WIYM 106. Berjalan Sejauh Seribu Mil untuk Mencari Bantuannya

Featured Image

Ketika Chen Rong pulang ke rumah, Perawat Ping dan Shang Tua bergegas untuk memegangnya saat mereka mengangis.

Chen Rong sudah sangat kelelahan. Dia dengan tidak sabar melepaskan diri dari mereka dan memberi perintah untuk menyiapkan mandi tonik.

Merasa lebih baik setelah beberapa saat di dalam air, Chen Rong berbaring di bak mandi saat dia mencoba untuk menenangkan diri di tengah uap yang naik.

Dia membiarkan matanya tetap terbuka lebar menatap langit-langit.

Dia tahu bahwa tak seorang pun di keluarga Chen Yuan menyukainya di masa lalu dan bahwa Chen Yuan juga telah berulangkali bersekongkol untuk membuatnya pergi. Meski begitu, dia hanya marah pada saat itu, tidak pernah merasakan kebencian yang kuat.

Tapi saat ini, untuk pulang ke rumah sesaat setelah menerima undangan dari neraka hanya membuktikan padanya bahwa dia telah benar-benar menyinggung keluarga Chen Yuan, dan tidak ada kemungkinan untuk kerukunan dan kompromi.

Sejauh yang mengenai Chen Rong, undangan itu pasti telah dipalsukan oleh seseorang di kediaman Chen Yuan. Kenapa juga Nyonya Ruan dan Nyonya Li mengirim orang untuk bertanya setelah ketidakberadaannya segera setelah dia pergi untuk janji temunya? Terlebih lagi, dia hanya pernah menyinggung keluarga ini.

Kekejaman berkilat di matanya saat mereka menyipit atas pemikiran ini.

Kemudian, dia berpikir tentang sikap tidak biasa Chen Yuan dan Chen Sanlang.

 

Tapi itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Apa pun tindakan yang mungkin mereka lakukan, dia mengharapkan mereka untuk menunjukkan maksud mereka dalam beberapa hari.

Malam berlalu dalam keterombang-ambingan dan perubahannya.

Keesokan harinya matahari bersinar cerah dan terang. Saat dia menatap pada langit di luar, seperti orang-orang di jalanan Nan’yang, Chen Rong menjadi gugup karena serangan Hu yang akan datang.

Dia telah bertanya pada Shang Tua untuk menemukan kabar mengenai Wang Hong dan perkembangan klannya. Setelah banyak bertanya, bagaimana pun, masih belu ada berita untuk disampaikan.

 

Setelah sarapan, sambil melihat matahari yang perlahan naik, Chen Rong yang pada akhirnya memiliki semangat yang lebih baik setelah sedikit tidur memanggil Perawat Ping untuk membantunya bersiap untuk berjalan-jalan.

Saat itu, terdengar langkah kaki.

“Tuan telah memanggil Ah Rong,” seorang pelayan wanita mengumumkan.

Chen Yuan?

Chen Rong berdiri dan menarik bibirnya menjadi seulas senyum dingin, berpikir pada dirinya sendiri: Menunjukkan maksudmu begitu cepat?

Dia menjawab, berpakaian, dan kemudian mengikuti pelayan wanita menuju halaman Chen Yuan.

 

Setelah mereka memasuki halaman, Chen Rong melihat bahwa baik para pelayan dan para bangsawan keduanya sama-sama menggantung kepala mereka dalam ketakutan.

Gadis yang berjalan di depannya adalah gadis yang belum pernah dilihatnya. Dia juga menahan kepalanya tetap menunduk dan benar-benar dengan tenang memimpin jalan.

Ketika Chen Rong sampai di halaman Chen Yuan, seorang pelayan wanita yang tinggi dan cantik telah menunggunya di sebelah tangga. Setelah melihat Ah Rong, dia memberikan hormat dan berkata, “Tuan ada di dalam.”

Chen Rong bergumam sebagai jawaban dan berjalan masuk.

