“Bagus sekali.”

Tiba-tiba suara Yu Tu yang rendah bisa terdengar dari belakang,

Qiao JingJing kembali menghadap Yu Tu dan menyangka dirinya mengalami halusinasi. Apakah kata-kata itu baru saja diucapkan oleh Yu Tu yang sudah mengatakan bahwa JingJing sangat menikmati perbedaan kasta dalam masyarakat?

Melihat JingJing yang bingung, Yu Tu tersenyum.

Dirinya berpikir ini sangat bagus.

Untuk JingJing merasa seperti ini, merasa bahagia setiap hari, berpakaian yang cantik, lepas dan bebas dari rasa khawatir. Ini sangat baik.

.

.

.

Yu Tu pulang lebih awal hari ini pada pukul enam lewat sedikit.

Dia berjalan keluar dari rumah Qiao JingJing, melakukan panggilan telepon yang lama dan membeli segelas kopi panas dari pinggir jalan.

Dia berdiri di sisi jalan dan meminum kopinya secara perlahan dalam waktu yang lama.

Kopinya menjadi dingin dengan cepat.

Tapi ini adalah suhu udara yang normal karena tidak ada ruangan yang hangat, tidak ada senyum yang mengandung rahasi.

Yu Tu melempar gelas kopinya ke keranjang sampah dan menghentikan sebuah taksi.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.