MPM 8 – Kegagalannya

Featured Image

Chapter 8 – Kegagalannya

 

Keheningan yang berlalu terasa menyakitkan.

Aku jadi merasa malu… Aku tak bisa menahan rasa maluku lagi, jadi aku menunduk. Sementara itu, Putra Mahkota tetap tidak mengatakan apapun.

[….Bisakah aku tahu apa alasannya?]

Mendengar suaranya yang tenang, aku mengangkat wajahku.

Wajah Putra Mahkota tak berubah sedikit pun, dia terus saja tersenyum.

…..Ini… Apakah ini akan berhasil?

Pada akhirnya, aku memilih untuk mengangguk.

[Iya.]

Aku berjalan ke hadapan Putra Mahkota, aku berlutut meminta maaf.

[Pertama-tama, Ayah saya tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Putra Mahkota adalah orang pertama yang akan saya beri tahu. Mungkin ini adalah hal yang egois, tapi tolong jangan salahkan Ayah saya….. Cukup saya saja yang harus memikul semua tanggung jawab ini.]

Situasi ini terjadi karena keegoisanku. Jika memungkinkan, aku tidak ingin memberi masalah kepada Ayah. Dia adalah orang baik, seorang Ayah yang benar-benar peduli padaku.

Jika aku memang harus memikul tanggung jawab, maka aku rela harus melakukan apa pun.

Setelah memohon ke Putra Mahkota seperti ini, aku harus memiliki setidaknya tekad yang kuat.

Aku menatap Putra Mahkota dengan tekad di mataku, aku melihatnya mengangguk.

[Kurasa ini adalah pembicaraan yang berlebihan, tapi tak apa. Percakapan ini adalah rahasia antara kau dan aku.]

[Terima kasih banyak.]

[Lalu? Kenapa kau berkata, kau tidak bisa menikah, apa maksudmu?]

Aku bersyukur Putra Mahkota mendengarkanku dengan sangat baik.

Sesuai dengan rumor, dia adalah orang yang baik, dan di lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa sedikit menyesal telah melakukan semua ini.

….Meski begitu, aku tetap tak punya pemikiran untuk menikah dengannya.

Poligami, membuat semua poin bagus di orang ini menghilang.

[Ini agak memalukan, tetapi saya tidak memenuhi syarat untuk menikah dengan Putra Mahkota.]

[Syarat? Kau adalah putri dari seorang bangsawan bergelar Duke, kau juga cantik. Dan yang terpenting, aku menginginkanmu. Aku tak melihat ada masalah dengan itu?]

…..Dia bilang, dia menginginkan seorang wanita yang bahkan tidak pernah dia temui, dia pintar berbicara rupanya.

Benar-benar…. sebenarnya kenapa dia jadi seperti ini?

[Anda bercanda, Putra Mahkota. Saya tidak sehebat itu. Saya sudah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan terhadap Anda, sebenarnya… saya.… itu….]

Sangat sulit dikatakan.

Tapi tampaknya Putra Mahkota mengerti apa yang ingin aku katakan.

[….Mungkinkah, kau sudah tidak ‘suci’. Itukah yang ingin kau katakan?]

Putra Mahkota mengatakan apa yang ingin kukatakan sejak tadi!!! Meski merasa malu, tapi aku mengangguk.

[Benar. Saya sangat menyesal, tapi sebenarnya saya berpikir untuk membicarakannya lebih dulu dengan Ayah saat dia pulang, lalu mendiskusikan masalah ini dengannya. Meskipun saya tidak memenuhi syarat untuk menikah dengan Putra Mahkota, tapi saya sudah menyebut nama lengkap saya tadi. Itu adalah hal yang tidak bisa diampuni. Saya akan menerima hukuman apa pun.]

Aku kembali menunduk.. ‘sedikit lagi… dan semuanya akan berakhir, pertunangan akan batal’…… aku mendengar kata-kata itu bergema di kepalaku.

Aku yang masih menunduk, perlahan aku mencuri-curi pandang ke Putra Mahkota, ingin melihat seperti apa responnya. Tapi yang kulihat justru, dia tersenyum lebar!!!

