RDCAB 25. Pertengkaran Pertama

Featured Image

Jarang bagi Xia Feng untuk meninggalkan pekerjaan tepat waktu seperti hari ini.

Alih-alih memasak di rumah, mereka pergi ke restoran terkenal di dekat rumahnya untuk makan malam. Tempat itu ramai dan butuh beberapa saat untuk menemukan tempat parkir, dan akhirnya menemukan parkir kosong yang sedikit jauh dari hotel.

Mereka menikmati makan malam mereka dan setelah itu, berjalan sebentar untuk kembali ke mobil.

Yu Dong sangat menyukai ini. Meskipun sedikit jauh dari jalan utama, dia memiliki Xia Feng di sampingnya.

“Kenapa kamu tidak memakai sarung tangan?” Xia Feng memegang tangan Yu Dong dan memperhatikan bahwa itu sedikit dingin, mengatakan kepadanya: “Cepat masukkan tanganmu ke dalam saku.”

Melihat bahwa Xia Feng akan melepaskan tangannya, Yu Dong buru-buru memegang tangannya dan berkata, “Aku tidak kedinginan!”

“Bagaimana bisa kamu tidak kedinginan, tanganmu merah.” Xia Feng mengangkat tangan Yu Dong dan melihat telapak tangannya membiru.

Sekilas, Yu Dong menunduk dan menendang jalan.

“Apa masalahnya?” Xia Feng melihat bahwa suasana hati Yu Dong tiba-tiba berubah.

“Aku ingin berpegangan tangan denganmu.” Yu Dong mengatakannya dengan lembut sehingga kata-kata itu bisa saja tertiup angin*.

*TN: Tertiup angin maksudnya hilang atau lirih.

Untungnya, mereka cukup dekat satu sama lain sehingga Xia Feng mendengar apa yang dikatakannya.

Mata Xia Feng melihat ke bawah dari atas kepala Yu Dong ke tangan mereka yang saling terkait. Setelah berkedip, tangan Yu Dong dimasukkan ke dalam saku jaket Xia Feng.

Yu Dong tertegun dengan tindakan Xia Feng. Ketika dia merasa tangannya dimasukkan ke dalam saku yang hangat, dia mengangkat kepalanya bingung dan melihat Xia Feng tersenyum padanya.

“Jadi, itu sudah tidak dingin.”

Yu Dong balas tersenyum.

“Ayo, salju mulai turun.” setelah ini, dia mendesak Yu Dong untuk berjalan.

Saat mereka berjalan di sepanjang sisi jalan, tangan ke tangan, disertai salju turun, Yu Dong tiba-tiba merasa seperti berada dalam drama Korea.

“Hati-hati!” Xia Feng cepat-cepat menangkap Yu Dong saat dia tergelincir sepetak es. Sambil tertawa Xia Feng berkata: “Mengapa kamu tidak melihat ke mana kamu melangkah?”

“Bukankah kamu yang menuntunku?” Yu Dong menyangkal.

Xia Feng berkedip, lalu tiba-tiba merasa sedikit bahagia. Dia meletakkan tangan Yu Dong kembali ke sakunya dan berkata, “Itu benar, aku salah.”

Yu Dong tiba-tiba merasa bahwa dia sedikit tidak beralasan dan mencoba mengubah topik: “Aku mendengar bahwa kamu bertemu Xiaoyue dan Xinxin di rumah sakitmu beberapa hari yang lalu.”

“Apakah mereka memberitahumu?” Xia Feng tidak dengan tegas memberi tahu Yu Dong tentang kejadian ini, tetapi dia tidak terkejut bahwa Yu Dong tahu tentang hal itu.

“Xinxin bilang kamu membantunya melewati pintu belakang*.”

*TN: Maksudnya memotong antrean lewat kenalan.

“Itu bukan pintu belakang, aku hanya menunda istirahat makan siang rekan dokter untuk sementara waktu. Setelah itu aku mentraktir mereka dengan minum kopi.” Xia Feng menjelaskan.

“Berarti secangkir kopi itu sepadan.”

“Kenapa kamu mengatakan itu?” Xia Feng bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Xiaoyue dan Xinxin adalah teman baikku. Setelah mereka mendengar tentang hubungan kita, mereka selalu memintaku untuk berjumpa denganmu.” Yu Dong melirik Xia Feng dan tersenyum, “Takut?”

“Itu sebabnya aku pergi keluar untuk mencoba dan membuat kesan yang baik hari itu, ah.” Xia Feng mengedipkan mata.

