WIYM 95. Meminum Darahnya

Featured Image

Ran Min menyeringai pada Chen Rong dan, mengabaikan penghindarannya, mengululurkan tangannya yang besar untuk membelai wajahnya.

Jemarinya yang kasar bergerak dengan sengaja ketika mereka menyentuh wajahnya, Chen Rong merasakan sebuah kelembutan dalam kekasarannya, seperti angin musim dingin yang dengan lembut menusuk-nusuk hatinya.

“Tidak,”jawabnya.

Ada ketegasan dalam suaranya.

Chen Rong tercekik amarah. Dia menatap Ran Min, menggeram: “Ran Min, menjauh dari Saya!” Meskipun dia menggeram padanya, Chen Rong masih terdengar seolah-olah memohon.

Dia tidak mau, tapi untuk beberapa alasan, begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, suaranya tercekat.

Ran Min mengabaikannya. Melihat Chen Rong memiringkan kepala menghindarinya, dia mengulurkan jemarinya di sekitar dagunya dan tersenyum membalas, “Tidak!”

Pria ini benar-benar mempermainkannya dengan sangat kejam.

Chen Rong benar-benar marah.

Wajahnya merah pada saat dia menatap Ran Min. Jika tatapan bisa membunuh, Ran Min mungkin akan tertikamsepuluh ribu anak panah.

Sayangnya, tatapan tidak bisa membunuh. Sudah menjadi sifatnya, mata memperdaya Chen Rong masih menatap penuh rayuan bahkan ketika dia sedang marah.

Pada saat Chen Rong terengah karena marah, Ran Min merajut alisnya dan bergumam, “Kau pasti benar-benar marah padaku.”

Setelah berbicara pada dirinya sendiri, Ran Min menarik Chen Rong ke depan.

Kekuatan yang tiba-tiba membuat Chen Rong jatuh ke dalam pelukannya.

Meskipun merasakan sakit pada dagunya, Chen Rong melemparkan tangannya ke dada Ran Min saat dia merasakan panas tubuhnya dan napasnya yang kuat.

Chen Rong mendorong dengan keras, wajahnya memerah karena usahanya. Seseorang bahkan bisa melihat pembuluh darah di lehernya saat dia mencoba untuk menahan agar tidak jatuh ke dalam pelukannya.

Biasanya, orang lain mungkin akan melepaskan dan berhenti memaksa hal ini. Sayangnya, Ran Min bukanlah orang normal.

Dia mengangkat alisnya. Matanya berkilat saat tangan kanannya melepaskan dagu Chen Rong.

Menemukan dirinya dibebaskan, Chen Rong hendak melompat ketika Ran Min menahan pinggangnya dan menguncinya dalam pelukannya.

Jenis kekuatan apa yang Ran Min gunakan? Itu adalah kekuatan tak kalah dari seribu pound! Yang Ran Min lakukan hanyalah sedikit menarik, dan Chen Rong telah jatuh ke dalam pelukannya, hidung Chen Rong menabrak dadanya.

Seketika, luapan kehangatan yang Chen Rong impikan dan rindukan setelah bertahun-tahun lamanya sampai ke dalam hidungnya.

Chen Rong membatu.

Dia membelalakkan matanya tetapi tidak bergerak.

Merasakan ketegangannya, tawa tertahan Ran Min samar-samar terdengar.

Dengan lembut, telapak tangannya yang kuat berhenti di pinggang Chen Rong.

Sementara Chen Rong yang masih perawan tidak bisa menahan gemetar karena sentuhannya, Ran Min menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Chen Rong, “Kau menginginkanku jadi, bagaimana bisa tidak ada kebencian? Ah Rong, kau selalu membuat kesalahan setiap kali kau bertemu denganku. Kau tahu kenapa?”

Chen Rong dengan bingung menggelengkan kepalanya. Matanya masih terbuka lebar -penuh dengan perlawanan jiwanya yang terdalam.

Tangan kanan Ran Min bergerak dari pinggang ke punggungnya, jemarinya menyisir rambutnya yang tebal dan gelap, dan tanpa sadar menyebabkan jepit rambut maniknya terlepas. “Karena kau mencintaiku,” gumamnya ketika rambut Chen Rong tergerai.

Sementara Chen Rong menegang, Ran Min tertawa lembut. “Ah Rong dari Rumah Chen, kau telah mencintaiku untuk waktu yang sangat lama.”

Chen Rong menjadi gusar segera setelah kata-kata itu diucapkan.

