PKGPM 11. Chapter 2 : Latihan militer para tentara terkuat, bag 5

Featured Image

Gu Yun pelan-pelan mendorong pintunya hingga terbuka, tak seorang pun di dalam. Mengedikkan bahunya ia ingin pergi, tiba-tiba Gu Yun merasa rindu melihat Bing Lian lagi. Sungguh pedang yang sangat bagus yang membuat orang selalu ingin memegangnya lagi. Paviliunnya sepi, hanya sekedar melihatnya saja tidak apa-apa, kan?

Melangkah ke dalam paviliun, Gu Yun bergegas memasuki ruangan yang sebelumnya ia tinggalkan. Pedang panjang yang seputih giok tanpa noda itu masih tergantung di dinding, cahaya keperakan yang dingin bersinar dari atas hingga ke bawah. Gu Yun menjinjitkan kakinya, ujung jarinya hampir saja menggapai Bing Lian, tiba-tiba sebuah cahaya melintas terpantul di pedang. Kewaspadaan Gu Yun meningkat, segera ia menghindar ke samping, peng, kursi kayu yang berada di bawahnya terbelah menjadi dua.

Dalam sekejap ia melihat ke atas dan melihat seorang laki-laki dengan tinggi hampir dua meter mendekat. Sosoknya yang besar dan lebar mirip seperti gunung yang besar. Di tangannya dia memegang tombak berkapak bermata dua. Dia memegangnya seperti seekor harimau yang terlahir dengan kekuatan. Gu Yun melihat ke arah kursi yang telah hancur, dalam hati ia merasa takut, kekuatan tangan laki-laki ini sangat bagus dan kuat sekali! Kursi kayu yang berat ini telah di kapak menjadi dua, jika dengan cara yang sama ia juga akan diserang dengan tombak kapak panjangnya, sudah pasti otot dan tulangnya akan hancur berkeping-keping.

 Gu Yun melihat ke arah kursi yang telah hancur, dalam hati ia merasa takut, kekuatan tangan laki-laki ini sangat bagus dan kuat sekali! Kursi kayu yang berat ini telah di kapak menjadi dua, jika dengan cara yang sama ia juga akan diserang dengan ...

Tombak kapak bermata dua

“Pencuri tidak tahu malu, kurang ajar sekali berani mencuri pedang dari ruangan Jendral!” Suara Han Shu yang keras dan jelas menggetarkan gendang telinga orang yang mendengarnya, menyebabkan telinga terasa berdenging.

Gu Yun melangkah mundur, mencoba menjelaskan: “Aku tidak ingin mencuri pedang.” Siapa laki-laki ini? Rasanya ia tidak pernah melihatnya di Kediaman Jendral!

Mendengarkan suara Gu Yun yang jelas, laki-laki itu mengkerutkan dahinya. Hari ini ia baru saja bersiap-siap untuk pergi ke area pelatihan untuk melihat latihan formasi perang yang baru milik Letnan Jendral Su, namun kemudian tanpa sengaja ia memergoki seorang pria berpakaian serba hitam, seorang pencuri kecil mengendap masuk ke dalam paviliun Jendral. Ia mengikutinya masuk untuk melihat lebih dekat, tentu saja, seperti yang ia duga, laki-laki itu memang ingin mencuri pedang berharga milik Jendral. Namun siapa sangka pencuri kecil itu ternyata adalah seorang wanita.

Menunjuk pada Gu Yun, laki-laki itu berteriak sangat keras: “Masih berani mengelak, mengingat kau adalah seorang wanita, menyerahlah, aku mungkin akan mengampuni nyawamu.”

Gu Yun benar-benar merasa terhina dan mendengus dengan dingin: “Kau bercanda!” Dia tidak mau membedakan mana yang benar dan salah, lebih dulu memakai tangannya, bersikap kasar, dan sekarang menuduh sembarangan!

Kata-kata Gu Yun membuat laki-laki itu semakin panas, wajahnya menggelap, tak mau mendengarkan penjelasan, sekali lagi dia mengangkat tombak kapak di tangannya mengarahkan pada Gu Yun siap untuk menyerang.

Mengantisipasi sebelumnya bahwa dia akan menyerang lagi, ketika Gu Yun bicara beberapa saat yang lalu, ia sudah menggeser posisinya, sedikit melompat, dengan mudah satu tangannya telah menggenggam badan pedang Bing Lian yang dingin, tangannya yang lain memegang pangkal pedang. Dengan hati-hati ia mengeluarkan pedangnya, diiringi suara yang indah dan nyaring bagaikan seruan naga, pedang putih yang cantik itu tersentak keluar dari sarungnya.

