TGWADG – Episode 1: Roti Terasa Lezat [2]

Featured Image

(Bagian 2)

Pasukan Kerajaan Yuze, Markas Korp Pasukan Ke-3. Komandan korps pasukan, Jendral Yalder, memutuskan untuk meluncurkan serangan gerilya seiring dengan tibanya malam. Saat malam, mempertahankan barisan sangatlah beresiko. Sangatlah besar kemungkinan munculnya para desertir, mereka yang pengecut dan memutuskan untuk kabur dari ketentaraan.

Yang akan melaksanakan serangan kejut adalah Korp Pasukan Ke-3, mereka adalah pasukan elit yang sangat terhormat, pasukan yang terdiri dari 10.000 orang dan dikomandoi oleh Mayjen Jira. Strategi mereka adalah dengan bergabung dengan tentara cadangan di Kastil Cabang Antigua, lalu meluncurkan serangan jitu tersembunyi terhadap lumbung persediaan makanan yang berada di sekitar benteng pertahanan musuh. Jika serangan ini berhasil, tentunya serangan ini akan mengakibatkan kerusakan besar terhadap Tentara Kebebasan.

Tentu saja pengamanan musuh akan sangat ketat, tapi Yalder dengan angkuhnya berkata “Jika ini dilaksanakan oleh pasukan elit ku, kami pasti bisa meratakan mereka”. Oleh karena itu, melalui pengambilan suara oleh para petinggi, strategi ini akhirnya disetujui dan dilaksanakan.

Walaupun demikian, bagi mereka yang dilibatkan, hal ini mungkin merupakan kejadian yang mengkhawatirkan. Jika mereka maju dan berperang, mereka akan mati. Tentu saja, mereka yang mati kebanyakan akan berasal dari para prajurit berpangkat rendah, mereka yang sangat mudah untuk digantikan.

 

Serangan kejut ini terdiri dari dua fase.

Para prajurit berpangkat tinggi, tentunya setelah serangan kejut ini berhasil, akan melakukan pengejaran terhadap para pasukan pembelot, tanpa terkecuali. Setidaknya, itulah rencananya.

Pada jalur pengejaran, separuh dari Korp Tentara Ke-3, yang awalnya bertahan di dalam  benteng, akan bersembunyi di pepohonan dan bersiap untuk menyergap.

Lalu, unit pengejar akan mengepung musuh untuk kemudian menghabisi mereka sekaligus.

Jika taktik ini berhasil, para pembelot yang menamakan diri mereka sebagai Pasukan Pembebas Ibukota Kerajaan dapat dihabisi dalam satu serangan.

 

“Apakah serangan malam ini akan berhasil? Entah kenapa aku merasa tidak nyaman.”

“Entah, aku juga tak tau. Aku sudah tak sabar menanti lumbung makanan itu. Itu adalah bangunan yang dipenuhi makanan, kau tau. Kita bisa mengambil makanan apapun yang kita suka, aku yakin.”

 

Schera dan pemuda itu, yang mengenakan baju pelindung murahan, berbaris sambil berbisik satu sama lain. Sekeliling mereka diselubungi oleh kegelapan malam. Tentu saja api atau pencahayaan dalam bentuk apapun tidak boleh dinyalakan, karena pencahayaan tersebut dapat membongkar rencana serangan kejut mereka. Di dalam hutan yang sunyi, para pasukan menahan suara nafas mereka dan hanya berbaris maju.

 

“…Kau tau, aku sudah berpikir sejak lama. Apa hanya makan yang ada di kepalamu? Kau seharusnya juga memikirkan hal lain selain makanan.”

“Ya, tentu saja. Kau baru sadar?”

“Ya Tuhan. Aku iri dengan sifat acuh tak acuh mu…. Kau tau, aku tidak bisa berhenti ketakutan. Aku terus berpikir bagaimana aku tidak akan bisa pulang setelah malam ini berlalu. Aku… aku masih memiliki banyak hal yang ingin ku lakukan. Aku takut mati.”

“Kalau kau mati, kau tidak akan merasa takut lagi. Bukannya itu hal bagus? Kau tidak akan perlu mengkhawatirkan apapun lagi.”

“… Jika kau juga mati, kau tak akan merasa lapar lagi, jadi tentunya itu bagus untukmu. Orang mati tidak akan merasa lapar.”

