TGWADG – Episode 2: Keju Sangatlah Enak

Featured Image

Sang pemuda akhirnya membuka matanya ketika sensasi sakit yang tajam menjalar di bahunya. Sekelilingnya dipenuhi dengan suara erangan-erangan pasien. Seiring dengan semakin jernihnya kesadaran pemuda itu, napasnya pun semakin lama semakin memburu. Pandangannya tak stabil. Mengambil nafas yang dalam, ia mempersiapkan mentalnya dan mulai memperhatikan kondisi seluruh tubuhnya. Apakah ada bagian tubuhku yang hilang, adalah satu satunya kekhawatiran yang dipikirkan pemuda itu. Jika ia memperhatikan baik-baik, kehilangan tangan atau kaki merupakan resiko yang selalu menghantuinya.

Berita baiknya, semua bagian tubuhnya masih utuh. Ia tidak kehilangan bagian tubuh apapun. Ia telah dibaringkan di sebuah ranjang lusuh, dan tangan serta kakinya yang terluka akibat hujaman panah sudah terbalut perban. Pemuda itu membutuhkan sejenak hingga akhirnya ia benar-benar bisa menarik nafas lega, karena entah atas keajaiban apa, ia bisa selamat dari mimpi buruk itu.

 

Ketiak ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mensyukuri fakta ia masih bisa bernafas hingga saat ini, malaikat penyelamatnya, yang sangat ia enggan untuk temui, datang membawa teko berisi minuman dan dua potong roti.

 

“Pagi. Lapar?”

“I-ini dimana?”

“Kastil Cabang Antigua. Rumah kita. Kau lapar?”

“…Tidak. Berikan saja air itu, aku masih tidak nafsu makan.”

 

Pemuda itu dengan lemah melambaikan tangannya, menolak tawaran gadis itu. Schera kemudian menunjuk kepada dua bongkah roti yang ia bawa dan bertanya,

 

“Kalau begitu, kamu tidak membutuhkan roti ini?”

“Ahh, kau bisa memakannya. Aku tak ada nafsu makan.”

“Terimakasih banyak.  Akan repot nantinya jika kamu tidak makan ketika ada kesempatan untuk makan. Aku tidak akan mengembalikannya walaupun nanti kamu memohon-mohon. Tidak akan pernah!”

 

Gadis itu menyerahkan segelas air pada pemuda itu lalu segera menggerogoti roti yang sama sekali tidak mungkin untuk mengundang selera itu. Gadis itu menunjukkan senyum yang penuh dengan kebahagiaan sembari perlahan menggerogoti roti yang kering dan keras itu.

Anak ini benar-benar merasa bahagia ketika memakan roti itu, pikir si pemuda.

 

“Hey, setelah malam tadi, bagaimana nasib peloton kita?”

“Separuh dari divisi Jira habis. Pasukan yang berhasil kabur semuanya dalam kondisi kelelahan. Yang tersisa dari peloton kita hanya kamu, aku, dan mungkin ada tiga orang lainnya. Sayangnya kepala regu tidak berhasil kabur.”

“Kepala regu… jadi dia sudah tiada.”

“Dia tidak bisa mentraktirku lagi. Sungguh disayangkan.”

“………………..”

 

Kejayaan yang dimiliki divisi Jira hanyalah fakta bahwa sebagian besar dari anggotanya, termasuk komandan pasukannya, telah gugur dalam pertempuran semalam. Jendral Yalder serta korps pasukan ke-3 yang tengah bersembunyi selaku pasukan penyergap, merasa kebingungan setelah mendapatkan berita kekalahan tersebut, membuat kegaduhan serta segera mundur ke dalam benteng dan menutup rapat-rapat gerbangnya.

Dilain pihak, Pasukan Pembebas Ibukota Kerajaan telah membereskan sisa-sisa dari pasukan yang telah kalah. Hal ini tentu saja mengakibatkan kondisi semangat pasukan mereka mulai meningkat.

Pimpinan yang bertugas, Fynn Kattef, yang telah berhasil mengahibisi Jira dielu-elukan sebagai seorang pahlawan.

Kekaisaran yang hingga kini masih menunggu dan mengamati perkembangannya, kini mulai mempercepat perluasan militer mereka, dan berpikiran untuk menyeberangi Sungai Alucia yang menjadi batas nasional antara kedua negara tersebut. Mereka juga mulai mengumpulkan kekuatan militer di barat laut sebagai persiapan invasi besar-besaran.

