RL. Chapter 22

Featured Image

Chapter 22

Jiang Yunan menarik Yan Liang sampai mereka tiba di hotel. Pada saat mereka sampai di meja resepsionis, wajah Yan Liang tampak pucat. Seorang pria dan wanita yang tampak seperti musuh, bagaimana resepsionis akan memberi mereka kamar?

Resepsionis terus menatap wajah mereka, itu tidak terlihat seperti pasangan biasa yang bertengkar, jadi dia tidak berani mengambil kartu yang diserahkan Jiang Yunan.

Melihat Yan Liang basah kuyup, dan kemudian pada Jiang Yunan yang menarik lengannya dengan paksa, si resepsionis tidak bisa membantu tetapi ragu, “Nyonya, apakah anda…”

Yan Liang berhenti melawan, dia memandang Jiang Yunan dengan jijik dan berkata, “Saya diseret dengan paksa, saya tidak mengenalnya. Tolong hubungi polisi.”

Jiang Yunan tidak menyangka dia (YL) begitu kejam dengannya, dia mulai tertawa.

Meski resepsionis telah mendengar keluhan itu, melihat bahwa pria ini terlihat seperti seorang pria yang gentle dan mereka berdua mengenakan pakaian mahal, dia agak bingung. Tangannya bergerak ke telepon, tetapi dia masih ragu apakah akan membunyikan alarm. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi…

Melihat ini, Yan Liang mengangkat alisnya, sikapnya dengan jelas mengumumkan bahwa dia adalah pemenang di babak ini.

Ekspresi menjengkelkan Yan Liang itu ditangkap oleh matanya (JY). Kemudian, tiba-tiba Jiang Yunan mengangkat wajahnya dan mencium bibirnya (YL).

Ketika bibir mereka terpisah, Jiang Yunan masih memegang dagu Yan Liang, dan pada jarak yang dekat ini, Jiang Yunan menatapnya dalam-dalam.

Yan Liang tertegun.  Resepsionis yang baru saja bersiap-siap memanggil keamanan tiba-tiba berhenti.  Dia memandang Jiang Yunan yang melepaskan wajah Yan Liang dan kembali menyerahkan kartu itu kepada resepsionis.

“Jiang Yunan.. kau…”

Yan Liang belum menyelesaikan kata-katanya ketika Jiang Yunan menyela, “Anda tidak kenal saya? Lalu bagaimana Anda tahu nama saya?”

Kali ini, bagaimana bisa Yan Liang mendebatnya? Dia bahkan tidak bisa menghentikan resepsionis untuk memulai prosedur check-in.

Jika dia (YL) tidak malu karena membuat keributan di depan para tamu hotel di lobi, kemungkinan besar dia (YL) akan memulai perkelahian fisik dengan pria sombong ini.

Dia menoleransi Yan Liang saat di lift karena ada orang lain bersama mereka.  Begitu mereka mencapai lantai mereka, ketika dia menyadari bahwa tidak ada orang lain di koridor, Yan Liang mencoba menarik tangannya dari cengkeramannya. Meskipun sepertinya dia memegang tangannya secara kausal, cengkeramannya kuat dan dia tidak bisa membebaskan dirinya.

Yan Liang kemudian berpikir untuk menginjak kakinya (JY). Heels setinggi tiga inci setara dengan senjata tajam, dia memandang kakinya dan membayangkan akan sesakit apa saat dia menginjak kaki Jiang Yunan.

Yan Liang segera menyingkir darinya, dan masuk lift untuk turun ke bawah.

Tapi tampaknya tidak semudah itu Yan Liang bisa melarikan diri. Sebelum Yan Liang bisa memasuki lift, Jiang Yunan membungkuk dan menggendongnya seperti putri.

Tidak ada seorang pun di koridor, Yan Liang berusaha melawan tapi pria ini tidak terpengaruh. Dengan mudah dia memasukkannya ke kamar.

Dan akhirnya Yan Liang dilemparkan di tempat tidur.

Dengan terengah-engah Yan Liang berusaha untuk bangun, “Apa kau gila!?”

Meski Jiang Yunan menggendongnya dari koridor sampai masuk ke kamar, tapi Jiang Yunan tidak terlihat kelelahan sama sekali. Dengan tangan yang bersedekap Jiang Yunan berdiri di samping ranjang mengawasi setiap gerakan Yan Liang, ekspresinya tidak berubah.

Yan Liang sangat marah, dia berusaha untuk turun dari ranjang dan menuju ke arah pintu untuk keluar. Namun, Jiang Yunan tidak membiarkannya untuk pergi, sambil mengerutkan keningnya, dia menghalangi langkah Yan Liang.

Riasan Yan Liang telah tersapu oleh hujan, eyeliner-nya ternoda, tetapi sepertinya itu tidak menghalangi pria yang sedang menatapnya ini.

