WIYM 94. Diculik Ran Min

Featured Image

Kartu pengumuman segera siap. Chen Rong keluar dari kediaman dengan gerbongnya.

Begitu mereka meninggalkan gerbang, dia mengangkat tirai untuk memeriksa halaman Chen Wei. Gerbangnya terbuka lebar, tapi suasananya sangat sepi. Dalam sekejap, dia melihat para pelayan sibuk berlarian dengan kepala tertunduk, bahkan tidak berani bernapas terlalu kencang.

Melihat pemandangan ini, mulut Chen Rong membentuk sebuah seringai. Tapi segera, pandangannya kabur melihat adegan yang sama terjadi di masa lalu. Pada saat itu, Chen Wei juga menderita kehilangan yang sama  dan dia juga menyeringai sinis yang sama.

Pada akhirnya, bagaimana pun, dia bukalah orang yang terakhir tertawa.

Memikirkan ini, Chen Rong segera tersadar.

Dimana pun orang memandang, semua berwarna putih salju. Salju tidak berhenti dalam beberapa hari terakhir, terus menerus melayang turun untuk mewarnai bumi dengan putih keperakan.

Jalan berlumpur dan berantakan tertutup jejak roda. Di pinggir jalan, pohon-pohon dilapisi salju. Dari waktu ke waktu, kendaraan yang melaju akan membuat bunyi gedebuk yang menyebabkan lapisan salju tebal jatuh dan menabrak atap mereka.

Brr…

Chen Rong menarik tirai ke bawah, lalu menggosok kedua tangannya. Dengan cepat dia bergeser ke arah tungku untuk menghangatkan tangannya. Mengingat bahwa Shang Tua sedang mengemudi di luar, dia mengambil salah satu dari dua arang kecil dan menyerahkannya, memanggil: “Shang Tua, jaga tanganmu tetap hangat.”

Tawa Shang Tua terdengar. “Tidak perlu, tidak perlu, Nona. Aku harus mengemudi jadi aku tidak bisa membebaskan tanganku.” Tawa riangnya memperjelas keriputnya. Seperti Perawat Ping, dia merasa bahwa Chen Rong telah menjadi jauh lebih dewasa sejak mereka pindah ke selatan. Dia benar-benar membuatnya merasa lebih tenang.

Di dalam, Chen Rong menggumamkan balasan dan menarik kembali pemanas.

Pada saat ini, gerbong yang telah meninggalkan kediaman Chen dan mulai menuju ke kota.

Jalanan berdengung, cukup mengejutkan. Selain sebagaian besar orang biasa berpakaian compang-camping, gerbong para bangsawan juga bergerak bolak-balik.

Shang tua menatap pemandangan itu dan tersenyum berkata, “Nona, semua orang menikmati kedamaian.”

Chen Rong berguman menjawabnya.

Gerbong mengalami kesulitan bergerak di jalan berlumpur yang tertutup oleh salju yang tidak rata. Menggeser ke samping beberapa kali dan hampir menabrak gerbong di sampingnya.

Chen Rong menjulurkan kepalanya berkata: “Pelan-pelan, Shang Tua.”

“Akan dilakukan!”

Saat Shang Tua menjawabnya dengan riang, suara seorang pria terdengar di telinga Chen Rong: “Apa mereka mengatakan bahwa Jenderal Ran Min kembali ke Nan’yang?”

“Aye, sejak tadi malam,” pria lain menjawabnya. “Haha, aku merasa yakin sekali salju turun. Dan sekarang dengan kembalinya Jenderal Ran, aku akhirnya bisa bersantai.”

Mendengarkan percakapan ringan mereka, Chen Rong tersenyum dan menarik diri ke dalam.

Gerbongnya terus maju.

Segera, itu tiba di jalan selatan.

Setelah dia selesai memberi beberapa toko disini, Chen Rong akan datang menemui mereka setiap kali dia pergi keluar. Dia merasa kaya hanya dengan melihat toko-toko yang tertutup.

Dia mengangkat gordennya, menatap dari satu toko ke toko lainnya. Setelah beberapa saat,  dia dengan cepat memanggil, “Shang Tua, tunggu.”

Shang Tua patuh dan memperlambat laju kendaraan.

Chen Rong menundukkan kepalanya dan bersiap-siap untuk melompat turun ketika tiba-tiba suara yang akrab dan dalam memanggilnya. “Ah Rong dari Rumah Chen?”

Chen Rong hampir tegang segera setalah dia mendengarnya.

