PKGPM 3. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 1

Featured Image

Saat malam menjelang, cahaya lilin menerangi aula pertemuan di Kediaman Jendral. Di ruangan yang sangat luas ini, selain kursi-kursi mahogani yang besar dan bernuansa klasik, terdapat dua orang laki-laki, yang satu sedang duduk dengan santainya, sedang  yang lain berdiri dengan gelisah. Laki-laki yang lebih muda berjalan naik turun dengan tidak sabar. Setelah beberapa kali mondar-mandir ia tidak bisa menahannya lagi. Ia melihat ke arah laki-laki di sampingnya yang hanya duduk diam seperti gunung, dan bertanya: “Kakak Kedua, tak apa-apakah menaruh wanita itu di kamar Kakak Pertama?”

Kakak Pertama akan kembali hari ini dari menjaga perbatasan di wilayah utara. Jika dia melihat ada seorang perempuan di tempat tidurnya saat dia kembali, antara dia akan mencekik wanita itu atau mereka berdua karena marah! Ini semua salah Kaisar! Tak masalah baginya kalaupun dia ingin mengirim beberapa wanita. Hanya saja di Kediaman Jendral ini bahkan tak memiliki seorang pun pelayan wanita. Kemudian tiba-tiba banyak orang bertanya dimana mereka harus menempatkan wanita itu!

Tanpa mengangkat kepalanya, Su Ren melanjutkan membersihkan tombak peraknya dengan pelan. Sambil tertawa ia menjawab: “Tentu saja, dia dihadiahkan Kaisar untuk dijadikan istri Kakak Pertama. Kalau tidak ditempatkan di kamar Kakak Pertama, memangnya mau di kamarmu?”

Mendengar ini, Su Yu langsung berbalik dan berteriak: “Aku tidak mau!” Dia paling tidak suka berhubungan dengan hal yang lemah dan rumit, menyerahkan dirinya hanya untuk putri dari cendekiawan kaya, memikirkan hal itu saja sudah merusak selera makannya!

Su Ren mengedikkan bahunya, tak perduli. Sebenarnya ada seorang wanita di rumah tidaklah terlalu buruk. Suatu saat perubahan pasti akan diterima.

“Tidak mau apa?” Sebuah suara yang dalam bergema seiring munculnya seorang laki-laki dengan sosok yang tinggi besar masuk ke dalam rumah. Su Ling baru saja pulang, kelelahan setelah dari perjalanannya, lengkap dengan masih memakai baju besi warna hitam di dadanya dan helm di kepalanya yang tidak sempat ia lepaskan.

“Oh, bukan apa-apa!” Su Yu memaksakan senyumnya kemudian tertawa dan berkata, “Kakak Pertama, kau sudah pulang?” Su Ren menatap Su Yu dengan dingin. Tidak masuk akal sekali, Kakak Pertama sedang berdiri disini, tentu saja dia sudah pulang!

“Hmm.” Su Ling mengangguk dingin, melepaskan helmnya, menuangkan secangkir teh kemudian meminumnya dengan satu kali teguk.

Su Yu melihat dan mengedipkan matanya kepada Su Ren sebagai tanda agar dia mengatakan kepada Su Ling tentang masalah wanita yang ada di kamar Su Ling. Su Ren malah menundukkan kepalanya, mengedipkan matanya pura-pura bodoh seolah ia tak melihat apapun. Su Yun menyenggol bahu kakaknya dengan geram. Su Ren masih bersikap seolah masalah itu tidak ada hubungannya dengan dia.

Mereka berdua saling menatap, bahu dorong-mendorong satu sama lain. Su Ling tidak sabar dan berkata dengan dingin: “Kalian berdua, kenapa bersikap pengecut seperti itu? Ada yang ingin kalian sampaikan?” Su Ling paling benci jika ada hal yang disembunyikan darinya, tidak menyukai orang yang berkata dan bertindak ceroboh. Dia hanya pergi selama sebulan. Bagaimana bisa dua orang ini mendapatkan kebiasaan buruk seperti ini?! Wajah Su Ling menunjukkan ketidaksukaannya. Su Yu yang tidak ingin lagi dianggap melalaikan kewajibannya, menyerukan jawaban : ” Seorang wanita hadiah dari Kaisar akhirnya tiba siang ini. Sekarang dia berada di kamarmu.”

Tangan Su Ling yang menggenggam cangkir teh mengerat. Matanya yang setajam elang melintas pandangan yang memuakkan, dengan dingin ia menjawab: ” Carikan dia kamar terpisah di halaman belakang. Singkirkan dia dariku!” Sial! Kaisar benar-benar keterlaluan mengirim wanita ke Kediaman Jendral. Apakah Kaisar berpikir ia, seorang Su Ling, bisa menyukai wanita yang bahkan belum pernah ia temui?!

Su Yu hanya berdiri tercengang, Su Ren hanya menggelengkan kepalanya, sedikit berdehem, dengan memaksakan senyum ia menjawab; “Aku rasa, itu tidak mungkin dilakukan.”

