PKGPM 2. Prolog : Piringan trigram berdarah, bag 2

Featured Image

Hujan yang turun dengan lebatnya diiringi gemuruh suara petir, angin yang bertiup kencang menghempas jendela yang telah patah dan reyot, menarik sembarangan tak tentu arah hingga menimbulkan suara gaduh!

Di dalam sebuah ruang di sebelah kuil yang hampir runtuh, tiga orang gadis muda meringkuk bersama-sama, semua memakai pakaian merah pengantin, di ruang yang gelap dan suram bau udara pengap dari kuil itu dapat tercium dimana saja, suasananya benar-benar terlihat seram.

Tak ada lampu di ruangan itu, terkadang cahaya kilat melintas menyinari reruntuhan kuil, cahaya kilat melintas bak pedang, setiap kali kilat menyambar seolah membelah tanah, melepaskan kilatan cahaya putih yang menyilaukan. Suara yang mengejutkan dan memekakkan telinga menyertai sambaran petir, tampaknya membuat gadis yang paling muda ketakutan.

Qing Mo menarik lengan kakaknya, menundukkan kepalanya sambil menangis ia bertanya: “Kakak, apa yang harus kita lakukan sekarang? aku takut!”

Cahaya kilat menyambar silih berganti, membuat wajah kakak beradik itu terlihat lebih jelas, mereka bertiga memiliki wajah yang sangat cantik dan anggun. Wajah mereka yang sebelah kiri begitu cantik hingga mampu membuat wanita lain merasa iri dan para laki-laki terkagum-kagum. Sayangnya, di wajah mereka di sebelah kanan, terdapat luka sayatan yang dalam karena pisau, yang merusak hampir seluruh wajah bagian kanan mereka. Diantara cahaya kilat dan petir yang menyambar, luka itu terlihat menyeramkan.

Qing Ling menepuk lembut bahu adiknya, wajahnya terlihat murung, menggumam pelan: “Setelah melintasi gunung ini, kita akan keluar dari wilayah kerajaan Hao Yue[1], apakah kita benar-benar tak memiliki cara lain untuk mencegah takdir kita sebagai persembahan?”

“Aku tidak mau!” Tatapan mata Qing Feng yang keras kepala memandang ke reruntuhan kuil dengan keteguhan. Di luar cahaya kilat dan petir melintas saling beriringan, air hujan yang deras terus berjatuhan, ia menggigit bibir bagian bawahnya dengan kencang hingga hampir berdarah.

Perlahan mengangkat kepalanya dan bersandar di bahu Qing Feng, Qing Mo berusaha menenangkan kakaknya. Ia berbisik: “Kakak kedua, jangan takut. Aku dengar kau akan dinikahkan dengan Perdana Menteri Lou. Dia adalah bangsawan yang luar biasa dan rendah hati. Prestasinya di bidang politik dan militer sangat mengagumkan. Dia tidak akan memperlakukanmu dengan buruk.” Kakak tertualah yang lebih menyedihkan, ia akan dikirim ke istana kerajaan. Ada yang bilang bahwa raja Qiong Yue[2] adalah orang yang sangat temperamental, haus darah dan kejam. Bagaimana kakak tertua yang lemah lembut, halus dan pendiam akan bertahan?!

Qing Feng mencemooh: “Siapa yang peduli!” Ia berbalik, satu tangannya memegang tangan kakaknya, tangan yang lain memegang adiknya, Qing Feng berkata dengan marah: ” Kenapa raja Qiong Yue hanya dengan satu kata dia merasa bisa melakukan apapun sesuka hatinya?! Kenapa keluarga Qing yang harus bertanggung jawab atas ketidakmampuan raja kita?! Kenapa dia harus membunuh orang tua kita, bahkan memberikan kita sebagai persembahan untuk menyanjung Qiong Yue!”

Qing Ling dengan lembut mengusap Qing Feng yang sedang berteriak, karena kebencian membuat wajahnya tertekuk, Qing Ling menundukkan kepala sambil mendesah berkata: ” Dikarenakan Qiong Yue adalah negara yang paling kuat diantara enam negara yang lain, maka negara-negara yang lain harus tunduk, jika sang kaisar menginginkan seseorang untuk mati, maka orang itu tak memiliki pilihan yang lain selain mati! Siapalah kita yang hanya tiga orang wanita yang lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan!”

Takdir tak pernah berpihak pada mereka

Mengacuhkan tangan Qing Ling, Qing Feng berdiri, membalikkan badannya, ia menolak untuk menyerah: “Melakukan apa yang bisa dilakukan oleh wanita! Aku tidak akan pergi ke Qiong Yue!”

Melihat kekeraskepalaan kakak keduanya, dan melihat kecemasan di wajah kakak pertamanya, Qing Mo dengan malu-malu berkata: “Kita bahkan telah merusak wajah kita yang dikagumi banyak orang, tapi mereka tetap saja ingin membawa kita ke Qiong Yue! Kakak kedua, yang kita lakukan tak berarti apa-apa dan tak merubah apapun, bukan?”

