MPM 12 – Idealnya

Featured Image

Chapter 12 – Idealnya

 

[POV Freed]

Ruangan ini adalah ruangan yang telah disiapkan oleh penyelenggara acara untuk tujuan ‘itu’.

Dilihat dari karakteristik ruangannya, kemungkinan penyelenggara acara kali ini adalah Marquis Littenheim.

Mempertimbangkan kedudukan dan selera sosialnya, aku pikir dia akan menyiapkan ruangan yang tidak biasa, aku merasa lega karena itu lebih normal daripada yang kukira.

Sejujurnya, aku ingin ‘memeluknya’ di Istana pribadiku.

Tapi aku tidak bisa memberitahunya.

Aku tidak boleh sampai melewatkan kesempatan ini, aku tidak boleh menundanya.

Tanpa merasa takut, dia melihat ke sekeliling ruangan dengan penuh minat.

Aku segera menutup pintu.

Aku menghela nafas, akhirnya… aku bisa mengurungnya di sini.

Dengan ini, dia tidak akan bisa lari dariku.

Sebentar lagi aku akan ‘memeluknya’… Memikirkannya saja membuatku gemetar karena gembira.

Perlahan aku mendekatinya.

Aku ingin menyentuhnya… aku mengulurkan tanganku, bermaksud untuk memeluknya….

Mungkin dia akan berpikir bahwa aku terlalu buru-buru… tapi… aku tidak ingin dia melarikan diri.

Kekhawatiranku menghilang, dia menerima pelukanku.

Aku menyukai sikapnya yang seperti ini.

Aku terpesona oleh sensasi lembutnya. Aku menyukai aroma tubuhnya.

Jadi seperti ini rasanya, memeluk orang yang kau cintai.

Hatiku dipenuhi dengan sesuatu yang hangat. Dan di saat yang sama, tubuhku terus memanas.

[Akhirnya aku bisa menyentuhmu…]

Aku mengatakan keinginanku yang sebenarnya, dan dia membalasku dengan suara heran.

[Kau bilang ‘Akhirnya’? Aku tidak ingat kalau kau menungguku.]

Dia berbicara dengan terus terang dan santai, kurasa inilah dirinya yang sebenarnya.

[Apa ini tujuanmu?]

[Hmm… Kurasa.]

Dia membuang sikapnya yang seperti seorang wanita bangsawan yang anggun, dia menjawab dan menatapku dengan sikap yang provokatif. Dengan matanya yang seolah berkata [Apa yang kau tunggu? Cepatlah lakukan!] membuatku tak tahan.

Semua yang dia lakukan sangatlah menggoda.

Aku… yang sudah terjatuh di kubangan cintanya, tak bisa menolak permintaannya.

[Baiklah. Dan tampaknya sekarang kau menunjukkan sikap aslimu. Itu membuatku senang.]

[…kau aneh. Aku lebih nyaman bersikap dan berbicara seperti ini. Bukankah kau sendiri mengabah gaya bicaramu.]

Aku telah mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan, tapi tak kusangka dia langsung membalas perkataanku.

Hanya dengan seperti ini saja, hatiku sangat bahagia.

[Begitukah? Aku tak bisa mengelaknya, aku memang menginginkan ‘itu’. Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sangat menginginkanmu. Karena itu aku mengatakan ‘Akhirnya’, itu tidak salah bukan?]

Saya mendekatkan bibirku ke telinganya.

Dia menggigil sebagai respon, aku merasa senang dengan itu, aku memeluknya lebih erat.

Ya…. Ini mengejutkan…. Untuk pertama kalinya aku berbicara informal dengan orang yang tidak kukenal.

Bahkan… Dalam waktu yang sangat singkat… Aku jatuh cinta.

Aku semakin menginginkannya.

Seperti binatang buas yang kelaparan, aku menginginkannya, seolah-olah dia adalah mangsaku.

[…Bohong. Menginginkanku saat aku masih memakai topeng? Aku tidak akan tertipu dengan kebohongan seperti itu..]

[Aku tidak bohong. Bahkan sekarang, aku sangat menginginkanmu sampai tubuhku rasanya memanas. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini… Kau sudah mengikutiku sampai sini. Itu berarti kau bukan anak kecil lagi. Kau tidak akan mengatakan sesuatu seperti, ‘aku ingin pergi’, bukan?]

