SMWMi 22. Bajingan Tahun 90-an (2)

Featured Image

Yi Zhilan pulang. Ketika bibinya melihatnya, dia bergegas menemuinya. “Lan Lan, mengapa kamu begitu pucat?”

Melihat wajah pucat gadis itu, Bibi Yi diam-diam melihat sekeliling dan melihat bahwa tidak ada seorang pun, dia bertanya dengan lembut, “Apakah ‘itu’ datang?”

(Penerjemah: Aku pikir dia menyiratkan ‘bulanannya’, tetapi tidak jelas di sini …)

Wajah pucat Yi Zhilan berubah sedikit merah, menundukkan kepalanya dan berkata, “Tidak, aku tidak tidur nyenyak kemarin.”

“Jangan pergi ke kota untuk mengulangi kelas yang terlewat lain kali. Kamu seorang gadis. Bahkan jika hanya ada perempuan di rumah keluarga itu, itu tidak aman. Paman dan bibi punya uang dan dapat menyokong mu.”

Melihat kerutan di wajah bibinya yang muncul lebih awal karena kemiskinan, Yi Zhilan merasa masam dan terhibur dengan lembut, “Tidak apa-apa. Jika aku tinggal di rumah Bibi Qin di malam hari, tidak ada yang akan terjadi.”

Orang tua Yi Zhilan meninggal muda. Ketika dia berumur satu tahun, dia dibawa pulang oleh pamannya. Bibi Yi tidak keberatan. Dia benar-benar mencintai keponakannya yang malang seperti yang dia lakukan terhadap putrinya sendiri.

Ketika dia masih kecil, dia terlalu lemah untuk makan bubur padi. Bibi Yi hanya bisa menukar telur yang diletakkan oleh induk ayam satu-satunya dalam keluarga dengan susu dari wanita lain.

Dia juga menderita penyakit besar selama tiga hari, penyakit kecil selama dua hari. Pasangan itu hanya menggertakkan gigi dan bekerja keras untuk membayar biaya pengobatan, membesarkan keponakan dengan aman.

(大病 三天 两天 / Dābìng sān tiān, xiǎo bìng liǎng tiān = penyakit besar selama tiga hari, penyakit kecil selama dua hari / artinya; ia selalu sakit setiap minggu / Imunitasnya sangat rendah.)

Paman Yi adalah petani biasa. Dia keluar sangat pagi dan kembali sangat larut. Dia berusia awal empat puluhan dan lelah. Bibi Yi juga keriput. Saat ini, mereka juga berjuang agar Yi Zhilan pergi ke sekolah dan menjadi mahasiswi.

Tidak ada seorang pun di desa yang bisa mengatakan bahwa mereka bukan orang baik. Yi Zhilan menganggap paman dan bibinya sebagai orang terdekatnya. Dia belajar sangat keras untuk mendapatkan latar belakang akademis yang baik, yang pada gilirannya dapat membantunya menemukan pekerjaan yang baik. Dia menghormati paman dan bibinya dan ingin membiarkan mereka menikmati hidup mereka. Sekarang, melihat ekspresi khawatir di wajah bibinya, keluhan dan kebingungan setelah bangun tadi, bangkit kembali.

Tidak, aku tidak bisa membuat bibi khawatir.

Yi Zhilan berkedip dan menutupi matanya yang berlinang air mata. Dia tersenyum pada Bibi Yi dan bertanya, “Bagaimana dengan Qingqing?”

“Gadis malas itu masih tidur. Sungguh … Aku menyuruhnya pergi ke kota dan mencari pekerjaan, dia menolak dan ingin pergi ke universitas untuk mengikuti ujian masuk. Jika dia punya kemampuan untuk melakukan itu, pamanmu dan aku akan membayar untuknya, bahkan jika kita harus menghancurkan pot dan menjual besinya, tetapi dia tidak punya!”

Mata Yi Zhilan agak gelap, tetapi tidak ada yang terlihat di wajahnya. “Aku akan pergi dan melihatnya.”

Dia memasuki ruangan. Di ruangan kecil yang paling dalam adalah kang tempat mereka berdua tidur bersama. Di atas itu adalah seorang gadis berbaring telentang. Itu adalah Yi Qingqing.

(kang = tempat tidur yang berbentuk seperti panggung yang dapat di hangatkan.)

