RSC 12. Tetap Keluar Sepanjang Malam

Featured Image

Setelah berpikir dengan matang, dia mengetahui Gong Siming tidak ada di rumah selama beberapa hari. Apakah dia begitu membencinya sehingga menjauh dari rumahnya sendiri?

Menggelengkan kepalanya sambil senyum pahit,  Si Wan terlihat sangat kecewa.

Vila besar Keluarga Gong tetap sunyi dan kadang-kadang beberapa pelayan terlihat sibuk. Kakek Gong duduk di ruang utama, memegang buku dan menikmati bacaannya, Tiba-tiba terdengar suara berisik, setelah itu kakek Gong mengerutkan alisnya.

Para pelayan Keluarga Gong selalu terlatih dan berperilaku baik, mengoceh seperti itu adalah apa yang tidak akan mereka lakukan di masa lalu. Kakek Gong meletakkan buku yang di pegangnya dan kemudian mengambil tongkatnya di samping sofa , naik ke atas mengikuti suara berisik.

“Tuan muda tidak tidur dirumah lagi? Lihat tempat tidur ini. Kurasa itu tidak digunakan.”

“Itu benar. Tuan muda belum pulang selama beberapa hari. Hanya ada baju nyonya muda yang dicuci.”

Meskipun usianya sudah lanjut, kakek Gong masih memiliki pendengaran yang baik. Setelah mendengar perkataan kedua pelayan, ia merasa sedikit tidak senang.

Apa yang dilakukan bocah Gong Siming akhir-akhir ini? Semakin keluar dari jalur, sekarang dia bahkan tidak kembali ke rumah. Karena tidak senang, kakek Gong merasa sesak nafas, naik atau turun, tersangkut di tenggorokannya.

“Jangan katakan ini kepada kakek Gong. Itu tidak perlu diperhatikan, kalau tidak dia akan jatuh sakit karena marah.”

Mendengar suara-suara dari lantai atas lagi, amarah yang menumpuk di hati kakek Gong membuatnya terbatuk, yang didengar oleh para pelayan di lantai atas yang segera menghentikan pembicaraan mereka. Dengan batuk terus-menerus, kakek Gong perlahan-lahan bangkit dan menemukan dua pelayan membawa pakaian untuk dicuci.

“Apa yang kalian bicarakan? Tuan muda dan nyonya muda? Ceritakan tentang hal ini.” Dengan batuk parah, kakek Gong terlihat sangat serius. Melihat kakek Gong dengan malu, kedua pelayan itu melihat ekspresinya semakin buruk, jadi mereka menjelaskan dengan suara rendah, “Kami tidak mengatakan apa-apa …”

“Huh! Apakah benar tidak mengatakan apa-apa? Aku sudah mendengar percakapan kalian. Kalian para pelayan berani menyembunyikannya dariku! Bocah itu meninggalkan keluarganya. Di mana dia berada?”

Menjadi sangat marah, kakek Gong memukuli tongkatnya ke tanah, “Saat ini juga, kau harus mengatakan yang sebenarnya!”

Saling memandang, pelayan itu ragu untuk berbicara, “nyonya muda mengatakan kepada kami untuk tidak menyebutkan hal ini kepada Anda. Tolong jangan marah bahkan jika Anda sudah tahu. Sejujurnya, kami juga tidak tahu ke mana tuan muda pergi . ”

Melihat pelayan dalam kesulitan, kakek Gong mendengus. Dia tahu Si Wan akan menyembunyikan hal itu. Keluarga Gong berutang terlalu banyak padanya karena dia banyak menderita di sini.

Kakek Gong menghela nafas dan menunjuk ke arah telepon, meskipun Si Wan berusaha menyembunyikan untuk kebaikan Gong Siming, setelah mengetahui hal ini, dia tidak akan membiarkan Gong Siming bertindak santai seperti yang selama ini dia lakukan.

Setelah pelayan memberikan telepon kepadanya, kakek Gong memanggil Yan Xiuya, sebagai seorang ibu, dia bertanggung jawab atas kelakuan putranya .

“Ayah.” Suara Yan Xiuya yang lembut dan anggun datang dari sisi lain setelah telepon dijawab. Kakek Gong menyeringai dan langsung menanyainya.

“Kau ibu yang sangat baik! Apakah kau tidak tahu kalau akhir-akhir ini putramu menginap diluar sepanjang malam?”

Suara Kakek Gong keras, dan orang yang sama bijaknya dengan Yan Xiuya tentu mengerti maknanya. Lalu dia pindah ke tempat lain untuk menjawab telepon ketika terdengar suara dari sisi lain.

“Ayah, maksudmu Siming? Sebagai seorang ibu, tentu saja aku tidak bisa mengendalikannya karena dia sudah dewasa. Dia bukan anak kecil lagi, jadi kau tidak perlu khawatir tentang dia.”

Meskipun senyum di wajahnya, Yan Xiuya tahu dengan jelas apa yang disiratkan ayah mertuanya, tetapi Siming tidak menyukai Si Wan, bahkan jika dia dipaksa tinggal di rumah, dia tidak akan melakukan apa pun dengan Si Wan. Xiuya merasa gelisah di dalam hatinya: ayah mertuanya berniat mendamaikan keduanya dan telah memberikan tekanan padanya, tapi sekarang Siming melakukan semua yang dia bisa untuk memberontak terhadap mereka, sulit baginya untuk berdiri di tengah.

