WIYM 98. Apakah Wang Qilang Tertarik atau Tidak Tertarik? (1)

Featured Image

Betapa dekatnya dia bersandar!

Chen Rong munduk ke belakang dengan refleks. Ketika dia dia membalikkan tatapannya, dia menangkap banyak mata terbakar karena cemburu.

Meskipun Chen Rong diam di tempat, Chen Rong tidak lupa untuk melirik Zhang Xiang. Pada saat ini, Zhang Xiang menatapnya dan Wang Hong dengan kekaguman pada matanya – jenis kekaguman yang mungkin dimiliki seseorang pada pasangan yang serasi.

Jantung Chen Rong berdebar: di antara ribuan sarjana di dunia, orang asing bernama Zhang Xiang ini mungkin satu-satunya yang tidak keberatan dengan latar belakang rendah dan repusasi bernoda ku. Meskipun aku melupakan wajahnya saat aku memalingkan muka, meskipun Zhang Xiang sendiri mungkin hanya mengatakannya dengan bercanda, bukankah setidaknya aku harus mencobanya?

Chen Rong memutar kepalanya ke arah Wang Hong pada saat ini di dalam pikirannya.

Wang Hong tersenyum padanya. Tanpa Chen Rong sadari sampai saat ini, kereta Wang Hong telah bergerak di sampingnya, terpisah kurang dari satu lengan panjangnya.

Meliriknya, Chen Rong membungkuk di tempat duduknya dan dengan sopan berkata dengan suaranya yang sejernih kristal: “Saya berterima kasih atas permintaan Anda, Tuan. Saya dalam keadaan sehat; bahkan Saya telah menghabiskan dua mangkuk nasi saat makan siang.”

Setelah mendengar kata-kata Chen Rong, seorang gadis dengan cepat tertawa: “Apa kubilang? Qilang hanya membuat pertanyaan; Qilang tidak sedekat itu dengannya.”

Tatapan mendidih di sekitarnya mereda.

Itu membuat Chen Rong puas. Dia berbalik pada Wang Hong.

Sekali lagi, Chen Rong melihat senyuman pada matanya yang terlihat lembut itu seolah mengejek.  Chen Rong menjatuhkan tatapannya untuk menghindari mereka, memberi pemiliknya sebuah bungkukan dan berkata pada Shang Tua, “Mari kita pergi.”

Kereta mulai bergulir dan memasuki kediaman Pangeran.

Sebuah antrian panjang di depan mereka melaju saat yang lain menunggu di belakang.

Chen Rong memperhatikan sepanjang jalan yang dipadatkan itu untuk menahandirinya dari menoleh ke belakang.

Jalan  itu sempit, dan hanya bisa menampung dua kendaraan yang berjalan secara berdampingan.

Sementara mata Chen Rong terpaku pada jalanan di depan, telinganya waspada terhadap suara di sekitarnya. Tepat ketika Chen Rong meraih tirai setelah tidak mendengar suara akrab Wang Hong, dia menangkap kereta lain berjalan di sampingnya – bukankah itu milik Wang Hong? Surga, bagaimana Wang Hong bisa melewati semua kendaraan lain dengan begitu cepat?

Saat Chen Rong menatap terkejut pada kereta Wang Hong, Wang Hong tertawa dan mendekatinya. Wang Hong menatapnya dengan senyuman yang sangat lembut hingga bisa menenggelamkannya hidup-hidup.

Jantung Chen Rong tiba-tiba berdebar. Tapi segera, dengan tegas Chen Rong  memutar kepalanya dan menjatuhkan tirainya.

Tepat saat Chen Rong melakukan itu, dia mendengar suara menawan Wang Hong berbicara: “Kau menjadi sangat tegas, Sayang. Matamu tidak bisa bersinar lebih terang lagi untuk melihat pria muda itu. Atau apa kau berharap untuk mengklarifikasi dirimu sekali lagi? Betapa cepat kau membuang cinta lamamu.” Kemudian dia dengan sedih menambahkan, “Kau bisa menjadi sangat kejam!”

Tangan Chen Rong tertahan pada tirai. Senyumannya menjadi kaku.  Sesaat kemudian, Chen Rong dengan kaku menoleh menatapnya. Ketika Chen Rong melihat matanya yang tenang, sesuatu seperti rasa bersalah dan ketidaknyamanan terbersit di wajahnya.

Itu seperti Wang Hong membuat komentar sinis begitu halus. Meski begitu, mereka telah membawa tuduhan berat bahwa pengakuan Chen Rong padanya hari itu adalah sebuah kebohongan.

