SMWMi 28c. Bajingan Tahun 90-an (11-14)

Featured Image

Pramuniagawati itu telah dilatih secara profesional. Meskipun dia memberengut ketika mendengar suaranya, dia dengan sabar menjelaskan, “Maaf, barang-barang berharga seperti jam tangan di simpan di konter dan tidak boleh disentuh. Saya harap anda mengerti.”

Jika saja Huang Miao benar-benar ingin melihat itu, namun kenyataannya dia hanya mencoba untuk mencuri itu. Jadi, ketika Huang Miao mendengar kata ‘berharga’, dia merasa seakan dia telah dihina.

“Apa maksudmu?! Kamu pikir aku akan mencuri jam ini?!”

Dari awal sikap pramuniagawati itu selalu baik, dan tidak ada niatan untuk menyalahkan.

Huang Miao tiba-tiba marah dan membuat para mahasiswa yang ada di sekitarnya bingung.

Khususnya An Qin, yang menggertakan giginya. Huang Miao dibawa olehnya, tapi Huang Miao sangat keterlaluan, bagaimana An Qin tidak kehilangan muka.

Dia mendekati Huang Miao dan menarik lengannya. “Oke, Huang Miao, tidak ada yang serius. Ayo lihat-lihat yang lain.”

Tapi, Huang Miao tidak mengapresiasi itu. Dia mengebas tangan An Qin dengan tampang marah, tapi dia tidak berkata apa-apa lagi.

Mereka semua pergi untuk bermain dan dia bertingkah seperti ini.  Teman-teman sekelasnya melihat satu sama lain. Meskipun mereka malu untuk mengatakan sesuatu, mereka tanpa sadar meninggalkan Huang Miao.

Meskipun mereka menyombongkan status dan hak istimewa mereka sebagai mahasiswa, pramuniagawati itu tidak melakukan kesalahan apapun. Huang Miao bertingkah seperti itu, yang membuat orang-orang melihatnya dengan pandangan menghina.

Huang Miao adalah orang yang peka. Dia kesal ketika dia hampir tertangkap mencuri. Sekarang, dia menyadari tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya, yang membuatnya merasa lebih buruk.

Keluarganya tergolong tidak mampu, tapi harga dirinya kuat.

Saat ini, dia tidak bisa menahan untuk berpikir. Tadi, adakah orang yang menduga dia mencoba untuk mencuri jam itu? Dan, ketika mereka kembali ke kampus, akankah mereka menceritakan pada orang lain tentang hal ini seakan-akan ini adalah candaan?

Semakin dia berpikir, semakin dia merasa panik. Ketika matanya melihat sekitar mall, dua orang yang sedang berbincang dan tertawa tertangkap matanya.

Dia tidak memikirkan hal itu, tapi dia berkata, “Bukankah itu Yi Zhilan? Apakah orang di sebelahnya itu pacarnya?

Melihat ke arah dua orang yang sedang berdiri di sana, Huang Miao mencoab menekan nada senang di suaranya, dengan suara yang aneh, dia bertanya: “Bukankah Yi Zhilan biasanya sangat kaya? Kenapa dia masih mau pergi ke tempat paling murah dengan pacarnya?”

Liu Wen, yang masih melihat pada konter jam dan ragu-ragu untuk membelinya, menengadah dan melihat sosok yang membayang-bayangi hatinya sedang berdiri di samping seorang pria sambil tersenyum.

Dia bahkan menyentuh baju-baju murah.

Tampaknya pria itu tidak punya uang, kalau tidak Lan Lan tidak akan membeli barang murah untuk mengakomodasinya.

Liu Wen berbalik dan mengeluarkan semua uang di dompetnya. Dia berkata kepada pramuniaga, “Saya ingin yang ini. Saya akan langsung memakainya.”

Setelah itu, dia berbalik dan berkata, “Setelah aku membeli jam ini, ayo pergi dan menyapa Lan Lan.”

Dia akan memakai jam mahal ini dan pergi ke pria miskin yang tidak pantas untuk Lan Lan itu, dan memberitahunya siapa yang bisa memberinya kehidupan terbaik.


“Baju-baju yang dijual di sini pada dasarnya sudah harga pabrik, untuk diberikan kembali pada pembeli, merek ini telah dipesan secara khusus. Pada saat tertentu, adakan ‘hadiah harian’ untuk pembeli di area kanan, dan jual beberapa barang di area kiri dengan harga rendah dari waktu ke waktu. Ini tentu saja untuk menarik pembeli dalam jumlah besar. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu ingin menebak siapa yang memberikan ide ini?”

