MPM 7 – Pengakuannya

Featured Image

Chapter 7 – Pengakuannya

 

Pria yang berdiri di hadapanku sambil tersenyum senang adalah Putra Mahkota. Dan di samping, ada Ayahku dengan wajah yang penuh senyum bahagia.

Di tengah tekanan yang hebat, aku hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum dengan kaku.

[…Putra Mahkota?]

Dengan suara gemetar aku bergumam.

Dengan ringan Putra Mahkota mengangguk, kemudian dia mendekat ke hadapanku dan berlutut dengan elegan.

Mantel yang dia kenakan mengembang, terlihat ada sulaman emas Simbol Keluarga Kerajaan, aku hanya bisa menerima bahwa dia benar-benar Putra Mahkota dengan enggan.

[Salam untuk Putri Tercinta. Namaku Frederic van de la Wilhelm. Bisa bertunangan denganmu, benar-benar membuatku bahagia. Jadi aku berpikir untuk melihat wajahmu, setidaknya sekali. Hari ini aku datang tanpa mengirim pemberitahuan sebelumnya, aku jadi bertanya-tanya, apakah itu merepotkanmu?]

Mendengar salamnya, membuatku membeku.

Mata birunya tertuju padaku.

Untuk sesaat, rasanya aku seperti sudah pernah melihat mata itu di suatu tempat, tapi setelah mendengar kata-katanya yang baru saja diucapkan, perasaan deja vu itu menghilang.

Kenapa dia berkata seperti itu di pertemuan pertama kita?!

Di negara ini, saat melamar, seorang lelaki akan memberi tahu nama lengkapnya pada si wanita, bahkan meski sudah bertunangan si lelaki biasanya tidak melakukan hal itu.

Saling memberi tahu nama lengkap hanya dilakukan saat melamar dan upacara pernikahan resmi. Itu semua terjadi karena nama lengkap dianggap sangat penting.

Dan barusan, lelaki ini, tanpa ragu, dia menyebut nama lengkapnya kepadaku.

Aku hanya bertunangan saja dengannya, dan upacara pernikahan secara resmi belum dilakukan, tapi dia sudah memberitahukan nama lengkapnya kepadaku. Aku hanya bisa berpikir kalau dia sengaja melakukan hal itu untuk menekankan bahwa dia menyetujui pertunangan ini.

Dengan perasaan buruk, aku melihat ke arah Ayahku, dia terlihat sangat senang, dia sampai gemetar saking senangnya.

…Ini buruk!

Aku bermaksud untuk memutuskan pertunangan hari ini, aku tidak mengerti kenapa Putra Mahkota datang ke sini, apa yang sebenarnya dia pikirkan.

Aku ingin sekali langsung berkata bahwa aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini, tapi mana mungkin aku mengatakan hal semacam itu di hadapan para pelayan.

Entah bagaimana, aku harus sendirian dengan Ayahku, lalu segera menjelaskannya kepada Putra Mahkota.

Saat aku memikirkan banyak hal di dalam pikiranku, Ayahku yang kini berdiri di sampingku memanggil-manggil namaku.

[Lidi… Lidi!!]

Aku pun segera tersadar.

Sepertinya Ayah ingin aku memberi jawaban atas salam Putra Mahkota.

Jika seseorang ingin menyetujui lamaran tersebut, maka ia juga akan memberi tahu nama lengkapnya. Jika menolak lamaran tersebut, maka tanpa melihat dari mana si pelamar berasal dan siapa pun dia, si wanita hanya akan memberi tahu nama keluarganya saja.

Itulah teorinya, tapi tentunya, aku tidak bisa hanya menyebut nama keluargaku saja di situasi ini.

Saat aku melihat ke sekeliling, aku tersadar kalau para pelayan menatapku dengan penuh semangat.

Terutama, Ayahku… dia dia menatapku dengan penuh semangat dan penuh harap.

… Aku sadar, tidak ada tempat bagiku untuk berlindung.

Jadi aku dengan terpaksa mengulurkan tanganku dan tersenyum…. Meski begitu, aku melakukannya dengan tegang.

[…. Putra Mahkota bilang ‘merepotkan’?. Tentu saja, tidak. Justru ini merupakan kehormatan besar. Nama saya Lidiana von Vivouare.]

Untuk saat ini, aku tidak mungkin menolaknya, jadi aku hanya perlu bersikap sebagai mana seharusnya.

Tindakan yang tidak sopan tak diperbolehkan..… Terutama saat Ayah ada di sini.

Setelah mendengar kata-kataku, Putra Mahkota mencium punggung tanganku yang terulur.

Gerakan itu terlalu manis, sampai aku merasa tidak nyaman. Dilihat dari sudut pandang orang luar, dia sama seperti para pangeran dari cerita-cerita yang kubaca di kehidupanku yang sebelumnya. Ah.. dia memang benar-benar seorang Pangeran, bukan?

