TGWADG – Episode13: Kacang Kenari Dengan Saus Merah… Aneh, Tapi Enak [1]

Featured Image

(Bagian 1)

Seminggu setelah diputuskannya operasi Pelintasan Sulawesi, David bertolak dari Belta dengan membawa 15.000 orang pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya. Ia mendirikan kemah di mulut Jembatan Besar Sulawesi dan mengibarkan bendera komandan pasukan.
Oleh karenanya, seolah menyambut mereka, Pasukan Kebebasan juga menyebarkan pasukan mereka di sisi lain Jembatan Besar Sulawesi. Dengan jelas, mereka menunjukkan niat mereka, ‘Kalian tak boleh melewati jembatan ini’. Tentu saja, mereka tak akan membiarkan mereka mengambil kembali Antigua, yang telah dengan susah payah berhasil mereka ambil alih.
Melihat perkemahan mereka, David tertawa mencemooh.

“Jika dilihat, kurang lebih 40.000 orang? Sepertinya rencana untuk memancing pasukan utama mereka berjalan mulus.”
“Begitu juga dengan rencana kita untuk terus mengirimkan pasukan seolah kita meminta bala bantuan, juga berjalan dengan lancar. Kita tinggal mengikat mereka pada posisi ini, sehingga mereka tak mungkin merespon Antigua dengan cepat,” ucap Kepala Pimpinan Petugas Militer, dan David mengangguk, tanda setuju.
“Kita harus memerintahkan para pasukan kita, memperingatkan mereka untuk tidak lengah apapun yang terjadi. Kita juga harus menahan mereka, jangan sampai mereka menyeberangi sungai ini dengan paksa. Perketat pengawasan kita.”
“Sesuai dengan yang telah diinformasikan pada saya. Pasukan pengintai telah saya turunkan di bibir sungai Alucia, dan pasukan yang bertugas untuk mengamati jembatan ini telah siap.”
“Seperti yang kuharapkan, kau bisa bekerja dengan cepat, Kepala Pimpinan Petugas Militer.”
“Menerima pujian Yang Mulia, Hamba merasa tak pantas,” ucap Kepala Pimpinan Petugas Militer itu.
“Dari sini, kita akan menghadapi perjalanan panjang. Aku akan mengawasi jalannya operasi ini dari markas ini.”

David kembali memasuki tendanya, yang diikuti oleh Kepala Pimpinan Petugas Militer itu. Saat ini mereka saling berhadapan muka satu sama lain, dan kondisi ini terus berlangsung tak berkesudahan. Sesekali, terompet atau genderang akan terdengar, dan tanda bahwa mereka akan menyerang berkali-kali muncul. Tanpa ada satu panah pun yang ditembakkan, pagi pun disambut malam.

-Sungai Alucia, Titik Penyeberangan-
Pasukan konstruksi yang menunggu hingga malam tiba, menyusun rakit-rakit kecil hingga mencapai seberang sungai, lalu menutupinya dengan papan-papan kayu hingga membentuk jembatan. Hingga saat ini, tak tampak adanya pergerakan dari pihak musuh. Jika musuh sampai menemukan mereka sekarang, akan mudah bagi mereka untuk menenggelamkan para Pasukan Kerajaan. Jika ini terjadi, tentu saja mereka akan dengan mudah dihabisi. Walau begitu, mereka dengan selamat berhasil menyelesaikan misi mereka. Ketika papan terakhir diikatkan, pasukan konstruksi berhasil mencapai daratan seberang. Mereka akan memperkuat jembatan itu sehingga kereta dapat melintasi jembatan itu dengan aman, dan mereka kemudian mengirimkan sinyal pada kavaleri Divisi Pertama. Langit mulai terang. Matahari tak lama lagi akan menampakkan wajahnya.

“Pendirian jembatan pontoon telah selesai. Sisanya akan kami serahkan pada anda. Kami, segera setelah pasukan Divisi Pertama berhasil menyeberangi jembatan ini, akan segera membangun markas di tepi sungai.”
“Kerja bagus. Serahkan sisanya pada kami. Kami akan menginjak mereka dalam sekali serang, lihat saja!”

Komandan kavaleri, Mayor Jendral Alexei mengangguk dengan semangat. Kepala Pasukan Konstruksi, menegakkan punggungnya dan memberikan sikap hormat.

