MPM 11 – Cinta Pertamanya

Featured Image

Chapter 11 – Cinta Pertamanya

 

-POV Freed-

Dalam sekejap mata, hari telah berlalu, dan malam Pesta Topeng terakhirku telah tiba.

Setelah tugasku sebagai Putra Mahkota telah selesai, aku langsung mewarnai rambutku, dan menyelinap pergi dari Istana.

Padahal aku belum sampai ke tempat pesta, tapi aku sudah tidak bisa menahan keinginan untuk kembali ke Istanaku.

Sebelum memasuki tempat pesta, sambil memastikan tidak ada yang melihat, aku segera memakai topeng.

Tiket untuk masuk ke pesta ini adalah memakai topeng dengan motif kupu-kupu.

Topengku yang berwarna emas bersinar dalam cahaya dan membawa kenangan warna rambut asliku, itu membuat suasana hatiku melankolis.

Aku pun segera memasuki Aula Dansa

Aku datang sedikit terlambat, pestanya sudah dimulai, di berbagai sudut aku melihat banyak pria dan wanita yang topeng mengobrol dengan gembira di sana-sini.

Hanya dengan melihatnya saja… Itu membuatku merasa mual.

Saat aku tiba, sudah ada beberapa wanita yang memberiku pandangan mesum.

Ingin melakukan kontak mata…. Ingin dipanggil… Itulah pandangan yang mereka berikan kepadaku.

Dulu, aku akan langsung memilih wanita yang belum pernah aku tiduri, lalu ‘mengundangnya’ untuk menghabiskan malam bersamaku. Tapi kini… Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.

Aku terus mengabaikan tatapan-tatapan yang kurasakan dan mencari penyelenggara acara. Kalau tak salah, penyelenggara acara akan memakai topeng berwarna hitam.

Aku hanya akan menyapa penyelenggara acara, lalu segera pulang… tepat saat aku berniat segera melakukannya.

Tiba-tiba saja… Aku melihat seorang gadis yang menarik perhatianku.

[!]

―――Aku merasa seperti nafasku terhenti.

Meskipun dia memakai topeng, dia tetap terlihat cantik. Sosoknya yang lembut dan posturnya yang indah… Membuat setiap gerakannya terlihat sangat indah. Atmosfernya yang bermartabat membuatnya terlihat berbeda dari wanita lain.

Aku merasa, kalau orang sepertinya tidak pantas berada di sini, terlebih dia berada sendirian, memakai topeng berwarna perak.

Tentu saja… Di sekitarnya tak ada orang.

Itu karena dia berada di tempat makanan.

Orang-orang yang datang ke Pesta Topeng seperti ini kebanyakan adalah orang-orang yang ingin melakukan hubungan satu malam dengan orang asing yang tak dikenal, jadi umumnya mereka tidak akan mendatangi area makanan.

Minuman selalu tersedia di mana saja, dan karena menemukan pasangan lebih penting, maka semua orang akan berkumpul di aula.

Area makanan hanya disiapkan sebagai sebuah formalitas, karena ini adalah sebuah pesta.

Dia… Di tempat ini… Dia menikmati makanan dengan senang tanpa peduli sekitar, ditambah lagi penampilannya cukup mencolok karena kecantikannya.

Aku belum pernah melihat gadis itu.

Mengingat posisiku sebagai Putra Mahkota, itu membuatku selalu mengingat orang-orang yang pernah kutemui.

Bahkan jika mereka menyembunyikan wajah mereka dengan topeng, dari warna mata atau rambut mereka, gaya berpakaian mereka atau bentuk tubuh mereka, atau gerakan dan perilaku mereka, jika aku memperhatikan semua itu, mudah bagiku untuk mengetahui identitas mereka.

Tapi, bagaimana pun aku mengingatnya… aku tetap tidak tahu siapa dia, aku belum pernah bertemu dengannya.

Mana mungkin aku bisa melupakan orang sepertinya, bukan?

Bahkan jika itu adalah satu kali pertemuan, dan hanya sekilas bertemu. Pasti aku tidak akan melupakan wanita yang begitu mengesankan sepertinya.

Aku yakin itu!

Mungkin gaun itu terbuat dari bahan yang lembut, karena setiap kali dia bergerak gaun peraknya akan berkilauan. Terlebih rambutnya yang panjang berwarna cokelat pucat membuatnya sangat menarik perhatian.

Aku menarik napas panjang, aku terpesona olehnya.

Seolah terbangun dari mimpi, tiba-tiba aku sadar akan lingkungan sekitar, dan mengerti bahwa orang-orang di sekitarnya juga tertarik padanya. Itu wajar.

Mereka semua terus meliriknya, mencoba melakukan kontak mata dengannya, tetapi karena dia asyik dengan makanan, dia tidak memperhatikan pria-pria itu.

Gadis itu tiba-tiba berhenti bergerak, kemudian tersenyum senang… Mungkinkah makanan itu terasa sangat enak baginya?