Dengan lembut, Jiang Yu Nan menghapus noda eyeliner di ujung bulu matanya.

Yan Liang tidak punya kesabaran untuk menanggung ini, dia memalingkan kepalanya ke samping.

Kemudian, Jiang Yunan memegang dagunya dan bertanya, “Masih bad mood?”

Yan Liang dengan dingin mendengus, “Kau menuduhku menjual diri, dan aku tidak boleh untuk membalas sama sekali?”

Jiang Yunan sedikit melunak, ” Aku marah.”

“Oh! Bagaimana mungkin Tuan Jiang yang dingin seperti es itu menjadi marah karena wanita kecil ini?”

Jiang Yunan menatapnya seolah dia juga menanyakan pertanyaan yang sama padanya.

Setelah beberapa saat berpikir serius, dia (JY) dengan enggan tertawa, “Ya. Kau hanya makan malam dengannya. Kenapa aku harus marah?”

Jiang Yunan terus menatap matanya, benar-benar kebingungan, seolah-olah Yan Liang dapat membantunya memecahkan keraguannya.

Tidak ada alasan mengapa Yan Liang tiba-tiba merasa jantungnya berdetak dengan kencang.

Di bawah tatapannya (JY) yang tak berkedip, dia merasa mati rasa dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Dia tidak tahan lagi, “Jiang Yunan ..”

Dia sudah sering memanggil namanya, tapi kali ini nadanya berbeda, itu lembut, halus, hampir memohon.

“Kau .. jangan biarkan Xi Ziqing membawamu pergi.”

Itu adalah pernyataan yang naif dan konyol, seperti anak sekolah dasar yang meminta mainan, seorang anak yang juga keras kepala dan kesepian.

Jiang Yunan hanya menatapnya, ia terdiam.

Di luar jendela, curah hujan telah berubah menjadi hujan lebat.

Di suite hotel ini, tampaknya akan terjadi sesuatu di antara keduanya.

Wajah Jiang Yunan tampak tanpa ekspresi, tetapi memiliki jejak emosi; dia tampak tergerak oleh kata-kata Yan Liang.

Akhirnya dia mengulurkan tangannya ke arahnya, seolah-olah menyentuhnya, dan mematahkan konfrontasi yang berlarut-larut di antara mereka.

Tetapi bahkan sebelum tangannya meraihnya, jari-jarinya menegang

Dia tidak menyentuhnya.

Matanya memancarkan kontradiksi, keraguan. Seolah-olah hatinya tidak memperbolehkan sikapnya yang penuh kasih sayang seperti ini, ketika ada rahasia yang kejam di antara mereka, sedangkan mata orangnya (YL) ini begitu tulus.

Tetapi dia juga tergerak oleh momen-momen hangat yang baru saja mereka bagikan, jari-jarinya dengan lembut menelusuri sisi wajah wanita itu, bibirnya, dan akhirnya ke dagunya.  Dia mengangkat wajahnya, dan mengamatinya dengan tulus.

Yan Liang tidak tahu harus berwajah seperti apa saat ini, jadi dia terus menahan nafasnya.

Itu mengerikan, dia bahkan tidak bisa bercanda tentang hal itu. Selama dua puluh tahun terakhir hidupnya, dia memperlakukan kehadiran Xu Ziqing sebagai lelucon, namun, di depan pria ini, dia telah mengungkapkan kelemahannya.

Dia menyesal saat dia mengatakannya, tapi sekarang dia hanya pasrah pada takdirnya ..

Jadi dia bahkan tidak berkedip sekali saat menatapnya (JY), dia ingin melihat apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.

Dia benar-benar akrab dengan Jiang Yunan, tapi entah mengapa saat ini… dia… terlihat… berbeda.

Dia tiba-tiba merasa bahwa pria yang berdiri di depannya bukan pria yang sama seperti yang dia kenal, ada jejak keraguan dan emosi yang bertentangan di matanya yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Dan kemudian dia melihat matanya (JY) berkedip. Jiang Yunan berbalik ke samping, ke kabinet TV dan menyingkirkan barang-barang di atasnya, dengan tangannya yang lain dia memegangi pinggangnya (YL), dan meletakkan Yan Liang di atas meja.

Yan Liang kaget dan secara refleks mencoba melompat dari meja, tapi dia segera memeluknya.

“Jangan bergerak,” katanya.

Itu hampir merupakan sebuah perintah.

Kali ini, Yan Liang memilih untuk mendengarkannya.

Yan Liang duduk di sana dengan tenang, dan dia (JY) berdiri di antara kakinya, wajah mereka sekarang pada ketinggian yang sama, sehingga Yan Liang bisa melihat langsung di matanya ketika tangannya melepas pakaiannya yang basah satu per satu.

