MPM 4 – Pertama Kali Baginya

Featured Image

Chapter 4 – Pertama Kali Baginya

 

Kamar yang disiapkan adalah sebuah ruangan yang seperti ruang tamu yang bisa digunakan oleh peserta pesta.

Meski hanya ruang tamu, tapi karena ini merupakan sesuatu yang pasti akan digunakan oleh bangsawan maka ini tetaplah sebuah ruangan yang mewah. Setelah melihat-lihat ruangan, aku merasa lega.

***

WARNING!!!

R-18

***

Untuk pengalaman pertamaku, aku ingin melakukannya di kamar yang indah. Meski aku memiliki pengalaman di kehidupanku yang sebelumnya, tetap saja ini akan menjadi pengalaman pertamaku di kehidupan ini. Jadi apa salahnya aku pilih-pilih ruangan?

Aku melangkah lebih jauh lagi, ingin melihat keseluruhan ruangan. Tapi kemudian aku mendengar suara pintu yang tertutup di belakangku. Perlahan aku berbalik, pria itu mendekatiku dan perlahan dia mengulurkan tangannya.

……Dia ingin memelukku.

Menyadari niatnya, aku hanya berdiam di tempat. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Selain itu, waktuku terbatas dan aku ingin segera melakukannya dengan cepat.

Aku ditarik ke pelukannya. Nafas panasnya menyentuh telingaku. Sensasi itu lebih menyenangkan dari yang kukira, jadi aku kembali merasa lega.

Bagus, sepertinya aku bisa melakukan ini.

[Akhirnya aku bisa menyentuhmu…]

[Kau bilang ‘Akhirnya’? Aku tidak ingat kalau kau menungguku.]

Aku menjawabnya dengan berbisik di telinganya.

Tiba-tiba rasanya… waktu melambat. Pria itu menatapku, wajahnya seolah-olah berkata, ‘Oh.. Benarkah.’

[Apa ini tujuanmu?]

[Hmm… Kurasa.]

Aku sudah sejauh ini… mana mungkin aku mengatakan ‘tidak’. Aku sengaja bersikap sebaik mungkin saat di aula pesta tadi, tapi itu terasa melelahkan, jadi sekarang aku bersikap lebih santai.

[Baiklah. Dan tampaknya sekarang kau menunjukkan sikap aslimu. Itu membuatku senang.]

[…kau aneh. Aku lebih nyaman bersikap dan berbicara seperti ini. Bukankah kau sendiri mengabah gaya bicaramu.]

Tanpa sengaja, aku mulai memandanginya…

Menyadari aku memandanginya, dia tampaknya tersenyum senang.

[Begitukah? Aku tak bisa mengelaknya, aku memang menginginkan ‘itu’. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sangat menginginkanmu. Karena itu aku mengatakan ‘Akhirnya’, itu tidak salah bukan?]

Uwaahhhh…

Saat dia berbicara, nafasnya yang berada di telingaku membuatku gemetar.

Melihat reaksiku, dia memelukku semakin erat.

[…Bohong. Menginginkanku saat aku masih memakai topeng? Aku tidak akan tertipu dengan kebohongan seperti itu.]

[Aku tidak bohong. Bahkan sekarang, aku sangat menginginkanmu sampai tubuhku rasanya memanas. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini… Kau sudah mengikutiku sampai sini. Itu berarti kau bukan anak kecil lagi. Kau tidak akan mengatakan sesuatu seperti, ‘aku ingin pergi’, bukan?]

Suara manisnya membangkitkan hasratku.

Dengan telunjuk tangan kanannya, dia mengangkat daguku dan bertanya dengan lembut namun tegas, mencegatku melarikan diri.

Tentu saja, ‘Ya’ adalah satu-satunya pilihanku. Itulah alasanku datang ke sini.

[… Iya. Aku juga menginginkanmu.]

Setelah aku mengatakannya, dia terdiam sambil masih memegang daguku.

Hah? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh? Dengan malu-malu aku menatap matanya, aku melihat matanya diwarnai dengan nafsu.

[Um…?]

[Hahaha…]

Tiba-tiba saja dia tertawa.

Sadar dengan aku yang kebingungan, dia pun berhenti tertawa dan menatapku.

[Ah.. Maafkan aku. Aku hanya merasa.. senang. Sangat senang.]

[Begitukah?… Ah!]

Aku masih merasa bingung, karena itu aku ingin bertanya. Tapi sebelum aku melakukannya, dia menggigit bibirku.

Jadi ini ciuman, ciuman pertamaku. Aku berpikir dalam diam sambil menerima ciuman darinya.

Sensasi lembut yang terasa nikmat. Dia menjilat bibirku berkali-kali, mendorong mulutku untuk membuka.