[Tidak perlu khawatir, itu tidak akan menjadi masalah.]

[Hah?]

Tanpa pikir panjang, aku balik bertanya.

Tidak mungkin! Tidak perlu khawatir tentang itu!?

Bukankah Keluarga Kerajaan harus menikahi perempuan yang ‘suci’!!!

Sebenarnya apa maksud orang ini!!?

[Putra Mahkota, kita tidak akan bisa menikah. Seharusnya aku tetap ‘suci’ untuk Anda, tapi hal ini malah terjadi. Karena tak mungkin bagi kita untuk menikah bukankah sebaiknya kita batalkan saja pertunangan kita ini?]

[Itukah alasannya?, kalau hanya itu, pertunangan kita tidak perlu dibatalkan.]

Rasanya percakapan kita ini tidak nyambung!

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dia katakan….

Jelas-jelas aku mengatakan padanya kalau aku ‘tidak suci’.

Seharusnya dia langsung membatalkan pertunangan ini dan segera pergi dari sini!

Kalau dia melakukan hal itu, otomatis aku akan menjadi seorang wanita bebas.

Dengan begitu, aku bisa mendapatkan pernikahan yang baik.

[Putra Mahkota!]

[Pertunangan tidak akan dibatalkan.]

Aku jengkel pada Putra Mahkota, padahal aku sudah mengatakannya dengan jelas!

Meskipun aku tidak bermaksud, tanpa sadar aku meninggikan suaraku dan berbicara informal padanya.

[Kenapa begitu!? Aku kan bilang kalau aku ‘tidak suci’. Keluarga Kerajaan hanya bisa menikahi perempuan yang ‘suci’. Seharusnya kau lebih tahu tentang hal itu daripada aku!]

Akhirnya, kendali diriku hilang, dan aku meledak… tapi Putra Mahkota malah tertawa.

[Hahahaa..…]

Kenapa dia malah tertawa!?

[Apa ada yang aneh!?]

[Maaf…. Maaf….]

Sambil berkata seperti itu, Putra Mahkota berdiri dan berjalan ke arahku.

Aku curiga, apa yang ingin orang ini lakukan? Dan ternyata dia memelukku!!

[Putra Mahkota, apa yang kau–!?]

[Ahh… Akhirnya aku menangkapmu.]

[Hah?]

Dia memelukku erat, dan menghela nafas panjang di atas kepalaku.

[Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Aku juga sudah bilang kalau aku akan bertanggung jawab… ‘Kesucianmu’ itu diambil olehku, jadi tidak akan ada masalah. Lagi pula, kalau pun ada orang yang ingin membuat masalah, aku akan langsung mengatasinya.]

Gaya dan nada bicaranya berubah, tubuhku menegang.

Baru saja, apa yang dikatakan Putra Mahkota!? […diambil olehku] Itukah yang dia katakan!?

[Kau sangat kejam. Saat aku bangun, aku ingin langsung melamarmu dan membawamu ke Istana. Tapi kau malah meninggalkanku sendirian. Padahal aku memelukmu agar kau tidak kabur, tapi orang yang kupeluk malah berubah menjadi bantal… benarkan, Diana?]

Tatapan genitnya dan suaranya yang menawan yang membuatku teringat… aku merasa jantungku berhenti!

Tentu saja, itu adalah suara yang pernah kudengar.

Pasangan Diana, Apollo! Aku jadi teringat semua kejadian pada waktu dini hari tadi!

Sebenarnya sejak tadi aku sudah merasakan deja vu.

Kenapa aku malah mengabaikan hal yang begitu penting seperti itu!?

Ini semua bukanlah imajinasiku, akhirnya aku tersadar, dia adalah pasanganku semalam!

Aku sangat terkejut sampai tak bisa berkata-kata, Putra Mahkota kemudian menjelaskan bahwa karena dia tidak tahu nama asliku, jadi memerlukan waktu baginya untuk menemukanku, saat itulah aku baru bisa berkata….

[…A…. Ap…Apo… pollo?]

Akhirnya setelah mengucapkan nama itu, Putra Mahkota tersenyum lebar.