“Siap! Semoga nasib baik beserta anda!”

Walaupun udara cukup dingin, namun suasana mulai menegang.
Yang memulai pertempuran ini, adalah kami.
Mayjen Alexei menghunuskan pedangnya dan memberi perintah pada pasukannya.

“Divisi Pertama, Pasukan Kavaleri, Maju! Target, Kastil Cabang Antigua!”
“Siap!”
“Maju! Tetap Dalam Barisan!”

10.000 orang pasukan kavaleri  akan diseberangkan melalui jembatan pontoon. Walaupun beberapa penunggang kuda yang belum cukup terlatih jatuh ke sungai, pada dasarnya bisa dibilang bahwa mereka sukses menyeberangi sungai itu. Mereka bergerak menuju Padang Alucia, tanpa diketahui oleh musuh. Unit kavaleri Schera menyeberang terakhir sebagai pasukan penjaga garis belakang.

“Agak goyang. Rasanya aku ingin muntah.”
“Mau bagaimana lagi. Hanya sebentar, jadi bertahanlah dan jangan sampai jatuh.”
“Aku tak akan jatuh!”
“Kau akan menakuti kudamu, jadi, jangan ribut. Lakukan lagi, maka aku yang akan mendorongmu.”

Ucap Schera dengan nada memerintah, Katarina menjadi lemas. Vander, yang berada di sebelahnya, mencoba untuk menghiburnya.
Tak ada seorangpun dari unit Schera yang terjatuh. Mereka juga tidak mengibarkan bendera baru mereka. Ajudan Schera berusaha untuk mencegah hal ini terjadi, karena mereka menganggap bahwa hal ini tak pantas. Tentu saja, pasukan Schera tak menyerah. Mereka berencana untuk emngibarkan bendera itu segera setelah muncul kesempatan.

Memastikan Divisi Pertama telah berhasil menyeberangi sungai, Pasukan konstruksi melanjutkan pekerjaan mereka mendirikan perkemahan di Titik Penyeberangan Sungai Alucia. Mereka  mulai mempersiapkan jembatan tersebut agar bisa menopang unit perbekalan. Bersamaan dengan itu, Pasukan Utama dari Divisi Kedua, yaitu campuran dari divisi infanteri Pasukan Keempat, mulai menyeberangi sungai. Mereka merupakan pasukan besar yang terdiri dari 50.000 orang, dan tentunya akan membutuhkan waktu lebih untuk dapat menyeberangi jembatan itu.

Mayjen Alexei, yang dipercaya sebagai pasukan garis depan, dengan segera bertolak menuju Padang Alucia. Anehnya, tak ada seorangpun pasukan musuh yang terlihat. Mungkin, seluruh pasukan mereka telah digerakkan menuju Sulawesi, pikir Alexei. Divisi Kedua masih terlambat di belakang mereka, dan saat ini, mereka bergerak dalam formasi kolom yang panjang. Satu-satunya yang harus diperhatikan oleh unit kavaleri Divisi Pertama adalah pergerakan pasukan utama musuh yang bergerak menuju Sulawesi. Dalam situasi dimana mereka harus mengubah haluan, maka pasukan kavaleri harus menyergap mereka, dan menunggu pasukan David yang semula bertugas untuk mengelabui musuh di Jembatan Sulawesi, untuk mengejar dan menghimpit pasukan musuh dari belakang.

“Oke, seseorang pergi dan amati apakah musuh bergerak mundur dari Sulawesi!”
“Siap, laksanakan!”
“Penunggang lain, cek pergerakan divisi lain yang ada di belakang kita. Cepat!”
“Siap!”

Dua orang pengawalnya dikirim untuk melakukan pengintaian, dan pada saat itu, divisi pertama berhenti bergerak. Karena tak ada sedikitpun perlawanan, pergerakan mereka berjalan dengan sangat lancar, terlalu lancar malah. Dalam interval ini, mereka akan mengistirahatkan kuda mereka, dan seluruh anggota pasukan akan melakukan istirahat makan. Dengan rakus, Schera menghabiskan bekal yang ia bawa. Saat ini, waktu sedikit melewati tengah hari. Sebelum merebut Antigua, dan sebelum malam tiba, mereka ingin agar mereka dapat menyusun formasi pertempuran, sehingga pasukan ketika pasukan infanteri datang menyusul, mereka bisa dengan segera menyusun persenjataan berat.