Seolah sejak awal dia sudah menunggu momen ini, lidahnya masuk ke dalam mulutku.

[Nn… Ahh…]

Dia bermain-main di dalam mulutku, dengan tergesa-gesa aku mencoba mengimbanginya. Aku mencoba menanggapinya sebisaku.

Tiba-tiba gerakannya terhenti.

[Hmm?]

Aku membuka mataku yang tadinya tertutup, aku merasa dia berekspresi aneh dan dia menatapku dengan wajah yang penuh senyum. Sekali lagi, aku mengingat sensasi yang membuatku goyah.

Rasanya seperti ada sensasi yang membuatku merasa terintimidasi, aku refleks meletakkan kedua tanganku di dadanya, mencoba mendorongnya untuk menjauh. Tapi, dia tidak membiarkanku melakukannya, dia memelukku dengan lebih erat lagi dan kami kembali berciuman.

[Nn… Ah…]

Suara-suara aneh mulai terdengar. Akhirnya dia melepaskan bibirku.

Rasanya, aku tidak sanggup lagi untuk berdiri, kemudian dia dengan bersemangat, mengangkat tubuhku yang lemas ke ranjang yang sudah disiapkan.

Dengan lembut dia membaringkanku.

Kemudian, dia membungkuk di atasku.

[Hei… aku ingin terus menciummu, tapi topeng ini terus menghalangi. Tidak masalah kalau aku melepasnya, kan?]

[Eh..!?]

Sebelum aku ingin berbicara, dia mulai berusaha melepas topengku.

Refleks aku langsung menahan tangannya, dengan panik aku membantah.

[Menurutmu kenapa pesta ini disebut pesta topeng kalau kita bisa tahu wajah orang-orang yang menghadirinya!]

Identitasku sebagai Putri Duke Vivouare tidak boleh sampai terungkap!

Kalau aku sampai ketahuan, maka dia pasti tidak akan mau ‘melakukannya’ denganku. Rencana yang sudah susah payah kususun tidak akan menghasilkan apa-apa.

Aku yang terus bersikukuh tidak mau melepaskan topeng, membuatnya terkejut. Tapi kemudian, dia menarik kembali tangannya.

[Sayang sekali. Kalau begitu, apa saling bertukar nama tidak masalah? Aku…]

[Tidak! Aku tidak mau!!]

Aku mengatakannya dengan berteriak kencang.

Kumohon jangan bicarakan apapun lagi. Cepat saja kita ‘melakukannya’ setelah itu semuanya selesai!

[Hahhh..]

[Kenapa kau malah menghela nafas?]

[Aku ingin tahu namamu.]

[Aku tidak ingin memberitahu. Kau tidak ingat kalau itu melanggar aturan?]

Setelah aku mengatakan itu, dia mengangguk dengan kecewa.

Tampaknya dia sudah mengerti, aku berharap dia benar-benar tidak akan membicarakan omong kosong lagi sekarang.

Lagi pula, apa gunanya mengetahui nama pasangan satu malam sepertiku ini?

[Aku mengerti. Maafkan aku… Aku yang salah di sini. Malam masih panjang, kita bisa saling mengenal nanti. Kalau begitu, apa kau tidak masalah kalau aku memanggilmu ‘Diana’?]

[Diana?]

[Karena kau memiliki mata ungu yang indah]

Diana, itu adalah nama ‘Dewi Malam’ di dunia ini. Mata Dewi itu konon berwarna ungu.

Saat dia menatapku, aku mengalihkan pandangan. Tentunya bagian mata di topeng ini terbuka, karena itu kita bisa mengetahui warna mata masing-masing.

[Lakukan saja apa yang kau mau. Kalau begitu aku akan memanggilmu ‘Apollo’]

Sambil membelai pipiku, Apollo menunjukkan ekspresi yang penuh dengan gairah.

Aku memanggilnya seperti itu bukan karena ada makna yang mendalam atau apa. Tapi hanya karena topengnya berwarna emas. Dewa Matahari, Apollo selalu dikaitkan dengan warna emas. Dan sama seperti pria ini Dewa itu juga konon bermata biru.

[Diana, sayangku. Akan ku berikan cintaku padamu]

[Nnn…]

Tangannya terus membelai pipiku, perlahan wajahnya mendekat. Dengan kata-kata yang klise, dia menciumku dan lidahnya bermain di dalam mulutku.

… Orang ini… Dia sangat pandai berciuman.

Di kehidupanku yang sebelumnya, aku belum pernah merasa seperti ini. Tampaknya rumor yang dikatakan oleh Marianne bahwa dia itu ahli adalah benar. Dengan begini, aku tidak perlu khawatir, semuanya pasti akan berjalan sesuai rencana.