“Kenapa?” Su Ren menyunggingkan senyum yang aneh, Su Ling merasakan firasat yang buruk mengenai hal ini. Su Ren melanjutkan membersihkan tombak peraknya dan tidak menjawab. Su Ling menoleh kepada Su Yu. Su Yu menjawab lirih: ” Pergi dan lihatlah sendiri, kau akan segera tahu.”

Dua orang ini bersikap aneh sekali, bukankah dia hanyalah seorang wanita?Jangan bilang dia memiliki kekuatan yang sangat hebat. Tidak, itu tidak mungkin! Mengabaikan mereka, Su Ling berjalan keluar dengan langkah yang lebar menuju Paviliun Lingyun.

Gu Yun sekali lagi mencoba menggerakkan tangan dan kakinya yang mati rasa. Sayangnya, bahkan rasa geli itu pun sudah menghilang. Rasanya kini semuanya jadi mati rasa. Ia ingin duduk, tapi rupanya kekuatan pinggang dan perut yang sangat ia banggakan hilang sama sekali! Sudah cukup! apa yang sebenarnya terjadi?! Wajahnya ditutupi dengan kain besar berwarna merah. Gu Yun pelan-pelan menutup matanya, mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dia hanya mampu mengingat malam itu ia pergi untuk  menemui Qing. Ia menemukan barang bukti yang aneh dan kemudian tiba-tiba sebuah cahaya merah melintas. Ia merasakan sakit yang teramat dikepalanya, pandangannya menjadi gelap, dan akhirnya ia jatuh pingsan.

Hari berikutnya berlalu dengan samar. Ia berpengalaman melatih Tim SWAT, karenanya ia tahu seseorang mencoba terus memberinya obat. Ia berusaha untuk tetap sadar selama beberapa hari. Ia ingin melarikan diri dari kereta berkuda yang reyot itu. Ketika mereka memergokinya, mereka mengikatnya dengan tali. Biasanya, ia mampu melepaskan ikatan tali seperti ini, tapi kali ini ia merasa tubuhnya tak lagi sama. Ia tak memiliki kekuatan sama sekali!

Sejak siang hari, kepalanya ditutupi oleh kain berwarna merah. 8 jam tepat sudah sejak ia dibawa ke tempat ini. Ia tidak mendengar ada suara apapun. Ia kembali berusaha bergerak namun tetap gagal dikarenakan tubuhnya yang begitu lemah. Ia sempat curiga bahwa ia dan Qing telah diculik. Tetapi, orang seperti apa yang akan bersusah payah menculik mereka? Ia dapat melihat ke sekelilingnya. Pakaiannya tidak sama, tatanan rambutnya pun berbeda. Semuanya terlihat aneh.

Mungkin kepalanya memang berubah jadi bodoh, tapi telinganya dapat mendengar dengan jelas. Ada seseorang di depan pintu. Sebelum ia sempat memastikannya, pintu kamar telah didorong terbuka. Gu Yun menahan nafasnya, ia menunggu dan mengamati. Sesaat setelah Su Ling memasuki kamarnya, ia merasakan seseorang sedang berbaring di tempat tidur. Ruangan itu begitu gelap. Su Ling menyalakan lilin. Dalam cahaya lilin yang remang, berbaring di atas ranjang adalah seorang wanita yang memakai pakaian berwarna merah yang sangat indah.

Raut muka Su Ling berubah. Apa ini? tak hanya melempar wanita itu ke atas tempat tidurnya, tapi juga mengikatnya seperti ini. Ia menaruh helmya di atas meja. Su Ling menjadi tegang, ia dengan santai menyingkap kain penutup merah itu dari wajahnya. Awalnya ia mengira akan melihat wajah yang ketakutan dan berurai air mata. Di luar dugaannya, sebaliknya sepasang mata yang penuh nyala api amarahlah yang menyapanya.

Itu adalah sepasang mata, yang dalam waktu yang sama dingin bagaikan cahaya bulan dan panas membakar bak terik matahari. Su Ling melirikkan matanya dengan dingin. Wanita seperti apa yang memiliki mata seperti itu?

Karena tatapan mata itu, Su Ling menjadi sedikit tertarik untuk mengamati wajahnya.

Wajahnya begitu muda dan halus, bulu matanya yang panjang tertimpa cahaya lilin menimbulkan bayangan hitam yang redup, bibirnya yang penuh berwarna merah cherry, hidung yang cantik dan congkak. Seluruh dirinya terlihat begitu halus seolah sebuah cubitan akan langsung menghancurkannya. Su Ling mengernyitkan dahinya, ia tidak terlalu suka gadis muda yang terlalu halus seperti dia. Jika bukan karena matanya yang sangat tidak biasa, ia bahkan tak akan memperdulikannya.