Dia mendongak dengan sangat perlahan.

Pada saat dia melihat pria itu, senyum jauh dan sopan ditampilkan di wajahnya.

Melihat pria yang mendekatinya, Chen Rong membungkuk sedikit dan dengan patuh berkata, “Memberi salam, Jenderal Ran.” Berbicara tentang iblis, dia harus segera bertemu dengannya.

Itu memang Ran Min yang muncul dihadapannya. Tidak seperti terakhir kali, sekarang dia duduk di sebuah gerbong.

Pertama dia melihat Chen Rong sebelum mengalihkan pandangannya pada kusirnya.

Kusirnya besar dan tinggi, matanya sama besar dengan lonceng tembaga. Orang bisa mengatakan dia adalah seorang pria dari militer. Dengan isyarat Ran Min, dia tertawa kecil dengan pemahaman dan mengarahkan gerbong ke arah gerbong Chen Rong.

Gerbong Chen Rong telah berhenti di sisi jalan dekat sebuah toko. Gerbong lain dengan cepat bergerak mendekat dan dengan erat menjebaknya.

Ran Min kembali menatap Chen Rong.

Menilainya dari kepala sampai ujung kaki, dia memperhatikan Chen Rong mengerutkan bibir tanpa sadar sebagaimana wajahnya memerah penuh kewaspadaan.

Saat memperhatikannya, dia tertawa dengan lembut. “Nona kecil, kita bahkan pernah berbagi sentuhan sebelumnya. Sekarang kita akhirnya bertemu lagi, mengapa kau bersikap begitu tidak ramah padaku?”

Gejolak perasaan Chen Rong semakin dalam. Dia mendendongak dan memberinya tatapan tajam.

Menghadapi wajahnya yang tampan, berwibawa meski tidak marah, matanya bergetar. Chen Rong mengigit bibirnya dan dengan tenang berkata, “Tolong perhatikan kata-kata Anda, Jenderal!”

Suaranya keras.

Ran Min terus menatapnya.

Tanpa pikir panjang dia menghargainya dan setelah beberapa saat, dia menghela napas dan bertanya, “Katakan padaku, nona kecil, bagaimana aku menyinggungmu?”

Pada titik ini, dia tersenyum kecut dan geli berkata dengan suara menariknya: “Kau selalu marah seperti ini dimana pun kau melihatku. Kau selalu menatapku dengan begitu banyak permusuhan. Aku akan bertanya padamu setiap waktu, tapi kau tidak pernah memberiku sebuah jawaban.”

Rupanya dia dalam suasana hati yang baik. Ada kelemahlembutan dan kemurnian dari matanya yang gelap dan tanpa dasar. Di pahatan wajahnya juga terdapat senyuman samar.

Ini adalah Ran Min yang tidak sering terlihat.

Chen Rong meliriknya sebentar sebelum dengan cepat memalingkan muka.

Ran Min masih menatapnya.

Dia mencoba yang terbaik untuk tampil lebih lembut. Dengan tatapan yang patuh, dia menjawab dengan lembut, “Anda belum menyinggung Saya.”

Ran Min memukul gerbong dengan tawa. Hampir seketika, dia mengulurkan tangan kanannya  ke arahnya dan tersenyum berkata, “Dalam hal ini, maukah kau pergi berkendara bersamaku?”

Tangan besarnya ditempatkan di depan Chen Rong, jari-jarinya yang ramping dan memendek yang juga membawa kehangatan tubuhnya, berada dihadapannya.

Dia memusatkan tatapannya dengan tatapan yang belum pernah dia lihat sebelumnya… Samar-samar, bahkan mungkin keteguhan?

Melihat Chen Rong ragu, suara Ran Min yang dalam dan kuat datang padanya: “Nyonya kecil, bukankah kau marah padaku? Mengapa kau tidak datang kemari dan memberiku pukulan?” Matanya berkedip pada cambuk yang tergantung di gerbongnya. “Atau memberiku beberapa cambukan, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” lanjutnya untuk menggodanya.

Dan memang, kata-katanya menggoda. Mereka dengan tepat berbicara pada hati Chen Rong.

Dia mendongakkan kepalanya cepat, menatap tajam padanya. Jika saja dia bisa membu*uh pria ini dengan matanya. “Apakah Anda serius?” tanya Chen Rong. “Bisakah Saya memukul Anda dan memberi Anda beberapa cambukan?”