Hanya ada dua orang yang duduk di aula yang luas. Tuan rumah tidak lain adalah Chen Yuan; di samping bawahnya adalah Chen Sanlang.

 

Setelah kedatangan Chen Rong, Chen Yuan meletakkan anggurnya turun dan memberinya tatapan yang baik. Lalu dia menghela napas dan tersenyum padanya. “Tampaknya kau telah memulihkan semangatmua setelah istirahat yang baik, Ah Rong.”

Chen Rong dengan patuh dan hormat berjalan menuju pamannya, membungkukkan badan, dan menjawab, “Saya tidak bermaksud menyebabkan kekhawatiran, Paman. Saya beristirahat dengan baik tadi malam.”

Chen Yuan menganggukkan kepalanya, menunjuk pada kursi di sebelah kanannya dan berkata dengan sayang., “Ah Rong, duduklah.”

“Terima kasih.”

Keheningan mengikuti setelah dia mengambil tempat duduk. Jika mereka tidak ingin berbicara, maka dia pun tidak.

Akhirnya, suara Chen Sanlang memecah kesunyian. Dia menatap Chen Rong dan meratap: “Aku minta maaf karena terlambat dan menyebabkanmu ketakutan selama berhari-hari.” Dia menatapnya dengan perasaan bersalah. “Ah Rong, apa kau membenciku untuk itu?”

 

Chen Rong dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Bagaimana Saya berani?”

Dia dengan tenang kembali menundukkan kepalanya.

Chen Yuan berdeham, mengelus janggut panjangnya dan berkata, “Bibi-bibimu hanya memberimu masalah karena mereka mendengarkan provokasi itu.” Dia kemudian memerintahkan, “Sekarang masalah ini telah selesai. Jangan mendendam, Ah Rong.”

Chen Rong dengan segera berdiri dan menempatkan kedua telapak tangannya bersama-sama: “Ya, Saya tidak akan berani.”

Chen Yuan mengangguk dan kemudian memberinya isyarat untuk duduk.

 

Lagi, dia berdeham dan berkata padanya, “Ah Rong, Jenderal Ran nampaknya memiliki kesan yang baik tentangmu?”

Ran Min?

Chen Rong mendongakkan kepala.

Pamannya sedang membelai janggutnya, terlihat merenungkan kata-katanya.

Segera, dia terbatuk lagi dan menatap Chen Rong yang telah menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya mengedipkan mata pada Chen Sanlang.

Chen Sanlang menangkap isyaratnya dan berbalik pada Chen Rong untuk mengeluh: “Ah Rong, apakah kau tahu bahwa klan sedang dalam masalah?”

 

Chen Rong memutar tatapannya pada Chen Sanlang dan dengan cemas bertanya, “Apakah sesuatu telah terjadi?”

Melihat bahwa dia mengkhawatirkan klan, Chen Sanlang mulai tersenyum sebelum dengan cepat berubah mengerutkan kening. “Ya, sesuatu yang buruk telah terjadi,” dia menjawab dengan sedih.

Dia berdiri dan melangkah bolak-balik di ruangan saat berkata pada sepupunya: “Aku tidak berharap seorang nona muda sepertimu akan mengetahui ini. Hidup sudah sulit tahun ini. Dengan begitu banyak dari kita yang datang di Nan’yang, bahkan biaya untuk memberi makan kuda-kuda sejumlah untuk beberapa ratus pengungsi, apalagi biaya tempat tinggal dan makan.”

 

Pada saat ini, dia menatap lurus wajah bingung Chen Rong dan tertawa kecil. “Aku telah lupa bahwa Ah Rong hanyalah seorang nona muda. Kau hanya perlu menikmati kuangan klan sambil memikirkan tentang pakaian terbaik dan makanan mewahmu. Bagaimana mungkin kau mengetahui semua ini?”

Chen Rong mempertahankan tatapannya yang bingung, tetapi di dalam hatinya mencibir: Kau terdengar seolah-olah aku telah menerima begitu banyak bantuan dari orang-orang kalian. Aku membayar untuk semua pengeluaran di halamanku, mengapa aku tidak menyadari ini?