Saat ini, kedua negara tersebut saling bertatapan, mengamati satu sama lain tanpa adanya konflik yang berarti, namun jika Kekaisaran mulai menyatakan perang, perpecahan tersebut kemungkinan besar akan melibatkan semua pihak di benua tersebut. Pada saat ini, perang yang terjadi hanyalah sebatas perang saudara yang terjadi di dalam kerajaan, dan bukanlah merupakan peperangan yang sampai melibatkan seluruh kerajaan. Setidaknya, masih belum.

Walaupun begitu, semua pihak dapat melihat bahwa hanya membutuhkan waktu hingga akhirnya kekacauan ini akan menyeret seluruh pihak yang ada di kerajaan tersebut.

 

“Hingga nanti anggota baru bergabung dalam pasukan kita, aku akan bertindak sebagai pimpinan regu. Pangkatku sebelumnya hanyalah sebatas prajurit biasa, jadi aku sekarang dipromosikan sementara sebagai letnan dua. Dengan kata lain, atasanmu. Sekarang, kamu dan yang lainnya akan menjadi tanggungan ku.”

“Lelucon mu cukup hanya sampai di sabit raksasamu itu saja. Lukaku mulai gatal karena leluconmu…”

“Aku tidak berbohong. Komandan yang ku bunuh kemarin sepertinya cukup terkenal. Dengan membawa pulang kepalanya, aku menerima pujian, beserta dengan makanan-makanan enak.”

 

Schera telah kembali. Walaupun mengalami kekalahan, namun ia berhasil kembali membawa kepala komandan musuh, beserta dengan kawan sepasukannya.

Ia telah dihujani pujian oleh komandan kompeninya, dan hingga penggantinya ditentukan, Schera telah dipercaya untuk memimpin pelotonnya.

Namun itu bukanlah sebuah promosi. Sebenarnya siapapun juga tidak masalah. Siapapun yang memegang kendali terhadap sebuah kelompok kecil pasukan bukanlah hal penting yang perlu diperdebatkan.

 

“… Benarkah? Apakah ini pertanda kiamat?”

“Dengan lukamu seperti itu, sepertinya kamu tidak mungkin untuk kembali mengemban tugas. Kau sebaiknya kembali ke kampung halamanmu, dan menghabiskan hidupmu dengan baik. Menggarap ladang dengan semangat, dan tentunya kirimkan makanan lezat untukku.”

 

Tentara dengan luka di bahu, lutut dan bagian penting lainnya sudah tidak mungkin untuk digunakan lagi. Mereka biasanya akan segera dikirim pulang, dan mungkin akan direkrut kembali setelah luka mereka sembuh.

Itulah hidup sebagai tentara berpangkat rendah, bak sebuah benda yang dengan mudahnya digantikan. Setidaknya, dipulangkan merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Kemungkinan terburuknya, bisa saja mereka ditinggalkan di medan perang. Pemuda itu merasa cukup lega. Untuk saat ini, ia telah terselamatkan. Bisa dibilang bahwa nasibnya cukup beruntung.

 

“…fuu”

“Yasudah, kau jaga dirimu baik-baik. Begitu kau meninggalkan tempat ini, kita mungkin tidak akan bertemu lagi.”

 

Schera menyelipkan nampan yang ia bawa dalam tangannya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari tenda medis. Pemuda itu memanggil Schera dengan panik. Ia lupa untuk mengucapkan satu hal yang penting.

 

“Ah, t-tunggu sebentar.”

“…Ada apa?”

“T-terimakasih sudah menyelamatkanku. Sungguh, jika kau tidak ada di sana, aku pasti sudah mati. Jadi, terimakasih.”

 

“Pemuda itu menundukkan kepalanya agar Schera tidak melihat matanya. Dalam momen impulsif itu, ia juga merasa takut seandainya tiba-tiba ujung sabit yang tajam itu menancap di lehernya. Mungkin itu bukanlah hal yang baik untuk dipikirkan kepada rekan yang telah menyelamatkannya. Walaupun begitu, ia tetap saja merasa ketakutan.

 

Kastil Cabang Antigua, Markas Militer.

Seorang lelaki paruh baya sedang meneriaki para petugas militer yang menundukkan kepala mereka.