Yi Zhilan melihat ekspresi menyanjung kekasihnya, dan tidak bisa menahan tawa sambil memeluk lengannya. “Siapa lagi coba? Itu kamu, bos besar! penuh dengan ide!”

Adalah hak pria untuk dipuji. Tersenyum bangga, menggenggam pergelangan tangan gadis itu, menunjuk ke lantai atas, “Area anak-anak di lantai dua sedang dibuat ulang. Nanti, kamu bisa datang dengan bayi di lenganmu. Ambil apa yang kamu suka dan bersenang-senanglah!”

Gadis itu mendekatinya masih dengan tersenyum. “Kenapa kamu sangat baik? Sebelumnya, orang-orang di kampus berkata ada mall baru. Aku tidak menyangka kamu yang membukanya, dan juga merahasiakannya dariku!”

“Bangunan ini dibeli oleh seorang saudagar di Nanjing dan niatnya akan dijadikan toko. Dia bangkrut, dan dia sedang buru-buru menjual ini. Aku membawamu saat ini baru dibuka.”

Dia berkata dengan percaya diri, “Kapan aku pernah membuka cabang baru dan tidak membawamu, sang nyonya, untuk memeriksanya?”

“Betul.”

“Mau lihat area jam tangan? Bukankah kamu bilang seorang gadis di asramamu sebentar lagi berulang tahun? Beri dia sebuah jam tangan, dan Aku jamin dia akan langsung memperlakukanmu sebagai sahabat terbaiknya!”

Yi Zhilan dengan marah mendorong pria itu yang ingin mendekat dan memeluknya. ” Aku adalah sahabat An Qin.”

Dia sudah lama terbiasa dengan kebiasaan kekasihnya. Caranya menyukai orang nampaknya dengan membelikan mereka barang-barang. Sebagai orang kesayangan Wei Mingyan, Yi Zhilan hampir kehabisan tempat untuk menaruh barang-barangnya.

Setelah dia memintanya untuk tidak membeli apapun lagi, tanpa berpikir suaminya berkata…..

“Maka aku akan membelikanmu apartemen baru! Bukankah itu mudah?”

Yi Zhilan: “…”

Sejak itu, dia tahu masalah aneh wei Mingyan.

Keduanya sedang berbincang manis, ketika Liu Wen datang dengan segerombolan mahasiswa.

“Lan Lan, kebetulan sekali.”

Dia berjalan ke arahnya dan memberi gadis itu senyuman lembut, matanya terpaku pada Yi Zhilan, seakan dia tidak melihat pria di sampingnya sama sekali.

Wei Mingyan tidak kekanak-kanakan seperti dirinya. Bibirnya tetap tersenyum, dan dia bertanya pada gadis itu dengan suara yang hangat, ” Lan Lan, siapa mereka?”

“Teman sekelas.”

Yi Zhilan tidak menyangka akan bertemu mereka, dan ketika melihat senyum di wajah Liu Wen, dia tidak bisa menahan untuk mundur.

Dia tidak membenci orang-orang yang mendekatinya, tapi dia sudah dengan jelas mengatakan dia sudah punya kekasih yang akan menikahinya. Tapi dia masih saja mendekatinya dengan segala cara, yang membuatnya jijik.

Khususnya setiap kali Liu Wen berbicara padanya, jika teman sekelas lain lewat, dia akan dengan sengaja membuat gerakan intim, seakan ada sesuatu diantara mereka, yang mana beda sekali dengan dulu ketika dia jatuh cinta pada Wei Mingyan.

Setelah beberapa saat, Yi Zhilan hanya bersembunyi dari Liu Wen.

“Lan Lan! Apakah ini pacarmu?” An Qin melangkah dari belakang, mencoba untuk menyembunyikan amarahnya.


Hmm, An Qin marah kenapa ya? untuk tau jawabannya tunggu chapter selanjutnya ya…

Dan bagi kalian yang ingin mensupport penerjemah atau buku kesayangan kalian bisa lewat gopay dan jangan lupa tulis nama penerjemah yang ingin kamu support.

 

Table Of Content

28b. Bajingan Tahun 90-an (11-14)

Leave a Reply

Your email address will not be published.