PKGPM 4. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 2

Featured Image

Ruangan kembali menjadi tenang, Gu Yun masih terikat dengan erat, hanya kain merah yang menutupi wajahnya yang telah disingkirkan. Menatap kelambu tempat tidur yang berwarna putih, Gu Yun tertegun. Siapa yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi? Berbaring di atas tempat tidur, Gu Yun menghela nafas dalam beberapa kali untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Laki-laki tak berperasaan itu sepertinya tak akan kembali malam ini, ia harus membebaskan dirinya dari keadaan sulit ini, setidaknya melepaskan ikatan talinya!

Ruangan itu sangat besar, sekitar 50 meter persegi, perabotan di ruangan itu terkesan sederhana, termasuk tempat tidur dimana ia sedang berbaring saat ini, di ruangan itu terdapat satu set kursi dan sebuah meja kecil dan rendah yang terbuat dari kayu mahogani, di dekat tempat tidur berdiri sebuah kayu penyangga dimana helm dan baju baja tergantung, semua perabotan terbuat dari kayu keras, kesan ruangan itu menggambarkan pribadi pemiliknya yang baru saja keluar  – keras dan sedingin es.

Melihat ke sekeliling ruangan itu, mata Gu Yun menyala penuh semangat saat ia melihat sebuah pedang yang tajam di kedua sisinya tergantung di dinding di sebelah kayu penyangga helm, pedang itu memiliki panjang sekitar empat kaki, berwarna putih keperakan, sarung pedang itu tak memiliki hiasan apapun, pada bagian pangkalnya bertahta sebuah giok berwarna putih, keseluruhan pedang itu menunjukkan sifat arogansi, dingin dan acuh tak acuh.

Gu Yun begitu tertarik dengan pedang yang dingin itu, ia berpikir bagaimana caranya mendekati pedang itu, mungkin pedang itu bisa membantunya melarikan diri. Gu Yun mengambil nafas dalam, mencoba menggunakan kekuatan perutnya untuk bangun, namun sayangnya, masih sebentar ia melakukannya, ia langsung jatuh lagi ke tempat tidur.

Gu Yun mengernyitkan dahinya, apa sebenarnya yang salah? Apa yang sudah mereka lakukan padanya sehingga membuat tubuhnya begitu lemah, tapi Gu Yun tetap keras kepala dan menolak untuk kalah. Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya, Gu Yun mengesampingkan kegagalan usahanya untuk bangun, menggeliat seperti seekor cacing ia mulai merayap pelan-pelan ke tepi tempat tidur. Pertama ia mulai mengulurkan kakinya yang terikat turun dari tempat tidur, kemudian panggulnya, namun sayangnya ia tidak bisa mengendalikan gerakannya, ia menjatuhkan pantatnya di atas lantai yang keras.

Sssh…- Gu Yun mendesiskan udara yang dingin masuk ke dalam mulutnya, dengan enggan ia duduk di atas lantai yang dingin, tidak tahu apakah ia ingin tertawa atau menangis. Sejak kapan ia, seorang Gu Yun, pernah dalam keadaan yang memalukan dan menyedihkan seperti ini, yang bahkan hanya untuk turun dari tempat tidur saja sudah menghabiskan nafasnya?

Setelah beristirahat sebentar, Gu Yun pelan-pelan mulai berdiri, rasanya sangat menyenangkan akhirnya bisa berdiri, namun kemudian setelah ia mampu berdiri tegak, ia merasakan hatinya mengkerut! Oh tidak, tinggi badannya…dia jadi kerdil sekali! Dan rambutnya sepanjang mata kaki, membuatnya sangat terkejut, ia sudah memiliki rambut yang pendek lebih dari sepuluh tahun, bagaimana bisa jadi sepanjang ini?

Semuanya benar-benar aneh! Gu Yun mengambil nafas dalam, sementara ia akan menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya, sekarang yang terpenting adalah bagaimana melepaskan tali yang mengikatnya. Menatap pedang yang tergantung itu, Gu yun mengernyit, tangannya terikat di belakang punggungnya, melihat tinggi badannya sekarang, ia bahkan tidak akan mampu menggapai walau hanya bagian ujungnya

Gu Yun hanya bisa menggunakan kursi kayu sebagai pijakannya, tetapi di antara kursi kayu dan pedang itu berjarak sekitar tujuh hingga delapan meter, ia sedang terikat sekarang yang bahkan untuk bergerak pun sudah sulit, bagaimana ia akan memindahkan kursi kayu yang berat itu?

