28b. Bajingan Tahun 90-an (11-14)

Featured Image

“Baiklah, baiklah…” Wajah cantik Yi Zhilan dipenuhi dengan tawa. “Aku dapat mengambilnya dalam sekali coba. Kamu sudah melakukannya sepanjang sore!”

“Eh…tusuk gigi ini terlalu kecil untuk dipegang.”

Pria itu mengelus pipinya sedikit merasa sedih. “Ayo, putri kecil, aku akan membawamu keluar untuk bermain hari ini.”

Yi Zhilan tersenyum padanya, mengangkat roknya sedikit dan masuk ke mobil dari pintu yang telah dibukakan oleh Wei Mingyan.

Ketika jendela dibuka dan angin berhembus ke dalam, dia tersenyum dan menatap pria di sampingnya.

“Kemana kita akan belanja hari ini?”

Gadis itu sudah lama terbiasa pada fakta apa yang disebut Wei Mingyan ‘pergi keluar untuk bermain’ adalah berbelanja. Awalnya, dia merasa gugup, tapi karena dia membantu kekasihnya untuk mengurus uangnya setiap hari dan tahu seberapa banyak yang dia dapat dari bisnisnya, kekhawatiran ini menghilang.

Karena orang ini telah memberitahunya lebih dari sekali bahwa dia menghasilkan uang bukan untuk yang lain, tapi untuk membelikan hal-hal terbaik untuk kekasihnya.

Kalimat ini adalah kata-kata manis terbaik untuk setiap wanita, jadi Yi Zhilan juga bukan pengecualian.

Dia menatap pria tampan itu, penuh dengan cinta dan kekaguman.

Wei Mingyan merasakan tatapan gadis itu, bibirnya terangkat, dan dia cukup bangga untuk berkata, “Mari kita tidak membeli kali ini, hanya ambil saja! Tidak membutuhkan uang!”


Ini adalah pertama kalinya Huang Miao keluar dengan mereka. Dia telah mendengar An Qin berkata mereka akan berjalan-jalan di tepi sungai, membawa buku dan belajar bersama. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa mereka akan sesekali pergi ke mall.

Alasanya adalah Liu Wen berkata tentang membeli sebuah jam. Salah seorang teman sekelasnya berkata di sana terdapat sebuah mall baru di dekat sekolah. Dia pergi ke sana sekali. Isinya cantik dan praktis, dan tidak ada kekurangan selain harganya  yang mahal.

Jika dia tidak menambahkan kalimat terakhir, di depan begitu banyak teman sekelas, sifat sombong Liu Wen tidak akan meronta-ronta. Dia berpura-pura santai, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membeli jam. Mari pergi ke sana dan melihat-lihat.”

Semuanya berjalan-jalan tanpa tujuan, dan hampir semuanya merespon perkataan nya dan bertanya apakah mereka ingin membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri.

Diantara mereka, hanya Huang Miao yang diam dan memiliki tampang suram di wajahnya.

Keluarganya miskin, bagaimana bisa dia memiliki uang untuk membeli sesuatu di mall? Ketika yang lain membeli sesuatu, dan dia tidak membeli apapun, apa yang akan orang-orang ini pikirkan tentangnya? Dia merenung.

Tapi semua orang merasa bersemangat. Huang Miao hanya bisa berjalan perlahan dan mengikuti gerombolan itu.

Ketika mereka sampai di mall dan melihat bangunan yang indah itu, hampir semuanya tertegun. Bahkan Liu Wen, dia tidak sadar bahwa bangunan mall yang baru dibangun yang dirumorkan itu sangat modern.

Meskipun hati mereka terkejut sesaat, mereka semua memiliki sedikit penahanan diri. Wajah mereka tetap santai, seakan tidak ada yang terjadi.

Hanya saja jalan mereka sedikit melambat.

Hanya mahasiswa yang sudah pernah ke sini menjadi pemandu mereka, “Liu Wen, jika kamu ingin membeli jam, pergi ke konter sebelah kiri. Semua yang ada di sana adalah barang-barang high-end.”

Mata An Qin melihat sekeliling dengan penasaran pada mall high-end ini. “Bagaimana dengan bagian kanan? Apakah di sebelah sana penjualan pakaian?”

“Harga barang-barang di mall ini sepertinya dibagi menjadi kanan dan kiri. Barang-barang yang lebih mahal berada di sebelah kiri, barang yang lebih murah berada di sebelah kanan. Barang di sebelah kanan adalah barang-barang diskonan. Mau belanja nanti?”

Ketika orang-orang mendengar ini, mereka melihat ke arah sana, dan tentunya, di sebelah kanan, umumnya terdapat para orang tua memilih barang, dan di sebelah kiri kebanyakan anak muda.