Dia baru saja berbicara ketika dua tawa keras secara bersamaan terdengar. Selain Ran Min, kusirnya juga tertawa.

Kusirnya tertawa dengan sangat riang; dia memukul gerbong dan berteriak pada Ran Min: “Jenderal, nampaknya nona muda ini benar-benar membencimu.”

Ran Min juga tertawa senang. Dia menyipitkan matanya dalam kesenangan dan memandang Chen Rong dengan tertarik, berkata:“Kau baru saja mengatakan bahwa aku tidak pernah menyinggungmu. Batapa cepatnya kau lupa.”

Chen Rong tidak mengira perkataan tanpa berpikirnya akan menyababkan dua orang pria tertawa tanpa memperdulikan kesopanan. Orang-orang yang lewat terkejut di jalannya. Dia menggigit bibirnya, lalu berbalik untuk memberitahu Shang Tua untuk pergi.

Pada titik ini, tangan kanan Ran Min terulur seperti kilat dan dengan tepat meraih lengannya, dengan mudah mengangkatnya.

Menemukan bahwa tubuhnya tiba-tiba di udara, Chen Rong berteriak ketakutan.

Saat ini Ran Min masih tertawa. Dia mengangkatnya saat dia tertawa, dengan lembut menariknya keluar dari gerbong. Itu adalah gerakan yang sangat sulit, tapi dia melakukannya dengan sangat mudah.

Dengan segera, Chen Rong yang tinggi dan ramping ditempatkan seperti anak kecil di gerbongnya.

Melirik Chen Rong yang menatapnya tanpa berbicara, matanya yang berapi-api memicing dengan sangat senang.

Dia berbalik pada Shang Tua dengan wajah keras dan memerintahkan, “Kembali sendiri!”

Untuk melawan Jenderal petarung yang kuat dan mematikan yang berbicara padanya dengan tatapan tajam, bahkan seorang pelajar konfusius pasti akan ketakutan, apalagi Shang Tua yang hanya seorang pelayan.

Wajahnya langsung kehilangan warna. Dia dengan enggan ikut mengucapkan, “Aye, aye,” sambil mengemudikan kereta pergi dengan tergesa-gesa.

Selusin langkah kemudian, Shang Tua pulih dari ketakutannya dan segera berbalik untuk memperhatikan Ah Rong.

Tapi gerbong mereka sudah pergi. Dari waktu ke waktu, tawa seorang pria dan desisan wanita bisa terdengar. Shang Tua benar-benar bingung.

Ran Min menempatkan Chen Rong disebelahnya. Setelah dia menakuti Shang Tua, dia berteriak pada kusirnya yang terkekeh, “Ayo pergi.”

“Aye, Jenderal!”

Kereta maju ke depan.

Ran Min berbalik untuk melihat Chen Rong.

Dia dengan bingung berkedip padanya.

Ran Min tersenyum padanya.

Chen Rong menekan amarahnya dan berteriak,”Lihatlah Anda, Ran, Saya adalah wanita yang belum menikah, bagaimana Anda bisa membawa Saya ke dalam gerbong tanpa hormat seperti ini? A-Anda, ini perbuatan tercela.”

Tawa sang kusir berderai: “Aye aye, menegur dengan baik. Jenderal Ran memang tercela!” Seolah-olah menjadi candu, dia kembali meraung tertawa. “Astaga, Jenderal telah melakukan banyak penculikan, tapi ini pertama kalinya dia menculik seorang wanita muda. Betapa hina! Betapa sangat hina!” dia memukul gerbong dan tertawa.

Karena seruan dari sang kusir, tuduhan-tuduhan Chen Rong yang benar berubah menjadi godaan. Dia sangat marah. Dia melempar pis*u pada sang kusir sebelum berbalik untuk melihat bahwa Ran Min masih menatapnya dengan penuh minat. Dia menatap balik dengan tajam dan memberinya herdikan rendah: “Biarkan aku turun!”


Halo, ini Deera. Mulai bab ini aku ambil alih terjemah Mei Gongqing. Jadwal MGQ berubah jadi 3x seminggu ya guys, setiap hari minggu, senin dan selasa. Kami akan tetap kasih teaser di wattpad seperti buku lainnya. Terima kasih sudah mampir, sampai jumpa besok.

WIYM 93. Berjanji pada Diri Sendiri
WIYM 95. Meminum Darahnya

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

7 thoughts on “WIYM 94. Diculik Ran Min”

Leave a Reply

Your email address will not be published.