Tapi aku tidak punya niat untuk membiarkannya melarikan diri.

Aku meraih wajah cantiknya.

Dengan susah payah, aku menahan keinginan untuk menciumnya, aku mengintip mata ungu-nya, sekali lagi mengonfirmasi keinginannya.

Aku tidak ingin mendengar kata lain, selain [Ya].

Kepalaku terus menerus memikirkan hal itu. Dan sekali lagi, dia memberiku respons yang tidak terduga.

[… Iya. Aku juga menginginkanmu..]

Seketika tubuhku membeku.

Untuk memproses arti dari kata-katanya, aku membutuhkan beberapa detik.

Saat akhirnya aku mengerti, tubuhku tidak bisa menahan hasrat ini lagi.

Aku memang mengira dia menghiraukan etika, tapi tetap tidak terpikir olehku, dia menggodaku secara langsung.

Kalau ada lelaki lain yang melihatnya, mereka mungkin akan berpikir kalau dia adalah wanita yang bebas.

Tapi bagiku, dia hanya memprovokasiku, itu adalah hal yang patut dibanggakan.

Dengan malu-malu dia menatap mataku.

Bayanganku terpantul di matanya. Tak tahan… tanpa sadar aku mengalihkan pandanganku ke bawah.

[Um…?]

[Hahaha…]

Karena rasa gembira yang luar biasa, aku tertawa lepas.

Melihatku yang seperti ini, dia menjadi bingung.

Dengan tergesa-gesa aku mengangkat wajahnya, menjelaskannya dengan cara yang paling lembut untuk meyakinkannya.

[Ah.. Maafkan aku. Aku hanya merasa.. senang. Sangat senang.]

[Begitukah?… Ah!]

***

WARNING!!!

R-18

Bagi yang merasa tidak nyaman dengan bacaan R-18, silakan skip

***

Aku sudah tidak sabar untuk merasakannya… aku menciumnya dengan keras.

Sensasi bibirnya yang lembut membuatku lupa akan segalanya.

Aku ingin yang lebih… ingin lebih dalam lagi, tanpa sadar aku menggunakan lidah.. dan seolah-olah mendorongnya, aku menikmati bibirnya berkali-kali.

Seolah merespons, dia membuka bibirnya, segera aku pun menjarah bibirnya.

[Nn… Ahh…]

Aku yang terus menikmati bibirnya, mulai bertanya-tanya.. Bagaimana bisa ini begitu manis?

Kami saling menjalin satu sama lain…

Aku terkejut!!

Tanpa bisa memahami apa yang terjadi, aku berhenti bergerak.

Selama ini, tidak pernah ada wanita yang membalas ciumanku.

Itu karena.. ada ‘etika’ yang mengatur.

Perempuan hanya menerima. Itulah peraturan yang ditetapkan.

Meski begitu, sama seperti saat di di aula tadi, dia menghiraukan ‘etika’. Wanita seperti ini, dia sangat ‘panas’.

…Benar-benar tak tertahankan. Aku belum pernah melihat wanita seperti dia.

Aku selalu berpikir… menghabiskan malam bersama, itu adalah kegiatan yang tidak memiliki sensasi.

Kalau saja ada seorang wanita yang menanggapi tindakanku.

Jika ada wanita seperti itu, kita bisa menikmati diri kita bersama, dan mungkin saja dari sana cinta bisa tumbuh, dan mungkin saja orang seperti itu memang ada.

Tapi… itu adalah hal yang sia-sia. Mana mungkin ada wanita seperti itu.

Itulah yang kupikirkan….

Tapi… Kini… Wanita yang kuinginkan ada di sini

…Ini… Aku benar-benar tidak boleh membiarkannya pergi.

Aku harus menjadikannya milikku… apa pun yang terjadi!!!

Dengan tekad yang kuat, aku tersenyum ke arahnya, dia terlihat kebingungan.

Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi dia terlihat takut, kemudian dia mendorongku menjauh.

Namun, pada akhirnya itu adalah kekuatan dari seorang wanita. Hal seperti itu tidak akan memberi pengaruh kepadaku.

Dia melakukan perlawanan, ingin melepaskan diri dari pelukanku, tapi aku tidak membiarkannya, aku terus memeluknya.