Ia adalah pimpinan dari Korp Tentara ke-3 milik kerajaan, Jendral Yalder. Ia adalah seseorang yang mudah marah, dan dikenal sangat tidak sabaran dalam mendisiplinkan bawahannya. Namun dalam hal kemampuan ofensif, pria itu layak untuk membanggakan fakta bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya dan pasukannya.

Infanteri dan kavaleri berat merupakan keunggulannya. Pasukannya dikenal dengan julukan Divisi Baja, dan dengan konstan mampu memberikan perlawanan yang sengit. Mereka juga dikenal dengan pertahanan mereka yang solid, layaknya tembok besi. Yalder telah mencurahkan keringat dan darahnya dalam membesarkan pasukannya.

Ia telah menumpuk pencapaian yang luar biasa dalam menekan kriminal dan pencuri, serta perlawanan terhadap kekaisaran. Hal ini meciptakan keangkuhan seiring dengan hasil nyata yang ia persembahkan bagi negaranya.

Merupakan aib baginya bahwa ia telah kehilangan 10.000 orang pasukan, dengan sepenuhnya terperangkap dalam jebakan musuh, serta harus kehilangan Jira, orang kepercayaannya. Ia menggeretakkan giginya dengan sangat keras dan mengakibatkan darah mengalir dari gusinya, dan wajahnya sangat emosi, bahkan orang yang melihatnya merasa bahwa seolah-olah pembuluh darahnya dapat meledak setiap saat.

 

“Sial!Sial!!Sialan!!! Para pembelot itu mempermainkanku!! Kalau seperti ini, kebesaran nama Korp Ketiga bisa hancur!”

Tuan, mohon tuan menenangkan diri tuan. Benar, kita sudah kehilangan 10.000 orang pasukan, tapi pasukan utama kita masih kuat. Penting bagi kita untuk memperkuat pertahanan kastil ini sekarang.

 

Pimpinan petugas militer, Sidamo Arte, dengan tenang memberi masukan.

Lahir dari keluarga aristokrat yang bangkrut, ia mendaki jajaran militer hanya dengan mengandalkan akalnya. Tentu saja, adalah hal yang sangat sulit untuk menciptakan jaringan koneksi personal, oleh karenanya, harga dirinya telah berkali-kali diinjak.

Namun, sebagai hasilnya, dengan kokoh ia mengamankan posisinya sebagai pimpinan petugas militer pada Korp Pasukan Ketiga dengan jerih payahnya sendiri, dan bahkan mampu meraih kepercayaan Yalder.

Ia berusia 30 tahun dan masih terbilang muda. Dan bahkan hanya dengan peranan sebagai seorang pendamping dan asisten, terdapat kemungkinan besar baginya untuk dipromosikan lebih jauh lagi.

 

Sebenarnya, sejak awal ia sudah menentang keputusan Yalder untuk melancarkan serangan kejut, namun sebagai seorang bawahan ia tidak mungkin untuk mengganggu gugat putusan yang telah diambil oleh atasan militernya tersebut. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain sekedar memberikan peringatan dan saran. Jika seandainya Sidamo menyinggung petingginya, maka ia harus mengucapkan selamat tinggal pada posisinya.

 

“Kau tak perlu bilang juga aku sudah tau. Tapi aku sudah dipercayakan 10.000 orang pasukan dari Baginda Raja, tidak mungkin bagiku untuk tetap bersembunyi disini, aku akan jadi bahan tertawaan!”

 

Yalder berteriak dengan emosi hingga menyemburkan tetesan liurnya.

 

“Para Tentara Pembebas, bukan, Tentara Pembelot itu sudah berdamai dan menyerap sisa-sisa pasukan Jira yang menyerah. Terlebih lagi, mereka sedang bersiap untuk memperluas daerah kekuasaan mereka.”

 

Petugas militer lain melaporkan kondisi Pasukan Pembebas.

 

“Jika kita hanya berdiam diri, para pembelot itu akan semakin lancang. Orang-orang bodoh itu, apa mereka lupa kewajiban mereka terhadap negara mereka sendiri?! Aku akan menghabisi mereka, bahkan keluarganya!!”

 

Dengan keras Yalder memukul mejanya. Tumpukan laporan di mejanya beterbangan akibat kekuatan pukulannya. Para petugas militer yang berkumpul di ruangan itupun bergerak memunguti dan mengumpulkan laporan-laporan tersebut.