Namun suara Wang Hong terlalu manis, matanya terlalu tenang. Sejenak, Chen Rong didera rasa bersalah.

Segera, rasa malunya menghilang ke dalam kehampaan. Chen Rong menatap jubah putih bersulam rumit Wang Hong dan bergumam menjawab: “Tapi Anda tidak bisa menikahi Saya!”

“Jika kau tidak pernah mencoba, bagaimana kau bisa tahu aku tidak bisa?” Suara memperdaya Wang Hong menjawab.

Kepala Chen Rong tersentak. Dia menatap Wang Hong tanpa mengetahui bahwa matanya, pada saat ini, berkilauan seperti bintang di langit.

Hanya dalam sekejap, bagaimana pun, mereka menggelap saat Chen Rong menunduk dan membiarkan angin dingin meniup rambut di atas matanya. “Apa gunanya mencoba?” Ada sesuatu yang terdengar seperti jiwa yang patah, mimpi yang hancur, dan kemurungan yang menghancurkan di dalam suaranya. Dia membuka mata berembunnya dan, menatap pada jubah putih Wang Hong, perlahan berkata, “Meminta terlalu banyak hanya akan menghasilkan kehancuran kita…. Mencoba tidak akan ada gunanya.”

Wang Hong membeku. Matanya yang terang dan tersenyum tiba-tiba menjadi pudar. Wang Hong menatap Chen Rong dan mencari dimatanya dengan miliknya.

Chen Rong tidak menatapnya. Dia mengendus, menarik kepalanya ke dalam, dan menarik tirai ke bawah.

Kedua kereta terus berjalan pergi.


 

Kali ini, Chen Rong tidak mendengar Wang Hong berbicara lagi.

Ketika keretanya berhenti di alun-alun, Chen Rong turun dengan bantuan Shang Tua dan menatap sekeliling hanya untuk menemukan bahwa kereta Wang Hong tidak bisa ditemukan.  Tidak perlu  dikatakan bahwa Chen Rong bahkan kurang tahu dimana keberadaannya.

Pada saat Chen Rong memasuki aula utama, arus pengunjung yang tidak ada habisnya telah membanjiri tempat itu. Semua berpakaian dengan memperhatikan mode,  aroma memabukkan dan kain mereka berkibar di malam hari.

Karena kehadiran para tamu yang mewah ini, kedatangan Chen Rong tidak menarik perhatian siapa pun.

Dia menundukkan pandangannya dan diam-diam mengelilingi ruangan.

Ruangan itu dipenuhi cahaya dan music. Dalam sekejap, Chen Rong melihat kerabatnya duduk di baris ketiga. Selain Chen Gongrang, ada juga Chen Tuan dan Chen Shu; tidak ada wanita muda yang hadir.

Chen Rong mengambil dua langkah cepat dan duduk di kursi terakhir di sudut.

Dia baru saja duduk saat seorang pelayan datang dan berkata padanya, “Ah Rong, lewat sini.”

Chen Rong berdiri dan mengikutinya.

Pelayan itu pergi ke sisi Chen Gongrang dan membuat sebuah bungkukan.

Tanpa menunggunya untuk berbicara, Chen Gongrang berbalik pada Chen Rong dengan sebuah senyum ramah. “Ah Rong? Kemari dan duduk di sebelahku.”

“Ya.” Chen Rong perlahan duduk.

Para pelayan wanita segera melangkah maju dan meletakkan layar pemisah di sekelilingnya.

Saat itu, semua orang diam dan bersamaan berbalik untuk melihat pada pintu.

Karena layarnya, apa yang bisa Chen Rong lihat hanyalah gambaran buram. Meski begitu, dia bisa mengenalinya hanya dalam satu tatapan. Sosok tinggi seperti salju adalah Wang Hong. Dia sekarang berjalan bersama dengan Wang Yi.

Saat Wang Hong dan Wang Yi memasuki aula, suara gemuruh juga naik dari pintu bagian dalam. Pangeran Nan’yang yang gemuk perlahan berjalan masuk diiringi oleh bawahan dan selir yang mengelilinginya.

Kerumunan memberi Pangeran Nan’yang  pandangan sekilas sebelum berbalik dan melanjutkan untuk melihat Wang Hong dan Wang Yi. Tentu saja, sebagian besar bangsawan di dalam aula bahkan tidak memalingkan kepala mereka atau memberi lirikan pada Pangeran Nan’yang sejak awal.

Setelah menyaksikan ini, Pangeran Nan’yang tertawa saat dia melenggang menuju Wang Hong. “Qilang seperti bunga peony di taman, menarik perhatian kemanapun kau pergi,” Pangeran Nan’yang berkata dengan suara parau.