“Ah Rong, kau tahu Hu akan mengepung kota,” Chen Sanlang menambahkan seteah jeda singkat. “Jika kita beruntung, kita mungkin dapat bertahan selama enam bulan dan mendorong mereka mundur. Tetapi jika kita tidak beruntung, kita mungkin berada di bawah serangan selama setahun atau dua tahun hingga pada akhirnya kalah. Aku tidak akan terkejut.”

 

Chen Rong bergumam dengan lembut untuk menunjukkan bahwa dia mendengarkan.

“Ah Rong,” bisik Chen Sanlang setelah menghela napas, “kau tidak tahu ini, tapi tidak belum lama ini, klan telah menghabiskan sejumlah besar uang untuk mendapatkan pasikan makanan. Sayangnya, berita yang tiba beberapa hari yang lalu mengabarkan bahwa iring-iringan kita telah dirampok oleh Hu ketika kita melewati Ximing.”

Chen Rong terkejut mendengar ini. Hu merampok muatan makanan mereka? Tapi apa gunanya memberitahu seorang gadis sepertinya?

Chen Sanlang jelas tahu apa yang dipikirkannya. Setelah menatap Chen Yuan, dia dengan singkat berunding dan melanjutkan untuk bercerita: “Orang-orang kita kebetulan tahu bahwa Jenderal Ran juga berada di daerah terdekat. Dengan keberaniannya, itu akan menjadi permainan anak-anak untuk merampas kembali biji-bijian.”

 

Dia berhenti, berusaha keras untuk mengatakan kalimat selanjutnya: “Tapi ketika kami mencari Jenderal Ran, kami dihalangi melihat dari jauh bahkan bayangannya. Ini seperti setiap kami mencoba… Ah Rong, Aku mendengar bahwa Jenderal Ran sangat baik padamu. Nampaknya hanya kau yang bisa memikul tugas ini.”

Kata-kata ini memang sulit untuk dikatakan. Dia, seorang gadis yang belum menikah, sebenarnya diminta untuk melakukan perjalanan jauh untuk menemui seorang pria!

Chen Rong dalam hati mencemooh setelah memahami keseluruhan cerita. Dia perlahan mendongakkan kepala menatap Chen Sanlang, mengerjapkan mata, dan  memberanikan diri berkata: “Tapi Ah Wei juga mengenal Jenderal Ran, mengapa klan tidak mengirimnya?” Dia berhenti dan kemudian menambahkan dalam sebuah bisikan: “Dan kalian bisa membantu sebuah perjodohan yang baik.”

 

Dia baru saja selesai berbicara ketika Chen Sanlang berkata tanpa berpikir, “Jika dia berguna, kami tidak perlu untuk mencarimu.”

Chen Yuan memberinya tatapan peringatan.

Menyadari bahwa dia telah keceplosan, Chen Sanlang segera memasang senyum tanpa dosa. Dia menghampiri Chen Rong, menghela napas dan berkata, “Ah Rong, aku tahu memintamu untuk melakukan ini tidak menguntungkan untuk reputasimu. Tapi kali ini waktu pengecualian, Hu akan menyerang Nan’yang sebelum kita menyadarinya. Jika kita kekurangan bahan pangan, yang pertama menderita kelaparan adalah kalian para gadis.”

Dia berhenti, dan kemudian seolah berkata sambil lalu: “Aku mendengar terdapat kota dimana bahkan wanita dan anak-anak dibunuh untuk makanan karena kelaparan…”

 

 

Suaranya rendah dan tanpa di sengaja, tapi itu cukup untuk Chen Rong dengar.

Pada saat ini, Chen Yuan dengan tidak sabar berkata pada Chen Sanlang, “Sudah cukup.” Dia kemudian berbalik pada Chen Rong dan menutup pembicaraan: “Ah Rong, pergi dan buat persiapan. Yang terbaik untuk pergi malam ini.”