Aku terus mengamatinya….

Imutnya…!

Senyumnya yang polos membuat jantungku berdetak dengan kencang.

Aku tidak bisa melihat wajahnya karena topeng.

Tapi aku merasa kalau senyumnya itu benar-benar tulus, senyum yang berasal dari lubuk hatinya.

Aku benar-benar terpesona olehnya.

Tapi sepertinya, bukan aku satu-satunya orang yang terpesona dengan senyumnya, aku bisa merasakan kehadiran pria yang melihatnya, mencoba mendekat ke arahnya.

Pria selain aku mendekatinya!

Hanya dengan memikirkannya saja, amarahku memuncak.

――――Tidak akan kubiarkan!

Aku segera berjalan ke arahnya.

Mungkin karena tatapanku yang dingin, para pria yang tadinya ingin mendekati gadis itu menghentikan gerakan mereka.

Tanpa membiarkan etika, aku langsung mendekatinya.

Dia sama sekali tidak memperhatikanku.

Dia terus menikmati makanan, tapi seolah menyadari sesuatu, tiba-tiba dia berhenti makan.

Dengan panik, dia bergegas menuju aula.

Kami berpapasan sesaat.

Kami tidak melakukan kontak mata… Aku kehilangan kesabaran, dia bahkan tidak melihatku.

Aku ingin dia hanya melihatku.

Perasaan itu memuncak, meski tahu itu melanggar aturan, aku tetap memanggilnya.

[Nona.]

Dia bereaksi terhadap suaraku, dia menghentikan kakinya dan berbalik.

Matanya berwarna ungu, terlihat sangat indah, untuk sesaat aku membeku.

Aku merasa jantungku terus berdebar… berdetak dengan kencang tanpa henti.

[Apakah Anda memiliki urusan dengan saya?]

Suaranya yang lembut dan anggun menyentuh telingaku. Sangat menawan.

Aku merasa sedikit bingung, padahal aku sudah melanggar etika… Tapi dia tidak merasa kesal atau pun jijik dengan tindakanku yang tanpa sopan santun ini.

Merasa lega, aku segera mendekat, bertekuk lutut di hadapannya.

Apa pun yang terjadi, aku tak akan membiarkannya pergi. Itulah satu-satunya pikiranku saat ini.

Dengan sengaja menciptakan senyum yang menawan, aku berbicara dengan sopan mungkin.

[Ya, tentu saja. Selamat malam, Nona. Saya yakin ini adalah pertama kalinya saya melihat anda, Apakah anda sering datang ke pesta ini?]

[Selamat malam. Senang berkenalan dengan anda. Seperti yang anda katakan, Ini adalah pertama kalinya saya menghadiri  Pesta Topeng. Anda bisa menyadari bahwa saya baru pertama kali datang ke sini, ada pasti mengetahui banyak hal. Apakah saya sudah melakukan sesuatu yang tidak sopan?]

Dengan percaya diri, dia bertanya kepadaku….

Di lihat dari kepercayaan dirinya, sikapnya yang bermartabat dan anggun. Aku menyimpulkan bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan dengan gelar yang cukup tinggi.

Tidak peduli bagaimana aku memandangnya, dia terlihat tidak seperti tipe orang yang datang ke tempat seperti ini.

Sekali lagi, dengan putus asa aku terus mengingat-ingat, tapi aku tetap tidak mengingat ada orang sepertinya.

[Tidak. Sikap anda sempurna. Saya hanya merasa terpesona dengan kecantikan anda, karena itulah saya menyapa anda.]

Aku terus berusaha menarik mintanya kepadaku dengan memujinya.

Aku mengambil tangannya, mencium punggung tangan kanannya itu. Menyentuh kulitnya yang halus, tubuhku langsung merasa panas.

Ini adalah pertama kalinya bagiku.

[… Anda terampil. Padahal saya memakai topeng, tapi anda bisa tahu bahwa saya ini cantik atau jelek.]

[Keanggunan yang anda pancarkan dan perilaku anda mencerminkan bahwa anda adalah perempuan yang sangat cantik.]

Mungkin jika aku tidak melihatnya, maka pria lain akan membawanya pergi.

Memikirkannya membuatku merinding.

Aku tidak ingin orang lain mengambilnya. Dan yang terpenting, aku ingin mengenalnya lebih jauh.

Dengan didasari perasaan itu, aku terus berbicara dengannya.

Dengan seorang gadis yang menarik perhatianku, aku tidak menyangka, aku bisa terus berbasa-basi dengannya.

Tapi… Tidak kusangka dia melakukan tindakan yang tidak terduga.

[…bolehkah saya bertanya, mengapa anda memanggil saya?]

Di tengah pembicaraan, dia langsung mencegat pembicaraanku.

Untuk sesaat, aku pikir dia ingin menolakku, tapi sepertinya tidak begitu.

Dia menunjukkan ekspresi yang mengatakan bahwa basa-basi itu merepotkan, aku dipenuhi dengan rasa heran.