Dia tiba-tiba melompat ke depan, mencengkeram leher Ran Min, dan membungkuk untuk menggigit lehernya.

Itu adalah titik mematikan yang bisa membunuh Ran Min.

Ran Min yang veteran pertempuran tertawa dan dengan cepat menghindari serangannya. Dia lalu menawarkan bahunya pada Chen Rong dengan tawa serak. “Gigit saja disini.”

Ran Min belum selesai berbicara saat Chen Rong telah menunduk.

Dia benar-benar menggigit Ran Min.

Seketika, darah mengalir keluar dan menetes dari mulutnya.

Chen Rong dengan kejam menelan seteguk dari darah itu. Ran Min tercengang pada awalnya ketika dia mendengar suara tegukan, tapi dia langsung tertawa terbahak-bahak.

Sementara dia tertawa, Chen Rong mendorongnya menjauh dengan kekuatan gila yang tiba-tiba sangat kuat.

Ran Min tentu tidak berpikir bahwa gadis itu akan tiba-tiba mendapatkan kekuatan sebanyak itu. Dia mendengkus, tubuhnya yang besar terdorong ke belakang dan menabrak dinding gerbong dengan suara yang keras.

Saat cengkeramannya melonggar, Chen Rong dengan cepat melarikan diri seperti kelinci yang lincah. Dia melemparkan tirai dan melompat dari kendaraan yang sedang bergerak.

Sang kusir berteriak kaget. Cukup cepat, dia berseru dengan kekaguman: “Mengesankan!”

Chen Rong, yang melompat dari kereta, dengan mantap mendarat di atas salju dengan putaran lompatan yang anggun.

Begitu sang kusir berbicara, seolah-olah dia ketakutan, Chen Rong mengangkat roknya dan berlari menuju pusat kota – tanpa sadar, kereta Ran Min telah membawanya mendekati gerbang kota.

( editor: ini penculikan dan pelecehan… jangan ditiru guys!)

Melihat sosok Chen Rong berlari dengan cepat, sang kusir kembali bertepuk tangan sebelum berbalik.

Dia membelalakkan mata lembunya, berteriak: “Astaga, nona muda ini cukup mengesankan jika dia bisa membuat Jenderal Ran kami yang gagah berani menumpahkan darah!”

Ran Min memberinya tatapan tajam. Tidak begitu peduli pada bahu kirinya yang berdarah, Ran Min melihat ke arah Chen Rong yang telah pergi dan bergumam, “Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan padanya hingga menerima dendam ini.”

Sang kusir tertawa keras. “Bukankah ini hanya ibu kota?! Tidak setiap hari Saya melihat seorang gadis menjadi begitu kasar kepada Anda.”

Mendengarkan tawa sombongnya, Ran Min memberinya tatapan tajam lain dan kemudian ikut tertawa keras. Dia meraih sebuah kain dan dengan sembrono membungkus bahunya yang tergigit. “Apa kau tidak akan membantuku?” bentaknya pada sang kusir.

Dengan tidak senang sang kusir mengambil waktunya untuk turun dari kursinya dan pergi mendekati atasannya, bergumam sambil mengikat perban: “Tapi sayang sekali untuk membalutnya. Anda seharusnya membiarkannya sehingga orang-orang tahu bahwa Anda telah menganiaya putri orang lain.”

Ran Min mengabaikan ocehan kusirnya. Masih menatap ke arah Chen Rong pergi, dia bergumam, “Kau benar-benar membenciku sebesar itu, huh?” Ada nada tawa dalam suaranya.

Chen Rong dengan jengkel berlari ke depan.

Sebelum dia menyadarinya, rambutnya menjadi acak-acakan dan membuat penampilannya menyedihkan.

Dia tidak tahu berapa lama dia telah berlari saat dia mendengar seseorang berkata: “Hei, gadis yang terlihat gila ini sepertinya sedikit familiar.”

Seiring dengan udara dingin, mengejutkannya suara ini menyulut amarahnya.

Chen Rong berhenti.

Pada saat ini, dia berlari ke Jalan Utara, melewati jalan utama Nan’yang yang ramai.

Chen Rong menatap pada kerumunan yang semakin ramai di depan dan melihat bahwa banyak orang yang menatapnya ingin tahu. “Eh, dia berdarah. Dia terlihat menakutkan,” seorang anak berteriak.