Chen Yuan sangat tegas hingga dia hampir tidak memberi ruang untuk menolak.

Berdasarkan kemarahan yang telah dia tunjukkan pada Nyonya Li dan Nyonya Ruan, Chen Rong bisa melihat betapa pentingnya masalah ini untuknya.

Dia tahu mereka tidak akan membiarkannya menolak.

Dengan alasan itu, dia tidak mengatakan lebih dan hanya berdiri untuk memberi mereka penghormatan dan keluar.

 

“Kemana kau melihat? Pergi dan buat persiapan untuk pengawalan Ah Rong.” Chen Yuan membentak Chen Sanlang yang masih terdiam menatap kepergian sosok Chen Rong.

“Ya, Ayah.”

Chen Rong kembali ke rumah. Setelah mengatakan pada para pelayannya apa yang telah terjadi, dia berbalik dan pergi menuju kamarnya.

Di belakangnya, Perawat Ping berjuang untuk menahan dirinya. “Itu berarti klan teah mengalah! Mereka pasti telah memutuskan untuk memberikanmu pada Jenderal Ran. Bukankah ini bagus? Ini sangat bagus!”

Bukan dia seorang dalam perayaannya. Bahkan Shan Tua dan para pelayan yang lain bergembira atas nona muda mereka.

 

Hanya beberapa hari yang lalu Chen Rong menghabiskan malam di luar kota dan kembali pulang ketika fajar dengan pengawalan Rumah Hong dari Lang’ya. Mereka tidak mengatakan bagaimana mereka bertemu Chen Rong atau apakah mereka memberikan penjelasan bahwa Chen Rong dari Rumah Chen masihlah suci.

Karena mereka tidak mengatakan apa-apa, orang-orang pun menduga-duga. Pembicaraan keluar melewati perkebunan. Beberapa mengatakan Ah Rong telah  bertemu dengan para pengungsi dan telah dinodai, bertemu dengan Rumah Wang dan menerima bantuan mereka secara kebetulan. Yang lain mengatakan dia bertemu dengan kekasihnya dan telah mengandung anaknya.

Cerita-cerita itu tak ada habisnya.

Mendengarkan cerita semcam itu, pelayannya merasa bahwa majikan mereka lebih baik memintan Wang Qilang untuk menerimanya sebagai seorang selir. Tidak pernah dalam mimpi terliar mereka untuk berpikir hingga klan akan mengalah dan Genderal Ran mungkin meminta untuk menikahinya. Mereka hanya berharap bahwa sebelum desas-desus itu bisa mencapai telinga Ran Min, nasib Chen Rong akan disegel dengan pernikahan.

Saat dia berkemas, Chen Rong menatap Perawat Ping yang penuh dengan kebahagiaan di sampingnya. Dia menjatuhkan tatapannya dengan ekspresi termenung.

Dia telah selesai berkemas saat Chen Sanlang datang untuk menemukannya.

 

Chen Sanlang membawanya menuju ke pusat tempat dimana lima puluh hingga enam puluh penjaga berdiri menunggu sepanjang kereta berjajar. Chen Sanlang mengayunkan tangannya pada penjaga dengan pangkat tertinggi, menunjuk pada Chen Rong dan memerintah: “Li Chengg, ingat baik-baik. Tidak peduli apa yang terjadi, kau harus melindungi majikanmu. Kembali jika dia selamat, tetapi tidak perlu ada yang kembali ke Nan’yang jika sesuatu terjadi padanya.”

“Ya,” pria bernama Li Cheng itu menjawab dengan khidmat.

Dia memutar kepalanya ke arah pasukan dan berteriak: “Saudara-saudara, apa kalian mendengar apa yang Tuan katakan?”

“Ya!”

Chen Sanlang mengangguk.

Dia memutar ke sekeliling untuk menatap Chen Rong.

 

“Ah Rong, orang-orang ini akan berada di bawah perintahmu. Mereka semua luar biasa terlatih. Yakinlah, mereka akan membawamu dengan selamat menuju Jenderal Ran.”

