SP 67. Pelakor?

Featured Image

Ketika mereka tiba di Perusahaan DC, semua orang pada awalnya tidak tahu dan tidak mengenal siapa dua orang yang berpakaian jas rapi. Meski aura yang mereka tampilkan sangat dominan, semua pegawai masih bersikap acuh tak acuh.

Dewa memperhatikan hal ini, rasanya dia menjadi sakit kepala. Itu bukan karena pengabaian mereka akan kedatangannya tetapi karena kondisi kantor ini yang … jauh dari standar.

Para pegawai tidak berpakaian rapi, debu ada dimana-mana, bahkan tatanan setiap ruang ditaruh begitu saja. Melihat semua itu membuat mata sakit.

Tepat saat Dewa akan mengeluh pada Sekretaris Han, seseorang datang menghampiri. Seorang pria paruh baya, datang dengan pakaian yang tidak rapi, tergesa-gesa datang padanya.

“Big Boss… Anda … datang.” sambutannya terputus-putus karena dia berlarian sepanjang jalan.

“Hmm.” Dewa menjawab.

Dia tidak perlu menjawab panjang lebar karena setelah itu Sekreatris Han berbicara, menjelaskan, “Big Boss ada di sini untuk meninjau perusahaan yang kamu kelola dan kami juga mendengar bahwa perusahaanmu sedang berada dalam tekanan. Jadi, kami datang dengan tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

“Ah, begitu.” pada titik ini, Mr. Jo, deru napasnya sudah mulai normal, “Kalau begitu, mari ke kantor saya untuk berbincang.”

Dengan begitu, mereka bertiga pergi menuju ruang kerja utama Mr. Jo.

Mr. Jo ini adalah pemimpin utama di perusahaan ini. Sebelumnya, dia dikenal karena kewibawaannya, kebijaksaannya, dan sikap kerja kerasnya yang diturunkan pada semua karyawannya. Tapi sekarang, tampaknya telah berubah, ah! Waktu yang berlalu tapi sikap manusia juga ikut berubah.

Berada di dalam ruang kerja utama, ada banyak asap rokok dimana-mana bahkan beberapa lembar kertas berserakan di meja. Secepat kilat, Mr. Jo membersihkannya, kemudian membuka jendela walau kesan pertama telah muncul tapi itu sudah sedikit rasa nyaman untuk memulai perbincangan.

“Big Boss, silahkan duduk.”

Setelah itu mereka berbincang panjang lebar.

Diwaktu yang sama, di Kota F, di kantin perusahaan.

Rara dan setimnya masih berkutat dengan ide baru apa yang akan mereka ajukan.

Meski sulit tapi mereka masih berdiskusi. Satu per satu jejak pendapat mulai terkumpul tapi tak ada satupun yang menarik perhatian.

“Hei, kenapa kamu diam saja? Bantu kami dengan mengutarakan idemu. Jangan menatap layar ponsel saja!” salah satu rekan setimnya menegur tim lainnya.

Sedari tadi, rekan timnya ini masih sibuk dengan ponselnya dan lebih jauh lagi, dia seakan tidak menaruh perhatian pada diskusi penting ini.

“Apakah kamu mendengarnya juga? Seseorang mengatakan bahwa kekasih Big Boss adalah Aria Cendana.” dia tidak menggubris perkataannya malahan memilih bergosip.

“Mengapa kamu tiba-tiba membicarakan ini?” rekan timnya bertanya, tapi kemudian menjadi tertarik. “Aku mendengarnya sedikit, tetapi mungkin itu tidak benar. Hei, kamu ingat berita saat Aria Cendana datang ke perusahaan dan menyebabkan keributan setelahnya? Setelah kejadian itu, kupikir hubungan mereka tidak sebaik itu.” orang lain berbagi keraguannya.

“Mungkin juga, tapi ada banyak pemberitaan situs online dan dari netizen yang mengatakan bahwa mereka sering terlihat bersama di tempat umum. Itu bukti yang tidak terbantahkan, bukan?”

“Kalau ada foto tentang itu, maka bisa dipastikan bahwa gosip itu benar.”

“Aiyo, kekasih Big Bos ini terlalu misterius, ah! Kita hanya bisa memastikan bahwa kekasih Big Bos adalah wanita cantik.”

“Benar! Hanya itu satu-satunya fakta yang kita punya!”

Di sisi lain, Rara hanya bisa menguping. Untuk menutupinya, dia pura-pura minum air yang ada dihadapannya. Sambil berpikir dalam hati, jika itu memang benar, maka artinya dia secara tidak langsung adalah seorang pelakor; meski hanya pura-pura.

Tidak! Itu tidak bisa disebut sebagai pelakor, dia hanya meminta bantuan pada Dewa.

Hanya sebulan.

Sebulan!

Sesuatu harus ditekankan dua kali.

Lagipula, hubungan mereka adalah sebuah kesepakatan lisan.

Jika lisan, bukankah itu berarti bahwa kesepakatan bisa berubah kapan saja? Bagaimana kalau tiba-tiba ada pihak tertentu yang ingin mengubah rencana? Haruskah dia membuat surat perjanjian dan memaksa Dewa menandatanganinya?

SP 66. Beri Kami Sedikit Waktu!
SP 68. Rara Demam!

Author: ShinMin

Sedang berada dalam fase lelah tingkat maks.

Leave a Reply

Your email address will not be published.