SMWMi 14. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (14)

Featured Image

Hari ini adalah hari libur, tetapi kelas masih sangat sibuk, ada diskusi panas tentang apakah Panpan disokong oleh seorang pria tua yang kaya.

Lu Lin menjelaskan atas namanya, [Itu bos perusahaan kami, Panpan adalah asisten pribadinya. Bukankah normal masuk ke mobilnya?]

Zhu Yun: [Bos seperti apa yang keluar dari perumahan pagi-pagi buta? Aku sudah memeriksa, itu adalah Wei Mingyan, CEO Nanya, orang terkaya di kota. Sepertinya Panpan yang cantik, ingin menjual kecantikannya untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi.]

Dia mengambil foto nya sendiri dan berbicara tanpa ragu. [Wei Mingyan sejauh ini masih lajang, jika Panpan benar-benar bersamanya, dia tidak perlu menghindarinya. Kecuali kalau dia adalah wanita simpanan, sebaliknya pria yang belum menikah dan wanita yang belum menikah bersama-sama … Apa yang akan terjadi?]

[Lu Lin, kamu tidak perlu menjelaskan untuknya. Tidak ada gunanya bagi mu untuk berbicara, orang yang dibicarakan tidak ada di sini.]

Zhu Yun sebenarnya tidak berencana untuk mengungkap foto itu begitu cepat. Tentu saja, langkah ini tidak akan efektif hingga masuk sekolah. Bagaimanapun, awal sekolah dua hari lagi. Dia mampu menunggu.

Peikiran ini tiba-tiba datang karena baru hari ini, pacarnya mengumumkan bahwa dia telah putus dengannya, dan hanya satu jam setelah putus, temannya, yang memata-matai pacarnya, mengatakan pria itu mengeluh tentang dia saat minum-minum.

Garis besarnya adalah Zhu Yun tidak sebagus Panpan. Qiao Panpan tidak bergantung pada orang lain. Dia sangat cantik dan bersikeras mengandalkan dirinya sendiri. Dibandingkan dengan Qiao Panpan, Zhu Yun bukan apa-apa.

Zhu Yun meledak, meskipun dia tahu dengan jelas bahwa pacarnya menyatakan fakta.

Pacar Zhu Yun adalah tuan muda generasi kedua yang kaya, dan dia juga mengenal beberapa temannya. Tentu saja, dia takut menyerang pacarnya, jadi semua kemarahan ini mengalir ke Panpan yang tidak bersalah.

Duduk di depan bar, ada tumpukan botol anggur kosong di depannya. Matanya menatap ponselnya dengan linglung, penuh kebencian.

Tidakkah orang mengatakan bahwa Panpan murni seperti batu giok dan bersih seperti es, dan tidak bergantung pada pria?

Dia harus mengekspos kekurangan ini, biarkan semua orang melihat. Qiao Panpan tidak lebih baik darinya, dipelihara oleh seorang pria seperti dia!

Dengan pemikiran ini, Zhu Yun pertama-tama secara anonim memposting foto-foto dalam grup. Kemudian dia melangkah keluar untuk bertanya pada dirinya sendiri. Sekarang dia tidak sabar untuk menginjak-injak Qiao Panpan di bawah kakinya. Untuk mencapai tujuan ini, dia lebih suka merobek wajahnya sendiri.

Bagaimanapun, dia juga tidak mengatakan sesuatu yang salah, Panpan disokong oleh pria kaya. Itu yang dia lihat dengan matanya sendiri!

Qiao Panpan tidak pernah muncul. Zhu Yun menjadi semakin arogan. Dia mengangkat lehernya dan minum segelas anggur lagi. Dia mabuk dan tangannya mengetuk ponselnya dengan gembira.

[Dia belum keluar dan mengatakan sesuatu untuk waktu yang lama, apakah dia bersalah? Itu mungkin. Di permukaan setiap hari bersumpah dia mengandalkan dirinya sendiri, pada akhirnya dia berhubungan dengan laki-laki di mana-mana. Mencari pria tua kaya Nanya dan tetap berpegang padanya untuk mendapatkan uang. Katakan padaku, jika pria tua itu tahu dia merayu pacar orang lain, akankah dia menginginkannya?]