Chen Rong dengan patuh dan hormat membungkuk padanya. “Ya, Kakak Ketiga.”

Chen Sanlang menghela napas dan menambahkan, “Aku ingin mengantarmu pergi, tapi aku memiliki banyak pekerjaan dan tidak bisa memaksa diriku sendiri.”

Maksudmu kau tahu bahwa perjalanan ini tidak aman dan kau takut ada kecelakaan? Chen Rong menyeringai tetapi tetap menjawab: “Jangan khawatir tentang itu, Kakak Ketiga.”

Setelah Chen Sanlang mengatakan beberapa kata lebih, dia menatap Chen Rong, memberi beberapa gagasan, membungkuk ke depan dan berkata, “Ah Rong, jika Jenderal Ran masih menginginkanmu, sebaiknya kau terima. Aku akan menjelaskan kepada klan.”

 

Chen Rong mendongak menatapnya dengan terkejut. “Bagaimana dengan Ah Wei?”

Chen Sanlang mengerutkan alisnya, melambaikan tangan dengan menolak dan berkata, “Ah Wei adalah seorang nona, tapi begitu juga dirimu. Kau tidak harus mengalah padanya ketika itu datang pada pernikahan.” Meskipun mengatakan ini, matanya tidak bisa menyembunyikan kekejian ketika menatap padanya. Apakah dia benar-benar berpikir Jenderal Ran akan menginginkan untuk menikahinya? Paling dia akan mengambilnya sebagai pelayan tempat tidur.[1]

1. Pelayan tempat tidur ini bukan selir. Ini adalah seorang pelayan yang juga memiliki tugas untuk tidur dengan tuannya.

Chen Rong menurunkan tatapannya dan, tidak lama kemudian, dia membungkuk memberinya penghormatan.

Chen Sanlang mengatakan satu atau dua  hal, mengayunkan tangan kanannya dan memerintah, “Pergi dan semoga kalian berhasil kembali.”

 

“Ya.”

Iring-iringan berangkat.

Chen Rong membawa Perawat Ping untuk duduk bersamanya. Saat dia menaikkan tirai keretanya, dia melihat Chen Wei berdiri di bawah pohon willow dan menatapnya dengan linglung. Wajahnya kini hanya tulang dan kulit, air matanya mengalir.

Saat dia bertemu dengan mata Chen Rong, Chen Wei menggigit bibirnya dan sedikit berusaha untuk menyembunyikan kebenciannya.

Chen Rong menarik tatapannya dan menarik tirai turun.

Kota Nan’yang tinggal di selubungi suasana yang tidak sehat. Karena apa yang terjadi pada Rumah Wang dari Lang’ya, orang yang bepergian hanya diizinkan untuk masuk tetapi tidak dengan keluar.

 

Meskipun begitu, ketika iring-iringan Chen Rong meninggalkan kota, dia melihat Li Cheng memegang keluar sesuatu saat berkata: “Kami berada dalam urusan resmi Yang Mulia.” Galah penyangga di tarik dan memberi mereka jalan.

Chen Rong berhenti melihat dan diam-diam mencemooh: Tidak heran Chen Yuan dalam keadaan panik. Pangeran Nan’yang juga memiliki bagian dari muatan.

Keretanya berjalan keluar dari kota.

Melihat Chen Rong menatap sekitar, Li Cheng berkuda ke arahnya dan dengan sopan berkata, “Jangan khawatir, Nona, kami mengambil jalan kali ini dan tidak akan berjalan menuju satu pun pengungsi. Kita bahkan mungkin tidak bertemu dengan satu pun orang bar-bar jika kita berhati-hati.”

 

Chen Rong mengangguk, kemudian membungkuk dari tempat duduknya dan dengan lembut berkata, “Tuan, keselamatan kami bergantung padamu, tolong bertindak dengan bijaksana.”

Li Cheng  menggaruk kepalanya dan dengan kekanak-kanakan menyeringai pada pujiannya, berkata: “Jangan khawatir Nona, Sata akan berhati-hati bahkan untuk diri Saya sendiri.”