“Qingqing, Qingqing, Qingqing …”

Yi Qingqing secara pribadi menyerahkan sepupunya yang mabuk ke tangan Hun Zi kemarin. Untuk pertama kalinya, dia tidak tidur nyenyak sepanjang malam. Setelah memicingkan matanya sebentar, dia mendengar suara sepupunya memanggilnya. Dia gemetar dan menegang.

Tapi segera, dia ingat apa yang dikatakan Hun Zi dan mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menggosok matanya dan menjawab dengan suara mengantuk, “apa?”

Melihat reaksinya yang normal, Yi Zhilan menggigit bibirnya dan bertanya dengan lembut, “Tidakkah kamu menarikku keluar untuk minum tadi malam?”

“Mmm.” Yi Qingqing memejamkan mata dan pura-pura bingung.

“Lalu aku mabuk. Kemana kamu pergi?”

“Aku pulang …” Yi Qingqing mengikuti apa yang diajarkan Hun Zi padanya, dan berkata, “Aku mabuk, dan pulang dengan linglung. Kamu bilang kamu akan mencari seseorang, aku tidak tahu kemana kamu pergi … ”

Ada banyak celah dalam kata-katanya, tetapi Yi Zhilan sendiri merasa bersalah.

Yi Zhilan dan Hun Zi adalah sepasang kekasih. Tidak ada yang tahu tentang ini. Biasanya, keduanya sesekali bertemu secara diam-diam. Ini benar-benar tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa dia mabuk dan berlari keluar untuk mencari kekasihnya sendiri.

Keraguan di hatinya hilang. Yi Zhilan tidak bertanya lagi, “Kalau begitu kamu bisa terus tidur. Aku akan pergi membantu Bibi.”

Ketika gadis itu pergi, Yi Qingqing akhirnya membuka matanya. Dia menatap punggung Yi Zhilan dengan kaget.

Ini seharusnya tidak terjadi!

Bukankah Hun Zi mengatakan dia akan membiarkan seluruh desa tahu bahwa Yi Zhilan ada hubungan dengannya, dan akan dengan sengaja membiarkan orang melihat mereka berdua di tempat tidur?

Kenapa dia kembali dengan selamat? Tidak ada keributan di luar!

Hati Yi Qingqing gelisah. Dia ingin bangun dari tempat tidur dan bertanya pada Hun Zi apa yang salah dengannya, tetapi dia takut berlari keluar dan membuat Yi Zhilan curiga. Jadi, dia harus tetap terbelit di tempat tidur sementara dia merasa sangat tidak nyaman, seolah-olah 10.000 semut merangkak naik turun di tubuhnya.

Dia membenci sepupunya, tetapi hanya Hun Zi yang tahu tentang itu.

Ada banyak alasan mengapa dia membenci Yi Zhilan.

Zhilan cantik, baik hati, dan pandai belajar. Bahkan orang tua Qingqing menyukainya.

Setiap kali penduduk desa membicarakannya, mereka memuji Yi Zhilan. Ketika mereka berbicara tentang Yi Qingqing, tidak ada yang bisa dipuji. Mereka hanya mengatakan ‘dia terlihat seperti saudara perempuannya’.

Penampilan Yi Qingqing sangat bagus. Di desa pegunungan yang bobrok ini, dia sudah dikenal sebagai gadis cantik. Tapi siapa yang menyuruh Yi Zhilan terlihat lebih baik darinya?

Orang mengatakan bahwa dia tidak memiliki kemauan untuk belajar seperti Yi Zhilan atau ketekunan seperti Yi Zhilan. Tapi kenapa tidak ada yang pernah berpikir bahwa itu adalah orang tuanya?! Jika dia tinggal di rumah orang lain, tentu dia harus bekerja keras.

Akhirnya, alasan mengapa Yi Qingqing memutuskan untuk bergerak adalah karena lelaki itu.

Long-ge dari kota. Di mata orang lain, dia adalah gangster kecil. Seseorang yang bermain sepanjang hari dan tidak bekerja. Tapi di mata Yi Qingqing; dia punya banyak ‘saudara’ di usia muda, siapa yang berani melakukan sesuatu padanya ketika dia keluar?

Hatinya menyangkut pada Long-ge.

Tapi apa yang dia dengar?

“Siapa yang bisa menandingi Long-ge kita? Tentu saja itu Yi Zhilan. Dia adalah seorang mahasiswi, dan dia sangat cantik. Long-ge sering mengatakan dia cantik.”

Yi Zhilan, Yi Zhilan lagi!

Kemudian, dia mengetahui bahwa Yi Zhilan diam-diam jatuh cinta.