Qiao Panpan melihat kalimat ini segera setelah dia masuk. Dia hampir tertawa dan tidak marah. Dia menjawab dengan cepat dengan kedua tangan: [Pertama, Pak Wei dan aku tidak dalam jenis hubungan yang kamu pikirkan. Kedua, aku tidak pernah merayu pacar siapa pun.]

[Kamu tidak merayu?! Qiu Meng adalah pria yang kamu rayu! Kamu juga menghasutnya untuk putus dengan ku! Dasar rubah!]

Qiu Meng adalah pacar Zhu Yun yang baru saja putus dengannya. Dia cukup percaya diri untuk mengungkapkan ini. Qiu Meng tidak ada di kelas mereka. Dia tidak ada dalam chat grup ini. Dia adalah orang yang berhati lembut. Zhu Yun bisa mengatakan beberapa kata baik besok, dan pada saat itu, segalanya akan beres. Inilah yang dia yakini.

Zhu Yun merencanakan dengan sangat baik, tetapi hampir tiga detik setelah dia mengirim pesan, notifikasi kelompok itu muncul, Qiu Meng bergabung dengan grup.

[Zhu Yun. Aku meninggalkan mu sedikit harga diri karena aku menganggap mu seorang gadis, tetapi kamu benar-benar memfitnah orang yang tidak bersalah. Maka aku akan menjelaskan bahwa aku ingin putus dengan mu, dan itu tidak ada hubungannya dengan orang lain. Itu hanya karena kemarin aku melihatmu dan seorang lelaki tua masuk ke sebuah hotel, cukup jelas?]

Grup kelas diam sejak awal konfrontasi Lu Lin dan Zhu Yun, dan mereka semua menyaksikan drama dalam keheningan.

Tapi tiba-tiba, pada akhirnya, semua berbalik.

Lu Lin melompat keluar. [Tidak heran kamu menuduh orang tanpa bukti. Kau adalah penggali emas sendiri. Tentu saja, semua orang adalah penggali emas di matamu.]

Zhu Yun meremas ponselnya dengan erat dan wajahnya tidak bisa dipercaya.

Tidak tidak.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya semua orang menyalahkan Qiao Panpan? Kenapa sekarang seperti ini?

Juga, bagaimana Qiu Meng tahu bahwa dia bersama pria lain? Dia menyembunyikannya dengan sempurna, dan dia sangat berhati-hati sepanjang hari kemarin.

Dia menolak untuk menerima bahwa pacarnya menemukannya karena kesalahannya sendiri, jadi hanya ada satu penjelasan.

—— seseorang mengadu.

Pikirkan apa yang dikatakan Qiao Panpan kepadanya sebelumnya. Tepat setelah liburan, Panpan tahu bahwa dia memiliki seseorang di samping.

Itu pasti dia! Kecemburuan pelacur murahan itu membuatnya mengadu, dia ingin menghancurkan kebahagiaanku!

(TLNote: oh plis… tolong ya mbak ….)

Zhu Yun mabuk, otaknya lumpuh karena alkohol membuatnya berpikir. Dia tidak berani menyinggung orang lain, tetapi Qiao Panpan; yang keluarganya miskin dan tidak memiliki dukungan, adalah kesemek yang lunak, sehingga dia bisa mencubitnya jika dia mau.

(Mencubit kesemek yang lunak = untuk membulli seseorang yang lemah.)

Karena itulah, setelah frustrasi dengan pacarnya, dia memutar gambarannya sendiri tanpa memikirkannya dan menunggu orang-orang dalam kelompok itu memandang rendah Panpan. Tapi mengapa akhirnya seperti ini?

Tidak mungkin! Dia tidak bisa menyerah begitu saja!

Bahkan jika dia memiliki reputasi yang buruk, dia pasti akan menyeret Panpan jatuh bersama-sama!

Qiao Panpan sedang tidak ingin memahami apa yang dipikirkan Zhu Yun. Dia mengetuk ujung jarinya beberapa kali di ponselnya. Dia tidak memberi tahu orang-orang dalam kelompok itu bahwa Pak Wei adalah ayah kandungnya.

