SMWMi 15. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (15)

Featured Image

Di pagi hari, ada ketukan perlahan di luar pintu.

Terbangun oleh suaranya, Panpan membuka matanya, penglihatannya penuh warna pink. Dia duduk beberapa saat, dan menatap langsung ke tulisan elegan di lemari: [Lemari mainan Si Kecil Sayang]. Dia duduk di bawah tirai kasa pink dan akhirnya ingat.

Di masa depan, ini adalah rumahnya, ruangan ini penuh dengan cinta ayah untuk putrinya, ini miliknya.

Panpan berdiri dan membuka pintu. Di luar, seorang pria tampan dengan celemek tersenyum dan berkata, “Bangun dan makan. Ayah sudah masak.”

Setelah dia bersih-bersih dan membuka pintu lagi, dia melihat pria itu bersenandung sambil meletakkan sumpit di atas meja, yang penuh dengan makanan.

Melihat Qiao Panpan, Wei Mingyan memiliki senyum yang lebih lebar di wajahnya dan nada yang lebih tinggi dalam suara magnetiknya. Panpan bisa mendengar bahwa dia sangat bahagia. “Panpan, kamu bisa duduk dan makan dulu. Aku akan memanggil ibumu.”

Panpan duduk dengan ragu-ragu. Di atas meja putih, ada semua jenis hidangan. Di paling kiri, ada vas yang indah dengan mawar yang indah, yang mungkin telah disiram dengan air sebelumnya. Beberapa tetes air menggantung di bunga dan daun. Itu sangat indah.

Kamar yang bersih dan cerah, lingkungan yang menyenangkan dan nyaman, dan bangun untuk sarapan yang baru dimasak. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan ini dalam 18 tahun hidupnya.

“Gunakan saja kursi roda, ini terlalu merepotkan bagimu …” Suara lembut dan menawan Qi Ya datang dari kamar. Dalam ingatan Panpan, dia tidak pernah mendengar ibunya berbicara dengan nada ini.

Qi Ya lembut, tetapi juga kuat. Panpan tidak pernah berpikir bahwa suatu hari, dia akan seperti ini. Seperti gadis muda, percaya dan bersikap manja dengan orang lain.

Kemudian Panpan menyadari bahwa alasan ibunya melakukan ini adalah karena orang yang memanjakannya sudah kembali.

Suara lelaki yang ramah itu terdengar, “Tidak ada merepotkan sama sekali, aku merasa penuh energi ketika aku memelukmu.”

Qi Ya tersipu karena apa yang dia katakan, dan memberinya pukulan lembut di lengannya. “Mulut manis.”

Wei Mingyan keluar dengan dia di lengannya dan meletakkannya dengan lembut di kursi. Ketika dia melihat bahwa Qi Ya duduk dengan mantap, dia sedikit gelisah dan menyokongnya.

“Ayo, cepat duduk. Aku tidak akan jatuh.”

Di hadapan perhatian suaminya, senyum di wajah Qi Ya tidak berkurang sedikitpun. Tiba-tiba dia melihat putrinya menatap mereka, wajahnya menjadi lebih merah.

“Aku akan mengeluarkan sup. Kamu makan dulu.”

“Kamu sedang cedera kaki. Biarkan anakmu membawanya.”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Aku sangat senang, kakiku tidak sakit sama sekali.”

Wei Mingyan berkata, sambil tertatih-tatih dia berbalik dan pergi ke dapur, selalu dengan senyum di wajahnya.

Senyum bibir Qi Ya tidak surut. Dia dengan senang melihat punggung suaminya sebentar sebelum berbalik untuk bertanya kepada putrinya:

“Panpan, apakah kamu tidur nyenyak semalam?”

“Sangat nyenyak.” Panpan menjawab, memandangi dua lingkaran hitam di bawah sepasang mata yang berhadapan dengannya, dia bertanya-tanya, “Bu, apakah ibu tidur nyenyak semalam?”

“Ibu dan Ayah sudah lama tidak bertemu. Setelah mengobrol selama satu malam, aku sangat mengantuk di pagi hari. Ayahmu masih harus bangun untuk membuat sarapan dan berkata dia ingin kita mencoba masakannya. ”

Dengan itu, Qi Ya melihat makanan di atas meja dan berkata dengan senyum ringan, “Dia bahkan tidak bisa mengukus nasi di rumah saat itu, aku tidak menyangka dia bisa menumis begitu banyak hidangan sekarang.”