Aku menghiraukannya, dan kembali menciumnya.

[Nn… Nnn…]

Sekali lagi kami saling terjalin, aku sangat menikmatinya.

Tampaknya… Dia sudah putus asa dengan tindakanku, dia pun membiarkanku begitu saja.

Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu…… Lebih, aku ingin lebih.

Tidak peduli seberapa lama atau sebanyak apa aku menciumnya, itu tidak cukup.

Aku merasa enggan berpisah dengannya, tepat saat jalinan kami terlepas, dia menempelkan tubuhnya kepadaku… Tampaknya dia sudah tak sanggup berdiri.

Aku merasa senang karena dia seperti itu, dengan senang hati aku menggendongnya.

Aku ingin lebih merasakannya, merasakan bagian terdalamnya.

Dengan tidak sabar, aku membawanya ke ranjang.

Aku menurunkannya sepelan mungkin, dan membungkuk padanya.

Aku ingin menciumnya lagi, aku mendekati wajahnya…… ​​dan merasa bahwa topeng itu menghalangi.

Aku ingin sekali melepaskan topeng bodoh ini.

Aku tahu kalau itu melanggar aturan paling penting dari Pesta Topeng.

Meski begitu, aku ingin melepasnya… aku ingin tahu siapa dia… jadi aku berusaha mengambil topengnya dan berkata….

[Hei… aku ingin terus menciummu, tapi topeng ini terus menghalangi. Tidak masalah kalau aku melepasnya, kan?]

[Eh..!?]

Aku sangat sangat ingin melihat wajahnya… tapi melihat reaksinya…

Tampaknya, dia tidak menyukai ide itu

[Menurutmu kenapa pesta ini disebut pesta topeng kalau kita bisa tahu wajah orang-orang yang menghadirinya!]

Kalau aku tahu wajahnya, maka aku akan tahu identitas aslinya.

Ada bagian dari diriku yang berpikir seperti itu, tapi dia yang sejak awal menghiraukan etika, kini dia tidak mau melanggar aturan Pesta Topeng… Mungkin dia punya alasan tersendiri untuk tidak mengungkapkan wajahnya.

Tidak ada gunanya kalau aku terus memaksanya untuk melepaskan topeng, situasi terburuknya dia bisa saja pergi karena kesal.

Sebaiknya aku membiarkannya saja.

Sebagai gantinya….

[Sayang sekali. Kalau begitu, apa saling bertukar nama tidak masalah? Aku…]

[Tidak! Aku tidak mau!!]

Aku ingin berkata kalau namaku adalah Freed…

Aku ingin tahu namanya, tapi alasan terbesarnya… aku ingin dia memanggil namaku….

Aku ingin dia memanggil namaku dengan suaranya yang manis dan imut itu.

Aku ingin sekali… tapi dia juga menolak hal itu…

Tampaknya dia memiliki keadaan khusus.

Baiklah kalau begitu…. aku harus membiarkannya.. hal itu bisa diurus nanti.

Dia berkata kalau aku bisa memanggilnya sesukaku, jadi aku memutuskan untuk memanggilnya [Diana], Dewi Malam negara ini, karena warna mata mereka sama.

[Lakukan saja apa yang kau mau. Kalau begitu aku akan memanggilmu ‘Apollo’]

[Kekasih Diana, Dewa Matahari Apollo. Itu bagus, aku sangat menyukainya.]

Mungkin dia tidak menyadarinya, tapi panggilan itu seakan menyiratkan bahwa kita adalah pasangan, suasana hatiku semakin meningkat.

[Diana, sayangku. Akan ku berikan cintaku padamu.]

Aku ingin segera tahu nama aslinya.

Bukan dengan nama alias, tapi memanggilnya dengan nama asli kemudian aku ingin menyatakan perasaanku padanya.

Dengan harapan yang menyala-nyala, aku menatapnya, membisikkan kata-kata cinta sebanyak mungkin.

 

***

Chapter selanjutnya sampai beberapa chapter ke depan R-18 lagi yaa

( /)u(\ )

Mohon maaf, kalau ada yang merasa tidak nyaman dengan scene R-18 ini

<(_ _)>

***

 

Table Of Content

MPM 11 - Cinta Pertamanya
MPM 13 - Keterkejutannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.