Aku pun mulai fokus ke pria di depanku ini…

[Nnn.. Ahh…]

Di sela-sela nafasku, erangan manis keluar dari mulutku. Rasanya sangat nikmat, aku tidak bisa menahannya.

Aku ingin merasakan yang lebih, aku memeluk lehernya, menariknya mendekat.

Apollo terkekeh.

[Kau sangat berani…]

[Hm.. kau tidak menyukai wanita yang berani?]

Sejak tadi, setiap perbuatanku, dia selalu saja memberi reaksi yang tidak biasa.

Karena lelaki ini adalah playboy, aku pikir dia akan menyukai tipe pendekatan yang berani karena itulah aku tidak menahan diri, apakah aku salah perhitungan?

[Tidak, aku menyukainya]

[Benarkah begitu?]

[Aku… sangat sangat menyukainya]

[… Aku tidak yakin, apa aku bisa memenuhi harapanmu…]

Sambil terus berciuman, aku membalas kata-katanya.

Pengalaman pertamaku di duniaku yang sebelumnya itu cukup normal.

Sejujurnya, melakukannya untuk pertama kali dengan seorang veteran sepertinya rasanya menyusahkan.

Tanpa kusadari, gaunku sudah terlepas.

Dia memegang dadaku dengan lembut, erangan keluar dari mulutku. Sama sekali tak ada usaha untuk menolak.

[Ahh…]

[Apa terasa nikmat?]

[Nnn…]

Aku hanya bisa mengangguk, kemudian dia tersenyum sambil menyusuri dadaku dengan jarinya.

Hanya dengan seperti itu, aku merasa nikmat dan mengeluarkan erangan yang lebih keras lagi.

[Imutnya]

Sambil bergumam, dengan lembut dia menggigit telingaku, dan tubuhku mulai memanas. Aku menerima semuanya, sebanyak ini, aku tidak bisa menahannya lagi.

Semua perhatianku berada di telingaku yang dimainkan olehnya, aku tidak sadar bahwa gaunku benar-benar sudah terlepas. Ini adalah pertama kalinya aku mengalami yang seperti ini.

[… Ini memalukan, jadi jangan lama-lama menatapku]

Meski sudah sampai di titik ini, aku tetap saja menghindari pandangannya.

Sambil menghela nafas, dia menatapku dengan tajam.

[Jangan terus menerus menggodaku. Sejak tadi sampai sekarang, aku terus menahannya, kau tahu?]

[Menggoda? Aku tidak… Ahh!]

Dia meraih dadaku yang terbuka, tubuhku tersentak kaget.

Apollo memainkannya dengan keras.

[Ahh…Ahhh!!]

Rasanya nikmat, begitu nikmat. Ini merupakan sensasi yang belum pernah kurasakan.

[Hahh… Ahh… Nnn… Lagi!]

Aku sadar bahwa aku sudah bertindak tidak senonoh, tapi ini terasa nikmat. Aku tidak bisa menahan diri.

Aku ingin yang lebih lagi… Aku tidak tahan…

[Aku senang kau menikmatinya… Bagaimana dengan ‘di sini’?]

Tangannya perlahan mengarah ke ‘tempat itu’. Dia terus menggodaku dengan tangannya yang tak tinggal diam.

[Basah…]

[Itu… karena…]

Aku tidak bisa berkata-kata, perbuatannya di bawah sana membuatku tak bisa berpikir.

Melihat reaksiku, dia menggumamkan sesuatu yang provokatif.

[Kau benar-benar anut sekali. Aku ingin memilikimu]

[Nnn… Tolong…]

Dia kemudian menanggapi permohonanku yang tidak bisa ditolak.

[Bagaimana bisa kau seimut ini? Aku tidak percaya orang sepertimu itu ada… Baiklah, aku akan menyentuhmu]

Sambil mengatakannya, jarinya masuk ‘ke tempat itu’.

Tubuhku menegang.

[Ketat…]

Dia terus menggerakkan jarinya, otakku sudah tak bisa memikirkan apapun lagi selain berfokus padanya.

…Tiba-tiba gerakannya berhenti

[Apa?]

Aku menatapnya dengan tidak senang karena ia berhenti.

Aku mendengar dia bergumaman, [Tidak mungkin… tidak, tentu tidak]

[Apollo?]

Setelah aku memanggilnya, dia menatapku dengan ekspresi heran. Kemudian dia bertanya,

[… Diana. Apakah.. ini.. mungkinkah… ini pertama kalinya… bagimu?]

….Aku ketahuan.

 

***

Chapter selanjutnya masih R-18 yaa

( /)u(\ )

***

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.