 

“Saat ini tidak ada pergerakan dari pasukan Kekaisaran. Namun, seringkali didapatkan adanya sinyal api aneh yang dikirimkan melalui pos pengamatan mereka.”

“Hmph, bukankah hal itu dimulai sejak beberapa saat lalu? Aku tak percaya orang-orang rendahan itu akan benar-benar melakukan serangan. Mereka memusatkan kegiatan mereka dalam membantu pasukan pembelot itu dari belakang. Mereka sangat mati-matian dalam mempertahankan aset mereka, aku tidak mungkin salah.”

 

Salah satu petugas militer menghela nafas, dan seorang pegawai sipil menentang opini Yalder.

 

“Walaupun begitu, aktifitas militer mereka semakin meningkat. Info ini kita dapatkan dari salah seorang mata-mata kita yang menyusup ke dalam latihan militer mereka.”

“Misinformasi, atau mungkin dia tertipu oleh muslihat mereka. Sudah berapa kali hal ini terjadi sampai detik ini?! Tiap kali, kita selalu meningkatkan pertahanan kita. Tiap kali, persiapan kita sia-sia; tidak akan kubiarkan kau berkata bahwa kau lupa dengan kejadian-kejadian itu!”

“Meningkatkan pertahanan perbatasan kita memang seharusnya kita lakukan. Menyebutnya sebagai satu hal yang sia-sia, bukankah itu satu hal yang berlebihan? Lalu apa rencanamu kalau seandainya pihak kekaisaran benar-benar menyebrangi perbatasan dan meluncurkan serangan saat kita lengah?!”

“Hmpf. Walaupun mereka meluncurkan serangan dengan seluruh pasukan mereka, jumlah mereka bahkan tidak sampai setengah dari jumlah pasukan kerajaan. Perang dimenangkan dengan jumlah. Dengan kata lain, tidak peduli berapapun pertikaian kecil yang dimenangkan mereka, pada akhirnya kita, Kerajaan Yuze, akan tetap menang. Apa kau tidak mengerti akan hal itu, hai tuan pegawai sipil?”

Sembari melihat data statistik yang entah ia keluarkan dari mana, pegawai sipil itu menghela nafas dengan keras.

 

“Tidak mencapai setengah dari jumlah tentara kita? Informasi dari mana itu? Kekaisaran sedang memperluas kekuatan militer mereka, jauh lebih besar dari jumlah yang pernah kita lihat sebelumnya!”

“Terus kenapa! Tidakkah kau tau berapa banyak prajurit lemah yang mereka punya!!?”

 

Para pegawai sipil dan militer pun mulai berdebat. Hal ini adalah hal yang lumrah terjadi, dan Sidarmo tidak lagi bisa menghentikannya. Mengintervensi mereka sudah bukan lagi sebuah pilihan yang mungkin diambil pada titik ini.

 

“Tuan, ini adalah kesempatan baik kita. Selagi mereka dimabukkan dengan kemenangan mereka, jumlah kita jauh melebihi mereka. Kalau seperti ini, memperdebatkan taktik sudah tidak perlu kita lakukan, kita hancurkan saja mereka dengan serangan langsung!”

 

Ketika seorang komandan divisi yang pemberani mengajukan suaranya, pegawai militer lain mulai menyuarakan kesetujuan mereka. ‘Tidakkah mereka belajar dari situasi sebelumnya,’ pikir Sidarmo dengan perasaan terkejut, namun tak ia tunjukkan pada raut wajahnya. Hal ini wajar terjadi pada Korp Pasukan Ketiga.

 

“Mph. proposal kalian cukup bagus! Akan kutunjukkan kepada kalian semua kekuatan dari Divisi Baja kita yang ditakuti semua negara! Pimpinan Petugas Militer Sidarmo, apa kau ingin memberikan masukan!?”

“Siap-! Benteng Salvador, markas para tentara pembelot itu, sudah mulai termakan zaman dan sudah tidak cocok sebagai benteng pertahanan. Ku takutkan bahwa mereka akan melancarkan penyergapan begitu kita berbaris melewati Padang Rumput Alucia.”

 

Sidarmo membuka sebuah peta di atas meja, lalu menunjuk tepat di arah Padang Rumput Alucia.