Gu Yun telah lama mengagumi pedang ini, meskipun ia tak bisa memilikinya, namun mendapatkan kesempatan untuk bertarung bersamanya meskipun hanya sekali pun sudah bagus.

Gu Yun sedang dalam semangat yang tinggi, pedang ditangannya entah mengapa terasa begitu responsif dengannya. Menggenggam pangkal pedangnya, Gu Yun mengangkat tangannya, kemilau mata pedang yang putih beradu dengan tombak kapak panjang, mengeluarkan suara tabrakan benda tajam yang nyaring. Pada awalnya Gu Yun merasa tangannya melemah, namun perasaan berat itu segera menghilang. Laki-laki ini menyerang, kekuatannya jelas tidak lebih rendah dibandingkan Su Yu dengan pedang mata satu miliknya. Bagaimanapun, pada saat ini Gu Yun tidak sedikit pun merasa nyeri ataupun kebas di tangannya!

Laki-laki itu dihantam oleh kekuatan yang sangat hebat hingga ia terpaksa mundur beberapa langkah. Baru saja, ia merasakan kedinginan hingga menembus ke dalam hatinya melalui tombak kapaknya! Apakah tadi hanya perasannya saja?

Laki-laki itu tak mau menyerah, dia mengacungkan lagi tombak kapaknya ke arah dada Gu Yun. Namun Gu Yun kali ini lebih siap, ia dengan tenang mengangkat pedangnya ke dadanya dan mengayunkannya dengan sangat bagus, bukannya bertahan ia justru menyerang. Pedang panjang itu benar-benar bergerak berirama dengan Gu Yun, tenaga yang penuh dan sedingin es mengalirinya dan serang! Kekuatan pedang itu benar-benar hebat dan mengagumkan! Laki-laki itu tertegun, ia dengan cepat melompat mundur, memalukan sekali ia harus menghindar, siapa sangka wanita muda yang kecil ini, tak diduga memiliki kemampuan mengayunkan pedang yang sangat bagus.

Gu Yun juga tak bisa berkata-kata, pedang di tangannya bisa dengan mudahnya ia ayunkan, seperti awan yang melayang dan air yang mengalir [alami dan tanpa paksaan], ia bahkan bisa merasakan pedang itu merasa senang! Bagaimana bisa begini?

***

Kolam air di sebuah danau yang dalam, begitu jernih sebening musim semi dan sedikit beriak berada di bagian depan, sebuah paviliun kayu sederhana berdiri di samping danau. Di dalam paviliun, di atas meja batu kecil yang sederhana bertebaran beberapa guci arak dalam berbagai ukuran. Dua orang laki-laki duduk saling berhadapan. Laki-laki dengan baju biru duduk di satu sisi, wajahnya yang sedingin es tanpa ekspresi, perhatiannya hanya tertuju pada gelas arak di tangannya. Di seberangnya, seorang laki-laki dengan baju merah, kulitnya begitu putih bagaikan salju, rambutnya sehitam pernis, sedikit melingkar di sekitar gelas arak yang ia pegang, wajahnya menampakkan senyum yang samar, ia terlihat begitu menikmati pemandangan di sekitarnya.

Mereka menyesap masing-masing arak mereka, seolah mereka berdua adalah dua orang yang tidak saling mengenal hingga pedang merah yang di pegang oleh laki-laki berbaju biru mengeluarkan cahaya perak yang menyilaukan dari tubuh merah pedang yang juga terus-menerus bergetar. Laki-laki berbaju merah melirik pada pedang panjang yang tak henti-hentinya bergetar itu dan tertawa: “Chi Xue[1] sepertinya sedang tidak puas dengan nasibnya, seolah menolak kegiatanmu yang hanya bermalas-malasan ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia di bawa ke medan perang.”

Mata elang Su Ling hanya melirik sekilas, ia menjawab: “Bing Lian.” Chi Xue, entah itu dalam keadaan berbahaya atau sedang senang hanya akan memancarkan cahaya kemerahan. Jika ia memancarkan cahaya keperakan seperti sekarang ini maka hanya ada satu alasannya, Bing Lian sedang berkomunikasi dengannya, Bing Lian sedang bersikap aneh.

