RSC 44. Paksaan

Featured Image

Gong Siming terus mengetukkan jari-jarinya yang ramping dan halus di mejanya dengan tempo teratur.

Ketukan ritmisnya tidak terganggu oleh nada dering teleponnya.

Kemudian suara lesu dan tidak bersemangat terdengar.

“Katakan.”

Orang di telepon itu mulai melapor dengan hormat.

“Presiden Gong, Direktur Si ada di sini.”

“Persilahkan dia masuk.”

Kata-katanya singkat dan tanpa emosi.

“Direktur Si, Anda bisa masuk.”

Menutup telepon, sekretaris membuka pintu kantor Gong Siming untuk Si Wan.

Si Wan mengangguk dengan rasa terima kasih dan perlahan berjalan masuk.

“Presiden Gong, Anda ingin bertemu denganku?”

Saat melihat Gong Siming asyik dengan pekerjaannya, Si Wan bertanya dengan sopan.

Gong Siming berpura-pura tidak mendengarnya dan terus mengetik di keyboard.

Meskipun dia tahu pria di depannya sengaja melakukan ini, dia tidak bisa mengungkapkannya.

Si Wan hanya menunggu di sana dengan diam.

Setelah lebih dari empat puluh menit, Si Wan mulai kehilangan konsentrasinya.

Sepertinya dia hanya bisa bertindak dengan rendah hati di depan Gong Siming.

Sebenarnya, Si Wan jelas merupakan salah satu yang terbaik dalam hal latar belakang keluarga, penampilan, dan bakat.

Meskipun orang tuanya telah meninggal ketika Si Wan masih kecil, dia tumbuh sebagai mutiara di telapak kakeknya dan memiliki kepribadian yang ceria.

Dia selalu dikelilingi oleh banyak pengagum.

Di antara mereka, Zhang Qilin, Mu Zhishen, dan Feng Qi.

Pria-pria ini memiliki latar belakang, penampilan, dan dukungan keluarga yang luar biasa.

Jika dia memilih salah satu dari mereka, dia akan dikagumi oleh semua wanita di ibukota dan dimanjakan sampai ekstrim.

Namun, dia begitu keras kepala hingga jatuh cinta pada Gong Siming, yang memperlakukannya dengan buruk dan membencinya dengan seluruh jiwanya.

Hidup itu sangat konyol. Diberkati oleh kebahagiaan, dia meminta penderitaan.

Merenung, dia memberikan senyum pahit tanpa disadari.

Gong Siming diam-diam mengawasi Si Wan. Wanita ini mengabaikannya, terlebih lagi, dia tersenyum!

“Kau terlihat senang! Merindukan kekasihmu? ”

Nada suaranya dipenuhi dengan sarkasme.

Pikiran Si Wan terganggu, dan kepahitan di hatinya muncul.

Pria ini selalu menunjukkan apa pun padanya dengan ejekan dan cemoohan.

Karena kau berpikir begitu, mengapa aku harus menentang keinginanmu?

Dia menelan kembali kata-katanya.

Dia berbicara dengan tenang.

“Presiden Gong, jika kau tidak memiliki instruksi lebih lanjut, aku akan kembali bekerja.”

Dia selalu bersikap seperti ini. Setiap kali dia melemparkan pukulan, tinjunya hanya akan mendarat di atas kapas lembut.

Kekuatan Gong Siming selalu dianggap tidak berguna.

“Aku bertanya, dan kau perlu menjawab. Dari mana semua eumor ini berasal? ”

Tatapannya menjadi tajam seolah-olah dia singa yang siap memburu mangsanya.

“Jika kau berpikir begitu, apa yang bisa aku lakukan?”

Bang! Sebuah cangkir di atas meja dilemparkan ke lengan Si Wan.

Si Wan menggenggam lengannya erat-erat dengan air mata yang hampir mengalir. Meski begitu, dia menahannya.

Dia tidak menangis atau menjerit.

Keuletan wanita itu membuat hati Gong Siming berdenyut. Rasanya ada sesuatu yang mencabik-cabiknya dari dalam.

“Presiden Gong, bolehkah aku pergi sekarang?”

Menahan rasa sakit, Si Wan terdengar agak serak.

Tidak menerima tanggapan dari Gong Siming, Si Wan berjalan menuju pintu.

“Berhenti!”

Suaranya yang terendam menunjukkan usahanya untuk menahan amarahnya.

Dia dengan patuh menghentikan langkahnya ke depan, berdiri diam dan bahkan tidak melihat ke belakang.

“Jawab pertanyaanku!”

Dia mengangkat kepalanya dengan punggung menghadap Gong Siming.

