MPM 10 – Penyesalannya

Featured Image

Chapter 10 – Penyesalannya

 

POV Freed

[Pertunangan?]

Ternyata aku dipanggil untuk membicarakan pertunangan.

Sampai sekarang pertunanganku belum diputuskan, Ayahanda pasti khawatir tentang putranya yang keadaannya sedang tidak stabil ini.

Aku bisa memahami perasaan Ayahanda.

Keluarga Kerajaan selain aku telah ditunangkan satu demi satu, banyak juga dari mereka yang telah menikah, memang cukup mengejutkan, bagiku yang telah berumur 21 tahun ini belum juga memiliki pasangan.

Akhirnya, waktuku telah tiba.

[Benar. Tidak pantas bagi Putra Mahkota untuk tidak kunjung menikah. Sudah waktunya bagimu untuk bertunangan.]

Di samping Ayahanda, berdiri Perdana Menteri, untuk beberapa alasan, suasana hatinya terlihat sangat baik.

Aku langsung mengerti.

…Mungkin tunanganku adalah putrinya.

Selama bertahun-tahun dia memohon untuk menjadikan putrinya sebagai pasanganku, tampaknya kini Ayahanda mengabulkan keinginannya.

[…Apakah itu Putri Perdana Menteri?]

Saat aku bertanya untuk mengonfirmasi, Ayahanda mengangguk.

Aku sudah tahu, cepat atau lambat pasti aku akan bertunangan.

Menikah adalah kewajiban bagi Keluarga Kerajaan, dan jika itu adalah keputusan Ayahanda maka aku tidak punya ruang untuk keberatan.

[Putra ini mengerti.]

[…Freed. Kalau ada seseorang yang kau sukai…]

[Ayahanda tidak perlu mempertimbangkan apapun lagi. Ini adalah kewajiban putra ini sebagai seorang Putra Mahkota, dan ini juga demi kepentingan negara ini. Jika Ayahanda telah memutuskan, maka dengan senang hati putra ini akan menerimanya.]

Aku  menerima pertunangan itu .

Aku muak dengan wanita. Mereka semua sama saja. Karena itu, lebih baik aku langsung menerima saja pertunangan yang ditawarkan oleh Ayahanda.

[Begitu ya …… ​​Upacaranya akan diadakan tahun depan. Sampai saat itu, kalau perasaanmu berubah, tidak perlu ragu untuk mengatakannya padaku.]

[Putra ini berterima kasih atas perhatian Anda yang murah hati. Tetapi kemungkinan hal itu tidak akan terjadi.]

Aku membungkuk sopan, lalu meminta undur diri.

Saat kembali ke ruang pribadiku, aku berpikir….

Mungkin saja ini adalah hukuman.

Akan lebih baik bagiku untuk menerima semua ini, meski aku tidak menginginkannya, aku harus terus bersikap seperti sampah.

Aku tidak berpikir semuanya akan menjadi seperti ini dan seperti itu, tapi jika ini memang merupakan sebuah hukuman, maka aku akan menerima pernikahan yang bahkan tidak kuinginkan ini.

Jika Putri Perdana Menteri ditetapkan sebagai Putri Mahkota, maka secara alami dia diharuskan untuk mengandung anak.

Tentunya, aku harus bermalam dengannya sampai dia hamil. Ini adalah masalahnya, suasana hatiku tidak baik untuk itu. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan darah kerajaan terhenti.

Kalau aku tidak mau menghamili Putri Mahkota, maka kasus terburuknya akan membawa wanita ke haremku, lalu bermalam dengan wanita secara terjadwal sambil terus menambah selir sampai salah satu dari mereka hamil, situasi seperti itu mungkin terjadi.

…Istana dalam.

Hanya dengan membayangkannya, suasana hatiku memburuk dan aku ingin muntah.

Padahal aku baru saja memutuskan untuk berhenti menghabiskan malam dengan wanita di Pesta Malam, tapi aku langsung harus memikirkan tentang penikahan dan pewaris.

Aku benar-benar muak, hanya dengan memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan nanti. Aku hanya bisa menghela nafas, aku harus menanggung semua ini.

***

[Freed, selamat atas pertunanganmu.]

Saat aku kembali ke ruang kerjaku, hal yang pertama kudengar adalah ucapan selamat dari Glen.

Dia mungkin tahu perasaanku. Dengan wajah yang rumit, dia mengucapkan selamat.

[…Tidak ada yang perlu dibanggakan.]

Aku menjawabnya sambil duduk di kursiku. Aku tidak menyangka, aku bisa mengatakan itu tanpa merasakan apapun.

Aku merasa heran pada diriku sendiri yang membalas kata-kata Glen.

Setelah menenangkan diri, aku berbicara dengan Glen.

[…Maafkan aku. Aku hanya memenuhi kewajiban sebagai Keluarga Kerajaan. Aku juga merasa kalau seharusnya aku sudah bertunangan.]

[Freed…]

[Tolong jangan membuat wajah seperti itu. Seperti yang kau tahu, ini adalah kewajibanku.]

Setelah aku mengatakannya, Glen menunduk, lalu dia hanya mengangguk dan berkata [Ya.]

Saat ini, aku mungkin memiliki ekspresi yang sangat menyedihkan.

[…Pasanganmu adalah Putri Perdana Menteri?]

[Ahh… Itu keputusannya. Dia (Perdana Menteri) pasti sangat senang, akhirnya keinginannya terwujud. Dia terus tersenyum dari awal hingga akhir.]

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Perdana Menteri dengan wajah penuh kegembiraan.