Dia tahu dengan jelas bahwa jika dia mengatakan ini, gossip akan pecah dengan sendirinya. Tapi jari-jarinya tidak bisa mengetiknya.

Panpan tidak menerima kenyataan, bagaimana dia bisa mengeluarkannya dan memberi tahu orang lain …

“Panpan, mengapa kamu bersembunyi di sini?”

Zhang-jie datang, matanya masih penuh kegembiraan, dan menyarankan, “Bukankah bagus bagi ayah dan anak perempuan untuk saling mengenali?”

Ketika dia di perusahaan, dia merawat Panpan. Mereka sangat dekat. Saat ini, dia hanya bahagia untuk Panpan.

“Zhang-jie …” Wajah gadis itu penuh kebingungan. “Dia meninggalkan kami selama 17 tahun, ibuku dan aku mengalami masa yang sulit, aku tahu dia tentu tidak dengan sengaja berniat jahat, tapi hatiku …”

“Baiklah.” Melihat matanya ketakutan dan penuh kekhawatiran, suasana hati Zhang-Jie sedikit lebih tenang. “Dia selalu berpikir bahwa kamu telah meninggal karena alasan tertentu. Pak Wei selalu sangat merindukanmu, dan kamu dapat melihatnya dengan jelas. Dia akhirnya tahu bahwa kamu adalah putrinya, dan akan rumit baginya jika kamu bersembunyi darinya seperti ini. Kamu mungkin lebih baik kembali dan bicarakan. ”

“Tapi …”

Melihat Qiao Panpan masih ragu-ragu, Zhang-Jie mengeluarkan kartu as-nya. “Aku sangat senang melihatnya bersatu kembali dengan ibumu barusan. Pak Wei dalam kesehatan yang buruk. Aku khawatir sesuatu akan terjadi lagi. Sebaiknya kau kembali dan melihatnya.”

“Di masa depan, aku harap hari-harimu yang baik akan datang.”

Hari yang baik?

Adegan seorang pria berlutut di depan kuburan dan menangis dengan sedih melintas di benaknya. Hati Panpan terasa rumit.

Apakah dia menangis untuknya dan ibunya?

Ketika Dia mengatakan dia membencinya berkali-kali, apakah pria itu merindukan mereka?


 

Ketika Panpan kembali, dia melihat seorang pria dengan mata merah, tersenyum, mengarahkan bawahannya untuk memindahkan barang-barang. Ketika dia melihat Panpan kembali, dia terkejut pada awalnya. Kemudian dia tampak hati-hati dan menjelaskan, “Panpan, aku ingin kalian pulang bersamaku.”

Pada saat ini, dia bukan lagi bos yang tenang dan kuat, tetapi seorang ayah yang berharap untuk dikenali oleh putrinya. “Apakah itu baik-baik saja?”

Gadis itu memandangi ibunya yang bahagia dan menurunkan matanya sedikit dari pria itu. “Penyakit ibu …”

“Aku kenal para ahli di bidang ini. Ketika pemeriksaan selesai, aku akan membawa ibumu ke luar negeri untuk perawatan. Kamu dapat yakin bahwa dia akan sembuh!”

Panpan tentu tahu bahwa itu bisa disembuhkan, tetapi butuh banyak uang untuk menyembuhkan penyakit ini. Dia tidak punya uang, jadi dia hanya bisa memperlambat segalanya.

Awalnya mereka menjadi semakin putus asa. Dia tidak menyangka, ayah kandungnya adalah Pak Wei.

“Panpan, tolong jangan salahkan ayahmu, dia benar-benar punya alasan.” Qi Ya melihat pemikiran putrinya dalam satu lirikan. Melihat ke belakang, dia melirik suaminya yang berhati-hati berusaha menyenangkan putrinya. Dia menepuk tangannya dengan lembut untuk menenangkannya. Dia dengan lembut menjelaskan kepada putrinya yang memandang dengan mata merah yang sama, “Apakah kamu ingat paman kedua yang membeli rumah kita? Ketika ayahmu kembali, kita masih di rumah sakit. Dia berbohong kepada ayahmu dan berkata kita telah tiada … ”

Paman kedua …

Panpan tentu ingat orang ini. Dia menginginkan Qi Ya dan terus-menerus mengganggu dia. Ketika rumah terbakar, mereka menjual tanah dan pergi. Alasan terbesarnya adalah pria itu.