Qing Feng mengusap wajahnya dengan pelan, bahkan rasa sakitnya pun masih ada, menetap di jiwanya. Ia menghela nafas, mengertakkan giginya ia menjawab: “Kematian! Aku, Qing Feng. tidak akan pernah membiarkan orang mempermainkanku! Terutama orang itu, raja yang bodoh dan telah membunuh ayah dan ibu!”

Qing Ling terkejut, dengan cemas ia bertanya: “Feng’er[3], apa yang akan kau lakukan?”

Perlahan berbalik, Qing Feng mengepalkan tangannya, dengan tegas berkata: “Kakak pertama, aku akan tetap tinggal di Hao Ye, aku akan tinggal di dekat ayah dan ibu, bahkan jika hanya tinggal mayatku yang tersisa!”

Mengabaikan kata-kata Feng’er seolah itu hanyalah kalimat biasa, sebua kilat yang aneh jatuh ke bawah, cahayanya sangat terang menyinari wajah Feng’er, Qing Ling melihat tekad dan keteguhannya.

Menggenggam tangan Qing Feng dengan erat, Qing Ling segera merasa lega, tertawa dengan ringan: “Ya! Kakak tertua akan menemanimu, toh tetap hidup sudah tidak ada lagi gunanya bagiku.” Mungkin itu adalah jenis kelegaan karena tak perlu lagi khawatir tentang masa depan!

Qing Mo yang meringkuk di lantai segera saja berdiri, meraih tangan kedua kakaknya ia berkata: “Apapun yang akan kedua kakak lakukan, aku pun akan melakukannya. Apapun yang terjadi, aku, Mo’er tidak akan meninggalkan kalian.”

Qing Ling merasa tersentuh, melihat wajah Mo’er yang masih lugu dengan penuh kasih sayang. Ia mungkin bahkan tidak paham apa yang dimaksud dengan kematian. Ia masih 15 tahun!

Memandang mata Mo’er yang besar dan bening, Qing Feng merasakan hatinya sakit seolah telah tertusuk sebuah pisau, tetapi memikirkan bahwa kemungkinan Qing Mo akan diberikan kepada seseorang yang menurut kabarnya terkenal jahat, pembunuh yang tak berperasaan di medan perang, Qing Feng merasa bergidik dan berkata: “Kakak pertama, Qing Mo masih begitu baik dan lugu, membiarkannya hidup sendiri di dunia ini, ia hanya akan menanggung beban. Hari ini kita berada di reruntuhan kuil, bukankah seluruh keluarga akan berkumpul lagi?”

Melihat tiga pasang tangan yang menggenggam saling tumpang tindih, Qing Ling merasakan hatinya menghangat. Seolah untuk meyakinkan dirinya sendiri, Ia mengangguk terpaksa dan berkata: “Iya! Keluarga kembali bersama adalah yang terbaik!” Tiga orang itu melihat ke atas dan memandang ke atas balok kuil. Dengan pemahaman yang tak terucapkan, mereka saling berpandangan dan tertawa. Ini adalah tawa pertama mereka setelah kematian orang tua mereka, karena mulai hari ini mereka tidak akan pernah terpisahkan lagi!

Melepaskan sabuk kain merah dari pinggang mereka, menanggalkan gaun merah yang indah, menyisakan hanya pakaian dalam berwarna putih membalut tubuh mereka. Mereka melemparkan kain pita berwarna merah itu ke atas dengan ringan, dengan mudah melewati balok. Tiga orang berdiri di atas meja bundar yang telah patah, dan tanpa ragu mereka mulai melilitkan kain pita merah itu ke leher mereka.

Qing Lin melihat ke sekeliling dan menoleh pada kedua saudaranya. Menutup matanya, ia berbisik: “Feng’er, Mo’er, dikehidupan yang akan datang kita akan tetap menjadi saudara!”

“En”. Qing Feng dan Qing Mo menganggukkan kepala mereka dengan mantap!

Tiga orang saling bergandengan tangan, mulai menendang meja bundar dengan mudah. Kain pita merah itu mulai melilit erat seiring dengan menghilangnya tiga kehidupan yang berharga.


[1] Hao Yue (皓月) cahaya bulan; sebuah kerajaan dimana Qing bersaudara berasal

[2] Qiong Yue (穹岳) berarti gunung setinggi langit; negara terkuat diantara 6 negara dimana Qing bersaudara akan dikirim sebagai persembahan oleh raja mereka sendiri kepada kaisar

[3] Er berarti anak; dalam china kuno, “-er” biasanya dicantumkan pada karakter terakhir pada nama seseorang sebagai bentuk kasih sayang

PKGPM 1. PROLOG : Piringan Trigram Berdarah, bag 1
PKGPM 3. Chapter 1 : Jiwa yang berpindah ke masa yang berbeda, bag 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.