Kemudian, dengan senang hati dia memelukku dengan erat.

[Aku tidak pernah berpikir kalau ternyata kau adalah tunanganku sendiri. Kalau saja aku melihat potret lukisanmu saat pertunangan telah diputuskan, kemarin aku pasti langsung menyadarimu.]

Dia tidak memiliki minat pada tunangannya, kata-katanya itu membuatku berekspresi jengkel.

[Pada Pesta Topeng kemarin, biasanya wanita yang terhormat sepertimu tidak akan hadir di sana. Karena itu aku terkejut. Saat di ranjang, kau juga sepertinya tidak bertemperamen agresif atau pun suka ‘bermain-main’, jadi aku bertanya-tanya siapa sebenarnya kau ini.…]

[…Kau… Melihat… Wajahku…?]

[Ya, sat kau tidak sadarkan diri. Kau sangat waspada, bahkan kau tidak ingin memberi tahu siapa namamu. Keputusanku untuk melihat wajahmu saat kau tertidur ternyata adalah keputusan yang sangat tepat.]

Amarahku mendidih!!!

Jadi…. Ternyata… Pria ini melepas topengku saat aku tertidur!

Hm? Tapi…. Seingatku… Warna rambut Apollo itu hitam….

[Warna rambutmu berbeda..…]

[Ah… ini? Kalau aku tidak mengubahnya, tentunya orang-orang akan langsung tahu kalau aku adalah Putra Mahkota. Jadi aku mengubah warna rambutku dengan menggunakan sihir.]

Sambil berkata begitu, dia mendekati wajahku dan menjatuhkan ciuman.

[Aa….. Berhen-..…]

[Kau sangat dingin…. Padahal semalam kita sudah menghabiskan malam bersama. Hei, kenapa kau bisa datang ke pesta semacam itu?]

Aku ingin melepaskan diri dari pelukan orang ini, tapi dia tak membiarkanku, aku tak bisa bergerak sedikit pun.

[Syukurlah kau menghabiskan malam denganku, tapi bagaimana kalau kau di ‘makan’ oleh orang aneh. Apa kau tidak akan menyesal?]

[Saat ini aku merasa sangat menyesal.…]

Aku memelototinya, tapi dia malah mengabaikanku dan terus menjatuhkan ciuman.

Aku salah memilih orang semalam!!!!!!

Tapi, siapa yang akan berpikir bahwa Putra Mahkota akan berada di tempat seperti itu!!

….Aku sudah lama kehilangan keinginanku untuk melanjutkan akting bersikap sopan selayaknya putri bangsawan.

Kecuali aku mengatakannya dengan jelas, orang ini pasti tidak akan mengerti.

[….Aku tidak ingin menikah denganmu, jadi aku berpikir untuk segera melepaskan kesucianku! Jadi aku datang Pesta Topeng, karena sepertinya itu tidak akan mendatangkan masalah nanti……]

[Hmm?]

Dia menatapku dengan tatapan yang tajam, aku hampir kehilangan kemampuan untuk bernapas.

[Seperti yang duga, jadi memang itu tujuanmu…. Dan dengan cara seperti itu, kau menerima undanganku. Tapi, karena memang aku yang menjadi targetmu, jadi aku akan memaafkanmu kali ini…. Tapi aku tidak akan memaafkan untuk yang kedua kalinya?]

[….Hubungan antara kau dan aku berakhir setelah itu. Tidak ada yang kedua kalinya.]

[Aku tidak mau! Bukankah kita sudah bertunangan secara resmi?]

[Karena itulah aku memintamu untuk membatalkannya!]

Saat aku mengatakan hal itu, suhu di dalam ruangan terasa turun beberapa derajat.

Putra Mahkota bertanya dengan suara dingin.

[…Aku tidak akan menyetujui itu. Itu wajar. Perempuan yang kucintai pada pandangan pertama, selama ini aku menginginkan hal itu. Terlebih, dia adalah tunanganku. Mana mungkin aku akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja…. Aku pasti tidak akan membiarkanmu melarikan diri.]

Aku merasa seperti akan diterkam oleh predator.