Ketika dia tahu, Yi Qingqing hampir tertawa terbahak-bahak.

Dalam hatinya, jika Long-ge adalah naga, maka Hun Zi adalah seekor cacing yang merayap di tanah. Yi Zhilan tidak memiliki visi dan selera! Dia tahu bahwa Hun Zi berkeliaran di sekitar desa setiap hari, dan dia juga membungkuk pada Long-ge.

Sebuah ide mematikan muncul di hatinya.

Biarkan Hun Zi dan Yi Zhilan bersama! Biarkan sepupu ini; yang telah lebih baik darinya sepanjang hidupnya, menikahi seorang pecundang; yang tidak punya apa-apa.

Lebih baik menghentikannya kuliah dan tinggal di desa pegunungan kecil ini selama sisa hidupnya, sementara dia akan pergi ke kota besar dengan Long-ge dan menjadi penduduk kota.

Semuanya direncanakan dengan baik. Dia mabuk dan menyerahkan sepupunya kepada Hun Zi. Dia menyaksikan pria itu pergi sambil tersenyum. Yi Qingqing takut dan gugup dan berlari pulang dengan panik.

Dia berpikir tentang menunggu sampai hari berikutnya; jadi dia bisa melihat Yi Zhilan dicaci oleh semua orang.

Tetapi bagaimana bisa tidak ada yang terjadi?


 

Sementara itu, Wei Mingyan menghitung uang di sakunya, 32.

Bagaimana dia bisa menikahi seseorang dengan uang sangat sedikit?

Terlebih lagi, calon istri memiliki bayi di perutnya.

Dia memikirkannya dan mengetuk pintu Cheng Tou tua.

Sepuluh menit kemudian, dia dengan antusias pergi dengan jaring ikan di tangannya.

Chen Tou tua menutup pintu dan berjalan kembali ke rumahnya dengan tongkat. Dia berbicara kepada istrinya yang sedang memetik sayuran, “Anak itu juga berkata bahwa dia akan memasak ikan untuk ku makan. Ikan apa yang bisa dia tangkap dengan jaring ku yang rusak?”

“Anak-anak muda suka menyombongkan diri. Jarang sekali anak ini begitu peduli padamu. Ikutin saja maunya dia dengan tenang.”

Chen Tou tua tersenyum penuh kemenangan. “Itu benar. Aku berjanji untuk memasak ikan untuknya. Aku senang melihat anak itu pergi dengan bahagia. Meskipun, dia mungkin tidak menangkap ikan, memiliki pola pikir ini lebih baik daripada tidak sama sekali.”


 

Yi Zhilan membantu menyapu tanah, memberi makan ayam dan memetik sayuran ketika dia melihat pamannya datang; membawa ikan besar yang gemuk dengan senyum lebar di wajahnya.

Bibi Yi sedang merebus air untuk memasak. Ketika dia mendongak, dia melihat suaminya membawa ikan. Wajahnya tiba-tiba tersenyum bahagia, “Bagaimana kamu menangkap ikan itu?”

Keluarga sudah lama tidak makan daging, tetapi melihat ikan ini sekarang, dia sangat senang.

“Aku tidak menangkapnya.” Paman Yi tersenyum lebih besar. Dia menyerahkan ikan itu kepada istrinya dan berkata dengan gembira, “Hun Zi pergi ke gunung belakang untuk menangkap beberapa ikan. Aku tidak tahu bagaimana dia menangkap begitu banyak. Dia memiliki terlalu banyak untuk dibawa pulang. Kebetulan aku lewat. Dia meminjam karung ku dan memberi ku seekor ikan.”

“Ini yang paling gemuk. Lihat! Cepat, masak ikan ini. Lan Lan dan Qingqing sudah begitu lama tidak makan ikan.”

Bibi Yi juga senang dan bergumam bahwa Hun Zi cukup murah hati sementara tangannya yang gesit mulai berurusan dengan ikan itu.

Hanya Yi Zhilan yang memerah diam-diam, sambil melihat ikan itu.

Di sisi lain, Wei Mingyan menyeret sekarung ikan ke belakang dan mengetuk pintu rumah Chen Tou tua.

Begitu Chen Tou tua membuka pintu, dia melihat anak yang tumbuh sendirian itu, tersenyum sambil mengangkat karung besar penuh ikan.

“Paman, aku membawakanmu ikan untuk dimakan.”

 

 

SMWMi 21b. Bajingan Tahun 90-an (1)
SMWMi 23. Bajingan Tahun 90-an (3)

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.