“Oh … ternyata kamu sengaja melakukannya.” Yu Dong sengaja bersikap berlebihan.

Xia Feng tertawa.

“Tapi kamu sangat sukses dalam rencanamu.” Yu Dong berkomentar. “Setidaknya 50%.”

“50%?” Xia Feng bingung.

“Xinxin bilang kalau kamu telah membantunya melewati pintu belakang, jadi dia sudah lulus.”

*TN: Lulus maksudnya, Xinxin setuju/merestui.

“Xiaoyue? Aku belum lulus?” Xia Feng mengangkat dan alisnya. “Aku ingat ketika dia menderita radang usus buntu yang terakhir kali, aku secara khusus membantunya. Aku bahkan membantunya bertanya kepada dokter tentang bekas luka.”

“Itu …”

Yu Dong ingin berbicara tetapi Xia Feng memotongnya, tiba-tiba tampak gugup: “Apa ada orang di sana?”

Melihat ke depan, Yu Dong melihat bayangan hitam tergeletak di tanah yang tertutup salju.

Mereka dengan cepat berlari menuju sosok 10 meter jauhnya. Ketika Yu Dong melihat bahwa itu adalah seorang pria tua yang jatuh, hampir secara otomatis, Yu Dong mengeluarkan teleponnya, mengambil beberapa foto dan kemudian mulai merekam video.

Xia Feng sudah lari ke sisi pria tua itu saat Yu Dong melakukan itu. Xia Feng memeriksa kondisi fisik pria tua itu lalu berbalik untuk berteriak kepada Yu Dong: “Pergi ke mobil dan bawa kemari.”

Xia Feng melihat bahwa pria tua itu pingsan dan dengan cemas melihat kembali ke arah Yu Dong yang secara tak terduga masih dengan telepon ditangannya sedang melakukan sesuatu. Jadi dengan alis berkerut dia mengulangi: “Yu Dong, pergi ke mobil dan menyetirlah kemari.”

“Oh!” Yu Dong akhirnya bereaksi dan berlari untuk mengambil mobil mereka. Mereka berdua akhirnya mengantarkan pria tua itu ke rumah sakit.

Untungnya, pria tua itu memiliki ponsel sehingga mereka mengambilnya dan berhasil menghubungi keluarganya. Setelah Xia Feng mengakhiri panggilan, mereka akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk pulang.

Xia Feng tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan dia pergi ke kamarnya begitu dia sampai di rumah.

Yu Dong cukup sensitif untuk memahami bahwa Xia Feng sedang marah, tapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Yu Dong ragu-ragu, tetapi akhirnya mengetuk pintu Xia Feng.

“Ada apa?” Xia Feng bertanya.

“Apakah … kamu marah?” Yu Dong bertanya. “Apa yang sedang terjadi?”

Xia Feng menatap Yu Dong dengan penuh keraguan, tapi Yu Dong tidak terlihat malu atau bersalah, mungkin dia benar-benar tidak tahu.

Xia Feng menghela napas di dalam hatinya dan membawanya kembali ke ruang tamu.

“Di luar tadi, apa yang kamu lakukan ketika aku memintamu untuk mendapatkan mobil?” Xia Feng bertanya.

Yu Dong ingat dan menjawab: “Aku sedang merekam video.”

“Pria tua itu tiba-tiba mengalami pendarahan otak, dan kemungkinan dia akan mati jika dia dikirim ke rumah sakit bahkan semenit kemudian.” kata Xia Feng.

“Itu sangat menakutkan, tetapi kita berhasil membawanya ke rumah sakit tepat waktu.” Yu Dong masih tidak mengerti.

“Lalu jika kita tidak menyelamatkannya tepat waktu, jika kita bahkan hanya terlambat satu menit …” Xia Feng menatap Yu Dong dengan tajam.

Jika Yu Dong masih tidak tahu mengapa Xia Feng marah setelah ini, dia akan serius mulai meragukan IQ-nya (Yu Dong).

“Mengapa kamu mengambil foto dan merekam dengan teleponmu?” Xia Feng bingung.

“Aku …” Yu Dong tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Mengambil foto atau video sebagai bukti ketika bertemu lansia yang telah jatuh, apakah itu untuk perlindungan diri?

Tahun 2007, banyak kasus membantu orang tua, hanya untuk ditipu dan pemerasan supaya kasus itu tidak menyebar luas.

*TN: Di China banyak kasus seperti itu. Well … itu wajar.