Di dalam kamar yang besar, cahaya lilin berkedip berwarna kuning pucat, tubuh Gu Yun yang kurus terikat erat berdiri di tengah ruang, tapi wajahnya yang tenang tak sedikitpun menunjukkan ketakutan dan penderitaan. Matanya yang dingin sekali lagi mengamati sekeliling ruangan yang hampir kosong, setelah menyimpulkan tidak ada pilihan yang lain, Gu Yun mulai mengambil langkah-langkah kecil menuju kursi kayu. Menganalisa situasi, menimbang pro dan kontra, menetapkan tujuan, mengambil tindakan segera, beginilah cara Gu Yun mengatasi masalah-masalahnya. Semakin buruk keadaannya, maka ia akan semakin ganas, inilah evaluasi dari dirinya yang pernah menjadi kapten Tim SWAT, dia tidak pernah menyerah, sekarang pun akan begitu!

Memposisikan dirinya di samping kursi kayu, Gu Yun pelan-pelan berjongkok, kemudian ia duduk di lantai lagi, menarik kedua kakinya, ia mendorong sudut kursi yang berdiri, kursi itu ternyata lebih berat dari yang ia perkirakan, ia sudah menguras seluruh tenaganya, namun kursi itu hanya bergerak beberapa centimeter saja!

Melihat ke arah pedang yang sebenarnya tidak terlalu jauh, dengan kecepatan ini, keinginannya untuk menggapai pedang itu, tak diragukan lagi seperti sebuah “Long March.”[1] Dalam hati ia mengertakkan giginya, Gu Yun menjulurkan lagi kedua kakinya dan mendorong, mengulanginya terus menerus, hingga kakinya terasa kebas, tapi ia tak mau berhenti walau sebentar, ia tidak tahu berapa kali ia mengulanginya hingga kursi itu akhirnya membentur dinding, Gu Yun menolehkan kepalanya keluar jendela, sebuah cahaya merah yang redup menerobos masuk ke dalam ruangan, menjanjikan sebuah hari yang baru.

Keringat di dahinya berjatuhan ke atas lantai, Gu Yun menundukkan kepalanya, mengusapkan kepalanya begitu saja di kain roknya, kain roknya yang basah kuyub adalah bukti bahwa ia telah bekerja keras sepanjang malam ini. Kegiatan mendorong meskipun pelan telah membuat kakinya mati rasa, Gu Yun beristirahat sejenak hingga ia bisa merasakan kakinya lagi, kemudian pelan-pelan berdiri bersandar di dinding.

Gu Yun merasakan kepalanya pusing, ia tetap berdiri bersandar di dinding untuk beberapa lama hingga kekuatannya terkumpul kembali. Bergerak naik ke atas kursi, Gu Yun akhirnya dapat menggapai ujung pedang, menangkap ekor pedang, ia mencoba menariknya lama sekali hingga pedang itu berhasil terlepas dari dinding.

Pedang yang sedingin es itu membuat Gu Yun merasa nyaman, ia membelainya dengan penuh kasih sayang selama beberapa saat, menggerakkan tangannya pelan-pelan menuju bagian pangkalnya, lama sekali ia mencoba menariknya, hingga pedang itu keluar dari sarungnya.

Bahkan meskipun pedang itu berada di punggungnya, Gu Yun merasa saat seketika pedang itu dikeluarkan dari sarungnya, hembusan angin yang dingin memenuhi sekelilingnya, mampu membuat orang menyadari ketajaman mata pedangnya.

Dengan hati-hati dan pelan-pelan Gu Yun menempatkan pedang itu di samping tali yang mengikat tangannya, setelah Gu Yun bisa merasakan talinya, ia menarik bagian pangkal pedang, lilitan tali setebal ibu jari itu tak disangka langsung putus. Terbebas dari ikatannya secara tiba-tiba, membuat Gu Yun hampir jatuh dari kursi. Setelah ia mampu menyeimbangkan pijakannya, Gu Yun tak lagi menunggu untuk mengagumi pedang yang ada di tangannya. Mata pedang itu berwarna putih seputih giok tanpa noda, hampir seputih giok yang ada di pangkal pedang, ia tidak tahu bahan logam apa yang bisa membuat pedang  seputih dan berkilau seperti ini. Sarungnya tidak memiliki motif hiasan apapun, tapi di permukaan mata pedang bisa terlihat desain berpola sisik ikan yang indah sebagai hiasan, di bagian tepi yang tajam diselubungi cahaya putih yang dingin dan berkilau, di atas giok putih di pangkal pedang itu terukir dua karekater huruf, Gu Yun menyipitkan matanya untuk melihat –

Bing Lian?[2] Jadi itu namanya, huh? kaligrafi yang kuat dan berani, begitu kontras dengan giok yang berwarna putih pucat, sudah pasti pedang itu adalah gambaran dari namanya, ia baru saja menyadari bahwa ia tidak salah, jika seseorang mendekati pedang itu sudah pasti akan bisa merasakan udara dingin yang menusuk, benar-benar pedang sihir yang sangat bagus.

