PKGPM 6. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 4

Featured Image

Setelah setengah bulan. Di balik gunung, di lapangan untuk latihan milik Kediaman Jendral. Saat tengah hari, matahari di musim panas terasa sangat terik, di tengah lapangan itu tak ada sedikit pun tempat untuk berteduh, seribu prajurit itu akhirnya bisa istirahat sejenak setelah berlatih selama enam jam. Karena masih akan ada sesi latihan perang, para prajurit itu tidak bisa kembali ke barak untuk beristirahat. Mereka bergerumbul tiga hingga empat orang saling berteduh pada bayangan mereka sendiri, menikmati hembusan angin yang sejuk, suara canda dan tawa terdengar dari waktu ke waktu.

“Benarkah?”

Tampak ekspresi tak percaya di wajah mereka, seorang prajurit senior melambaikan tangannya, dengan muka yang serius ia berkata: “Untuk apa aku berbohong? Si tukang masak Xiao Zhao adalah temanku satu kampung, dia sendiri yang bilang padaku! Wanita itu harus makan 1,5 kg daging sapi, 10 butir telur, 0,5 kg nasi, dan 5 mentimun.”

“Aku tak percaya itu!” Seorang prajurit muda dan tegap memukul dadanya sendiri dengan bangga ia menjawab: “Aku kuat, aku bisa makan sebanyak itu, tapi bagaimana mungkin seorang wanita bisa makan sebanyak itu!”

Prajurit senior itu menepuk bahu tebal si prajurit muda, melemparkan pandangan sekilas pada tubuhnya yang kuat, mendecakkan lidahnya dan tertawa: “Ini yang tidak kau pahami, mungkin saja berat badan wanita itu 100 kg, wanita yang gemuk! Dan juga, aku tidak bicara omong kosong soal makanannya. Pergilah ke dapur kalau ingin tahu. Tanya di sana, semua orang sudah tahu!”

Prajurit muda itu akhirnya mempercayai seniornya, menggumam kembali: “Ah, jadi itu sebabnya! Tak heran jika Jendral membuangnya untuk tinggal di halaman paling belakang.”

Kalimat prajurit muda itu diikuti gelak tawa dari prajurit yang lain dalam grup itu. Prajurit senior melanjutkan sindirannya: “Aku rasa mungkin karena melihat Jendral selalu menolak wanita, makanya Kaisar memberikannya istri yang besar dan gemuk untuk memberi semangat kepada Jendral.” Setelah mengatakan itu ia tertawa, namun ia melihat beberapa prajurit tidak ikut tertawa dan malah melihat ke belakangnya dengan panik, sambil tergesa-gesa mereka menundukkan kepala.

Prajurit senior itu merasakan hatinya membeku, sial, tidak mungkinkan di belakangnya berdiri…

“Semuanya berdiri.” Terdengar suara geraman meraung, sekumpulan orang yang sedang menikmati hembusan angin langsung bangkit, berdiri setegak senapan, tak ada yang berani bergerak sedikit pun.

Mata dingin Su Yu menyapu satu persatu wajah para prajurit yang gugup, dan akhirnya terhenti pada wajah si prajurit senior, dengan dingin ia membentak: “Semuanya ke bawah sinar matahari, pasang kuda-kuda, selama satu jam!”

“Siap!” Seluruh prajurit dalam grup itu selanjutnya mengambil sikap kuda-kuda di bawah terik matahari, dalam hati mereka meratap tanpa henti, namun tak ada seorang pun yang berani menunjukkannya.

Para prajurit lain yang tidak tahu apa yang telah terjadi hanya bisa menatap bingung ke beberapa prajurit yang sedang berjuang menyeimbangkan sikap kuda-kuda di bawah panas matahari, dan Letnan Jendral dengan wajah penuh amarah berjalan menuju halaman belakang.

Dasar wanita sial, dia ingin mencari perhatian mereka dengan cara seperti ini?! Bagus sekali, Su Yu ingin lihat seberapa banyak wanita itu bisa makan, kalau wanita itu sampai tidak bisa menghabiskannya, Su Yu akan bilang kalau dia bodoh.