 

“Jika memang begitu, biarkan mereka menyerang. Infanteri berat kita akan menghabisi mereka semua!”

 

Salah seorang petugas militer mendorong sebuah bidak kuda yang merepresentasikan Pasukan Kerajaan ke arah Benteng Salvador.

 

“Pasukan kecil mereka cukup tak beruntung. Jika mereka bertahan dalam benteng, kita akan menghancurkan mereka. Jika mereka sadar akan kelemahan mereka dan keluar menuju padang rumput, maka ini akan sepenuhnya jadi kemenangan kita. Bukankan kemenangan kita sudah pasti?”

 

Yalder tertawa dengan angkuhnya, dan dengan bar-barnya menenggak air dari sebuah cangkir yang tampak sangat mewah.

 

“Tidak diragukan lagi, musuh pasti sedang membuat sebuah rencana. Kita perlu berhati-hati kalau-kalau seandainya mereka akan memanfaatkan api dan membakar padang rumput itu. Kita tidak boleh jatuh dalam perangkap yang sama dan berakhir seperti Mayor Jira.”

“Jika kita bertempur di padang rumput, bukankah berarti kita tidak perlu mengkhawatirkan sergapan musuh? Jikapun ada, jumlah mereka sangat sedikit. Kita bisa menghancurkan mereka dengan mudah.”

“Musuh sudah membaca jalur serangan kita. Sudah pasti mereka akan menyiapkan sebuah jebakan, aku yakin.”

“Tuan Pimpinan Petugas Militer, kau terlalu cemas. Kalau begini, kau akan cepat mati muda.”

 

Mendengar ejekan itu, para petugas militerpun tertawa.

 

“Tuan, ini bukanlah kecemasan berlebihan. Setidaknya, kita harus mengirimkan pasukan pengintai dan bergerak dengan sangat waspada.”

“Baiklah, baiklah. Perkataan Pimpinan Petugas Militer Sidarmo juga masuk akal. Seperti yang kamu bilang, kita akan bergerak dengan hati-hati, kemudian kita akan menghancurkan mereka hingga keakar-akarnya. Apakah itu cukup?”

“Siap, saya sangat berterimakasih opini saya bisa diterima dan dipertimbangkan.!”

 

Ketika sidarmo dengan hormat menundukkan kepalanya, Yalder berkali-kali menganggukkan kepalanya.

 

“Baiklah. Langkah yang akan diambil oleh Korp Pasukan Ketiga sudah jelas. Kita akan memotong kepala para  pembelot itu, dan dengan tangan kita sendiri, kita akan membersihkan nama Komandan Jira! Kita akan menyerang dengan 80.000 orang pasukan, dan 10.000 akan kita sisakan untuk mempertahankan kastil ini. Kita bergerak menuju garis depan esok lusa! Kalian semua, segera mulai persiapan kalian dengan baik!!”

“Siap!”

Para petugas militer memberi hormat dan meninggalkan kantor militer utama.

Sidarmo masih berpikir selama beberapa saat, hingga akhirnya setelah mengangguk kecil, ia ikut meninggalkan ruangan itu.

 

Kastil Cabang Antigua, Area Perkemahan.

 

100.000 orang pasukan telah dikumpulkan dari area sekitar, dan kompeni Schera terpaksa harus pindah dari barak yang mereka gunakan. Mereka terpaksa harus berlindung dalam sebuah tenda lusuh dan beristirahat di sekeliling api unggun.

 

“Gara-gara mereka kadet militer dari Ibu Kota, badanku harus membeku kedinginan. Ahh, dingin sekali. Sepertinya aku benar-benar akan mati kedinginan.”

“Kalau polisi militer mendengar omelan kita, mereka akan dengan senang hati mulai mengomeli kita. Jangan melibatkan aku, kawan.”
“Sumpah, hari dimana aku diomeli polisi militer akan menjadi hari dimana aku mati. Jangan tinggalkan aku.”

“Diam. Menjauh dariku, aku tidak doyan laki-laki.”

“Yaah… Jumlah makanan juga berkurang. Aku tidak bisa apa-apa kalau seperti ini. Selain itu, kepala regu kita agak aneh. Apa yang sebenarnya dipikirkan para atasan?”

“Haha. Seandainya saja dia sedikit berisi. Walaupun dia makan segitu banyak, kemana sebenarnya larinya makanan itu? Seandainya saja dadanya lebih berisi.”