Setelah beberapa lama mengagumi pedang itu, Gu Yun menyarungkannya kembali, dan menggantungnya lagi seperti semula di dinding. Akhirnya tubuhnya terbebas, Gu yun dengan pelan melatih pergelangan tangannya. Tiba-tiba ia tercengang dan menatap tangannya lama sekali, jantungnya berdetak cepat sekali. Tangan yang putih dan halus, jari-jari yang ramping, begitu cantik dan mengagumkan, tapi…ini bukan tangannya!

Dikarenakan bertahun-tahun memegang senjata, kapal ditangannya bahkan telah mencapai titik yang sangat mengganggu, tetapi tangan ini, tidak hanya begitu menggelikannya halus, tapi juga mengerikannya begitu kecil! Tinggi badan yang menyusut, rambut yang sepanjang mata kaki, tangan yang begitu ramping, kenyataan yang begitu jauh berbeda dari dirinya, bisa dikatakan tubuh ini bukan miliknya! Ya Tuhan! Ini benar-benar gila!

Kaca! ia butuh kaca! Ia melihat sekeliling ruangan mencari kaca, tapi ia tak bisa menemukan satu pun!

Satu-satunya yang bisa memantulkan cahaya adalah Hu Xin Jing[3] di bagian dada baju baja yang tergantung di penyangga kayu, benda berbahan perunggu itu bisa memantulkan gambar wajah  dengan samar.

Gu Yun berjalan mendekat ke samping baju baja itu, hatinya sudah tenang kembali, ia mengamati laki-laki yang memakai baju baja ini semalam, ia memperkirakan tinggi laki-laki itu sekitar 185cm, tinggi kayu penyangga ini hampir setinggi laki-laki itu, dan kini bahkan wajahnya saja tidak mampu menggapai tinggi Hu Xin Jing, itu berarti tinggi badannya hanya sekitar 158 cm?!

Ia berpikir, tinggi badannya menjadi 158 cm, kenyataan itu saja sudah menjadi pukulan telak baginya, terlebih ketika ia melihat wajah yang terpantul di kaca yang buram, ketika ia menemui kesulitan ia selalu mencoba untuk bersikap tenang, namun akhirnya sebuah geraman rendah keluar dari mulutnya. “Sial!” Ia menatap langsung pada wajah yang memantul melalui Hu Xin Jing, dalam waktu singkat pikirannya terasa kosong, wanita di dalam kaca itu, bukan, wajah ini lebih tepatnya lagi, adalah milik seorang gadis remaja!

Wajah yang sangat kecil, halus, dan seputih salju, alis yang dengan cantiknya melengkung tipis seperti daun willow, bibir yang kecil, penuh dan indah berwarna merah cerah seperti cherry, yang paling menarik dari keseluruhan wajah ini adalah bagian matanya. Bulu mata yang panjang transparan dan cemerlang, wajah yang bulat seperti kelinci kecil, memancarkan cahaya yang murni dan lugu, yang lebih tidak masuk akal adalah matanya yang berair bening, seolah siap untuk menangis seperti saat ini! Ini, ini, ini benar-benar keterlaluan, memberi alasan cukup bagi Gu Yun untuk membunuh seseorang!

Gu Yun bukannya tidak menyukai wajah ini, jika ia yang berada di depan gadis ini, ia juga pasti akan mengagumi gadis ini karena wajahnya begitu imut, tapi masalahnya sekarang adalah jika wajah ini adalah miliknya, bagaimana ia bisa menanggungnya! Gu Yun yang terkenal selalu tenang dan rasional akhirnya menonjok Hu Xin Jing! Hu Xin Jing itu terbuat dari tembaga murni yang ditempa, tentu saja pukulannya tidak menyebabkan kerusakan sedikitpun. Setelah hanya bergoyang sedikit, Hu Xin Jing itu masih memantulkan wajah yang halus, kecuali bahwa mata yang sebelumnya lugu menggemaskan telah berubah menjadi mata yang berkilau penuh murka dan amarah….