Tangannya (JY) terasa panas, jadi dia merasa panas dan dingin secara bergantian, tapi dia tidak gemetar sedikit pun. Tangannya tidak terlalu lama berada di tubuh bagian atas, mencapai pinggangnya dan dia melepas celana dalam Yan Liang.

Setelah ini, dia berhenti sejenak.  Jiang Yunan menatapnya, mencium bibirnya, lalu tangannya berada di bawah roknya lagi.

Dengan bra yang terbuka di dadanya, napas Yan Liang tertahan, dan dia gemetar. Tanpa sadar, jari-jarinya melingkar di ujung meja.

Jiang Yunan mengangkat kepalanya untuk menutupi mulutnya. Dalam kesunyian ruangan, dia merasa seolah-olah sarafnya meregang sampai putus. Untuk mengalihkan perhatian, dia memeluknya erat-erat, dan menciumnya dengan keras.

Lidah mereka terjerat, ritme mereka kacau. Rok Yan Liang terangkat hampir ke pinggangnya, Jiang Yunan memegangnya erat-erat dan satu-satunya yang memisahkan mereka adalah kain tipis dingin dari celananya (JY).

Yan Liang meletakkan tangannya di dadanya, apakah akan menghentikannya atau menyuruhnya menunggu, itu tidak jelas.

Jiang Yunan juga melewatkan rasa bibirnya, ciumannya hampir biadab.

Yan Liang tidak pernah mengalami perasaan yang begitu intens.

Jiang Yunan menangkap salah satu pergelangan kakinya dan meletakkannya sehingga kakinya tertekuk di sisi pinggangnya, dan pada saat yang sama dia menarik ritsleting celananya.

Yan Liang mengerutkan alisnya, dia kehabisan napas dan terengah-engah.

Jiang Yunan bergerak terus-menerus, satu-satunya hal yang tetap tak tergoyahkan adalah tatapannya pada dirinya. Jiang Yunan memandang lutut Yan Liang yang ditekuk dan kakinya terbuka.

Suara nafas berat, disertai dengan suara lidah mereka yang terjerat, terus bergema di telinga mereka.

Pikiran Yan Liang menjadi kacau, dia bahkan tidak memperhatikan saat Jiang Yunan menggendongnya dan meletakkannya di ranjang empuk.

Saat tulang punggung Yan Liang menyentuh tempat tidur, dia tidak bisa berbaring diam.  Pergelangan kakinya masih di cengkeramannya, matanya mengawasinya.

Riak emosi aneh melewati tubuhnya.  Dia mencoba menopang dirinya dengan sikunya, dia ingin duduk dan menghindari tatapan tak tertahankan dari pria ini.

Tetapi dalam sekejap mata, Jiang Yunan telah mengalahkannya. Lutut akinya menekuk, dan berpisah. Jiang Yunan tidak lagi hanya ‘menyikatnya’, tapi sekarang dia mulai ‘menggiling’nya dengan kasar.

Yan Liang tidak bisa menahan siksaan manis ini. Dia menangkap pergelangan tangannya (JY).  Mulutnya kering, dia tidak bisa bicara.  Dia hanya menggelengkan kepalanya.

Tapi Jiang Yunan mencengkeram dagunya dengan jarinya, Yan Liang tidak diizinkan untuk menggelengkan kepalanya.

Wajah Jiang Yunan menggelap, tidak ada ekspresi, tapi napasnya berat dan tindakannya intens.  Kaki Yan Liang terlilit erat di pinggangnya, jantung mereka berdetak kencang.

Dia merasakan kulitnya, tulangnya, bahkan darahnya terbakar karena Jiang Yunan.

Dia segera memeluk tubuh Jiang Yunan. Kini Jiang Yunan tidak bisa mundur lagi, akhirnya dia mengerutkan kening dan mendengus. Dia terkekeh pada Yan Liang dan mengetuk hidungnya dengan jarinya, “Tidak tahan?”

Yan Liang hanya bisa menciumnya dengan keras sebagai jawaban.

Jiang Yunan menanggapi ciumannya dengan kejam.  Dia mengangkat tubuh Yan Liang dan menempatkannya di pangkuannya.  Kaki Yan Liang masih melilit pinggangnya, dia bisa merasakan Yan Liang yang gemetar, berusaha melepaskan diri, tapi dia masih mengerang keras, akhirnya Yan Liang dikuasai oleh pelepasan terdalam dan hancur….

***

Maaf Rei udah lama menghilang T_T

 

4
Comments

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  • 0
  • 0
    • 0
      rei reiss dollars says:

      Utk saat ini Rei cuma bisa up RL seminggu sekali yaa… Mohon maaf T_T
      Situasi sedang tidak memungkinkan… Nanti Rei usahain up lebih rajin lg 😀