Panpan mengingat kata-kata Wei Mingyan tentang melakukan pekerjaan kecil di dapur. Dia tersentuh oleh kata-kata itu, tetapi dia langsung ingat hal-hal lain.

“Bu, bukankah ibu mengatakan nama Ayah, Qiao Chengqing?”

Berbicara tentang ini, senyum Qi Ya memudar. Dengan bersedih hati dia berkata, “Tadi malam, ayahmu berkata bahwa dia mengalami konflik bisnis dengan beberapa orang. Dia masuk penjara selama beberapa tahun, dan keluar dengan beberapa keterampilan baru, tetapi perekrut tidak mau mempekerjakannya. Jadi, dia harus mengganti namanya. Kemudian dia menabung cukup banyak dan memulai bisnisnya sendiri.”

Ngomong-ngomong, dia menambahkan dengan emosi, “Ayahmu mengatakan dia menyesal tadi malam. Jika dia tidak mengubah namanya, mungkin kita akan menemukan satu sama lain sejak lama. Tapi sekarang belum terlambat. Mungkin itu sudah takdir. Jika tidak, bagaimana mungkin kamu bisa magang di perusahaan ayah mu? ”

“Aku juga tidak memberitahumu. Nama panggilanmu adalah Nan Nan ketika kamu masih bayi. Ketika ayahmu memulai bisnisnya, perusahaannya dinamai menurut nama kita, ‘Nan’ – ‘Ya’. Kalau tidak, kita mungkin telah bertemu dengannya sebelumnya. ”

(囡囡 / nān nān = Little Darling/ si kecil sayang.)

Mendengar bahwa ibunya penuh dengan pikiran bahagia, Qiao Panpan berpikir dalam hatinya bahwa bahkan jika dia tahu nama panggilannya dan melihat nama Nanya, dia tidak akan membayangkan bahwa bos perusahaan sebesar itu adalah ayahnya sendiri.

“Sup datang!”

“Sup Bunga Telur Rumput Laut!”

(紫菜 蛋花汤 / Sup Bunga Telur Rumput Laut = terbuat dari rumput laut, telur, kaldu ayam, dan irisan jahe.)

Pria itu berjalan perlahan membawa sup sambil tersenyum. Panpan berdiri dan mengambil sup, dan membawanya ke meja.

Dia meletakkan sup itu dan melihat pria itu duduk di sebelah ibunya, menaruh beberapa makanan di mangkuknya. Dia berbicara dengan gembira, “Favoritmu, silakan coba masakanku.”

Alis dan mata Qi Ya melengkung sambil tersenyum. Dia meminum sesuap seperti permintaannya dan melihat orang-orang di sekitarnya. “Kamu ingat setelah sekian lama?”

“Ya, aku ingat semuanya. Apakah enak?” Mata pria itu penuh harapan. Setelah melihat istrinya mengangguk, itu berubah menjadi sukacita.

Sambil makan, Qi Ya memuji, “Ini sangat lezat. Aku tidak menyangka kamu begitu berbakat dalam memasak!”

“Bakat apa?” Setelah menerima pujian, dia tersenyum lebih bahagia dan berkata, “setelah aku mempelajari hidangan ini, aku memasaknya hampir setiap kali makan, untuk berlatih. Aku tahu kamu menyukainya.”

“Ada hidangan lain yang kamu suka juga. Aku akan mengambilkannya untukmu.”

Panpan memandang pria yang memegang piring satu per satu. Matanya berbinar saat ibunya memakannya. Wajahnya penuh kepuasan. Tiba-tiba dia ingat bahwa terakhir kali dia makan di sini, dia mendapatkan empat hidangan dan satu sup, yang semuanya sangat disukai ibunya.

Jelas, pemandangan sangat hangat sekarang, tetapi pemandangan lain muncul di benak gadis itu.

Di rumah yang cerah, seorang pria memasak makanan favorit istrinya dan menaruhnya di atas meja, tetapi dia hanya bisa memakannya sendiri.

Tidak, tidak. Asisten Liu disebutkan dalam catatannya bahwa dia kadang-kadang akan membawa makanannya ke kuburan untuk makan bersama.