Dia memutar kepalanya dan berteriak: “Lebih cepat.”

Iring-iringan berubah menuju sebuah jalan kecil setelah tiga puluh mil di luar Nan’yang sebagaimana yang Li Cheng katakana. Jalan yang tidak datar sulit untuk lalui, dan mati dalam ketandusan.  Hari berlalu hanya dengan suara putaran roda kereta dan percakapan dan tawa para penjaga.

 

Dalam sekejap mata, tiga hati telah berlalu.

Sepanjang waktu, rombongan mereka bepergian pada waktu siang dan berkemah pada malam hari. Karena itu musim dingin, ada beberapa hewan liar di sekitar, dan perjalanan mereka dengan mengejutkan berjalan lancer.

Pada tengah hari, iring-iringan mengubah rute kembali menuju jalan terbuka.

Li Cheng berkuda menuju kereta Chen Rong dan berkata saat menatap ke depan: “Saya pikir ini akan mengambil lebih dari lima hari perjalanan. Tapi nampaknya kita akan tiba di Ximing besok pagi.”

Chen Rong menaikkan tirai untuk melihat ketandusan di depan. “Apakah Jenderal Ran di Ximing? Lalu dia pasti di dekat sini?”

Li Cheng berdeham membalas.

 

Dia berbalik untuk melihat pada sosok samar Chen Rong di balik kerudungnya, memujinya: “Nona, sebuah contoh baik yang Anda buat. Anda tidak mengatakan satu kata pun meskipun ini pasti berat untuk Anda.” Dia berhenti dan kemudian bergumam, “Tuan-tuan dan Nona-nona lain bahkan rewel mengenai makanan mereka. Mereka membuat lelah dan membuang waktu kami semua.”

Chen Rong tersenyum tanpa menjawab.

Mereka bergegas pergi dengan kecepatan penuh dengan mengingat bahwa Ximing sudah di depan, dan khususnya ketika mereka mulai melihat pengungsi dan beberapa orang Hu dari waktu ke waktu.

Pada waktu malam, Chen Rong dan semua orang memakan beberapa makanan kering dan dengan cepat pergi.

Bulan purnama berada di langit malam yang cerah.

 

Setelah berkonsultasi dengan Chen Rong, Li Cheng memilih untuk melanjutkan perjalanan pada malam hari dan berhenti untuk berkemah setelah mereka sampai di Ximing. Setelah perintahnya turun, para penjaga menaikkan galah dan mendesak kuda mereka berjalan maju.

Rupanya Li Cheng banyak mengetahui siasat untuk memperkuat pasukan. Dia memerintahkan setiap penjaga untuk memegang dua galah dan mengikat sepuluh lebih banyak pada setiap kereta. Secara tiba-tiba, beebrapa lusin orang telah berubah menjadi beberapa ratus orang. Mereka bergegas melewati malam, gemuruh tapal kuda mereka tidak lagi berhati-hati.

Dua jam setelah tengah malam, tembok tinggi Ximing muncul dihadapan mereka.

Para penjaga meledak dalam kebahagiaan, teriakan mereka terdengar dari jauh melalui angin.

 

Li Cheng juga tersenyum pada pemandangan kota. Dia mengayunkan tangan kanannya, berteriak: “Persiapkan perkemahan.”

“Ya.”

Mereka melemparkan tenda, menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam hutan belantara. Semuanya berada dalam perintah kurang dari seperempat jam. Tenda Chen Rong dan Perawat Ping berada di tengah-tengah.

Setelah tendanya selesai, Chen Rong membungkuk untuk masuk ke dalam. Dia melihat Perasat Ping menempatkan dirinya dengan penerangan dupa dan membuat tempat tidurnya. Kemudian, menatap pada sinar bulan yang mentusup masuk ke dalam celah tenda, Chen Rong berbisik, “Perawat.”

“Ya, Nona?”

 

Perawat Ping berbalik untuk menatap Chen Rong ketika dia tidak mendengar balasannya.