Matanya… seakan-akan ingin menangkap dan tidak akan melepaskanku.

[Kau bilang… ‘Menginginkan’]

[Kau tidak tahu tentang etika di kamar tidur, bukan? ….Itu adalah hal yang sangat membosankan.]

Dia berbicara sambil tersenyum.

[Etika…???]

Aku memiringkan kepalaku, tidak mengerti artinya. Melihat itu, Putra Mahkota berkata, [Seperti yang kuduga.]

[Tidak apa-apa, kau tidak perlu tahu. Kau tidak membutuhkan hal seperti itu. Aku suka kau yang seperti ini.]

[….Apa aku melakukan sesuatu yang aneh?]

[Tidak, kau tidak melakukan hal apapun yang aneh…. Oh… Itu benar, aku harus berterima kasih kepada Perdana Menteri karena tidak mengajarimu tentang hal itu.]

[…….]

Entah bagaimana, sepertinya aku telah melakukan kesalahan fatal.

Aku tidak tahu apa itu, tetapi yang jelas hal itu mendorong obsesinya terhadap diriku.

[Kalau dipikir-pikir, kau adalah seorang Putri Duke dan aku adalah Putra Mahkota. Bukankah itu aneh, kita tidak pernah bertemu…]

[Kalau sebelumnya kita sudah bertemu, aku juga pasti akan langsung jatuh cinta padamu] ujar Putra Mahkota kepadaku dengan suara seksinya.

Jika semua itu memang benar, maka keputusanku untuk selalu melarikan diri dari pertemuan adalah hal yang sangat sangat tepat.

[Pada awalnya, Perdana Menteri mencoba untuk mempertemukan kita, dan telah membuat berbagai pengaturan. Tapi sampai sekarang, hal itu tak pernah terjadi. Aku heran kenapa?]

[Kau tahu kenapa, bukan?] Dia bertanya, dan aku mengangguk.

Tidak perlu untuk menyembunyikannya lagi.

[….Aku tahu bahwa Ayah ingin menjadikan kau sebagai suamiku. Aku memang menggunakan segala metode yang mungkin untuk menghindari pertunangan.]

[Jadi, kabar bahwa kau sakit-sakit juga itu bohong?]

[Aku hampir tidak pernah sakit.]

Aku menjawabnya tatapan serius, sambil terus memelukku Putra Mahkota memandang ke arah langit-langit.

[Haahhh…. apakah kau benar-benar membenciku?]

[Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak mengenalmu, jadi itu wajar saja. Aku hanya tidak ingin menikah dengan Keluarga Kerajaan.]

[Kau tidak ingin menikah denganku?]

Mata birunya menatapku. Mata itu tidak akan mengizinkan penolakan, tetapi aku tidak akan goyah.

[Aku tidak mau.]

[…Kau sangat jujur (to the point), ya. Yah… Kau memang sudah seperti itu saat kita pertama bertemu. Tapi sekarang aku hanya menginginkanmu, jadi menyerahlah dan jadilah Istriku.]

Dia memegang sisi wajahku dengan kedua tangannya, mata kami bertemu dan dia tersenyum.

Sikap seperti itu dapat meluluhkan wanita, tapi itu tidak akan berguna terhadapku.

[Aku menolak… Aku akan mengatakan kepada Ayah kalau aku sudah tidak ‘suci’.]

[Kau ingin membatalkan pertunangan dengan itu? Mustahil. Karena yang mengambil ‘kesucianmu’ itu adalah aku, tunanganmu sendiri. Sesuai dengan rencana, aku akan bertanggung jawab dan menikahimu… Kalau kau tetap keras kepala, aku juga akan memberi tahu Perdana Menteri kalau akulah yang mengambil ‘kesucianmu’.]

[Beraninya kau!]

Saat berada dalam amarah dia malah menggeser tangannya ke perutku dan kembali berkata.

[Selain itu, semalam aku sudah menuangkan banyak ‘benihku’ padamu. Mungkin saja, saat ini ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh. Itu menambah alasanku untuk bertanggung jawab, bukan?]

Putra Mahkota tersenyum dengan jahat, dia menyiratkan kalau semalam saat kami melakukannya, dia tidak menggunakan pengaman.