Seorang penunggang kuda bergerak dengan cepat ke arah Alexei yang sedang duduk di sebuah kursi dan menyusun pergerakan mereka bersama ajudannya pada sebuah peta. Tanpa jeda, ia segera turun dari kudanya dan melapor dengan suara keras.

“Mayjen, pasukan musuh terlihat di Padang Alucia! Mereka mengibarkan bendera milik pimpinan Pasukan Pemebrontak, Alturan! Ia memimpin beberapa ribu pasukan infanteri!”
“Apa katamu!? Gadis pemberontak itu dengan santainya berada di depan kita?!”

Teriak Alexei, yang tanpa sadar beranjak dari kursinya. Tepat di depan matanya, jalur menuju kejayaan terbuka lebar. Tak ada pilihan lain selain melawannya. Jika ia berhasil mendapatkan kepalanya, maka sudah pasti ia akan mendapat kenaikan pangkat. Ia harus pergi, pikir Alexei dengan tak sabar.

“Yang Mulia, kesempatan besar ini tak mungkin datang kedua kalinya. Jika kita membunuhnya di sini, semua masalah akan selesai. Mungkin, kita bahkan tak perlu merebut Antigua.”
“Pencapaian terbesar akan diraih oleh anda, Mayjen!”
“Aku tau! Beri sinyal pada unit kavaleri. Kita akan segera melakukan serangan!”
“Siap!”
“Kepala Altura akan diambil oleh kita! Kita akan mendapat hadiah apapun yang kita inginkan!!”

Oleh aba-aba Alexei yang termakan nafsu, Kavaleri Divisi Pertama dengan sepenuh tenaga menyerbu unit pasukan Altura.
Seolah merupakan prediksi mereka, Pasukan Kebebasan mulai mundur, dan mencoba lari layaknya seekor kelinci buruan.
Peloton yang lambat akan dengan mudah dihabisi oleh unit kavaleri. Pergerakan unit kavaleri itu sangat tajam melihat umpan yang ada di depan mata mereka.
Alexei belum menyadarinya, namun Divisi Pertama jauh terpisah dari Divisi Kedua. Divisi Kedua, yang terdiri dari unit campuran, memiliki masalah pada kepemimpinannya, dan bahkan berbaris saja menjadi sangat sulit bagi mereka. Terdapat banyak penghianat yang kabur di tengah-tengah perjalanan mereka, dan semangat mereka sangatlah rendah.

Karena tak pasukan penjaga garis belakang tak ikut bertarung, pasukan kavaleri Schera berada di pertengahan jajaran barisan itu. Tentu saja akan menjadi hal yang tak mungkin, bahkan akan menjadi sebuah lelucon bodoh, jika kepala Altura sampai direbut  oleh seorang gadis kecil. Melihat sekarang merupakan kondisi yang tepat, unit Schera dengan sigap mengganti bendera mereka. Terkena angin, bendera gagak putih yang terbang di balik layar hitam berkibar dengan gagah. Padang itu diwarnai oleh matahari yang terbenam, dan sebentar lagi malam yang berbahaya akan segera tiba.

“Apa kita tak akan mengejar mereka, Mayor Schera?”
“Kita tak bisa melawan perintah. Kita pasrah saja dan menunggu di sini. Yang penting, kita tak boleh lengah dalam pengamatan kita terhadap kemungkinan serangan kejut.”

Ia memberi sinyal pada seorang pasukan kavaleri di dekatnya, dan menunjukknya sebagai pengintai.

“Namun, jika anda berhasil membunuhnya di teritori musuh, siapapun akan mengakui anda!”
“Aku sama sekali tak tertarik untuk memakan makanan yang dipenuhi racun. Pada masa itu, aku akan dengan senang hati membiarkan orang lain untuk memakannya.”

Turun dari kudanya, Schera mengeluarkan kenari dari tasnya. Ia berjongkok dan menghancurkan cangkang kenari tersebut dengan sabitnya. Kenari di dalamnya juga ikut hancur, dan ia mulai melahap remahan-remahan kenari itu.
Vander berbisik pada Katarina dengan suara kecil sehingga tak dapat didengar oleh Schera.