Bing Lian? Matanya yang sipit dan biasanya selalu licik itu dipenuhi kelakar, bibir tipis milik temannya, Mu Yi, melengkung ke atas, sambil menjulurkan lidahnya ia tertawa: “Bukankah pedang itu selalu tergantung di dinding kamarmu? Benda itu bertingkah aneh, kau masih tidak juga ingin kembali, jika terjadi kemalangan kediamanmu dijarah itu adalah masalah kecil, tapi kalau Bing Lian yang menghilang, maka itu adalah hal yang besar! Pertimbangkan pada saat itu bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada para tetua keluargamu yang sifatnya aneh itu.”

Keluarga Su memiliki tradisi yang sangat lucu. Legenda mengatakan bahwa Chi Xue dan Bing Lian adalah sepasang pedang kuno. Satunya adalah laki-laki (matahari/Yang/api), dan yang satunya adalah perempuan (bulan/Yin/es). Pedang Chi Xue diberikan kepada anak laki-laki tertua, sejak saat kelahirannya pedangnya akan selalu berada di sisinya. Dalam hati para tetua keluarga Su, hanya wanita yang dikenali oleh Bing Lian sebagai tuannya yang memiliki kualifikasi sebagai istri bagi anak laki-laki tertua, menantu bagi keluarga Su. Hal itulah yang menunjukkan betapa pentingnya pedang itu, jika Bing Lian sampai hilang, sudah jelas kini Su Ling tidak akan bisa menemukan istri yang sudah ditakdirkan untuknya!

Meminum araknya hanya dalam satu tegukan, Su Ling mendengus, “Lebih baik lagi kalau benda itu dicuri!” Dia sendiri yang akan memilih istrinya, sejak kapan sebuah pedang mengkontrol hidupnya? Mu Yi bersiul pelan, ia menanyakan hal yang ia sudah tahu jawabannya: “Jadi kau tidak akan kembali?”

Sebenarnya ia harus kembali, tidak semua orang bisa menyentuh Bing Lian, benda itu bertingkah begitu aneh, ia takut sesuatu telah terjadi di Kediaman Jendral! Tubuhnya yang tinggi dan ramping bergegas bangkit. Mu Yi telah mengantisipasi sejak awal bahwa Su Ling tidak akan mengabaikan keselamatan di Kediaman Jendral. Ia mengambil arak Kaifeng yang sangat bagus yang belum lama dibuka di atas meja, menuangkannya ke dalam gelasnya hingga meluap, sepertinya ia akan menikmati sendirian seguci arak kualitas terbaik ini.

Ia pelan-pelan menaruh guci araknya, tiba-tiba sepasang tangan yang besar menyambar guci arak itu, gerakannya begitu cepat menutup guci itu dengan sumbat kayu.

“Apa yang kau lakukan?” Hati Mu Yi tiba-tiba merasakan firasat buruk. Tentu saja, Su Ling mengambil Chi Xue, menenteng guci araknya, ia meluncur keluar dari paviliun, dengan entengnya melompat dan menapak ke dalam air, memegang guci arak itu ia menaruhnya ke dalam mulut sumber mata air, di bawah ceruk batu. “Setelah aku kembali nanti aku akan meminumnya lagi.” Setelah meninggalkan kalimat yang singkat, Su Ling melenggang begitu saja dan berlalu pergi.

Mu Yi tidak tahu harus menangis atau tertawa, manusia tercela satu itu tidak akan mungkin mau membuat bajunya basah hanya untuk seguci arak, namun barusan saja dia merampas arak terbaiknya kemudian menyimpannya jauh di dalam air. Laki-laki ini benar-benar terlahir sangat licik dan pemaksa! Setelah bertahun-tahun, tak hanya dia tidak berubah, kenyataannya dia malah semakin buruk, ia tidak sabar menunggu ketika Su Ling jatuh ke tangan seorang wanita!

Su Ren berjalan keluar dari kamar, segera setelah ia mendengar suara pertarungan dari arah kamar Su Ling, ia bergegas mendatanginya dan masuk ke dalam kamar. Pemandangan yang ia lihat benar-benar membuatnya tercengang. Ketakjubannya bukan karena dua orang yang sedang bertarung, bukan juga karena kekacauan yang mereka buat di dalam kamar, tapi karena tanpa diduga Bing Lian berada di tangan Qing Mo! Jika dilihat lebih dekat, Qing Mo tidak memiliki kemampuan yang tinggi dengan pedang, namun sepertinya seolah Bing Lian telah menjadi bagian dari tubuh Qing Mo. Pedang dan tuannya menjadi satu, mempertunjukkan kekuatan maksimal yang sangat hebat dari tuan dan pedangnya. Han Shu yang berbadan tinggi benar-benar tak memiliki kesempatan, ia terus-menerus menghindar dari mereka karena kalah.