Di bagian sudut terjauh di halaman belakang, cabang-cabang pohon yang kuat telah terpotong, dua potong kain berwarna putih diikat di atas batang pohon, sepasang tangan yang ramping, menjulur ke atas menggenggam batang pohong dengan kuat, dengan urat-urat biru yang nampak di punggung tangan, mengikuti suara nafas yang kasar namun tenang berirama. Sesosok tubuh yang kurus dan mungil menggantung di udara, mengandalkan kekuatan lengannya untuk bergerak naik dan turun.
“Tujuhbelas, 18, 19,…duapuluh!” Gu Yun bernafas terengah-engah, keringat dari dahinya jatuh ke pipi dan membasahi rambutnya, bajunya yang berwarna putih polos itu bisa dibilang basah kuyup.

Duapuluh! Akhirnya ia bisa mencapai angka 20, siapa yang akan menyangka bahwa ia akan begitu bahagia bisa melakukan push-up 20 kali, bahkan kurang dari separuh dari yang dulu bisa ia lakukan. Saat sedang mengejek dirinya sendiri, Gu Yun mendengar langkah kaki yang sangat samar di luar pintu.

Gu Yun segera melepaskan pegangannya, melompat turun, disaat bersamaan dengan kakinya menginjak tanah, sesosok tubuh yang tinggi dengan wajah penuh amarah muncul di halaman.

Su Yu meludah dengan marah memasuki halaman, tentu saja ia ingin memberi pelajaran wanita yang bernama Qing Mo itu, melarangnya bermain-main dengan menggunakan trik seperti itu, bagaimanapun ketika ia memasuki halaman, tubuhnya tiba-tiba membeku. Di halaman kecil ini, semak-semak belukar yg tumbuh rendah dan liar, gulma-gulma yang tumbuh tinggi, sepenuhnya telah bersih, hanya menyisakan padang rumput yang hijau. Di bagian tepi padang rumput, terdapat beberapa karung yang besar dan kecil, dipenuhi dengan isi yang bahkan tak dapat ia tebak.

Di dahan yang tinggi pada sebuah pohon, sepotong kain berwarna putih menggantung di udara, bergoyang-goyang tertiup angin, kalau wanita itu ingin menggantung ayunan dia tidak perlu menggantungnya setinggi itu.

Tepat di bawah “ayunan” itu adalah sosok yang kecil dan putih, berjongkok dengan sebelah lututnya menyentuh tanah dan kedua tangannya menyangga di tanah. Wanita itu pelan-pelan berdiri, dengan wajah yang cantik dan menawan, tubuh yang halus, dia tidak berbeda jauh dengan putri dari keluarga kaya lainnya, terkecuali sepasang mata yang dingin dan acuh tak acuh yang saat ini sedang menatap ke arahnya. Sejenak perhatian Su Yu teralihkan, ia hampir lupa dengan tujuan awalnya datang ke tempat ini.

Hingga wanita itu berdiri sepenuhnya, melihat pada pakaiannya yang tipis, Su Yu langsung tersadar dan berteriak: “Apa yang kau lakukan berpakaian seperti itu? Pakailah beberapa baju!”

Apa sebenarnya yang ingin wanita itu lakukan, berdiri di luar halaman di siang bolong begini hanya dengan menggunakan pakaian seperti itu? Siapa yang ingin ia goda?

Terlebih lagi, rambutnya tak terikat seluruhnya, menggunakan seutas kain putih untuk mengikat di belakang kepalanya, tak jelas terlihat seperti wanita ataupun laki-laki, penampilan yang ambigu.

Gu Yun mengangkat kedua alisnya, mendengus: “Sudah jelas kediamanmu tidak mampu menyediakan cukup baju.” Mereka hanya memberinya dua pasang baju, ia menyimpan dua celana panjangnya, tapi ia merobek cheong sam nya hingga tak lagi berbentuk baju dan membuat karung yang ia isi penuh dengan tanah berpasir.

" Mereka hanya memberinya dua pasang baju, ia menyimpan dua celana panjangnya, tapi ia merobek cheong sam nya hingga tak lagi berbentuk baju dan membuat karung yang ia isi penuh dengan tanah berpasir

Gambar Cheong sam

Setelah dua minggu latihan fisik, ia telah berhasil membuat tubuh ini bergerak dengan gesit. Rencana berikutnya adalah latihan angkat beban untuk meningkatkan kekuatannya, ia membutuhkan lebih karung-karung pasir, laki-laki di depannya ini datang disaat yang tepat.