“Ketika Mayor melakukan itu, ia terlihat seperti seekor hewan kecil.”
“Diam kau!”

Di kejauhan, penunggang kuda yang diutus sebagai pengintai oleh Alexei, kembali dengan wajah yang panik. Pasukan utama di Sulawesi sepertinya bergerak menuju arah mereka.

“Kemana Mayjen Alexei!?”
“Yang Mulia Alexei telah bergerak maju ke arah barat untuk mengejar pimpinan pasukan musuh. Kenapa? Tenanglah dan ceritakan yang terjadi.”

Ketika Schera bangun dan bertanya, ia mendapati diri mereka sedang dalam kondisi tak terduga.

“Pasukan utama musuh yang ada di Sulawesi adalah palsu. Jumlah mereka banyak, namun setengahnya adalah rakyat sipil yang menyamar. Pasukan utama musuh kini berada entah dimana!”
“Segera laporkan pada Yang Mulia Alexei.”
“Kau tak perlu bilang juga aku tau! Kalian juga segera bergabung dengan pasukan kita!”

Ia bergegas memacu kudanya dan bergerak menuju pasukan utama Alexei. Schera yang mengamatinya, kini menyilangkan tangannya.

“Hmmm, kira-kira apa yang harus kita lakukan.”
“Pasukan utama tidak berada di Sulawesi, artinya mereka menitik beratkan pada pertahanan Antigua? Tidak, langkah itu tak memiliki nilai strategis…. jangan bilang…. jangan-jangan kita sedang dikepung?”

Vander mengeluarkan petan yang dimilikinya dan mengeceknya. Katarinya yang ikut melihat peta tersebut menyuarakan opininya.

“Mayor… kurasa kita berada dalam situasi genting. Kurasa, pasukan Altura merupakan umpan.”
“Begitu…”
“Jika kita bergerak dengan ceroboh, kita bisa saja diserang dengan serangan kejut. Segera, perintahkan…”

Penunggang kuda lain datang dengan wajah yang tak kalah panik

“Kemana Yang Mulia Alexei!!? Aku membawa berita penting!!”
“Yang Mulia telah bergerak maju untuk mengejar pasukan musuh! Apa yang terjadi?!”
“Titik penyeberangan kita sedang diserang! Mereka berada dalam pengepungan!!”
“Tidak, Tidak mungkin!”

Jika Antigua ada di dalam sebuah kantong, maka titik penyeberangan itu merupakan mulut kantong tersebut.
Pasukan kerajaan, dengan penuh kesediaan, memasuki kantong neraka ini. Fakta bahwa pasukan David di Sulawesi merupakan umpan sudah terbongkar. Sebuah rencana yang bagus, namun jadi tak bermakna bila hal ini terbongkar.
Sejak awal, rencana ini merupakan rencana yang sangat tidak cocok bagi pasukan kerajaan yang banyak pasukannya telah membelot dan kabur dari kemiliteran. Ditambah lagi, karena pasukan campuran itu baru saja dibentuk, tak akan ada satu orangpun yang curiga jika seandainya ada mata-mata musuh yang berhasil menyusup ke dalamnya. Informasi mereka sudah jelas mengalir ke tangan musuh sepenuhnya.

Kavaleri Divisi Pertama berhasil ditarik oleh Altura. Divisi kedua yang baru saja menyeberang, telah disergap musuh, dan jembatan itu berhasil dihancurkan. Bersamaan dengan divisi ketiga dan perbekalan, mereka sudah jauh terpisah. Benar-benar terkepung, dengan Sungai Alucia di belakang mereka, dan pasukan musuh yang bersembunyi di depan mereka, mereka harus ditelan oleh serangan yang ganas. Infanteri Divisi Kedua yang mencoba kabur, kini menjadi tumpukan mayat. Ada juga mereka yang didorong hingga sungai dan tenggelam di dalamnya. Karena menggunakan baju pelindung yang berat, mereka tak mampu berenang di tempat yang dalam.
perkemahan yang seharusnya menjadi markas sementara bagi mereka, kini telah menjadi gambaran neraka.

(bersambung)

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.