RSC 8. Aku Akan Selalu Berada Di Sisimu.

Featured Image

Gong Siming menatap gelas di tangannya. Kabut yang mengepul menyebar, membuat penglihatannya tidak jelas bagi orang lain; tapi lirikan di sudut matanya dari waktu ke waktu berfokus pada Si Wan yang tidak jauh. Semakin bahagia wanita itu tersenyum, semakin suram penglihatannya, dan tangannya yang memegang gelas berubah putih secara perlahan.

Si Wan tiba-tiba merasa dingin yang merayap di dagingnya dan bahunya bergetar. Melihat ini, Mu Zhishen dengan cepat melepas mantelnya dan meletakkannya di badannya, “Merasa dingin?”

Dia menggelengkan kepalanya karena malu, “Tidak, hanya sedikit … menyeramkan.”

Restorannya ber-AC, dan Si Wan hanya mengenakan gaun sifon tanpa lengan. Jadi, jika dia merasa kedinginan, itu normal. Mu Zhishen menekan tangannya yang melepaskan mantelnya dan berkata dengan suara lembut, “Kau bisa memakainya untuk saat ini dan mengembalikannya saat kita pergi.”

Ketika Mu Zhishen bersikap lembut kepada seseorang, itu seperti angin musim semi yang membelai wajah seseorang, tenang tapi terampil. Bahkan, sangat sulit bagi orang lain untuk menolak bantuannya.

Si Wan tersenyum dengan elegan, “Boss Mu, kau benar-benar lembut, tidak heran ada begitu banyak gadis yang ingin menikahimu.”

“Wanwan, aku pikir kita sudah berteman, mengapa kamu selalu memanggilku Boss Mu.” Mu Zhishen menggantung bibirnya dan menggelengkan kepalanya sedikit, “Adik juniorku, kau membuatku terluka.”

Mu Zhishen dan Si Wan pernah belajar di universitas yang sama, sejak itu ia mengejar Si Wan.

Tetapi pada saat itu, Si Wan hanya menyukai Gong Siming. Mu Zhishen tahu banyak tentang Si Wan, tetapi Si Wan tidak tahu tentang hal ini.

Mungkin dia hanya menganggapnya sebagai salah satu pengejarnya.

Oleh karena itu, setelah Si Wan menolak cintanya, wanita itu menjaga jarak dengannya secara sadar atau tidak sadar.

Si Wan tersenyum sedikit canggung, mempertahankan ketenangannya; dia menghindari topik dan bercanda: “Apa salah jika aku memanggilmu Boss Mu?”

Mu Zhishen mengerutkan alisnya dan berhenti tersenyum, meletakkan gelasnya, dan dia bertanya kepada Si Wan dengan serius, “Wanwan, dua tahun hampir berakhir, ketika hari itu tiba, apa yang kau rencanakan?”

Si Wan tertegun, mengangkat kepalanya tiba-tiba dan bertanya, “Apa … apa yang kau katakan?”

Dengan meletakkan dagu di tangannya, Mu Zhishen menjawab dengan santai, “Wanwan, perhatianku padamu, tidak seperti yang kau bayangkan.”

Mu Zhishen menatap lurus ke matanya, seolah dia tahu segalanya tentang wanita itu. Karena itu, Si Wan melepaskan niatnya untuk berbohong. Senyum pahit muncul di wajahnya, “Tak terasa waktu berlalu. Aku telah menikah dengannya … selama dua tahun. ”

Waktu sudah berlalu!

Pada awalnya, Si Wan menerima persyaratan dari kakek Keluarga Gong untuk menikahi Gong Siming. Pada saat itu, meskipun dia menyukai Gong Siming, tapi dia tak bisa dipaksa karena statusnya.

Tetapi karena kesehatannya yang buruk, kakek sangat mendesaknya untuk mempertahankan pernikahannya dengan Gong Siming selama dua tahun. Jika dua tahun kemudian Gong Siming masih tidak mengubah sikapnya terhadap Si Wan, ia diizinkan pergi.

“Wanwan?” Melihat dia tertegun, Mu Zhishen memanggilnya dengan lembut, dan penglihatannya tampak khawatir.

Si Wan menoleh, dan sisi wajahnya yang lembut bersinar di bawah sinar matahari. “Ketika ini selesai … aku mungkin memilih untuk ke luar negeri. Aku telah berfokus pada satu orang selama bertahun-tahun, yang membuatku hampir tersesat. Aku ingin pergi ke luar negeri untuk memperkaya diri sendiri dengan belajar lebih banyak. ”

Dia akan mengambil apa yang telah dia berikan untuk Gong Siming, satu per satu setelah kehilangan dia selamanya.

Mata Mu Zhishen menjadi redup, “Wanwan, pernahkah kau mempertimbangkan… aku? Jika aku ingin pergi ke luar negeri denganmu …”

Si Wan segera menggelengkan kepalanya, “Mu Zhishen, tidak ada artinya melakukan ini.” Pandangannya terlihat lembut tapi tegas, “Aku tidak menyukaimu, jadi kau tidak harus berkorban untukku.”