Terbalut dalam baju putih polos yang telah basah kuyub oleh keringat, di bawah terik matahari sore, lekuk tubuhnya yang anggun terlihat sebagian. Su Yu menundukkan kepalanya, menggeram: “Sial!” Cepat-cepat ia berbalik dan keluar.

Gu Yun sedikit terkejut, ada apa dengan laki-laki itu? Pergi begitu saja setelah datang kemari dan berteriak marah-marah? Gu Yun tertawa sendiri, menggelengkan kepalanya, dengan hati-hati ia melompat tinggi, menangkap cabang pohon di atasnya, mengambil nafas dalam, ia ingin melakukan satu putaran dua puluh kali push-up. Siapa yang menyangka, setelah hitungan kesepuluh, ia mendengar lagi suara gaduh langkah kaki yang mendekat terbawa oleh angin, Gu Yun mengernyit sedikit tidak sabar, apa sih maunya laki-laki ini?

Gu Yun melompat turun dengan mudah, pemandangan yang ia lihat hampir saja membuatnya tertawa, beberapa saat lalu laki-laki ini masih terlihat muda, tinggi dan kuat, selain bahwa saat ini tangannya sedang membawa setumpuk berbagai macam baju, warna-warnanya begitu kontras dengan latar warna kulitnya yang hitam dan tampangnya yang sedang marah, benar-benar terlihat lucu.

Su Yu berjalan lurus ke arah Gu Yun, sampai di depannya Su Yu melempar baju-baju wanita yang ia bawa ke bawah kaki Gu Yun, mengejek dengan dingin: “Apa ini cukup?”

Jadi laki-laki ini tadi mencarikan beberapa baju untuknya, dia sungguh menarik. Gu Yun melihat lagi ke wajah Su Yu, muda, tampan, garis wajah yang jelas, berusia sekitar 20 tahunan, jejak samar aura sombong. Raut mukanya dan laki-laki dingin yang ia lihat terakhir kali itu terlihat agak mirip, sayangnya laki-laki ini begitu muda, seluruh ekspresinya terlukis di wajahnya. Menilai ekspresi wajah adalah salah satu kemampuan khususnya dalam investigasi.

Baju-baju ini akan cukup untuk membuat banyak peralatan fitnes yang ia butuhkan. Gu Yun yang merasa senang sengaja menyindir: “Aku lebih suka yang polos, ingat itu untuk lain kali.”

“Kau pikir ini dimana? Bagaimana mungkin Kediaman Jendral membiarkanmu bersikap kurang ajar begini?”

Arogansi Gu Yun telah memancing sifat mudah marah Su Yu, ia dengan ganas melangkah ke depan mengulurkan tangannya menuju bahu kanan Gu Yun. Mata dingin Gu Yun berkilat, segera ia berbalik dan merundukkan badannya, mengambil salah satu baju yang berwarna ungu, dengan sengaja berkata: “Ah, ini baju yang bagus sekali.”

Su Yu tertegun, tak disangka ia membiarkan saja Gu Yun mengelak. Melihat punggung Gu Yun ketika dia sedang memilih baju yang cocok untuknya, sudut bibir Su Yu terangkat, menarik kembali tangannya, kali ini ia akan membiarkannya saja. Laki-laki sejati mana yang memilih berkelahi dengan seorang wanita yang rapuh. Yang Su Yu tidak tahu bahwa wanita yang ia sebut rapuh itu kini sedang sibuk dengan tangannya menyambung baju-baju itu menjadi sebuah tali panjang, jika laki-laki ini berniat memukulnya lagi, Gu Yun akan balas memukulnya.

Merasakan laki-laki di belakangnya ini bergerak mundur, Gu Yun pelan-pelan mengendurkan genggamannya pada tali. Ia berbalik, tersenyum dan acuh tak acuh bertanya: “Siapa kau?”

“Su Yu.” Setelah mengatakan itu, Su Yu berdiri dengan sombongnya, seolah semua orang harusnya sudah tahu siapa Letnan Jendral Su Yu.

Gu Yun memiringkan kepalanya sedikit ke samping: “Baiklah aku sudah tahu namamu. Lanjutkan.”

Dia tidak mengenalnya?! Su Yu merasa malu dan sedikit terganggu, menjawab: “Aku adalah tuan di kediaman Jendral ini!” Mengerutkan alisnya, Gu Yun tersenyum dan berkata: “Kalau kau adalah tuan di Kediaman Jendral ini, lalu siapa laki-laki yang seperti balok es kemarin itu?” dia ini pasti adik dari si laki-laki balok es itu.