“Kamu harus berpikir tentang itu …” melihat bahwa wajah Yu Dong masih tidak memiliki jejak penyesalan, Xia Feng sedikit kecewa dan kembali ke kamarnya.

Yu Dong duduk sendirian di ruang tamu sampai dia harus pergi bekerja pada jam 11:00 malam.

Xia Feng berdiri di balkon sambil melamun ketika dia menyaksikan mobil Yu Dong pergi.

 

“Halo semuanya, ini FM9666, kamu sekarang mendengarkan Midnight Phantom, ini Fish Jelly.”

Yu Dong membawakan acara seperti biasa tapi para pendengar mendengar jelas rasa ketidakstabilan emosi pembawa acara malam ini sehingga orang-orang mulai mengirim pesan teks yang isinya bertanya tentang dia.

[Apa yang terjadi dengan Fish Jelly hari ini? Suasana hatinya sangat buruk!]

[Apakah tubuh Fish Jelly tidak sehat?]

[Apakah ada yang terjadi pada pembawa acara?]

[Apakah seseorang di antara pendengar mengirimkan surat lain dengan uang di dalamnya yang menyebabkan pembawa acara dimarahi?]

Fish Jelly membaca pesan-pesan yang bergulir di komputer dan suasana hatinya yang buruk pulih sedikit.

Setelah memikirkannya, dia membuka mikrofon, mengatur pikirannya dan berkata: “Banyak orang yang baru saja bertanya ‘apa yang terjadi dengan Fish Jelly hari ini?’ Yah, kamu sudah tahu, aku sebenarnya tidak dalam suasana hati yang baik malam ini.”

Setumpuk pesan teks muncul di komputer, menanyakan apa yang terjadi.

“Aku tidak tahu apakah teman-teman pendengar kita pernah mendengar ungkapan ‘menyentuh porselen’?” Yu Dong berkata, “Dikatakan bahwa ‘menyentuh porselen’ pertama kali ‘ditemukan’ oleh keturunan saudara-saudara Delapan Spanduk* sebelum mereka lenyap dari Dinasti Qing. Orang-orang ini akan mengeluarkan potongan-potongan porselen ‘mahal’ palsu ke dalam jalanan dan melihat peluang, seseorang akan dengan sengaja menyeberang jalan dengan gerbong yang bergerak dan membiarkan mereka (korban) ‘menabraknya’ tanpa sengaja, mengirimkan/menjatuhkan porselen mereka lalu menabrak jalan, kemudian dia (pelaku) akan meneriakkan ‘kata-kata palsu’ dan memaksa pemilik yang terjebak untuk membayar kompensasi sesuai harga barang-barang berharga yang seharusnya.”

*TN: Eight Banner/Delapan Spanduk (Cina: 八旗; pinyin: bāqí) adalah divisi administratif / militer di bawah dinasti Qing di mana semua rumah tangga Manchu ditempatkan. Dalam perang, Delapan Spanduk berfungsi sebagai tentara, tetapi sistem spanduk juga merupakan kerangka kerja organisasi dasar dari semua masyarakat Manchu.

Yu Dong berpikir sejenak, lalu melanjutkan: “Fish Jelly menemukan sebuah peristiwa di lingkungannya sebelumnya. Ada seorang pria baik hati yang melihat bahwa seorang pria tua telah jatuh di halte bus yang sibuk. Pemuda itu dengan baik hati membantu pria tua itu ke rumah sakit terdekat. Dia melakukan hal yang sangat baik, tetapi pada hari berikutnya keluarga pria tua itu menuduh pemuda itu telah memukuli para lansia dan ingin dia memberi kompensasi 80.000 yuan untuk biaya pengobatan dan pemulihan.”

[Resah … bagaimana itu bisa terjadi?]

[Itu terlalu banyak, panggil polisi!]

Pesan teks seperti ini mulai bermunculan di layar komputer. Yu Dong melanjutkan: “Sejak itu, orang-orang yang bertemu lansia yang berada dalam kesusahan tidak berani membantu karena takut dimanfaatkan, atau sebagai alternatif, takut menyentuh porselen.

Kemudian, seseorang datang dengan sebuah ide untuk mendapatkan bukti yang menguntungkan sebelum membantu, sehingga mereka dapat membantu orang lain dan pada saat yang sama mencegah diri mereka dari penipuan.”

[Ide bagus. Kalau tidak, melihat seseorang terjatuh dan tidak membantu itu bukan hal baik.]