Menghadapi mata orang-orang dan mendengar suara anak itu, otak Chen Rong yang pusing menjadi lebih sadar. Dengan secepat yang bisa dilakukannya, dia menunduk menatap tanah dan diam-diam menyeka mulutnya sebelum menyisir rambutnya dengan jemarinya. Kemudian, dia mengikuti trotoar dan melanjutkan perjalanan.

Setelah bergegas pergi untuk beberapa lusin langkah, Chen Rong melihat tidak ada lagi orang asing yang memperhatikannya.

Dengan cepat mengingat kembali adegan tadi, Chen Rong dengan keras menggosok mulutnya dan dengan tajam berkata, “Aku akan menggigitmu sampai mati!”

Dia terkejut dengan kata-katanya sendiri.

Perlahan-lahan, dia mengerjapkan air matanya dan mempercepat langkahnya.

Chen Rong berjalan selama hampir sejam di bawah salju untuk pergi dari Jalan Utara menuju kediaman Chen.

Mendengarkan suara monoton langkah disalju dan merasakan angin yang menggigit, Chen Rong perlahan pulih.

Saat Chen Rong sampai di kediaman Chen, dia melihat kereta Shang Tua masih terparkir di gang. Shang Tua berdiri di samping kereta memperhatikan jalan besar.

Shang Tua sangat gembira melihatnya.

Chen Rong juga bergegas mendekatinya. Setelah dia mengangkat tirai dan naik ke kereta, dia duduk diam di kursinya.

Pada saat itu, suara khawatir Shang Tua terdengar dari luar. “Apakah Anda menangis, Nona?”

Chen Rong tidak memberi jawaban.

Kendaraan itu mulai bergerak.

Sesaat kemudian, Shang Tua bertanya kembali, “Apakah Anda masih ingin pergi ke kediaman Wang, Nona?”

“Untuk apa? Ayo pulang,” Chen Rong dengan letih menjawab.

“Aye.”

Di tengah roda yang berderap, suara Shang Tua yang waspada kembali berbicara padanya. “Apakah Jenderal Ran melakukan sesuatu yang tidak baik pada Anda?”

Lagi, Chen Rong tidak memberinya jawaban.

Setelah Shang Tua berteriak dua kali untuk memerintah kudanya, dia kembali berguman padanya: “Saya mendengar Jenderal Ran telah meminta pada Chen Gongrang, bukan untuk menikahi Ah Wei, tetapi untuk Anda. Nona, apakah karena Wang Qilang Anda melepaskan Jenderal Ran?”

Pada saat ini, Shang Tua menghela napas dan dengan muram berkata, “Nona, Saya tidak mengerti kenapa Anda tidak menyetujuinya. Entah menjadi selir Wang Qilang atau menikahi Jenderal Ran, Anda harus membuat sebuah pilihan dan menyampaikan penerimaan Anda segera, bukan? Jika ini berlarut-larut, Saya benar-benar khawatir…” Yang Shang Tua khawatirkan sebenarnya adalah reputasi Chen Rong.

Di dalam, Chen Rong tetap tidak berbicara.

Tubuhnya bagai tak bernyawa, dan dia hanya bisa bersandar diam di kursinya, menatap dengan linglung pada langit-langit.

Kereta perlahan mendekati gerbang samping.

Seorang penjaga berteriak pada Shang Tua: “Kemana Ah Rong pergi pada cuaca sedingin ini?”

Dia mengamati kereta Chen Rong dengan penasaran.

Shang Tua tertawa. “Tidak kemana-mana, sungguh. Nonaku merasa sesak sehingga kami pergi keluar untuk berkendara. Yah – yah –”

Dengan teriakannya, kereta berjalan dan melewati jalan kecil berwarna hijau.

Akhirnya memasuki halaman Chen Rong.

Suara lengkingan gerbang yang terbuka, suara Shang Tua tiba-tiba terdengar: “Nona, Ah Wei ada di sini.”

Masih tidak ada suara dari dalam kereta.

Akhirnya, Chen Rong membalas: “Ah Wei?”

“Aye.”

Shang Tua menghentikan kereta. Dia berjalan ke samping dan, dengan senyum yang nampak pada wajahnya, dia berbisik pada Chen Rong. “Dia membawa banyak orang dengannya. Mereka duduk di tangga menatap kita.”

Chen Rong segera duduk. Dia mengangkat sudut tirai, menoleh untuk mengintip.

WIYM 94. Diculik Ran Min
WIYM 96. Siapa yang Menggertak Siapa?

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

One thought on “WIYM 95. Meminum Darahnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published.