Laki-laki balok es? Su Yu melotot sebentar, kemudian tak disangka ia malah tertawa, nama itu benar-benar cocok untuk kakaknya, tapi tak seorang pun yang berani mengatakan langsung di depannya. Suasana hatinya sedikit membaik sekarang, Su Yu tertawa: “Dia adalah kakakku.”

Sesuai dugaan, laki-laki di depannya ini bahkan lebih marah, kemarahannya terlihat jelas diwajahnya, namun bila dibandingkan, kakaknya jauh lebih buruk. Gu Yun mendongakkan kepalanya, menatap ke langit, ini hampir tengah hari, ia sedang tidak semangat untuk melanjutkan bicara dengannya, jadi Gu Yun langsung bertanya: “Kenapa kau datang kesini? Apa yang kau inginkan?”

Su Yu akhirnya ingat bahwa ia datang ke tempat ini untuk memberi pelajaran wanita ini. Pada saat yang sama, seorang pelayan dapur yang usianya lebih dari 50 tahun, dengan membawa baki yang besar berisi makanan memasuki halaman, melihat kehadiran Su Yu, dengan cepat ia memberi hormat: “Jendral Ketiga…”

Su Yu menatap pada baki yang membawa tiga mangkok besar, satu mangkok penuh berisi nasi, mangkok lainnya penuh berisi telur, dan mangkok ketiga penuh berisi daging sapi, di sampingnya terdapat juga lima buah mentimun. Makanan sebanyak ini, kira-kira butuh dua prajurit untuk menghabiskannya, sementara wanita ini yang tingginya hanya mencapai dadanya saja, begitu kurus hingga angin saja bisa menghempasnya, seharusnya semangkuk telur saja bisa membuatnya mati tercekik!

Begitu yakin bahwa Gu Yun memanfaatkan cara ini untuk menarik perhatian, Su Yu, yang merasa ini adalah trik menjijikkan dari seorang wanita yang jahat, menjawab, nada suaranya semakin bertambah dingin: “Aku dengar kau meminta banyak sekali makanan, aku datang khusus untuk melihat ini. Kediaman Jendral tetap mampu memberi makan, tapi tidak bisa menoleransi orang yang membuang-buang makanan. Kalau kau tidak bisa menghabiskan semua makanan ini, mulai hari ini, kau tidak akan diberikan makanan lagi selama tiga hari.” Dia akan kelaparan selama tiga hari tiga malam, jika dia tetap memainkan triknya.

Jadi, sebenarnya dia datang untuk melakukan ini, dia memperlakukan seorang wanita dengan hina untuk membuatnya sedikit bingung, Gu Yun dengan dingin menjawab: “Dan kalau aku bisa menghabiskannya?”

“Tidak mungkin!” Saat ini Gu Yun ingin mencari alasan!

Matanya yang cerah dan berkilau berseri-seri, Gu Yun mengangkat kepalanya sedikit, berniat memprovokasi ia berkata: “Kau ingin bertaruh?”

Su Yu dengan dingin menjawab: “Taruhan apa?”

“Jika aku kalah, aku akan melakukan apapun yang kau minta, satu kata pun darimu tak akan kubantah, benar-benar patuh.” Gu Yun mengatakan ini dengan santai, karena itu hal yang tak akan terjadi, ia bahkan tak tahu kata ‘patuh’, apa itu, tapi bagaimanapun ia tetap tak boleh kalah. Melihat ke arah Su Yu, Gu Yun tersenyum licik, “Jika kau yang kalah, aku ingin bebas berkeliling di Kediaman Jendral.”

“Jangan pernah berani memikirkannya.” Su Yu juga tak ingin langsung menolak, tapi seorang wanita berkeliaran dengan bebasnya di Kediaman Jendral, itu benar-benar hal yang tak mungkin!

Sial! Apakah dia tidak tergoda?! Melihat matanya yang arogan, Gu Yun memutar matanya, dengan sengaja mengerutkan dahinya, tersentak: “Apa kau tidak berani? Ah benar, sebagai tuan, kau tidak boleh melakukannya, lebih baik aku tidak membuatmu malu lagi.”

Tentu saja, setelah mendengar kata-kata itu, Su Yu langsung berteriak: “Sebagai tuan aku tidak bisa melakukannya? Apa kau bercanda?”

