TMK 145. Pembalasan (3)

Featured Image

Dalam foto itu, Xing Yichen mengenakan pakaian yang sama sewaktu dia pergi dari villa. Dia berdiri di depan pintu Qiao Moyu, dan waktu di foto menunjukkan bahwa dia menunggu di sana selama 20 menit, meskipun pihak lain tidak membuka pintu!

Qiao Ruohuan melemparkan koran di atas meja, aura lembutnya yang biasanya ada jadi menghilang: “Kakak Yichen, bukankah kau mengatakan akan bertemu pelanggan kemarin? Apakah Qiao Moyu adalah pelangganmu? Ha, kenapa aku tidak tahu bahwa kau tiba-tiba menjalin hubungan bisnis dengannya ?! ”

Xing Yichen melihat foto itu pagi ini dan tahu bahwa dia telah dipermainkan oleh Ye Peicheng. Tepat ketika dia merasa jengkel tentang masalah ini, dia menerima telepon dari ayahnya yang menanyakan apakah dia telah berkelahi dengan Keluarga Qiao di saat yang kritis ini, menyebabkannya tambah tidak bahagia.

Pada saat ini, setelah mendengar kata-kata sarkasme Qiao Ruohuan, matanya mendingin: “Kau tidak perlu ikut campur urusanku!”

Kapan Xing Yichen pernah mengatakan kata-kata kejam itu kepada Qiao Ruohuan? Wajahnya berubah, dan dadanya melonjak karena marah, “Apakah kau tertarik pada wanita murahan itu? Ha, di masa lalu, bukankah kau mengatakan meskipun dia melepas pakaian di hadapanmu, kau tidak akan mau melihatnya? Akhirnya. dia berhenti mengejarmu, dan sekarang kau merasa dia hebat? Menunggu di pintu seseorang seperti itu, bahkan aku merasa malu! ”

Setelah Xing Yichen mendengar kata-katanya, matanya bergejolak. Seluruh tubuhnya tampak seperti gunung berapi aktif yang siap meledak. Setiap kalimat yang Qiao Ruohuan ucapkan menggosok luka-lukanya, mengingatkannya pada apa yang dilihatnya kemarin. Mengingatkannya tentang ciuman Ye Peicheng dan Qiao Moyu, dan tentang Qiao Moyu yang bersandar di lengan Ye Peichen.

Yang seharusnya adalah posisinya, namun diambil oleh pria lain!

“Qiao Ruohuan, kesabaranku terbatas. Pergillah! ” Xing Yichen bahkan belum mengungkapkan kasus penipuan Qiao Ruohuan dan kebohongan mengenai keberadaannya di usia 14 tahun, karena orang tuanya telah memberitahunya melalui telepon untuk sementara menahan diri mengenai masalah itu.

Meskipun Grup Xing jauh lebih kaya daripada Qiao, kerja sama itu masih memberi mereka banyak manfaat. Grup Qiao telah mematenkan beberapa teknologi terbaik di luar sana, sehingga pilihan terbaik Grup Xing tetap jatuh pada mereka.

Tidak hanya itu, tahap awal kerjasama sudah dimulai. Jika mereka buru-buru menghentikannya, maka saham Group Xing akan jatuh.

Tangannya mengepal erat. Karena itu, ia dapat menahan diri tidak membuat masalah .

Namun, di masa lalu, Xing Yichen benar-benar telah banyak memanjakan Qiao Ruohuan. Begitu dia mendengarnya berkata “pergilah”, dia melompat berdiri. ”Xing Yichen, apakah kau akan bertindak seperti ini terhadapku? Saat itu aku baru berumur 13 tahun, namun aku mempertaruhkan hidupku untuk menyelamatkanmu dari api itu. Apakah kau akan bertindak seperti ini terhadap penyelamatmu? ”

Jika dia tidak mengungkap kejadian itu, maka itu akan baik-baik saja. Namun, begitu dia mengangkatnya, seluruh aura di sekitar Xing Yichen berubah.

Vila besar itu sangat tenang. Mata Xing Yichen dipenuhi dengan kebencian saat dia berjalan selangkah demi selangkah ke Qiao Ruohuan.

Qiao Ruohuan takut dengan auranya, dan tidak bisa menahan diri untuk mundur.

“Qiao Ruohuan, sebelum kau berumur 14 tahun, kau belum pernah meninggalkan desamu. Bagaimana bisa menyelamatkanku? “Suara Xing Yichen sangat ringan, tapi itu seperti es menusuk ke dalam hati Qiao Ruohuan.

Dia melihat tatapannya yang dingin, dan hatinya bergetar: “Oh, belumkah aku mengatakannya sebelumnya? Ketika berusia 13 tahun, aku mengikuti pengrajin keluar desa. Hanya saja dia tidak ada di sana lagi, jadi tidak ada saksi. Jika kau tidak percaya, maka aku juga tidak bisa berbuat apa-apa! ”

“Benarkah?” Xing Yichen mengangkat dagu Qiao Ruohuan: “Ruohuan, kadang-kadang aku benar-benar harus mengagumi kemampuan aktingmu! Aku berencana mengangkatmu menjadi Ratu Film, bagaimana menurutmu? ”

Qiao Ruohuan merasa bahwa Xing Yichen jauh lebih menakutkan dari sebelumnya, dan dia tidak bisa mengerti arti sebenarnya dari kata-katanya.

Qiao Ruohuan menggerakkan bibirnya. Dengan nada menyelidik, dia bertanya, “kakkak Yichen, apa maksudmu?”

“Tidak ada.” Xing Yichen menatap Qiao Ruohuan dan tersenyum sinis: “Aku hanya ingin bertanya, jika ada orang mencuri kebahagiaan orang lain, apa yang harus dilakukan sebagai balasannya?”

TMK 144. Pembalasan (2)
TMK 146. Putus (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.