“Aku rasa kau benar.”

“Benar, bukan?”

“Hei, diam! Musuh bisa saja mendengar kalian!”

 

Mereka merasa bahwa suara pimpinan regu lah yang paling keras. Setelah bertukar pandang, mereka akhirnya diam.

 

Apakah kita sudah berjalan selama satu jam? Ataukah dua jam? Apakah pasukan garis depan sudah meluncurkan serangan? Sebentar lagi kita akan…. Apakah kita akan bisa meluncurkan serangan kejut dengan sukses tanpa diketahui oleh musuh?

Pemuda itu bertanya dalam hati sembari berbaris maju, sembari berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun.

Seketika itu juga ia mengetahui jawaban dari pertanyaan itu. Tidak, seketika itu, pertanyaannya telah terjawab.

 

“Orang-orang tolol dari kerajaan! Kalian semua akan mati di sini!!”

“Pemanah, hujani mereka dengan anak panah! Habisi mereka semua!”

 

Bersamaan dengan komando yang tegas, nyala obor mulai bermunculan dari balik pepohonan. Pada saat bersamaan, suara anak panah membelah kesunyian malam, dan menghujani para Tentara Kerajaan.

 

“S-serangan musuh! Kita disergap tentara pembelot!!”

“A-apa-apaan ini? Apa serangan kejut kita bocor? Mundur! Segera tarik mundur pasukan!!”

 

Jira yang memimpin serangan kejut ini berteriak dengan marah sambil memberikan perintah. Memanfaatkan kecerobohan musuh, lalu menggiring dan menghabisi mereka dalam satu serangan merupakan esensi dari serangan kejut. Namun demikian, peran dalam panggung malam ini berbeda dari yang telah direncanakan. Justru merekalah yang sekarang menjadi sasaran serangan kejut. Mereka ada dalam situasi seekor mangsa yang berhasil dipancing oleh predatornya. Sang Komandan harus segera  menyusun kembali barisan sebelum situasi menjadi semakin buruk.

 

“Api menyebar dengan terlalu cepat! K-Komandan, mereka menyebarkan minyak! Api sudah merambat ke hutan di sekeliling kita!”

“Cepat, buka jalan keluar! Kalau begini terus kita akan habis!”

 

Seluruh rencana penyergapan ini telah bocor ke tangan musuh. Sejumlah minyak sudah dipersiapkan dan disebarkan sepanjang jalur yang seharusnya akan mereka tempuh. Sejumlah besar panah api mulai beterbangan menuju arah mereka.

Sudah tidak mungkin lagi bagi mereka untuk menyusun barisan yang sudah kocar-kacir karena panik. Apakah mereka akan mati terpanggang di dalam hutan, ataukah mereka akan dihujam oleh senjata musuh?

Mayjen Jira terus saja memaki pasukannya agar, entah bagaimana, mereka bisa kabur dari situasi itu. Namun akhirnya, ia gugur di medan perang, terbunuh oleh pemimpin pasukan musuh.

Tidak ada lagi tanda-tanda keangkuhan yang biasa menghiasi wajahnya. Hanya ada satu ekspresi yang tersisa, seolah meneriakkan keinginannya untuk tetap hidup, “Aku tak mau mati!”

 

Peloton Schera yang tengah mengikuti mereka juga ikut tertelan oleh lautan api. Hujan panah tidak kunjung berhenti menghujani mereka. Banyak juga dari mereka yang harus mati akibat pergumulan dengan tentara musuh.

Mereka yang mati adalah kenalan Schera. Ada kalanya ia ditraktir sepotong roti oleh mereka. Schera mengeluarkan sepotong roti yang ia simpan dalam kantongnya, dan mengunyahnya.

Ia tak lagi akan menerima roti dari kawan-kawannya itu. Sungguh disayangkan.

 

“Walaupun jika kita tetap bertahan di sini, kita hanya akan dibakar hidup-hidup. Maju atau mati, kita hanya bisa kabur keluar dari hutan ini. Persiapkan diri kalian.”

 

Pimpinan regu mengeraskan suaranya dan memerintahkan pasukannya.

 

“T-tapi, bukankah kita sudah dikepung juga di luar?”