 Setelah hanya bergoyang sedikit, Hu xin jing itu masih memantulkan wajah yang halus, kecuali bahwa mata yang sebelumnya lugu menggemaskan telah berubah menjadi mata yang berkilau penuh murka dan amarah

Baju berlapis baja untuk perang dengan Hu Xin Jing di bagian dada

Mengambil nafas yang dalam selama beberapa waktu, Gu Yun hampir tidak mampu menenangkan dirinya, ia sekali lagi melihat ke pengganti cermin itu, ironisnya ia merasa bahwa satu-satunya hal yang membuatnya senang terhadap wajah ini adalah dua bekas luka yang ada dipipinya sebelah kanan! Gu Yun berbalik dengan kesal , ia tak lagi melihat ke arah Hu Xin Jing.

Menghabiskan malam dengan begitu sibuknya, membuat tubuh Gu Yun yang sudah bermandikan keringat semakin terasa panas ditambah baju merah yang ia pakai terdiri dari kain yang berlapis-lapis, ia melepaskan jubah merahnya yang paling luar, hanya menyisakan gaun panjang bagian dalam, setelah itu ia menundukkan kepalanya dan mulai memeriksa tubuhnya dengan seksama, ia merasa ingin menangis tetapi tak ada air matanya yang keluar.

Gu Yun akhirnya paham kenapa hanya untuk turun dari tempat tidur saja terasa sulit baginya, kenapa ia juga membutuhkan waktu sepanjang malam hanya untuk mendorong sebuah kursi, mengapa ia merasa lemah…dua lengan ini bisa dibilang sekurus tusuk gigi! Terlebih lagi pinggangnya ini, jika dibandingkan pahanya yang dulu bahkan masih lebih tebal…

Tubuh yang tinggi, badan yang gesit, stamina fisik yang kuat, penuh kekuatan, semua hal ini yang dulu selalu sangat ia banggakan lenyap begitu saja tanpa jejak, untuk pertama kalinya Gu Yun merasa cemas, dengan tubuh ini, bagaimana ia bisa melarikan diri dari keadaan sulit ini, bagaimana ia akan menyelamatkn Qing?

Cahaya matahari menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela menerangi bagian dalam kamar, cahayanya menelusup dan menimbulkan bayangan berbintik-bintik di dalam ruangan, angin berhembus masuk dengan pelan, membuat lengan bajunya berkibar, rambutnya melayang, membuat Gu Yun yang berkeringat bergidik tanpa alasan, Gu Yun segera menyadarkan dirinya sendiri. Apa yang sedang ia lakukan?! Qing masih menghilang, belum tahu apakah dia sudah mati atau masih hidup, Gu Yun masih belum mengenal tentang keadaan di sekitarnya, saat ini ia tidak boleh putus asa, ia masih hidup, ke-empat anggota tubuhnya masih utuh, pikirannya masih jernih, ia masih memiliki kesempatan!

Gu Yun memutuskan keluar kamar untuk melihat-lihat, ia baru saja berjalan beberapa langkah, saat ia menemukan bahwa rambutnya yang panjang cukup merepotkan, Gu Yun mengernyitkan alisnya, ia berjalan menuju Bing lian, mengeluarkan pedang itu, tak ada keraguan sedikitpun saat ia mengayunkan pedang itu naik dan turun, sebuah cahaya putih yang berkilau melintas, rambut hitam yang indah jatuh begitu saja ke lantai, rambut yang sehitam kelam dan luwes itu telah dipotong hingga sepinggang. Sebenarnya Gu Yun ingin memotongnya lebih pendek tapi memegang pedang yang panjang tak semudah memegang gunting, ia harus menerimanya meskipun enggan.

Gu Yun menggantung pedangnya kembali, dengan senyum ia berkata: “Terimakasih, Bing Lian!”

Gu Yun melepaskan sabuk kain tipis yang melingkar di pinggangnya, sambil berjalan keluar ruangan ia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda, tanpa Gu Yun sadari saat ia menundukkan kepalanya, Bing Lian yang menggantung di dinding memancarkan cahaya kemerahan, hanya sebentar kemudian menghilang.


[1] Long March, adalah perumpamaan yang berarti sebuah perjalanan yang panjang, keras dan membosankan

[2] Bing Lian memiliki arti es yang dilebur

[3] Hu xin jing (‘kaca’ pelindung jantung) adalah perisai kecil berbentuk lingkaran yang disematkan dibagian dada untuk melindungi jantung

PKGPM 3. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 1
PKGPM 5. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.