Ketika Su Ling sedang memperhatikan Gu Yun, Gu Yun juga sedang melihat laki-laki yang berdiri diam di depannya. Sosok yang kuat dan besar berdiri di depan tempat tidur, hampir menutupi cahaya lilin yang sudah redup. Dengan cahaya lilin yang berada di belakang laki-laki itu, membuat Gu Yun tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Laki-laki itu memakai baju baja berwarna hitam dengan ikat pinggang dari perunggu. Kulitnya berwarna kecoklatan, terlihat gagah dan tanpa beban, terkesan agresif, berkuasa dan memiliki temperamen yang jarang ditemui pada orang pada umumnya. Tapi, kenapa dia memakai baju besi? Dia terlihat sedikit aneh memakai baju itu.

Yang paling menarik bagi Gu Yun adalah matanya, di bawah cahaya lilin yang redup matanya terlihat tajam, dingin dan sinis seperti mata elang. Ia telah bekerja di tim investigasi kriminal, satuan anti narkotika, dan pasukan anti huru-hara. Tentunya ia telah melihat mata yang lebih kejam, jahat, dan ganas daripada sepasang mata ini. Bagaimanapun, dibandingkan yang lainnya, orang di depannya ini lebih tegap dan tegas, kekuatannya sedikit membangkitkan rasa hormat.

Karena tubuhnya masih terikat Gu Yun tidak dapat bergerak. Ia juga belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun ia selalu mampu berkepala dingin dan tidak mudah panik, ia bertanya dengan suara yang lirih: ” Bisakah kau menolongku melepaskan ikatan ini?” Ia sudah lama tidak bicara. Suaranya terdengar serak, namun ia masih dapat mengenali bahwa itu bukan suara miliknya!

Pikiran Gu Yun mulai panik, apa yang terjadi disini? Sejak malam itu ia melihat lempengan trigram emas, semuanya jadi terlihat aneh.

Gu Yun sedikit memalingkan mukanya. Meskipun punggung gadis itu menghadap cahaya, Su Ling masih bisa melihat dua bekas luka sayatan pisau di sisi pipinya yang lain. Bekas luka itu terlihat baru. Ia mengulurkan tangannya, menangkup dagu Gu Yun, dan memalingkannya ke sisi yang lain. Tangan Su Ling yang besar dengan pelan menyentuh pipi Gu Yun, ingin memeriksa luka di pipinya. Meskipun ia menyadari gadis itu tidak menyenangkan, namun mengetahui ada seseorang yang telah meninggalkan bekas luka yang mengerikan di wajah seorang gadis yang lemah membuatnya merasa muak.

Tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang hangat mengusap wajahnya, hati  Gu Yun langsung tersentak. Nafasnya menggigil dingin! Gu Yun ingin berpaling, tapi tangan laki-laki ini begitu kuat memegang dagunya. Ia tidak mampu bergerak. Gu Yun mengeraskan hatinya dan menggigit pergelangan tangan Su Ling.

Gu Yun menggigit dengan keras. Segera ia merasakan darah dimulutnya, tapi laki-laki dingin dan arogan ini hanya mengernyitkan dahinya. Sekedar gerutuan protes pun bahkan tak terdengar. Seolah gigitan itu hanyalah sebuah luapan amarah yang tak seberapa. Gu Yun mengernyit. Karena menggigit tangan laki-laki itu tak ada gunanya dan ia juga tak ingin membuang-buang tenaganya, ia menutup mulutnya dan memikirkan cara lain untuk menyingkarkan tangan Su Ling yang besar.

Tak lagi ingin menyulitkan Gu yun, Su Ling segera menarik tangannya. Apa gadis itu seekor anjing? Su Ling melihat kedua baris bekas gigitan ditangannya. Ia melihat dan menatap Gu Yun dengan lama. Kernyitan di dahi Su Ling semakin dalam, dengan dingin ia bertanya: ” Apa kau Qing Mo?” Su Ling ingat sang Kaisar ingin memberikannya seorang wanita dengan nama itu. Putri ketiga dari keluarga Qing, Qing Mo, yang terkenal ramah, halus, manis dan memiliki kecantikan yang mempesona. tapi, dimana kelembutan wanita yang ada di depannya ini? Apakah Kaisar mempermainkannya, atau rumor tidak selalu bisa dipercaya?

Siapa Qing Mo? Gu Yun merasa bingung, tapi ia tidak buru-buru menyangkalnya. Sekali lagi ia meminta: “Tolong lepaskan ikatanku” Ia lebih mengutamakan menunda percakapan. Ia ingin tangan dan kakinya segera bebas, sebelum ia mulai mengklarifikasi keadaan. Su Ling berjalan menuju sebuah  kayu penyangga yang berdiri tegak, mulai melepaskan baju bajanya dan menggantungnya di kayu tersebut. Ia tak lagi melihat ke arah Gu Yun di tempat tidur. “Ini adalah Kediaman Jendral, kau tidak bisa bersikap sesukamu seolah ini kamar riasmu. Kalau kau ingin tinggal di sini, jangan ganggu aku. Perhatikan peraturannya. Jangan melewati batas.” Setelah mengatakan kalimat itu, Su Ling melenggang keluar dari kamarnya.


PKGPM 2. Prolog : Piringan trigram berdarah, bag 2
PKGPM 4. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.