“Aku sih lebih doyan bokong. Sayangnya kepala regu kita sama sekali tidak berisi.”

 

Para peloton yang hancur akhirnya mulai digabungkan. Inilah peloton yang harus dipimpin oleh Schera. Namun, itu adalah peloton yang tidak besar, dan hanya berjumlah 10 orang.

 

“…Kami, sudah diselamatkan oleh Schera… Tidak, oleh Kepala Regu Schera. Penampilan luarnya mungkin seperti itu, tapi kekuatannya benar-benar gila. Dia meluluh lantakan pasukan musuh sendirian. Kalian lebih baik mengetahuinya.”

“Ya, ya, aku dengar, sudah berkali kali aku mendengarnya. Yah, setidaknya sebagai peloton yang dibawahi oleh kepala regu yang begitu hebat, kita bisa hidup lebih lama.”

“Cukup menjanjikan.. Sebenarnya aku tidak terlalu perduli jika harus mati. Haruskah kita berharap bahwa kita akan menjadi pahlawan, tidak perlu ikut menyerang, dan hanya menonton dari pinggir medan perang?”

“Hahaha. Bersulang, untuk Tuan Kepala Regu Schera, pahlawan kita!”

“Bersulang!”

 

Para tentara itu mulai menenggak alkohol dan menunjukkan senyum yang lebar.

Para anggota regu yang sebelumnya merupakan rekan Schera merinding sambil memegang erat sup mereka.

 

“…..”

“…. Kenapa?”

“T-tidak, tidak ada apa-apa.”

“Dasar orang aneh. Sup mu mulai dingin. Ayo cepat habiskan. Setelah itu kita bersenang-senang, kita minum-minum.”

 

Schera adalah orang yang menyelamatkan dirinya dari masalah. Jika ia tidak ada, sudah pasti dia akan mati pada malam itu.

Oleh karena itu, walaupun ia berpikir bahwa Schera adalah jelmaan Malaikat Maut, ia tidak akan menyebutkannya kepada orang lain.

Walaupun sosok Malaikat Kematian terlihat dengan jelas, ia tidak akan mengatakannya. Jika ia keceplosan, mungkin saja ia yang akan jadi korban selanjutnya.

Oleh karena itu, dia tidak akan mengatakan apa-apa. Dia tidak mau menarik perhatian Sang Maut.

 

Ketika ia menghabiskan semangkuk supnya yang hambar, ia memutuskan untuk bergabung dengan rekannya untuk menghangatkan diri di sekeliling api unggun.

 

Pada saat yang sama, Schera dengan elegannya sedang berjalan di antara udara dingin. Sebuah lencana yang menandakan bahwa ia adalah seorang Letnan Dua tersemat dengan gagahnya.

Walaupun ia sangat tidak puas dengan fakta bahwa jumlah makanan yang ada semakin sedikit. Ia masih merasa senang karena seorang kolega yang ia selamatkan memberikannya sepotong roti dan keju. Sembari berjalan di barikade dan melihat bintang, ia menikmati makan malam yang baginya terasa mewah.

 

“…Bayangan mencurigakan terlihat. Setidaknya aku cukup menganggur. Haruskah aku memeriksanya? Mungkin saja aku akan mendapatkan makanan enak. Sesekali, aku ingin makan buah. Hanya ada makanan kering akhir akhir ini.”

 

Kata Schera sambil menjilat bibirnya.

Dalam pandangannya terdapat sekelompok orang yang melihat-lihat dengan resah sembari melangkah dengan hati-hati, seolah tak ingin sampai langkahnya terdengar.

Di pundak mereka menggantung sebuah tas besar, seolah-olah mereka sedang kabur di bawah bayangan rembulan. Ia dapat melihat bahwa mereka terdiri dari sekitar sepuluh orang, namun ia tidak bisa memastikannya.

 

Schera menjentikkan bukti pangkat Letnan Dua-nya dengan jarinya, lalu ia melangkah turun dari tangga menuju sekelompok orang mencurigakan itu.

Ketika cahaya bulan menyinari sabit raksasanya, bilah tajam sabit itu bersinar tajam layaknya predator yang telah menemukan mangsa.


 

TGWADG - Episode 1: Roti Terasa Lezat [2]
TGWADG - Episode 3: Kacang Panggang Cukup Lezat

Leave a Reply

Your email address will not be published.