[Kalau itu Putri Perdana Menteri, berarti pasanganmu adalah Putri Phantom, lalu…]

[Hm?]

Aku tertarik dengan apa yang Glen katakan barusan.

[Apa maksudmu?]

Tanpa sadar aku bertanya padanya.

[Putri Phantom. Dia tunanganmu. Ada desas-desus bahwa dia sakit-sakitan, jadi dia tidak menghadiri pesta atau perjamuan apapun. Perdana Menteri juga tidak ingin putrinya dekat dengan lelaki lain, kurasa. Karena penampilannya jarang terlihat, jadi dia dijuluki sebagai Putri Phantom.]

Setelah Glen menjelaskannya, aku jadi teringat….

Aku sendiri tidak pernah bertemu dengan Putri Perdana Menteri, bahkan aku tidak tahu seperti apa penampilannya.

Hanya ada satu alasan untuk itu.

[……Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah bertemu dengannya.]

Sebagai seorang putri dari Keluarga Duke, dia memang pantas menjadi pasanganku, tapi sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya.

Sebenarnya, Perdana Menteri berkali-kali telah mengatur pertemuan kami. Tapi kemudian pertemuan itu dibatalkan begitu saja.

Aku tidak ingin berurusan dengan wanita yang menyukai kekuasaan, jadi aku merasa beruntung. Tapi di sisi lain, aku juga tidak peduli.

[Putri Perdana Menteri… Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, Perdana Menteri sangat ingin menjadikan putrinya sebagai pasanganmu. Tapi, kalian tidak pernah bertemu, bukankah itu sangat aneh.]

[…Kau benar, julukan Putri Phantom benar-benar cocok untuknya.]

Kurasa aku harus bersyukur karena wanita yang menjadi tunanganku bukanlah wanita yang akan selalu membuntutiku dan mengincar kasih sayangku. Mungkin, ini adalah keuntungan dari pertunanganku dengannya.

[…Glen… Mungkinkah… Semuanya akan berjalan dengan baik?]

[Mungkin…. Tapi… Siapa yang tahu, bisa saja dia akan sama saja dengan wanita lain.]

Meskipun begitu, aku tetap tidak punya pilihan untuk menolak.

Kalau pun aku menolak pertunangan ini, tak lama kemudian juga pasti Ayahanda akan mengenalkan tunangan baru untukku. Aku tidak ingin repot-repot.

[…Apa kau ingin melihat lukisannya?]

Glen menawarkan diri untuk mencari lukisannya, tapi aku menggelengkan kepala.

[Tidak, tidak apa-apa. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengannya, walau aku tidak mau.]

[Freed…]

Teman dekatku memberiku tatapan sedih, aku tersenyum kecut.

[Aku sudah menerimanya. Selain itu, kelihatannya wanita itu juga tidak dipaksa bertunangan denganku. Karena Ayahanda berkata, kalau aku memiliki seseorang yang kusukai maka aku bisa membatalkan pertunangan ini….]

[Begi… Begitukah?]

Mata Glen melebar karena terkejut. Dia pasti tidak berpikir, aku akan mengatakan hal seperti itu.

Dengan ringan aku mengangguk sebagai penegasan.

[Aku berterima kasih kepada Ayahanda yang memberiku kesempatan untuk itu. Tapi, sayangnya, tak ada seorang pun wanita yang ada di hati atau pun pikiranku.]

[Freed…. Masih ada waktu… Kau mungkin akan bertemu dengan seorang wanita yang kau sukai.]

Dengan penuh semangat, Glen terus menghiburku.

…. Menemukan seorang wanita yang kusukai.

Meski kau berkata seperti itu… aku tidak memiliki mood untuk melakukannya.

Semuanya sudah terlambat.

Selain itu, kurasa aku tidak akan pernah jatuh cinta.

Aku merasa kasihan pada calon istriku, karena kemungkinan… aku tak akan pernah mencintainya.

Tapi… Aku berjanji… Aku akan memperlakukannya dengan sangat baik. Meski tanpa cinta, kami harus hidup bersama selama puluhan tahun yang tak terhitung jumlahnya.

[Kau tidak perlu khawatir… Ini adalah waktu yang tepat, aku juga sudah mulai lelah pergi ke Pesta Topeng. Pesta kali ini, akan menjadi pesta terakhirku… Mungkin ini sudah takdir.]

Mendengar itu, Glen menunjukkan ekspresi terkejut.

Glen pasti juga tersadar, kalau aku sudah lelah.

Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

[Maafkan aku. Seharusnya, aku tidak mengusulkan hal bodoh seperti itu ……]

[Gagasanmu bagus, Glen. Ini adalah kesalahanku sendiri. Kau tidak perlu khawatir.]

Lagi pula, akulah yang meminta saran darinya.

Dan aku sendiri yang memutuskan untuk mempraktekkan sarannya.

[Tapi…]

[Glen… Sudah cukup kita membicarakan ini. Seperti apapun kita membahasnya, tidak akan ada manfaatnya.]

Sepertinya dia masih ingin berdebat, jadi aku menyatakan ‘berhenti’ dan berkonsentrasi pada dokumen di mejaku.

Meski begitu, suara-suara di dalam kepalaku terus terngiang-ngiang.

――――Ya benar, aku adalah『Putra Mahkota yang Sempurna』.

Itu berarti… aku tidak boleh gagal, bukan?

Kurasa itu adalah kesimpulan yang tepat bagiku, tapi ternyata…

Itu adalah kesimpulan yang bodoh.

 

Table Of Content

MPM 9 - Keadaannya
MPM 11 - Cinta Pertamanya

Leave a Reply

Your email address will not be published.