Bukannya anak muda lebih kaya, hanya saja semua orang tahu barang di sebelah kanan itu lebih murah. Anak muda memiliki sisi sombong. Mereka akan berjalan-jalan di sebelah kiri lalu berbelanja di sebelah kanan. Mereka tidak ingin pergi ke sebelah kanan, dan membiarkan orang tahu mereka sebenarnya miskin.

Sebagai hasilnya, wajah beberapa orang yang ada langsung bising, mereka benar-benar malu untuk berbelanja di bagian sebelah kanan mall.

Akhirnya, Liu Wen menepuk tangannya, “Aku akan pergi ke sana dan melihat-lihat jam dulu. Apakah kalian mau ikut?”

Mereka langsung menyetujui. Sejenak, semuanya, termasuk Huang Miao pergi dengannya ke konter jam.

Melihat mereka di dalam kotak kecil yang mudah pecah, jam-jam cantik itu bersinar. Hampir semuanya memiliki keinginan di mata mereka.

Ngomong-ngomong, terdapat jam-jam yang lebih murah daripada yang Liu Wen pakai. Tapi, pada saat itu, saat dia melihat ke konter, dia hanya merasa jamnya terlalu kampungan!

Sekarang, jam itu!

Jika dia membelinya, dia yakin Lan Lan akan terkesan padanya.

Setelah melihat harga yang tertera di atasnya, semua ambisinya luntur.

Jam itu sangat cantik dan mahal, dan uang yang dia bawa adalah yang dia tabung dari biaya hidup yang dia minta dari ibunya. Itu hanya cukup untuk membeli jam ini. Jika dia membeli itu, itu setara dengan makanan untuk 2 bulan, yang mana akan menjadi masalah untuknya.

Tapi jika dia tidak membeli itu…..banyak mahasiswa yang melihatnya dari belakang.

Liu Wen mulai menyesal datang ke mall ini. Jika dia datang sendiri, dan tidak membelinya, itu tidak akan jadi masalah. Tapi sekarang…. dia tidak bisa menyerah!

“Itu sangat cantik…”

Beberapa orang yang berkumpul di sekitar konter menatap jam cantik itu sambil berbincang satu sama lain. Huang Miao tidak bisa menahan dirinya dari menatap jam itu, tapi dia sangat tahu bahwa dia tidak dapat membelinya.

Konter jam wanita terdapat di sebelah, tidak ada siapapun yang mengawasi konter itu. Dari sudut pandangnya, dia bisa mengambil satu.

Jam-jam itu cantik, tapi mereka tidak bisa digunakan untuk makan atau minum. Mereka hanya untuk orang-orang yang memiliki uang dan tidak tahu harus menghabiskannya. Jika dia mengambil satu dan membawa itu pulang untuk saudaranya sehingga dia tidak akan direndahkan oleh yang lain….

Tangan Huang Miao perlahan menjulur…

Hanya ambil itu diam-diam dan masukkan ke dalam sakumu, tidak akan ada yang tahu bahwa dia melakukannya…

“Nona, tolong jangan sentuh itu.”

Pramuniagawati yang pergi ke konter wanita untuk mengambil mantelnya melihat adegan ini sesaat setelah  dia kembali. Dia langsung menghentikan tangannya dan berkata, “Maaf, kami memiliki aturan ‘tidak menyentuh’ di sini. Yang mana yang anda suka? Kami memiliki gambar yang rinci beserta teksnya. Jika anda ingin melihatnya, Saya bisa mengambilkannya untuk anda.”

Para mahasiswa di sekeliling mereka tertarik dengan suara dari pramuniagawati itu, dan mereka menatap ke arah keduanya.

Huang Miao terpaku dan darahnya seakan membeku.

Dia memerah, panik dan tanpa sadar melontarkan alasan. “Aku hanya ingin melihat, bagaimana seseorang bisa membeli sesuatu yang tidak bisa mereka lihat?”


Halo, semua? Apa kabar? Masih #dirumah aja atau harus tetap keluar? Semuanya semoga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Baru bisa up sekarang. Oh, aku lagi cari editor, kalau ada yang mau boleh komen. Karena aku masih ndak ada editor, jadi lama ngedit nya dan mungkin banyak kelewat. Ehmm, untuk yang mau mensupport penerjemah atau buku kesayangannya bisa lewat gopay dengan cara tulis nama penerjemah yang kamu ingin support.

 

Table Of Content

 

 

 

 

SMWMi 28a. Bajingan Tahun 90-an (11-14)
SMWMi 28c. Bajingan Tahun 90-an (11-14)

Leave a Reply

Your email address will not be published.