“Nona, ada apa?” dia kembali memanggil pada sosok Chen Rong yang termenung.

“Katakan padaku, Perawat, jika Jenderal Ran masih ingin untuk menikahiku, haruskan kau menerima tawarannya?”

Ini adalah pertama kalinya dia dengan sukarela berbicara dengan Perawat Ping tentang ini.

Sangat gembira, Perawat Ping melempar pekerjaannya ke samping, berlari padanya dan dengan senang berkata, “Tentu saja Anda harus menerima, tentu Anda harus menerima.”

“Sungguh?”

“Tentu saja. Langit akan jengkel jika Anda tetap menilah hal baik seperti itu!”

 

Chen Rong perlahan berbelik menatap pada pintu keluar yang ditaburi cahaya perak. Dia tidak bergerak untuk waktu yang lama. Tepat ketika Perawat Ping kehilangan kesabaranna dan ingin berbicara, dia mendengar Chen Rong  berkata dengan kasar: “Kapan pun aku berpikir tentangnya sekarang, tidak ada kebencian maupun kemarahan. Terkadang ketika aku mencoba untuk mengingatnya, bahkan wajahnya menjadi buram…. Dimana ini baik, karena aku pada akhirnya membiarkannya… Tapi dia, dia begitu mulia dan luar biasa yang bahkan seorang putri tidak cukup baik untuknya. Kapan itu akan menjadi giliranku? Aku tahu diriku sendiri, sekali aku mengenali perasaanku, aku tidak akan menoleransi butiran pasir di mataku. Aku tidak akan puas sebagai selir terhormat apalagi selir biasa. Jika aku melihatnya dengan istrinya, aku akan menjadi marah karena cemburu… Perawat, sejak aku melupakan kebencianku untukny, apakah itu berarti aku bisa menikah dengannya? Apakah ini satu-satunya akhir tidak bahagia yang bisa aku dapat dari kedamaian yang aku inginkan?”

 

Pada saat yang genting ini, Chen Rong perlahan memutar sekeliling untuk menatap perawatnya.

Perawat Ping mengerjapkan mata kecilnya dalam kebingungan.

“Apa yang sedang Anda bicarakan, Nona? Anda tetap mengatakan ‘dia’ ini dan ‘dia’ itu. Saya tidak tahu siapa yang sedang Anda bicarakan.”

Perawat menatap ke atas pada majikannya, membujuknya: “Mengapa Anda tidak mengatakan pada Saya lagi?”

“Jangan pikirkan jika kau tidak bisa mengerti,” kata Chen Rong, acuh tak acuh.

Dia berbalik untuk menatap pada cahaya perak di lantai.

 

Perawat Ping menatap Chen Rong yang sedang merenung dan berpikir bahwa dia tidak bisa terlihat lebih kesepian. Itu adalah kesepian abadi yang akan berlangsung seumur hidup dan sampai pada keabadian, kesepian dari seseorang yang hanya dapat menceritakan rahasianya pada dirinya sendiri baik itu kebahagiaan atau pun kepiluan.

Perawat Ping merasa sakit untuknya. Dia segera melemparkan seulas senyuman dan hampir berbicara jika bukan demi serangkaian derap kuda datang dari luar.

Mereka tiba dengan gemuruh yang menakutkan dan suasana yang menakutkan.

Tawa terhenti dari suara derap yang segera mendekat. Dengan segera, Li Cheng berteriak: “Ambil senjata dan tunggangi kuda kalian.”

“Ya, ya.” Jawaban gugup dan meringkik secara serempak kembali.

Chen Rong berdiri dan pergi keluar untuk melihat bahwa semua penjaga telah selesai beberes, saat ini berkendara sesuai dengan pangkat mereka.

Pada saat yang sama, selusinan kuda telah datang dengan 200 langkah dari mereka, tersembunyi dalam kegelapan di depan.

 

Author: Deera

Just a girl who loves reading, writing, and imagining a story.

3
Comments

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • 0
  • 0
  • 0