Dan karena kejadian seperti ini, maka pertunangan ini telah sepenuhnya terjalin.

[Terima kasih. Panggil saja aku Freed, Putri Lidiana. Boleh aku memanggilmu Lidi?]

[Ya, silakan lakukan saja sesuai keinginan Anda.]

Bagaimanapun juga aku tidak punya hak untuk menolak. Dia bisa memanggilku apa pun yang dia inginkan.

… Tapi aku tidak ingin memanggil Putra Mahkota dengan nama kecilnya.

Aku tidak tahu apakah orang ini menebak-nebak pemikiranku, tapi Putra Mahkota berdiri dan tertawa kecil.

[Apakah kau malu? Lidi yang cantik. Untuk sekarang tak masalah, tapi nanti, tolong panggil aku ‘Freed’ dengan suara imutmu, oke?]

Hiiiiii–!

Norak!! Sangat norak!!

Aku ingin sekali langsung menarik tanganku.

Penampilan Putra Mahkota yang tampan dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya sangat cocok satu sama lain.

Tapi, meski itu cocok untuknya bukan berarti aku menyukainya.

…Ini tidak baik, dia tidak cocok untukku. Kami hidup di dunia yang sangat berbeda.

Seperti yang kuduga, aku harus segera membatalkan pertunanganku dengan Putra Mahkota.

Karena sekarang aku sudah tidak ‘suci’ lagi, maka aku sudah tidak memenuhi syarat untuk menikah dengan Putra Mahkota.

Meski pun, itu terjadi karena sengaja.

Tapi aku tidak menyangka kalau kami akan bertukar nama lengkap di tempat seperti ini, itu adalah kegagalanku.

Maaf… Ayah… Maaf Putra Mahkota.

Tapi aku tetap tidak akan menyerah untuk membatalkan pertunangan ini.

Aku menatap Ayah dengan tajam.

Untuk menghibur Putra Mahkota, Ayah pasti akan membawanya ke ruang tamu.

Di waktu itulah, aku harus kembali ke kamar untuk mempersiapkan diri.

Aku harus memikirkan cara, bagaimana caranya aku mengatakannya kepada Ayah sekarang.

Lalu Ayah bisa menjelaskan situasinya secara langsung ke Putra Mahkota dan memintanya untuk membatalkan pertunangan.

Ini adalah satu-satunya cara yang tersisa.

Setelah aku memutuskan untuk melakukan itu, lagi-lagi Putra Mahkota mengganggu rencanaku.

[Perdana Menteri, aku ingin berbicara dengan Lidi sendirian. Apakah boleh?]

Putra Mahkota mengucapkannya dengan nada lembut namun tegas. Dari situ, siapa pun juga bisa tahu kalau penolakan bukanlah pilihan.

Gaya bicara terdengar tak asing bagiku, tapi saat ini bukanlah waktu yang cepat bagiku untuk memikirkan hal seperti itu, sehingga aku langsung mengabaikannya begitu saja.

Tentu saja, Ayahku tidak akan keberatan.

[Tentu saja! Anda ingin berbicara di mana? Bagaimana kalau di ruangan untuk tamu, saya yakin Putra Mahkota tak akan kecewa.]

[Aku ingin melihat kamar Lidi.]

Putra Mahkota langsung mengabaikan saran Ayahku.

Tunggu sebentar, kamarku!? Dia berkata, dia ingin pergi ke kamar wanita yang belum menikah!?

Awalnya, apa yang dia katakan terdengar sangat tidak masuk akal, tapi aku kembali tersadar, kami sudah resmi bertunangan.

Asal Ayahku memperbolehkannya, maka tak akan ada masalah.

Tolak!! Tolak dia, Ayah!! Ayah harus menunjukkan padanya ruangan untuk tamu yang berharga itu!!

[Begitukah? Kalau begitu, seperti yang Putra Mahkota inginkan…. Lidi, pastikan untuk tetap sopan kepada Putra Mahkota.]

Ayah sudah tahu seperti apa kelakuanku sejak kecil, jadi dia langsung mengingatkanku untuk tetap bersikap sopan ke Putra Mahkota.

Sudah kuduga ini akan terjadi, tapi susah bagiku untuk terus bersikap sopan seperti ini.

Meski begitu, aku tidak punya pilihan selain mengangguk.

[…. Ya, Ayah.]

Aku membungkuk dan kemudian mengangguk seperti seorang nona bangsawan pada umumnya, tapi di dalam hatiku, aku mengamuk!

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan?

Rencanaku untuk mengaku ke Ayah dan memintanya untuk langsung memutuskan pertunangan menjadi berantakan karena Putra Mahkota datang.

Kemudian, rencanaku untuk meminta Ayah secara langsung menjelaskan situasi kepada Putra Mahkota dan membatalkan pertunangan pun dihancurkan sebelum bisa terlaksana.