Ayahnya tidak meninggalkannya sebagai seorang anak juga tidak meninggalkan mereka. Dia hanya berpikir mereka sudah mati …

Panpan mendongak dengan mata merahnya dan menangkap mata pria itu.

Melihat putrinya menatap dirinya sendiri, pria yang selalu tersenyum lembut di perusahaan, dengan hati-hati meremas keluar sebuah senyum, penuh pujian.

“Panpan, tolong percaya pada Ayah, aku benar-benar tidak bermaksud untuk …”

Hidung Panpan terasa masam dan hampir meneteskan air mata. Dia menunduk dan menjawab, “Yah.”


 

Setengah jam kemudian

Wei Mingyan mengungkapkan kegembiraan yang tidak normal. Dia membuka pintu dan tertatih-tatih masuk ke rumah. Panpan mendorong Qi Ya, dengan suasana hati yang rumit, dan melangkah ke tempat di mana dia pernah datangi.

Tapi bedanya, kali ini, ini rumahnya.

“Istriku, kamu tahu, hiasan di sini sesuai dengan apa yang kita diskusikan pada waktu itu. Lihat ke dinding, lemari dan sofa, mereka semua jenis yang kamu inginkan …”

Pria itu dengan gembira menjelaskan, sementara Qi Ya duduk di kursi roda, memandangi rumah yang sama dengan yang dia senang bicarakan dengan suaminya, air mata mengalir dari matanya.

“Dinding rumah kita akan dicat krem. Akan terlihat bersih dan tidak mudah kotor.”

“Pastikan kamu mendapatkan lemari. Aku suka lemari semacam itu.”

“Aku suka sofa panjang. Ketika kita membeli rumah, dan tidak punya uang untuk membelinya, kita akan menabung dan membelinya. Ini bisa untuk seumur hidup, dan kita tidak bisa gegabah.”

“Suamiku, apakah kamu mendengarku? Aku sedang berbicara denganmu!”

Dicolek oleh seorang wanita, pria di tempat tidur itu berbalik dan menjawab dengan samar, “Oke, terserah kamu. Ketika aku menghasilkan uang, aku akan membeli satu di perumahan yang kamu sukai dan kemudian menghiasnya seperti itu, oke?”

Mendengar ucapannya yang acuh tak acuh, dia dengan kesal memarahi. “Kamu hanya tahu bagaimana menjawab ‘terserah’. Jika kamu terus malas, kapan rumah baru kita akan menjadi kenyataan?”

Dua puluh tahun kemudian, dia menangis di rumah yang datang terlambat.

“Jadi, kamu ingat …”

“Kupikir kamu lupa …”

Pria itu menggerakkan kakinya yang cedera ke depan, seolah-olah untuk melindungi Qi Ya, memeluknya. Dengan lembut menciumi rambut wanita itu, suara magnetik seraknya berbicara, “Tidak, aku tidak pernah lupa …”

“Pada hari pernikahan, aku bersumpah akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia. Kupikir, aku kehilangan kesempatan untuk melakukan itu …”

Tangannya bergetar dan memegangi istrinya erat-erat. Dia tidak tahu berapa kali dia meneteskan air mata, tetapi kali ini karena kegembiraan.

“Terima kasih, terima kasih sudah menungguku …”

Wajah Qi Ya penuh dengan air mata, tetapi dia tersenyum bahagia, seolah-olah dia adalah seorang gadis muda, tanpa kekhawatiran atau kesedihan.

Pilarnya yang kuat telah kembali, dan dia tidak lagi harus memaksakan dirinya untuk menjadi kuat, dan tidak lagi harus menanggungnya sendiri.

Suara magnetik pria itu jatuh ke telinganya.

“Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku akan melindungimu, melindungi putriku dan membuatmu bahagia setiap hari.”

Seperti biasa, Qi Ya bersandar pada pria itu dan berbisik, “Oke! Aku percaya padamu!”

Dia percaya bahwa mereka akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.

 

 

SMWMi 13. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (13)
SMWMi 15. Ayah Ternyata Bukan Bajingan (15)

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.