RSC 16. Cepatlah Bangun.

Featured Image

Sambil mengemudi ke rumah sakit rehabilitasi di mana Feng Ling tinggal, Gong Siming banyak berpikir, tetapi tak disangka ingatannya tentang Feng Ling secara bertahap menjadi tidak jelas seiring berjalannya waktu.

Malah ingatannya tentang Si Wan kebih banyak, termasuk sikap keras kepala, toleransi, rasa sakit, dan keengganannya.

“Tidak, Feng Ling adalah orang yang aku cintai, bagaimana bisa aku perhatian dengan wanita yang sangat kejam?”

Sambil bergumam sendiri, Gong Siming memukul kemudi dengan tinjunya.

Tetapi kata-kata Yan Xiuya terdengar  kembali di telinganya: “Si Wan sungguh menyukaimu. Kau seharusnya tidak berprasangka terhadapnya … ”

Bagi orang luar, apakah dia benar-benar berprasangka terhadap Si Wan? Gong Siming merasa bingung, sebenarnya bagaimana perasaannya terhadap wanita itu?

“Feng Ling, aku di sini untuk melihatmu.” Mendorong pintu dengan lembut, Gong Siming berkata dengan pelan pada gadis yang berbaring di tempat tidur. Gadis cantik itu masih berbaring di tempat tidur, dan hanya suara mesin yang bisa terdengar didalam ruangan.

“Kau masih tidur, kapan kau akan bangun?” Gong Siming sedikit menghela nafas. Duduk di sampingnya, dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan hati-hati.

Kata-kata Yan Xiuya terus terngiang di telinganya, bagaimana sebenarnya perasaanya pada Feng Ling? Ibu mengatakan bahwa dia menyalahartikan simpati dengan cinta, apakah itu benar? Perasaannya pada Feng Ling hanya simpati, bukan cinta?

“Feng Ling, cepatlah bangun. Aku tahu, menikahi Si Wan tidak adil bagimu. Tetapi kau tidak bisa berbaring di sini jika merasa dirugikan. Cepatlah bangun. Mungkin ketika kau bangun, aku akan tahu seberapa besar aku mencintaimu. ”

Melihat Feng Ling yang sedang tidur, Gong Siming larut dalam pikirannya. Dia semakin bingung karena dia tahu Si Wan akan pergi. Sungguh aneh, reaksi pertamanya tidak merasa bahagia tidak seperti yang dia harapkan, sebaliknya, dia merasa enggan untuk mengucapkan selamat tinggal.

Air dalam botol oksigen menetes, dan desahan rendah menyebar di bangsal. Melihat wajah tertidur Feng Ling, untuk pertama kalinya Gong Siming berharap bisa melarikan diri.

“Dering. Dering … “Telepon berdering, yang mengganggu jalan pikiran Gong Siming. Mengambil ponselnya, dia melihat nomornya dan kemudian merasa sedikit kesal.

“Kakek.” Gong Siming berbicara dengan suara yang penuh keengganan.

“Kenapa, apakah kau merasa enggan menjawab telepon kakekmu?” Pertanyaan kakek Gong membuat Gong Siming pasrah.

“Bagaimana mungkin? Aku akan merasa senang jika menerima telepon dari kakek. Kakek, ada apa? ” Berjalan keluar dari bangsal, Gong Siming menutup pintu di belakangnya.

Mendengar suara dari sisi Gong Siming, kakek Gong bertanya kepadanya: “Kau ada dimana, bocah?”

“Aku …” Gong Siming menahan kata-katanya, jika kakek tahu dia datang melihat Feng Ling, mungkin dia akan sangat marah, “Aku di luar, ada masalah apa?”

“Tentu saja ada masalah.” Kakek mulai berteriak, “Pikirkan sendiri berapa lama kau tidak pulang? Apakah kau ingat di mana rumahmu? Apakah keluarga ini masih ada di hatimu? ”

Gong Siming mendengarkan teguran kakeknya tanpa mengatakan sepatah kata pun, sampai kakeknya menghela nafas, katanya perlahan.

“Kakek, hari ini aku juga tidak akan kembali,”

“Kau berani! Aku perintahkan padamu, mulai sekarang, kau harus pulang ke rumah setiap hari setelah bekerja. Tidak usah pergi ke tempat lain, jika tidak kau akan membuatku kesal! ” Suara ketukan tongkat di lantai, yang dibuat oleh kakeknya, terdengar jelas oleh Gong Siming. Menggosok pelipisnya yang sakit, dia tahu kalau dia harus kembali.

“Aku tahu.” Berpura-pura tidak mendengar kakek yang sangat marah, Gong Siming menutup telepon.

Kakek Gong menghentakkan kakinya sewaktu Gong Siming menutup telepon. Tapi dia tidak bisa melakukan apa pun untuk mengubah sikap Gong Siming. Meskipun dia tidak ingin Si Wan pergi, menurut pendapatnya, wanita itu adalah satu-satunya orang yang pantas menjadi anggota Keluarga Gong; Namun, bocah itu hanya peduli pada wanita lain setiap hari, yang selalu membuatnya marah.