Seperti yang diharapkan, setelah mendengar kata-katanya, kakek Gong menjadi lebih marah daripada menjadi tenang, “Mengapa kau mengatakan ‘Aku tidak perlu khawatir’? Tentu saja dia bukan anak kecil lagi, tapi dia juga seorang lelaki yang sudah berkeluarga. Sebagai seorang ibu, bagaimana kau bisa menutup telinga terhadap kelakuan buruk putramu? Apakah kau tahu apa yang dipikirkan orang-orang sekitar mengenai keluarga kita? ”

Menggosok dahinya, Yan Xiuya merasakan sedikit sakit di pelipisnya. Orang-orang di Keluarga Gong semua keras kepala: ketika mereka marah, mereka tidak akan dibujuk dengan mudah. “Ayah, mari kita bicarakan ini setelah bekerja, saat ini aku ada di luar dan tidak nyaman untuk menangani masalah ini. ”

“Oke, kau segera kembali!” Dengan marah menutup telepon, kakek Gong duduk di sofa dengan tongkatnya, menunggu Yan Xiuya.

Dia sangat kesal terhadap anggota keluarganya yang menyebabkan situasi tidak bahagia hari ini. Itu bukan masalah besar jika hanya Gong Siming yang tidak peduli dengan Si Wan. Tetapi jika anggota keluarga lainnya tidak berdiri di sisinya juga, orang akan mengatakan bahwa keluarga Gong adalah penindas yang hebat.

Tak lama setelah panggilan itu, Yan Xiuya kembali dengan Gong Yanshen. Melihat sosok tinggi di belakangnya, wajah kakek Gong berubah sedikit suram. Wanita ini sangat bijak sehingga dia tahu setelah membawa suaminya kembali, sebagai ayah mertua , dia tidak akan menyalahkannya terlalu banyak. Tapi kali ini, kakek Gong bertekad untuk memberi mereka pelajaran; jika tidak, tidak seorang pun di keluarga ini akan memperhatikannya di masa depan.

“Ayah.” Pasangan itu berdiri di depan ayah mereka dengan penuh hormat. Tanpa memandang mereka, kakek Gong berkata dengan dingin, “Apa? Kau juga membelanya? Biarkan aku memberitahumu, jika tidak ada solusi yang baik, kau tidak diizinkan pergi hari ini. ”

“Ayah, mengapa kau begitu marah? Anak-anak sudah dewasa dan kita tidak bisa mengendalikan mereka. Mengapa kau bersikeras memaksa mereka untuk bersama?” Melihat ayah dan istrinya, Gong Yanshen merasa tidak berdaya. Dia sedang berada dipertemuan ketika dipanggil untuk pulang ke rumah.Dalam perjalanan pulang dia mengetahui ayahnya marah pada Gong Siming yang keluar sepanjang malam. Tampaknya dia terlalu sibuk untuk mengurus masalah keluarga seperti itu.

“Hei, menurutmu kau benar yaa!” Menjejakkan kakinya, kakek Gong dengan marah berteriak, “Bukankah Si Wan menantu perempuanmu? Menikah dengan Gong Siming bukan untuk mengalami kehidupan yang sulit! Lihatlah! Lihat anak yang telah kau besarkan! Sebagai pria yang sudah berkeluarga, dia tidak memiliki tanggung jawab dan masih tetap keluar sepanjang malam! ”

Menjadi sangat marah, kakek Gong menatap mereka. Khawatir tentang kesehatannya, Yan Xiuya dengan cepat menjelaskan, “Tolong tenanglah. Aku akan memberi pelajaran pada bocah itu, kesehatan ayah lebih penting.”

Pasangan itu merasa khawatir tentang kesehatannya ketika kakek Gong batuk. Begitu mereka berjalan ke depan untuk mendukungnya, kakek Gong mendorong mereka, “Aku tidak membutuhkanmu. Jaga anakmu sendiri!”

Terengah-engah di sofa, kakek Gong masih ingin mengatakan sesuatu, dan kemudian dia melihat Si Wan kembali dari kantor.

Setelah mengganti sepatunya, Si Wan berjalan ke ruang depan. Merasakan suasana gugup, dia merasa hatinya agak gelisah. Setelah melihat ekspresi Yan Xiuya di matanya, dia menyapa dan tersenyum kepada kakek Gong, “Ada apa, Kakek? Sebelum makan malam, masih ada waktu. Bagaimana kalau bermain catur bersama? ”

Sambil memegangi lengannya, Si Wan begitu hangat pada kakek Gong, yang membuat hatinya pahit karena Keluarga Gong berhutang terlalu banyak padanya.

“Si Wan, kau gadis bodoh …” Kakek Gong akan mengatakan sesuatu kepadanya tetapi kemudian ragu-ragu. Si Wan dapat memberitahunya mengenai Gong Siming tetap keluar sepanjang malam, tetapi dia memilih untuk menyembunyikannya. Kebaikannya selalu dimanfaatkan.

Mempertimbangkan hal ini, kakek merasa tertekan dan wajahnya berubah serius, “Si Wan, ikut aku ke ruang belajar.”

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.