Dalam kehidupan Si Wan, mungkin hanya ada satu Gong Siming yang bisa membuatnya tersentak dan merasa ragu. Sementara menghadapi orang lain, dia biasanya tanpa ampun seperti angin musim gugur menyapu daun layu, bahkan ketika menolak yang lain, dia bisa tegas dan lurus, sama seperti sebelumnya.

Melihat lingkaran matanya yang gelap, Mu Zhishen tiba-tiba merasa tidak terima, “Wanwan, Gong Siming menggoda begitu banyak wanita setiap hari dan menghinamu tanpa ampun, mengapa kau tidak menyerah?

Si Wan meletakkan gelasnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tetapi dengan cara ini dia mengekspresikan kegigihannya secara diam-diam.

Mu Zhishen memaksa senyum pahit dan bersandar ke belakang dengan kecewa, “Karena kau sangat mencintainya, mengapa kau tidak menjelaskan padanya … kecelakaan Feng Ling, tidak ada hubungannya denganmu.”

“Mu Zhishen, bagaimana aku bisa menjelaskan?” Si Wan menatapnya dengan mata suram dan membuka mulutnya, “Sebenarnya aku yang menabrak Feng Ling dan membuatnya koma. Gong Siming memang membenciku, tapi aku tidak menyalahkannya untuk itu. ”

Pada waktu itu ketika pertunangannya dengan Gong Siming diumumkan, Feng Ling ingin bertemu dengannya, dan dia awalnya ingin menjelaskan rencananya dengan kakek selama pertemuan mereka.

Tapi dia tidak menduga dalam perjalanan untuk bertemu Feng Ling, mobilnya bisa lepas kendali dan langsung menabrak Feng Ling.

Selama dua tahun terakhir, dia telah merasa sangat bersalah, seperti terjebak dalam belenggu. Terlepas dari hatinya yang penuh cinta yang mendalam kepada Gong Siming, ketika memikirkan Feng Ling, dia hanya akan mengatakan pada dirinya sendiri di dalam hati, “Si Wan, kau tidak pantas mendapatkan pengampunan dan cintanya.”

Karena Feng Ling adalah cinta sejati Gong Siming, dia tidak akan menyalahkan Gong Siming karena membencinya, sebaliknya dia hanya merasa sedih.

Tenggorokan Mu Zhishen tercekat untuk sementara waktu, dan tiba-tiba dia mulai bersimpati padanya, “Wanwan, sebenarnya kau … tidak harus hidup begitu keras.”

Dia mencoba untuk memegang tangan Si Wan, tetapi dengan tenang ditolak olehnya. Si Wan tersenyum padanya, “Mu Zhishen, aku benar-benar ingin mengatakan ‘terima kasih’ atas bantuan dan rasa sayangmu selama bertahun-tahun. Tapi … semua orang tahu kebenarannya bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak bisa memberikan apa yang kau inginkan. ”

“Itu bisa dianggap sebagai hukuman dari Tuhan.” Setelah menegakkan tubuhnya, Si Wan mengambil napas dalam-dalam dan memperlihatkan senyum pahit, “Aku sangat keras kepala sehingga mungkin aku hanya akan mencintai Gong Simingin sepanjang hidupku, tidak peduli bagaimana ia memperlakukanku. Ketika hari itu tiba, aku bisa meninggalkan Keluarga Gong dan tidak pernah melihatnya lagi. Tapi di sini…”

Menempatkan salah satu tangannya di hatinya, Si Wan berkata dengan yakin dan penuh kasih sayang, “Sudah diambil oleh Gong Siming, tidak meninggalkan ruang untuk orang lain …”

Mengangkat gelasnya, Si Wan meminum semua anggur, “Mu Zhishen, aku minta maaf.”

Suasana hening menyebar di antara keduanya. Sambil memegang gelas di tangannya, Si Wan tiba-tiba tidak tahu harus berkata apa untuk meringankan rasa malunya meskipun ia fasih berbicara saat melakukan bisnis.

Tapi Mu Zhishen dan Si Wan tidak tahu bahwa setelah pernyataan cinta Si Wan yang berani, seorang tokoh dalam gelap berubah kaku sekaligus. Dia tidak bisa keluar untuk membuat masalah lagi. Setelah beberapa saat, dia hanya berbalik dan pergi …

Rasa malu dan sunyi masuk ke mana-mana seperti cahaya, bayangan, dan debu. Si Wan mengisi gelas dengan anggur lagi, dan kemudian dia tersenyum, “Mu Zhishen, mari kita minum.”

Dia siap untuk minum tiga gelas anggur berturut-turut, untuk menunjukkan permintaan maafnya.

Tiba-tiba Mu Zhishen men3gakkan tubuhnya dan menekan tangannya ke bawah untuk mengambil gelas darinya dan menjawab dengan nada santai, “Apa yang kau lakukan? Ini bukan pertama kalinya kau menolakku. Aku sudah terbiasa dengan ini, Wanwan …

Menyembunyikan kasih sayang dan sakit hatinya, dia tersenyum seperti bunga yang mekar di ladang, “Aku akan selalu berdiri di sisimu.”

Ada kerlipan di mata Si Wan, di mana rasa bersalah dan ketidakberdayaan ditutupi oleh bulu matanya yang sedih. Dia menghela nafas sedikit.

“Mu Zhishen, maaf.”

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.