Mungkinkah Qing Mo adalah seseorang yang dipilih oleh Bing Lian? Apakah memang benar-benar dia? Mata Su Ren yang dalam melihat dengan tenang pada sosok wanita yang mungil namun galak di depannya. Jika memang dialah yang terpilih, kalau begitu itu tidak terlalu buruk.

Bau udara dingin tiba-tiba tercium di dalam ruangan, Su Ren yang terkejut akhirnya tersadar kembali, ia tertawa dan berkata: “Berhenti, kalau tidak, rumah ini akan rubuh karena kalian berdua.”

Han Shu sudah mundur terlebih dahulu, Gu Yun mengagumi ketajaman mata pedang Bing Lian. Ketika Su Ren tiba dan bicara, Gu Yun sudah menurunkan pedangnya. Melihat jejak kehancuran yang tersisa di dalam kamar, Gu Yun merasa malu, namun meski begitu Su Ren kelihatannya tidak keberatan dengan kekacauan ini. Matanya tertuju pada Bing Lian di tangan Gu Yun, kemudian ia tertawa: “Bagaimana menurutmu pedang ini?”

Gu Yun mengungkapkan kepuasannya, ia memuji: “Sangat tajam.”

“Dan?” Su Ren melanjutkan bertanya.

Gu Yun memperhatikan mata pedang Bing Lian yang berwarna putih tanpa noda, ia tersenyum dan berkata: “Sangat indah.”

“Tidakkah kau merasa pedang itu dingin?” Hanya berdiri di samping pedang itu saja, Su Ren sudah merasakan sentakan dingin yang begitu menggigit, apa dia tidak merasakannya?

Dingin?! Gu Yun mengusap pedang panjang itu dengan sayang, sedikit perasaan dingin terasa sangat nyaman. Ia menggelengkan kepalanya, dengan geli ia menjawab: “Dingin itu terlalu dibesar-besarkan! Yang paling cocok untuk mengungkapkannya adalah agak sedikit terasa dingin. Saat di musim panas rasanya sangat pas !”

Dia hanya merasakan sedikit dingin! Dalam hati Su Ren mendesah, sepertinya dia memang benar-benar tuan yang dipilih oleh Bing Lian.

Melemparkan tatapan ke samping pada orang yang sedang terengah-engah, berdiri di sebelah sisi samping. Gu Yun melirik pada laki-laki yang tinggi dan kuat, dan bertanya: “Siapa laki-laki yang tidak sopan ini?”

Dia memanggilnya tidak sopan? Han Shu baru saja akan keluar, namun kalimat Su Ren seketika membuatnya tertegun.

“Kakak ipar, dia adalah wakil komandan kepercayaan Kakak Pertama, Han Shu.”

“Kakak ipar?” Han Shu berdiri kaku di tempat, matanya hampir saja terlempar keluar. Jendral sudah menikah? Bagaimana bisa mereka tidak menyadarinya?

“Su Ren, ada apa denganmu?” Dahi Gu Yun mengkerut, sejak kapan dia jadi kakak iparnya?

Su Ren dengan tampang yakin dan tegas di wajahnya menjawab: “Kau baru-baru ini di tempatkan di kediaman ini sebagai satu-satunya wanita bagi Kakak Pertama, jika kau bukan istrinya Jendral, lalu siapa kau?” Yang paling penting adalah bahwa kau telah terpilih sebagai tuan Bing Lian, siapa yang berani mengatakan bahwa kau bukan istri Jendral?!

“Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Su Ling, jangan membuat gosip!”

Su Ren mengedikkan bahunya, dengan ekspresi wajah yang tidak jelas ia menjawab: “Hal ini harus menunggu hingga Kakak Pertama kembali, kalian berdua harus dengan tenang dan hati-hati tentang masalah ini, dan bagaimana bisa orang luar seperti kami mengetahui kebenarannya tentang situasi ini?”

Sial! Su Ren begitu yakin, Gu Yun takut dia bukanlah laki-laki yang suka bicara sembarangan! Mengambil nafas dalam, Gu Yun mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap tenang, tidak ada gunanya membahas tentang masalah ini lagi dengannya. Gu Yun menaruh pedang panjang di tangannya ke atas meja kecil yang rendah, satu-satunya yang tidak ikut hancur. Ia tidak mau memulai membicarakan tentang masalah itu lagi, segera ia membicarakan hal yang ia inginkan, “Aku membutuhkan lima puluh tali tambang sepanjang sepuluh kaki yang tebal, lima ratus belati, siapkan untukku besok pagi sebelum waktu mao shi (jam 5-7 pagi).”