(bunga peony di taman= yang paling tampan di antara orang-orang tampan.)

Bawahan di belakangnya dengan cepat menunjukkan kegembiraan mereka atas analoginya yang kasar. Bibir Wang Hong bergetar cukup untuk membuat seulas senyuman namun Wang Yi bahkan tidak mengangkat matanya ; dia berjalan melewati Pangeran Nan’yang dan pergi ke tempat duduknya.

Meja Wang Hong dan Wang Yi berada tepat di depan meja Rumah Chen. Setelah Wang Yi mengambil tempat duduknya, dia meraih anggurnya dan mulai minum.

Sementara itu, pandangan Chen Rong dibayangi oleh sosok putih yang telah duduk di depannya.

Di belakang layar, Chen Rong diam-diam menatap Wang Hong sebelum menundukkan kepalanya lagi.

Tangannya tersimpul bersama saat kata-kata Wang Hong terdengar oleh telinganya berulang-ulang: “Kau menjadi sangat tegas, Sayang. Matamu tidak bisa bersinar lebih terang lagi untuk melihat pria muda itu. Atau apakah kau berharap untuk mengklarifikasi dirimu sekali lagi? Betapa cepat kau membuang cinta lamamu.

Jika kau tidak pernah berusaha, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak bisa menikahimu?

Kesepuluh jemarinya  saling bertaut satu sama lain. Akhirnya, Chen Rong mengambil napas dalam dan berpikir dalam hati: Ah Rong, apa yang kau impikan? Jangan lupa siapakah Wang Qilang dari Lang’ya! Apa Chen Qi tidak bilang? Bahkan dua Puteri Kerajaan sakit karena patah hati olehnya. Mengapa kau jatuh cinta padanya ketika kau belum sepenuhnya memahaminya? Sanggupkah kamu kehilangan?

Chen Rong tenang setelah bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan ini. Meski begitu, melihat sosok putih di depannya dan mencium aroma segar milik Wang Hong membuat jantungnya berdebar dengan kebingungan yang lemah.

Pada saat ini, Pangeran Nan’yang juga telah duduk. Dia mengambil minuman dengan cangkir gioknya, menyeka mulutnya, dan kemudian menggigit sepotong daging dari tangan seorang wanita cantik.

Dia melambaikan tangannya saat dia mengunyah dan menelan, sambil bergumam pada para tamunya: “Berbicara tentang hujan salju, aku ingin berterima kasih kepada para dewa dengan  mempersembahkan para penari yang cantik. Persetan dengan itu, nikmati saja pesta ini. Jika kalian ingin daging dan anggur, aku memiliki daging dan anggur. Jika kau menginginkan wanita, aku juga memiliki banyak wanita. Jika kalian melihat yang kalian suka, jangan ragu untuk mencari kamar dan bersenang-senang.”

Pada saat ini, mungkin merasa bahwa pidatonya agak menggelikan, mulutnya yang berminyak melengkung membentuk sebuah seringai sebelum tertawa keras dengan gigi kuningnya yang terpampang jelas.

Dengan senyum pangeran yang membahana, semua orang di aula mengikutinya.

Pasa titik ini, Chen Rong mendengar Wang Yi dengan tidak sabar berkata di depannya: “Menjijikkan.” Dia kemudian berbalik pada Wang Hong dan bertanya, “Xiao Qi, Nan’yang bukanlah tempat yang baik untuk ditinggali. Aku akan pergi saat musim semi tiba. Apa kau akan pergi bersamaku?”

Wang Hong akan pergi? Kepala Chen Rong tersentak, menatap Wang Hong melalui layar dengan telinga tegak dan napas yang terengah.

Dengan perhatian Wang Yi padanya, Wang Hong bersandar ke arah Chen Rong dan samar-samar tersenyum dengan kedua tangan yang saling menjalin di depan perutnya. “Meninggalkan Nan’yang? Kurasa itu mungkin.”

Sementara butiran keringat berkumpul pada alis Chen Rong, wajah tampan Wang Hong sedikit berubah, seolah-olah ke arahnya namun pada saat yang sama seolah-olah menuju ke jalanan. “Tapi ada seseorang yang akan ku bawa bersamaku,” Wang Hong menambahkan dengan lembut.

WIYM 97. Bertemu Qilang Kembali
WIYM 99. Apakah Wang Qilang Tertarik atau Tidak Tertarik? (2)

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

One thought on “WIYM 98. Apakah Wang Qilang Tertarik atau Tidak Tertarik? (1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published.