Aku tidak boleh membuang-buang waktu lagi.

Karena, hanya masalah waktu saja sebelum tanggal pernikahan ditetapkan, kalau sudah seperti itu maka akan sangat sulit untuk membatalkan pernikahanku.

Apa yang harus kulakukan?

Saat mengajak Putra Mahkota ke kamarku, aku mati-matian berpikir.

Tapi, kenapa Putra Mahkota memutuskan untuk menyetujui pertunangan ini?

Menilai dari perilakunya sebelum ini, sepertinya dia tidak menginginkan pertunangan ini.

Aku tidak tahu mengapa, tapi anehnya dia seakan-akan sangat menantikan pertemuan ini.

Satu-satunya keuntungan dalam menikahiku hanyalah, dia akan memiliki Ayah yang mendukungnya di pemerintahan, tetapi dari desas-desus sepertinya dia bukanlah orang yang membutuhkan dukungan seperti itu.

Tidak peduli seberapa banyak yang kupikirkan, aku tetap tak mengerti, jadi diam-diam aku menghela nafas.

Putra Mahkota, yang berjalan di sampingku, mendengarnya.

[Menghela nafas seperti itu, apakah ada yang salah, Lidi? Ekspresi sedih seperti itu tidak cocok dengan wajah cantikmu. Tersenyumlah.]

[Putra Mahkota…]

Kata-kata ‘Aku ingin membatalkan pertunangan denganmu!’ bertengger di tenggorokanku.

Dengan panik kukatakan padanya bahwa tidak ada yang salah, aku pun terus membimbingnya ke kamarku.

Sesampainya di kamar, aku membiarkan pintu sedikit terbuka sesuai dengan aturan norma perilaku.

Seorang wanita tidak akan begitu sembrono untuk menghabiskan waktu dengan seorang pria di ruang yang tertutup…

[Ini kamar saya. Meski tidak ada sesuatu yang sangat menarik di sini.…]

Putra Mahkota dan aku duduk berhadap-hadapan di sofa besar di dalam kamarku.

[Tidak, hanya memikirkan bahwa Lidi menghabiskan waktunya di sini, itu sangat menarik bagiku.]

[…Begitukah?.]

Putra Mahkota menjawab perkataanku dengan senang hati, kemudian dia mengamati sekeliling, aku pun mempertimbangkan langkahku selanjutnya.

Tapi pada akhirnya, aku tidak bisa memikirkan apa pun, jadi aku menyerah.

…Sudah cukup. Aku akan memberitahunya secara langsung.

Jika dia ingin memanggilku wanita yang vulgar, aku tak peduli, dia bisa memanggilku apa pun yang dia inginkan.

Itu jauh lebih baik daripada diam lalu menikah dengannya!

Terlebih, saat ini kami hanya berdua saja. Aku bersyukur hanya Putra Mahkota yang akan mendengar pengakuanku ini.

Aku belum banyak berbicara dengannya, tapi dia terlihat seperti orang yang lembut. Mungkin Putra Mahkota akan menerima pembatalan ini dengan tenang dan semuanya akan berakhir dengan damai.

Iya. Aku merasa kalau kemungkinan itu sangat besar.

Semakin aku memikirkannya, aku menjadi semakin percaya bahwa ini adalah cara yang terbaik.

Kalau dipikir secara normal, itu bukanlah pilihan yang terbaik, tapi karena kejadian yang terus-menerus membuat rencanaku gagal, kepalaku jadi panas.

Saat ini aku tidak dalam keadaan yang bisa membuat keputusan bijak.

Aku memerintahkan pelayan yang masih ada di sini untuk membawakan teh, pelayan itu menundukkan kepalanya dan pergi dari kamarku untuk menyiapkannya.

Sekarang!! Ini satu-satunya kesempatan!!

Aku memotivasi diriku sendiri!

[Pu… Putra Mahkota!]

[Ada apa, Lidi?]

Meski aku sudah bertindak tidak sopan dengan berdiri di hadapannya, Putra Mahkota tetap menanggapiku dengan sopan.

Seperti yang diharapkan dari Putra Mahkota.

[Saya…. Saya…. Ada hal penting yang ingin saya katakan kepada Putra Mahkota!]

Aku sangat cemas, rasanya jadi canggung!

Meski begitu, Putra Mahkota tetap tersenyum, dia membiarkanku untuk berbicara.

Ini berjalan dengan baik! Sekarang, aku hanya perlu mengatakannya!

Ayo lakukan, Lidi! Ini untuk masa depanmu sendiri!

Aku menarik napas, meyakinkan diriku. Kemudian aku mengatakannya.

[Saya… Saya tidak bisa menikah dengan Anda!]

 

Table Of Content

MPM 6 - Pelariannya
MPM 8 - Kegagalannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.