 

“Jika waktunya tiba, kita pasrahkan nyawa kita kepada peruntungan buruk ini. Kalau kau tidak mau, terserah kalian jika kalian mau diam di sini. Aku tidak perduli jika kalian melawan perintah militer. Tapi ku jamin, kalian akan mati terbakar hidup-hidup…. Kalian yang masih punya nyali, hunuskan pedang kalian. Kita akan menyerbu bersama dengan aba-aba ku.”

 

Pimpinan regu dan para tentara yang prima mengeluarkan senjata mereka, dan melihat ke kanan. Melalui sela-sela dalam lautan pepohonan, sebuah hamparan luas dapat terlihat, dan tak ada musuh yang terlintas. Tentu saja ada kemungkinan bahwa tentara musuh bersembunyi di sana. Dari depan mereka, asap hitam, teriakan dan kobaran api mendorong mereka untuk segera mengambil keputusan.

 

Peloton lain dari belakang mereka entah meneriakkan sesuatu, lalu berlari menuju hamparan luas itu. Pada saat bersamaan, kepala regu juga memberikan perintahnya.

 

“Mulai serangan! Maju!!”

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”

“Maju, maju! Jangan lihat ke bela…”

 

“Tembak!!”

Seiring dengan komando itu, panah-panah beterbangan, sejajar dengan tanah. Para Tentara Pembebas sudah menunggu mereka dengan semangat dan tak sabar. Tak ada satupun dari mereka yang membeberkan posisi mereka pada musuh-musuh mereka. Tersembunyi, panah pada busur, tombak tergenggam erat, mereka telah menyembunyikan nafsu membunuh mereka dengan baik.

Sudah terlambat bagi peloton yang berlari di depan peloton Schera. Onggokan daging yang dihujam panah bertebaran dimana-mana.

Sebuah panah menembus dahi pimpinan regu yang berlari di depan. Tubuhnya pun dipenuhi panah. Beberapa panah menembus baju pelindungnya, dan pimpinan regu pun mati tanpa sempat berteriak maupun terkejut.

 

Si pemuda, entah bisa dibilang mujur atau tidak, hanya terpanah di bahu dan lutut kanannya, serta tidak menunjukkan adanya luka fatal. Namun demikian, hal itu tidak merubah nasibnya. Hanya berbeda waktu, sekarang atau beberapa saat lagi. Para tentara musuh mulai mengganti busur dengan tombak, bergerak maju menutup jarak antara mereka dengannya. Para pasukan peloton yang terluka juga sudah tak lagi dalam kondisi yang memungkinkan mereka untuk memberikan perlawanan. Tanpa bala bantuan, dan peloton lain di belakang mereka sudah berjalan menyusuri jalan setapak menuju Hades, sang dewa orang-orang mati.

 

“U-Uaa!”

 

Dengan kuda-kuda yang tak lagi kokoh, tak ada lagi artinya bagi mereka untuk menghunuskan pedang ke arah musuh. Ia sempat berpikir untuk membuang pedangnya dan menyerah kepada musuh, namun ia segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Mereka tidak mungkin mau mengambil seorang prajurit biasa sebagai tahanan.

…Aku akan mati di sini.

Dari dalam hatinya yang terdalam, pemuda itu tak ingin mati.

 

“Pimpinan regu, mati ya. Sayang sekali, padahal dia sudah mentraktirku banyak makanan. Sungguh disayangkan.”

 

“…Eh?”

 

Ia merasa mendengar suara Schera di sebelah telinganya. Dalam waktu bersamaan, sesuatu berlari menyerbu tentara musuh. Terlalu cepat, dan pemuda itu hanya bisa berusaha untuk mengikuti gerakan itu dengan matanya.

Lalu, darah beterbangan dari dalam kerumunan obor, teriakan bergema dari arah yang sama.

 

“U-Ugyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”

 

“Whew.”

 

“…A-Apa!”

 

Tangan kanan salah seorang prajurit telah terpotong oleh sebuah sabit raksasa, dan kepala pria yang berdiri terpukau di sebelahnya tiba-tiba menari di angkasa.

Bilah tajam dari sabit Schera bergerak tajam, dan kepala-kepala para Tentara Kebebasan terpenggal dan beterbangan, seolah-olah ia hanya sedang memotong tanaman hama.

Pria yang tangan kanannya terpotong, masih belum menyadari apa yang terjadi, dan jatuh tersungkur.