Tentu saja… orang yang mengabaikan etika dan berbicara langsung dengannya adalah aku, tapi aku tidak pernah berpikir dia akan melakukan hal yang sama.

Dia berbeda dari semua wanita yang pernah kulihat.

Aku sangat terkejut….

[Haha… kau orang yang tergesa-gesa. Padahal aku ingin mengenalmu lebih dalam terlebih dahulu, aku tidak punya tujuan lain selain itu]

[Benarkah?]

Tanpa sadar, aku menjadi berbicara secara informal dengannya.

Aku ragu… Mungkin saja dia akan merasa tidak nyaman dengan itu, tapi sebaliknya, dia malah terlihat lega.

Dia terlihat lebih nyaman saat aku berbicara secara informal.

Aku belum pernah melihat seorang gadis yang santai sepertinya.

[Betapa kasarnya… Apakah kau meragukanku? Aku benar-benar hanya ingin mengenalmu… Sebenarnya, sebelum memasuki aula pesta aku sudah mengatur sebuah ruangan untuk beristirahat. Kalau kau mau, kita bisa berbincang-bincang di sana saja. Bagaimana?]

Apa tidak apa-apa aku berkata seperti itu… Aku khawatir, dia menjadi tidak suka, tapi rasa khawatirku itu hilang setelah dia mengangguk. Aku langsung merasa lega.

Saat aku memikirkan itu, kata-kata yang tidak bisa dipercaya keluar dari mulutnya.

[…Baiklah. Aku juga ingin mengenalmu lebih dekat lagi.]

Dia mengundangku!!!

Aku sangat sangat terkejut!!!

Seketika… Aku jantungku langsung berdetak dengan sangat kencang, merasa sangat senang.

—-Luar biasa. Aku tidak menyangka ada seorang wanita yang mengabaikan etika sampai seperti ini.

Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan seorang gadis yang benar-benar mengabaikan etika, seolah-olah etika itu tidak diperlukan, untuk beberapa alasan aku tertawa.

Padahal aku baru saja bertemu dengannya, tapi dia membuatku terpesona tanpa henti.

――――Aku tidak punya pilihan lain, selain mengakui bahwa….

Aku jatuh cinta padanya.

Dia membuatku langsung bertekuk lutut.

“Cinta adalah sesuatu yang membuatmu terjatuh ” itu adalah hal yang benar.

Meski selama ini aku selalu menolak cinta, tapi dia bisa membuatku terjatuh ke dalam lubang cinta.

Aku bahkan tidak berpikir untuk keluar dari lubang cinta itu.

Dia harus ikut terjatuh bersamaku.

Tidak, aku akan membuatnya jatuh.

—-Aku menginginkannya… Aku menginginkannya… Bagaimanapun caranya. Dia adalah satu-satunya yang kuinginkan.

…Jadi inilah cinta. Perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, tidak seperti diriku yang biasanya, saat ini aku merasa sangat bahagia.

Berlawanan dengan tubuhku yang terasa panas, pikiranku tetap dingin.

Aku tidak akan melepaskannya begitu saja malam ini.

Aku akan membuatnya menjadi milikku, aku mulai berpikir ‘apa yang harus kulakukan agar aku bisa menjadikannya milikku?’.

Aku bingung… Aku tidak tahu nama lengkap dan statusnya.

Aku tidak boleh sampai membiarkannya lepas.

Tiba-tiba, aku melihat kalau gadis itu menggigil. Aku tersadar, kembali aku mengajaknya berbicara.

Aku berusaha menyembunyikan keinginanku yang memuncak.

[Apa ada yang salah?]

[Ti-Tidak, bukan apa-apa.]

Aku segera melingkarkan lenganku di pinggangnya dan dengan tenang aku membimbingnya ke sebuah ruangan.

Aku menyadari tatapan kecewa dari para perempuan dan tatapan iri dari laki-laki yang diarahkan ke kami.

Sayang sekali! Kalian… Para laki-laki… Selamanya kalian tidak akan pernah menyentuh gadis ini!

Saat aku menyentuhnya, dia terasa lembut, dan tubuhnya memancarkan aroma bunga yang manis…

Hanya dengan mencium aromanya.. tubuhku langsung berdenyut, memanas…

Ini sangat luar biasa!

Dia mau ikut denganku ke ruangan yang terpisah… Itu berarti dia memperbolehkanku untuk ‘memeluknya’!

Menghabiskan malam dengannya…. Bahkan, jika itu adalah hubungan yang monoton, aku tidak peduli… Aku menginginkannya.

Aku bertanya-tanya apa yang terjadi denganku saat ini, aku tertawa pahit.

Setelah aku jatuh cinta, pemikiranku langsung berubah.

Adanya harapan seperti ini, membuat hatiku bergetar.

Yang terpenting… Saat ini, aku harus mengetahui identitasnya….

Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam dengannya.

 

Table Of Content

MPM 10 - Penyesalannya
MPM 12 - Idealnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.