Jadi itu maksudnya dengan ‘dia akan bertanggung jawab’.

Tapi aku tidak perlu khawatir dengan masalah itu.

Dengan sekuat tenaga aku membantah Putra Mahkota.

[Sayang sekali…. Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan seperti itu, jadi aku sudah meminum ramuan pencegah sebelum kita melakukannya, jadi hal seperti itu tidak akan terjadi.]

[Hah?]

Kali ini Putra Mahkota terkejut.

[….Kau meminum ramuan pencegah?]

Aku pun menjawab ‘ya’ dengan tegas.

Dengan ekspresi heran, Putra Mahkota memandang ke arahku.

[Ramuan pencegah yang kau katakan, apakah itu『Obat Rahasia Delris』?]

[Memangnya ada ramuan lain, selain obat itu? Setahuku hanya ada itu satu-satunya metode pengaman untuk wanita di negara ini, meskipun…..]

Pembuat sekaligus penjual ramuan pencegah itu adalah seorang nenek.

Dia adalah seorang wanita tua yang menyenangkan, setelah menjelaskan tentang keadaanku, nenek itu dengan senang hati menjualnya ramuan pencegah itu kepadaku.

[Bagaimana kau mendapatkannya!?]

[Eh…. Aku hanya melakukannya seperti biasa…… datang menemuinya lalu membelinya.]

[Biasanya kau bilang!?]

Putra Mahkota mengguncang bahuku.

[Apa kau mengerti betapa berharganya itu? Orang-orang bahkan tidak bisa menemukan di mana penyihir itu berada! Dan kau bilang, kau bertemu dengannya lalu membeli ramuan obat itu!?]

[Yah… harganya memang sangat mahal.]

Setelah aku bergumam tentang harganya, dia menjadi terfokus dengan hal itu.

[Semahal itu kau membelinya!?]

[Tidak, kupikir itu harga yang pantas.]

Berkat itu, tabunganku terkuras…. Aku harus mulai menabung sedikit demi sedikit lagi.

Mendengar kata-kataku, entah kenapa Putra Mahkota kehilangan kata-kata.

Saat aku mulai berpikir apa yang yang terjadi, dia memegangi perutnya dan mulai tertawa.

[Hahahahaha…. Ahahahahahaha!]

[Pu-Putra Mahkota?]

Oh tidak… Dia menjadi gila.

Aku pun berusaha untuk menjauh darinya, aku mundur darinya selangkah demi selangkah, tapi saat aku melakukannya dia langsung menarikku ke dalam pelukannya.

Aku menatap wajah Putra Mahkota, dia terlihat sangat bahagia.

[……Aku dikalahkan olehmu, Lidi. Kau bisa mendapatkan ‘Obat Rahasia Delris’. Sungguh… meskipun kau tidak tahu tentang etika antara pria dan wanita, tapi kau mencari tahu tentang metode pengaman…]

[Bukankah itu adalah hal yang terpenting?]

Saat ini, aku selamat karena ramuan itu!

Setelah aku menjawabnya dengan serius, dia berkali-kali mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

[…Hahahaa…. Aahhh… Kau memang yang terbaik. Menikahlah denganku?]

[Bukankah aku sudah memberitahumu bahwa aku tidak mau?]

Putra Mahkota benar-benar gigih.

[Apa sebenarnya masalah yang membuatmu sampai tidak ingin menikah dengan Keluarga Kerajaan?]

Setelah bertanya seperti itu, aku terdiam, dia bertanya-tanya kenapa, jadi aku memberinya jawaban.

[….Poligami.]

Tampaknya Putra Mahkota tidak akan pergi sampai aku mengatakan alasannya, jadi aku pun mengatakannya sambil menundukkan wajahku, malu.

[…Aku tidak ingin menikah dengan orang yang bisa memiliki selir.]

“Karena itu, aku tidak mungkin menikah denganmu” saat aku ingin berkata seperti itu, tiba-tiba saja….

Putra Mahkota memeluk dan kemudian mencium bibirku.

[Nn…! Nnnn…!!]