“Aku tidak.”

Apakah aku memikirkan orang lain itu tidak penting, dan kau juga tidak peduli.

“Balik, lihat mataku dan jawab aku!”

Dengan perubahan emosional, Gong Siming merasa lebih marah.

Setelah perjalanan ke sanatorium, dia tidak lagi memiliki fluktuasi emosional ketika dia menyebut Si Wan, tapi sekarang …

Semua emosinya berubah menjadi kemarahan terhadap Si Wan.

Menenangkan dirinya, Si Wan berbalik perlahan dan menatap mata Gong Siming dengan tenang.

“Aku tidak.”

Dia berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Saat melihat tatapan tenang Si Wan, dia memikirkan perubahan perasaannya sendiri yang tidak bisa dijelaskan.

Gong Siming menggenggam lengan  Si Wan yang terluka.

Senyum Si Wan secara bertahap berubah menjadi seringai kesakitan.

Dia menggigit bibirnya dengan keras untuk mencegah dirinya mengeluarkan suara apa pun.

Karena kau tidak takut sakit, maka biarkanlah amarahnya pecah.

Tiba-tiba, Gong Siming membungkuk dan mencium bibir Si Wan dengan penuh semangat.

Manis, dicampur dengan sedikit rasa darah, seperti bunga poppy mekar yang memikat Gong Siming.

Seperti tornado, dia menggeledah segalanya, ingin mengintegrasikan tubuh Si Wan ke dalam tubuhnya.

Si Wan menahan rasa sakit dan perlahan-lahan kehilangan kesadarannya di bawah penjarahan badai Gong Siming.

Dia kehabisan napas, dan keringat dingin muncul di dahinya.

Dia samar-samar bisa merasakan sesuatu terkuras dari tubuhnya.

Dengan mata merah, Gong Siming tampak seperti setan genit dan kejam.

Tangannya yang gelisah sudah menyelinap di bawah pakaian Si Wan.

Dengan terampil ia membuka pakaian dalam Si Wan.

Gong Siming menekan Si Wan ke sofa dan dengan cepat melepas bajunya sendiri.

Otot-ototnya padat dan kuat, tidak berlemak atau terlalu ramping. Sosok yang begitu sempurna mengejutkan para pria dan membuat wanita terpesona.

Di bawah dampak kekerasan dan menyakitkan, Si Wan mendapatkan kembali sedikit kesadaran.

Dia mendorong keras pria yang berbaring di atasnya.

“Tidak, jangan.”

Suaranya serak dan lemah. Tetapi bagi Gong Siming, itu adalah afrodisiak kuat yang merangsang hasrat terdalamnya.

Terlepas dari permintaan Si Wan, dia merobek blus putihnya menjadi berkeping-keping.

“Tidak, Gong Siming, kau tidak bisa melakukan ini padaku.”

Dia memohon dengan sedih dengan air mata mengalir di pipinya.

Keduanya tidak menyadari lengan blus putihnya telah berwarna merah tua, belum lagi bibir Si Wan, yang lambat laun terlihat pucat.

Dia menekankan tangan Si Wan di belakang punggungnya, membenamkan kepalanya di lehernya dan mencoba meninggalkan cupang.

Berdiri tegak tiba-tiba, Gong Siming menatap Si Wan yang berbaring tanpa bergerak di sofa.

Keringat dingin bercampur air mata dari sudut matanya. Noda darah melekat di bibirnya yang pucat.

Bukan hanya bibirnya, tetapi tubuh dan tangannya ditutupi dengan noda darah segar.

Menyentuhkan tangannya dengan tergesa-gesa, dia menemukan lengan Si Wan tanpa henti meneteskan darah.

Dia cepat-cepat mencari peralatan medis tetapi tidak menemukannya.

Dengan segera, Gong Siming yang bertelanjang dada menutupi Si Wan dengan mantelnya dan bergegas ke mobilnya.

Sejak Si Wan masuk, Hua Er dengan cemas menunggu di pintu. Adegan seperti itu juga mengejutkannya.

Dia mengikuti di belakang Gong Siming.

Membuka pintu untuk Gong Siming, ia kemudian bergegas ke kursi pengemudi.

Dia melaju dengan kecepatan tertinggi.

Gong Siming tidak mengatakan apa-apa selain memegang Si Wan dengan erat. Dia menekan lukanya yang berdarah dengan satu tangan, tetapi perdarahan itu tidak berhenti, malah lebih banyak darah mengalir keluar.

Table Of Content

RSC 43. Membuktikan Diri
RSC 45. Penyesalan

One thought on “RSC 44. Paksaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published.