Melihat ibunya yang makan hidangan dengan senyum bahagia di wajahnya, dan pria yang masih berdiri untuk memberi makan istrinya sementara kakinya cedera. Panpan merasa hangat di hatinya, dan perasaan buruk yang telah tersebar di hatinya tampak menghilang sedikit demi sedikit.

Setelah makan, Qi Ya kembali ke kamarnya untuk tidur. Wei Mingyan menghentikan Qiao Panpan. Wajah tampannya, yang selalu stabil, penuh kegugupan dan kecemasan saat ini.

“Panpan, apakah kamu ingin mendekorasi ulang kamarmu?” Dia memandang putrinya dengan gugup, seakan takut Panpan akan tidak bahagia, dan dengan tergesa-gesa menjelaskan, “Ketika Ayah mendekorasi, itu sesuai dengan apa yang kamu sukai ketika kamu masih kecil. Sekarang kamu sudah dewasa, kamu mungkin tidak suka. Aku sudah memeriksanya. Gadis-gadis seusiamu tidak suka dekorasi semacam ini. Kau bisa mengatakan apa yang kau suka dan akan siap secepatnya.”

Setelah itu, dia mengeluarkan ponselnya, dan tangannya yang gugup gemetaran. Dia menyerahkannya ke Panpan. “Lihat yang mana yang kamu suka? Ayah akan mendekorasinya untukmu.”

Di ponsel, ada beberapa foto kamar yang indah. Gadis itu menunduk kemudian menatap pria yang masih berbicara karena takut akan ketidakpuasannya.

“Jika menurutmu rumah ini terlalu kecil, aku punya beberapa apartemen di dekat sekolahmu. Apartemen seperti apa yang kamu suka? Kamu bisa menghiasnya sesukamu. Ketika selesai, dan ulang tahunmu tiba, kamu bisa meletakkan apartemen itu di bawah nama mu, oke?”

Ekspresinya sangat hati-hati, bahkan dengan sedikit sanjungan. Siapa pun dapat melihat bahwa ia ingin memberikan segalanya kepada putrinya yang telah lama hilang.

Panpan, yang selalu sangat tenang, menatap pria itu dengan sedikit merah di matanya.

Wei Mingyan langsung menjadi gugup. “Ada apa Panpan? Apakah Ayah mengatakan sesuatu yang salah? Jangan menangis, jangan menangis, aku akan berubah, aku bisa berubah …”

Dia sibuk mencari tisu, berusaha menghapus air mata untuk gadis itu. Panpan tersenyum ketika dia memandangnya, dan dengan berlinangan air mata, dia berkata, “Terima kasih, Ayah. Aku baik-baik saja.”

“Kamu … kamu memanggil ku apa?”

Pria itu berhenti, matanya dipenuhi dengan sukacita yang luar biasa.

Gadis itu terisak dan menjawab dengan suara serak, “Kamarnya didekorasi dengan baik. Aku suka. Ayah, tidak perlu mendekorasi lagi.”

Kamar merah muda membuktikan bahwa dia tidak ditinggalkan dan dia dicintai oleh pihak lain, meskipun dia tidak pernah tahu ini sebelumnya.


 

“Panpan memanggilku Ayah, dan dia akhirnya mengakui ku!”

“Berapa kali kamu mengulanginya? Tidur cepat. Apa kamu tidak mengantuk? Kamu belum tidur sepanjang malam.”

“Tidak mengantuk, aku senang. Panpan memanggilku Ayah.”

“Tidurlah dengan cepat!”

“Kamu tidur, aku akan memelukmu.”

Panpan keluar untuk minum, dan mendengar bisikan dari kamar orang tuanya. Mulutnya naik dan matanya dipenuhi dengan kebahagiaan.

Di masa depan, dia juga punya ayah.


 

Zhu Yun mengenakan topeng dan matanya dipenuhi dengan kebencian. Dia memposting foto di papan buletin.

Dia tidak percaya bahwa ketika seluruh sekolah melihat foto-foto Qiao Panpan yang masuk ke mobil mewah ini, mereka masih akan berbicara untuknya!

Ketika saatnya tiba, bahkan jika dia benar-benar tidak memiliki apa-apa dengan bos Nanya, Zhu Yun juga memiliki cara untuk membuat semua orang berpikir dia melakukannya!

Qiao Panpan, tunggu saja reputasimu berantakan!

 

 

SMWMi 14. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (14)
SMWMi 16. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (16)

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.