Terlebih lidah kami saling menjalin.

Aku jadi teringat kebersamaan kami tadi malam, dalam sekejap tubuhku memanas.

[…Nnn… Haaa..! Apa yang kau lakukan!? tiba-tiba saja…!]

Dengan sekuat tenaga aku mendorongnya menjauh, sambil terengah-engah aku memelototinya.

Sementara dia malah menatapku dengan gembira, dan menjawab….

[Itu karena kau mengatakan sesuatu yang sangat menggemaskan..…]

[Hah?]

[Dengan kata lain… Lidi ingin memonopoliku, kan? Kau tidak ingin ada perempuan lain di antara kita]

Maafkan aku. Tapi apakah kau yang sebenarnya kau bicarakan!

[Tentu saja, selama aku bisa memiliki Lidi, maka aku sama sekali tidak keberatan. Kalau dengan begitu, Lidi akan menikah denganku, maka dengan senang hati aku akan melepas hakku untuk bisa mengambil selir.]

Seolah memenuhi keinginan istrinya yang imut, dengan tersenyum dia berkata tidak akan mengambil selir.

[Tidak… Umm.…]

[Apa ada lagi?]

Saat dia bertanya, dengan setengah mati aku menjawab.

[Beban menjadi Ratu di masa depan nanti terlalu berat bagiku.]

[Untuk seorang Putri Duke terkemuka sepertimu? Kita membicarakan Perdana Menteri di sini, tentu saja dia pasti telah mengajarkanmu banyak hal sejak kecil, bukan?]

……Itu memang benar!

[Kalau kau memang tidak bisa melakukannya, maka tidak akan ada yang bisa. Lidi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, aku akan selalu mendukungmu… Jadi menyerahlah dan jadilah milikku.]

Satu demi satu dia membantah alasanku dan memojokkanku.

Dia memojokkanku sambil tersenyum seperti itu, Putra Mahkota memang menakutkan!

Saat aku lengah, dia langsung mendorongku ke dinding.

Kini aku tak bisa lari ke mana pun, dia kembali memelukku.

Aku sudah tidak punya alasan untuk membantah kata-katanya lagi.

Kalau aku mengangguk, aku pasti tidak akan pernah bisa lari dari pria ini.

Itulah yang dikatakan instingku.

Meski aku ingin melarikan diri dengan memberontak, tapi dia memelukku dengan sangat sangat erat.

Tapi…. di hatiku yang terdalam… aku menyukai saat dia memelukku seperti ini.

Kenapa… kenapa hal seperti itu terjadi?

Meski aku sudah berkata padanya aku tidak ingin menjadi Putri Mahkota dan juga sudah memohon padanya…..

[A-aku…. Aku tidak mencintaimu, Putra Mahkota.]

[Untuk saat ini mungkin memang ‘tidak’, tapi dalam waktu dekat aku pasti akan membuatmu mengatakan ‘aku mencintaimu’.]

[Tidak, terima kasih.]

[Apapun yang kau katakan, aku akan tetap melakukannya.]

Kemudian, dia membenamkan wajahnya di lekuk leherku.

Rasa sakit kecil menjalari, aku sadar, ternyata dia menggigit lalu mengisap lekuk leherku.

[A-apa!!?]

[Hm? Menandai, aku harus memberi tahu semua orang di sekitarmu bahwa kau milikku.]

Dia berkata dengan tersenyum puas, aku menggigil!

[Aku mencintaimu, Lidi. Aku tidak akan melepasmu, jadi bersiaplah….]

[Tidak mungkin. Aku tidak ingin menikah.]

[Padahal kita sudah bertunangan… Kau keras kepala juga, ya.]

Sambil dipeluk dengan kuat, aku mati-matian menolak kata-kata Putra Mahkota.

Aku merasa berada dalam situasi yang buruk, hanya bahaya yang akan datang kalau aku sampai mengangguk!

Sedangkan dia, sejak tadi terus tertawa riang.

Tak lama, tangan yang semula berada di pinggangku, kini mulai bergerak tidak senonoh, aku berteriak.

[Aku benar-benar tidak ingin menjadi Putri Mahkota!!]

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.