“Besok pagi?” Apakah semendesak itu?

Gu Yun yang suasana hatinya sudah buruk, setelah mendengar keraguannya, menjawab terus terang: “Apakah tentara keluarga Su bahkan tidak punya persedian alat dasar seperti ini?”

“Kau…” Tak mampu bertahan terhadap wajah arogan Gu Yun, Han Shu berteriak lagi, namun tangan Su Ren menghentikannya. Su Ren hanya mendengarkannya, tersenyum dengan sopan ia menjawab: “Kami memilikinya. Tentu saja semua akan dikirim padamu besok pagi.”

“Terima kasih.” Ekspresi terima kasihnya tidak benar-benar tulus, Gu Yun berbalik dan pergi.

Su Ren menatap pedang panjang yang tergeletak di atas meja kecil dan rendah, matanya bersinar-sinar, menghadap pada punggung Gu Yun yang berlalu pergi, ia berteriak: “Pedang ini! Kalau kau mau, kau boleh membawanya bersamamu.” Langkah Gu Yun tiba-tiba terhenti, tanpa berbalik, dengan acuh ia menjawab: “Seorang laki-laki sejati yang tidak mengambil paksa milik orang lain adalah seorang laki-laki yang baik, tapi aku akan menghargai jika barang-barangnya di kirim tepat waktu besok di hutan.”

Mengingat kata-katanya yang tidak menunjukkan ketertarikan dan sosoknya yang pergi dengan santai, dalam hati Su Ren kehilangan kata-kata. Menurut pengetahuan dan pengalamannya, belum ada seorang pun yang mengabaikan ketajaman Bing Lian setelah mengetahuinya, namun siapa yang tidak bingung dibuatnya! Yang benar saja, apa dia sungguh orang yang seriang dan semudah itu?

Menyimpulkan perlakuan berbeda Su Ren kepada Qing Mo, Han Shu kini menjadi percaya, bahwa wanita arogan tadi adalah benar-benar istri Jendral. Teringat dengan kata-kata Qing Mo sebelum ia pergi, Han Shu bertanya: “Dia meminta begitu banyak tali dan belati, untuk apa?”

Su Ren tanpa pikir panjang menjawab: “Dia dan Adik Ketiga bertanding dalam melatih prajurit yang baru direkrut, yang akan berlangsung selama setengah bulan.”

“Melatih prajurit dengan tali dan belati?” Han Shu sesaat menatap kosong, kemudian ia tertawa terbahak-bahak, “Aku akui ilmu bela dirinya tidak lemah, tapi melakukan bela diri dan melatih prajurit adalah dua hal yang berbeda, bagaimana mungkin seorang wanita melatih prajurit?” Menyingkirkan Gu Yun, Han Shu kini lebih tertarik pada pedang putih keperakan, lagi pula ini senjata yang sangat berharga, tak diduga pedang ini sangat ganas.

Su Ren berbalik, tepat saat ia melihat  Han Shu mengulurkan tangannya meraih Bing Lian, segera saja ia berteriak: “Jangan menyentuhnya!” Sayangnya sudah terlambat, Han Shu sudah menggenggam pedangnya.

“Ah…” Setelah teriakan yang mengerikan, peng, Bing Lian jatuh ke lantai.

“Dingin sekali! Dingin sekali!” Han Shu menatap tak percaya pada tangannya yang telah memerah dan membeku karena dingin, ia menatap bingung penuh tanda tanya kepada Su Ren, merasa heran ia bertanya: “Kenapa dia baik-baik saja memegangnya?” Dia bahkan memegangnya cukup lama sekali, hanya menganggapnya terasa sedikit dingin!

Su Ren berjalan menuju tempat tidur, melipat selimut hingga membentuk tumpukan yang tebal, berjalan ke dekat Bing Lian dan ia mengangkatnya, cepat-cepat menggantungnya kembali ke dinding. Bahkan dengan cara seperti ini pun, ia masih merasakan dingin yang membekukan, kesepuluh jari tangannya kaku membeku. Mengusap jarinya pelan-pelan, Su Ren hanya menjawab: “Mungkin itu adalah– kehendak surga!”

Bing Lian telah bersikap aneh kali ini, Chi Xue pasti sudah merasakannya, bukan? Untuk pertama kalinya Su Ren berharap kakaknya segera kembali ke rumah.


Chi Xue[1] artinya, semerah darah.

PKGPM 10. Chapter 2 : Latihan militer para tentara terkuat, bag 4
PKGPM 12. Chapter 3 : Pelatih tentara yang kejam, bag 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.