Pelayan tua itu menggeram dalam hati, oh tidak, sifat pemarah Jendral Ketiga ini keluar lagi, dia tak mungkin tertipukan ah, “Bawakan padanya semua yang biasa ia minta!” Sayangnya, Su Yu tidak mendengar kata-kata pelayan tua itu, menunjuk pada senyum arogan Gu Yun, Su Yu dengan marah berkata: “Kita taruhan. Kau makan ini sekarang!”

Umpannya sudah termakan ikan, Gu Yun dengan semangat mengambil baki, mengambil mentimun, dengan senang memakannya pelan-pelan. Setelah menghabiskan satu, Gu Yun tidak terburu-buru memakan makan malamnya, mengambil timun berikutnya, dengan pelan dan santai ia mengunyah, semakin lama ia menghabiskan waktu, wajah Su Yu semakin terlihat ganas dan mengerikan. Saat Gu Yun baru saja akan mengambil timun yang ketiga, Su Yu tidak bisa menahannya lagi, ia menggeram: “Makan lebih cepat!”

Gu Yun tetap diam, ia tertawa sambil tetap menggigit mentimun itu: “Kau tidak memberikan batas waktu.”

Su Yu menjawab tidak sabar, “Satu jam, kalau kau tidak menghabiskan makanmu dalam waktu satu jam, kau kalah.” Kalau dia meneruskan cara makannya yang seperti ini, bisa-bisa sampai tengah malam dia masih belum selesai.

Su Yu pikir Gu Yun akan membantahnya, tapi siapa sangka Gu Yun menaruh mentimunnya, mengangkat wajahnya dengan senyum yang cemerlang, suaranya yang dingin bahkan mampu membuat orang mengkerut, “Lebih baik kau mengaku kalah.” Setelah mengatakan itu, ia mengambil semangkuk besar penuh telur, mengeluarkan semua telurnya, dengan pelan ia memecahkan satu per satu telur itu dan menaruh isinya ke dalam mangkuk besar.

Su Yu mengernyit, mengejutkannya ternyata telur-telur itu mentah!

Dia mengambil mangkuk yang penuh dengan daging sapi, mencampur daging sapi dengan nasi dan mengaduknya. Su Yu menyadari bahwa setumpuk daging sapi jika dicampur dengan nasi maka akan kebih mudah untuk ditelan, meskipun begitu, dia masih memiliki dua mangkuk besar campuran daging dan nasi untuk dimakan. Su Yu dengan kedua tangannya dilipat di dada, dengan tenang menunggu melihat tampang malu Gu Yun karena kalah. Sayangnya, menit demi menit berlalu Gu Yun masih dengan tenangnya menikmati makanannya. Wajah Su Yu jadi semakin dan semakin gelap, dia, dia, dia, dan ketika dia benar-benar menghabiskannya, apa dia ini benar-benar seorang wanita!

Setelah habis waktu satu dupa (kira-kira 5 menit), Gu Yun yang kenyang meletakkan mangkuk besarnya, meminum habis sisa telur, mengambil mentimun yang tinggal setengah, sambil mengunyah yang dibuat-buat, ia tertawa: “Kurasa sudah hampir saatnya memutuskan hasil dari pertaruhan ini.” Su Yu tidak tahu apakah ia terlalu marah kepada Gu Yun atau terlalu terkejut dengan selera makannya yang besar, ia mengendurkan kepalan tangannya, mengerat, mengerat dan mengendur lagi, akhirnya dengan marah ia menjawab: “Aku mengaku kalah, kau boleh berkeliaran dengan bebas di dalam kediaman ini, tapi kau tidak diijinkan keluar!”

Setelah mengatakan itu, Su Yu bergegas keluar sambil mendengus huff (^^) Gu Yun melambaikan tangannya pada sosok Su Yu yang marah, dengan berani ia tertawa: ” Kalau kau punya waktu datanglah ngobrol bersamaku.”

Untuk saat ini Gu Yun hanya ingin mengamati area di sekeliling Kediaman Jendral untuk mempersiapkan pelarian dirinya nantinya. Saat tubuhnya sudah lebih kuat, ia harus segera pergi, mungkinkah ketika saatnya tiba, ia harus meminta ijin laki-laki itu? Lucu sekali!


PKGPM 5. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 3
PKGPM 7. Chapter 2 : Latihan militer para tentara terkuat, bag 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.