[Metode ini bagus!]

“Jadi aku mengembangkan kebiasaan semacam itu.” ketika Yu Dong mengatakan ini, dia ingat mata kecewa Xia Feng diarahkan padanya. Hatinya merasa sedih dan bersalah. “Hari ini aku pergi makan malam dengan seseorang yang aku suka dan bertemu dengan seorang pria tua yang jatuh di pinggir jalan.”

[Kebetulan sekali!]

[Pembawa acara, apakah kamu membantunya?]

“Rekanku segera berlari untuk membantu orang tua itu, dan aku merekam video selama satu menit dengan ponselku.” Yu Dong melanjutkan, “Ketika kami membawa pria tua itu ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa itu adalah pendarahan otak, dan seandainya terlambat semenit kemudian, dia mungkin sudah meninggal.”

[Hampir saja!]

[Berbahaya!]

[Aku tahu kenapa pembawa acaranya dalam suasana hati yang buruk.]

“Kemudian dia kecewa padaku dan bertanya mengapa aku merekam video dalam situasi yang begitu mendesak.” Yu Dong akhirnya menyelesaikan ceritanya.

[Sulit untuk mengatakan siapa yang salah.]

[Pembawa acara menyukai seseorang? Apa yang bisa kita lakukan? Itu kesalahpahaman?]

[Pria tua itu baik-baik saja.]

[Jika aku adalah pacar pembawa acara, aku akan kecewa juga, setelah semuanya, nyawa dipertaruhkan.]

Ada banyak diskusi di komputer, banyak orang mengekspresikan pendapat mereka.

Ketika Shao Yifan menelepon, Xia Feng yang masih sedikit kecewa pada Yu Dong, sedang di tempat tidur membaca buku.

“–Ah?”

“Apakah kamu bertengkar dengan Yu Dong?” Shao Yifan bertanya dengan lugas.

“Tidak.” Xia Feng membantah.

“Jangan bohong, aku baru saja mendengar Yu Dong di radio, katanya ketika kamu pergi makan, kamu akhirnya menyelamatkan seorang pria tua.”

Xia Feng tiba-tiba mengerutkan kening. Mengapa hal semacam ini muncul dalam siaran Yu Dong?

“Apakah kamu tidak mendengarkan program Yu Dong?” Shao Yifan bertanya.

Xia Feng tidak menjawab.

“Jadi, kamu juga tidak mendengarkan penjelasan dari pihak lain.” sadar akan temperamen temannya, Shao Yifan bertindak sebagai narator dan mengulangi kisah Yu Dong kepada Xia Feng.

“Aku sedang mendengarkan suara Yu Dong, aku merasa dia terdengar sangat kehilangan dan mungkin bahkan menangis.” Shao Yifan membesar-besarkan.

“Menangis?” ekspresi Xia Feng berubah saat dia mendengarkan.

“Ya, menurutmu berapa umur Yu Dong, dia berumur 22 tahun dan baru lulus universitas. Tidak bisakah kamu berbicara kepada orang dengan benar dan mendengarkan penjelasan mereka. Lihatlah apa yang telah kamu lakukan. Apakah kamu hanya akan mempertanyakan karakter dari seseorang?” Shao Yifan melanjutkan, “Apakah kamu pikir semua orang adalah dokter seperti kita, mengetahui perbedaan antara pingsan palsu dan pendarahan otak?”

Xia Feng telah berhenti mendengarkan, otaknya dipenuhi Yu Dong yang sendirian, diam-diam menangis.

Memegang teleponnya, Xia Feng tiba-tiba merasa sedikit tertekan.

Dia melihat pada saat itu pukul 1:30 pagi.

Xia Feng bangkit dari tempat tidur, ganti baju, dan berkendara langsung ke stasiun radio.

Jadi ketika Yu Dong berjalan keluar dari gedung dengan kepala tertunduk, dia mendengar suara lembut Xia Feng.

“Bukankah aku memberitahumu untuk melihat kemana kamu melangkah. Bagaimana jika kamu jatuh lagi tanpa aku?”

Yu Dong mendongak dengan tidak percaya.

Xia Feng dengan lembut meraih tangan dingin Yu Dong.

“Mari kita pulang!”

RDCAB 24. Dia Berani Bertarung Denganku?
RDCAB 26. Ciuman

Author: ShinMin

Soo~~ tired.

2 thoughts on “RDCAB 25. Pertengkaran Pertama”

Leave a Reply

Your email address will not be published.