“Tuan muda akan kembali hari ini, siapkan beberapa hidangan yang dia suka.” Menghela nafas, kakek Gong menyuruh para pelayan membuat masakan yang disukai Gong Siming. Karena baru-baru ini dia tidak di rumah, mungkin saja dia tidak makan dengan benar.

“Oh, aku ingat, beritahu nyonya muda untuk kembali lebih awal juga.” Sebelum dia naik ke atas, kakek Gong menasihati para pelayan berulang kali.

Di malam hari, Gong Siming kembali ke rumahnya seperti yang diminta. Makan malam mewah di atas meja membuat air liur di mulut orang-orang.

“Kenapa Si Wan belum kembali?” Kakek bertanya pada Yan Xiuya yang terlihat canggung.

“Baru-baru ini ada banyak urusan perusahaan; mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya … “Yan Xiuya memaksa senyum dan melihat ayah Gong Siming yang bergegas untuk membuat istrinya keluar dari masalah.

“Panggil nyonya muda, katakan padanya untuk segera kembali.” Ayah Gong Siming memberi isyarat kepada pelayan di sebelahnya yang segera pergi untuk menelepon. Gong Siming menjadi sedikit tidak sabar setelah melihat ini.

“Aku tidak menyangka dia lebih sibuk dariku. Jangan menunggunya lagi. Mari kita makan dulu. ”

“Tunggu saja!” Kakek Gong menatap Gong Siming, yang memaksanya untuk mengalah dan menunggu bersama-sama.

Di perusahaan, Si Wan sibuk dengan pekerjaannya, tanpa memperhatikan malam telah semakin larut. Karena sibuk, dia tidak punya waktu untuk mengangkat telepon yang berdering. Xiaoyu-lah yang melihat nomor Keluarga Gong, dan segera membawa telepon ke Si Wan.

“Direktur, Anda harus mengangkat telepon tidak peduli seberapa sibuknya Anda. Mungkin itu panggilan dari Bos Gong yang ingin menunjukkan perhatiannya. ” Mengedipkan matanya yang besar, Xiaoyu memberikan telepon dengan penuh semangat kepada Si Wan yang terlalu sibuk untuk memperhatikan godaan Xiaoyu.

“Mustahil. Bantu aku mengangkat telepon. Jika itu dari Keluarga Gong, katakan saja kepada mereka bahwa aku tidak akan kembali untuk makan malam. ”

Si Wan melambaikan tangannya, dan kemudian kembali ke tumpukan dokumen. Melengkungkan bibirnya, Xiaoyu mengangkat telepon.

“Halo, nyonya … Gong, harap tunggu …” Terkejut, Xiaoyu bergegas ke Si Wan tanpa mengatakan terlalu banyak di telepon, seolah dihadapkan oleh musuh yang tangguh.

Mengambil telepon dari Xiaoyu, Si Wan mengabaikan pandangannya yang berlebihan. Itu hanya telepon, bukan? Mengapa menggunakan bahasa bibir?

Mengangkat telepon, suara tenang datang dari sisi lain; tiba-tiba Si Wan mengerti alasan mengapa Xiaoyu menjadi sangat berlebihan. “Ibu? Aku rasa aku tidak bisa kembali malam ini, seperti yang Anda tahu, aku bertanggung jawab penuh atas proyek ini, dan aku sibuk mengurusnya … ”

“Pulang saja malam ini. Aku akan mengatur orang lain untuk menangani proyek ini, sehingga kau dapat beristirahat di rumah dalam beberapa hari mendatang. ” Terlepas dari suara lembut Yan Xiuya, Si Wan merasa itu tidak dapat ditolak. Dia merasa agak aneh: apakah ada yang salah dengan proyek yang menjadi tanggung jawabnya?

“Ibu, apakah aku melakukan kesalahan?” Si Wan bertanya dengan hati-hati. Meskipun kepribadian Yan Xiuya pendiam dan lembut, dia tidak pernah mentolerir kesalahan. Apakah dia melakukan kesalahan yang tak sadarinya?

“Tidak, kau telah melakukan pekerjaan dengan baik. Kembalilah, anggap ini sebagai liburanmu. ” Setelah berbicara, Yan Xiuya menutup telepon. Jika Si Wan telah menjawab panggilan sebelumnya, Yan Xiuya tidak akan dipaksa untuk melakukan panggilan secara langsung. Melihat wajah suram ayah mertuanya, dia tahu bahwa kakek Gong menyalahkannya karena mengatur terlalu banyak pekerjaan untuk Si Wan.

Untuk hubungan yang lebih baik di antara mereka, Yan Xiuya harus mengurangi beban kerja Si Wan Untuk sementara. Saat ini dia memutuskan untuk memberi Si Wan cuti satu minggu.

RSC 15. Si Wan akan pergi.
RSC 18. Tidur di Kamar yang Sama

Leave a Reply

Your email address will not be published.