Pendarahannya sangat parah, dan kemungkinan besar ia tidak bisa menghindari kematian.

 

“Oi, apa yang kalian lakukan! Musuh kalian hanya satu! Kepung dan bu…”

 

Kepada wajah pria yang tengah memberikan perintah layaknya seorang pimpinan pasukan itu, sebilah sabit tajam terbang ke arahnya. Mereka yang berada di sekeliling pria itu hanya bisa terdiam menyaksikan wajah pria itu terkoyak, hancur tak berbentuk. Sepertinya, tanpa disadarinya, ia telah berada dalam jarak serang sabit itu.

 

“Hi-hiiiiiiii!!”

 

Teriakan para pasukan pembelot itu menggema. Siapapun juga akan melakukan hal yang sama ketika melihat musibah terjadi pada manusia masih hidup hanya beberapa detik sebelumnya.

 

“Terasa menyebalkan jika ada sebegini banyak manusia. Tapi, aku tak akan membiarkan seorang pun hidup. Aku akan membantai kalian semua para tentara pembelot.”

 

Sembari membisikkan sebuah monolog, sosok itu menghindari sebilah tombak yang menerjangnya. Dalam momen kelengahan itu, sebilah sabit menancap dalam dari atas kepala sang pembawa tombak. Dan dengan seperti itu, sekeliling sosok itu mulai berubah menjadi lautan darah, dan onggokan daging yang tak berarti bertebaran layaknya sampah yang tak berharga.

 

Pasukan Pembebas yang telah dilanda kepanikan dengan tangan yang bergetar mulai menembakkan anak-anak panah.

Schera memutar sabitnya dan menyapu bersih panah-panah itu dengan mudah, layaknya suatu hal yang tak berarti.

Seolah-olah, seorang penakluk, atau seorang pahlawan yang muncul dari legenda tengah datang dan membantu mereka, pikir sang pemuda.

 

Satu-persatu musuh mulai kabur.

Kehilangan semangat mereka, pasukan itu terpecah layaknya baru saja diterjang longsor.

Seketika Schera menunjukkan senyum kecil sambil melangkah maju dengan kaki kanannya:

 

“…T-Tolong! Malaikat maut!!”

“M-monster!! Kita tidak mungkin menang!”

“Aku tak mau mati di tempat seperti ini!!”

 

Beberapa orang yang masih hidup mulai berlarian

Schera memutuskan satu dari gerombolan manusia tersebut sebagai targetnya, dan mengayunkan sabit di tangannya dengan daya yang luar biasa.

Sabit itu membelah sebuah pohon besar yang ada di depannya beserta dengan orang yang berada di baliknya menjadi dua. Tubuh itu mulai mengejang dan meronta sembari mengeluarkan seluruh isi perutnya. Maut menjemputnya dengan seketika.

 

Ketika pemuda itu, beserta dengan anggota peloton lainnya terpaku, Schera berjalan berjingkat mengambil sabitnya. Ia meletakkan sabitnya di pundaknya, dan salah seorang bergumam ketika melihat sosoknya, sosok seorang gadis yang tersenyum bahagia di balik lautan api.
Wajahnya dipenuhi darah. Begitu juga dengan baju pelindungnya. Potongan daging dan isi perut tersangkut di sabitnya. Sebuah pemandangan mengerikan yang membuat orang tidak mampu melihatnya.

 

“……….”
“Hi…Hiiiii!!!”
“Kenapa? Wajahmu pucat, kau tau?”

Dari tengah rerumputan yang dipenuhi dengan bau darah, Maut itu sendiri melangkah menuju sang pemuda. Sosok Schera perlahan terlihat seiring penerangan yang redup.

Seolah dibaluti pakaian hitam, jubah yang compang-camping, sesosok makhluk pembawa kematian telah terpatri dalam pandangan pemuda itu. Sabit yang mengerikan itu perlahan bergoyang ke kiri dan kanan seiring dengan langkah monster itu, seolah sedang memperhatikan sekeliling, mengamati dan mencari mangsa baru.

Hal ini, disaksikan oleh pemuda itu, hingga akhirnya ia mulai kehilangan kesadarannya.


 

TGWADG - Episode 1: Roti Terasa Lezat [1]
TGWADG - Episode 2: Keju Sangatlah Enak

Leave a Reply

Your email address will not be published.