LAM 9. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita Bag. Ketiga

Featured Image

Sekali lagi aku berdiri, dan sekali lagi berjalan dengan sombong memasuki kamar Han Lei.

Tujuanku sangat sederhana – menggeledah dan mengeluarkan majalah dan CD jorok apapun, sebab, aku tak yakin bahwa di dalam kamar pria dewasa tak mungkin tidak ada satu pun benda-benda semacam ini.

Kamar Han Lei diatur dengan bersih dan rapi, membandingkannya dengan kamarku, mau tak mau aku harus merasa malu.

Dengan hati-hati, aku pun mulai mencari-cari benda-benda itu di kamarnya, di rak buku, di dalam laci, di setiap pojokan, di tempat tidur, bahkan aku juga memeriksa kolong tempat tidurnya dengan teliti. Namun, pada akhirnya aku tak bisa mempercayai hasil yang kudapat.

Merasa kalah, aku pun terjatuh ke lantai, dengan wajah dipenuhi ekspresi malu, aku yang seorang wanita ini saja setidaknya menyimpan beberapa manga jorok (seperti karya-karya sensei Mayu Shinjo) di kamarku, novel hardcore (novel berisi adegan-adegan erotis disertai kebrutalan), dan beberapa CD anime tentang BG dan BL. Bahkan di dalam komputerku, ada beberapa koleksi AV berkualitas tinggi. Tapi, Han Lei, sebagai seorang pria dewasa, ternyata dia sama sekali tak menyimpan benda-benda seperti itu di dalam kamarnya. Oh, Tuhan! Dia bukan seorang GAY sungguhan, kan?

(sensei: istilah dalam bahasa jepang yang digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang memiliki keahlian di bidang pekerjaan tertentu, seperti penulis,mangaka, dsb.)

(BG: Boy and Girl; BL: Boys Love; AV: Adult Video/Video P*rno )

(Gay: pria penyuka sesama jenis)

Meskipun aku sempat menduga bahwa dia mungkin menyembunyikan AV di komputernya, namun, saat aku bergegas untuk membantunya mematikan komputer beberapa saat lalu, aku mencuri kesempatan itu untuk memeriksa komputernya, dan tetap tak berhasil menemukan secuil pun video dan file jorok.

Tepat ketika aku baru saja duduk bersila di atas lantai sambil gigih memikirkan cara untuk mendisiplinkannya, telepon di ruang tamu tiba-tiba berdering, mengejutkan jantung kecilku dan membuat debarannya menjadi tak teratur. Aku buru-buru melompat berdiri, menutup pintu, dan melesat menuju ruang tamu.

Memang benar, manusia tak boleh sembarangan melakukan hal-hal yang tidak baik. Lihat kan, bagaimana aku dihantui rasa bersalah seperti barusan.

Terus-menerus menatap telepon yang masih berdering, aku merasa ragu antara harus mengangkatnya atau tidak, sebab, telepon ini sudah pasti bukan untukku. Aku kan baru saja pindah kemari. Terlebih lagi, aku bahkan tak tahu nomor telepon ini.

Namun, karena aku tak tahan dengan suara dering telepon itu, aku pun mengangkatnya.

Setelah mengganti pakaianku dengan busana santai yang nyaman dan feminin, aku pun naik taksi dan bergegas menuju sebuah PUB.

(PUB: Bar minum.)

Panggilan malam sesaat lalu ternyata dari Han Lei. Benar sekali, panggilan itu memang terjadi di malam hari. Ternyata, aku sudah melamun di kamarnya selama berjam-jam. Katanya, karena dia tidak mengetahui nomor ponselku, jadi dia hanya bisa menghubungi telepon rumah. Kalimatnya terdengar seolah mengatakan: Untunglah, kau cukup pintar untuk menjawab telepon itu.

Isi dari percakapan itu sangat sederhana. Karena kakak laki-laki pertama dan kedua mengancam dengan nyawa mereka bahwa bagaimanapun, mereka ingin aku keluar dan bermain dengan mereka. Alhasil, mereka mengundangku untuk minum di PUB.

Dengan demikian, maka tiba lah aku di pintu masuk PUB itu.

Orang yang keluar untuk menjemputku adalah kakak kedua Han Lei – Han Yu, yang memiliki penampilan seperti karakter seorang playboy di dalam games, dia menatapku sambil tersenyum.

Sejujurnya, ketiga bersaudara ini, faktanya sama-sama memiliki penampilan yang bagaikan dewa, namun dengan pembawaan yang sedikit berbeda: kakak laki-laki pertama serius, kakak laki-laki kedua nakal, sementara dia, Han Lei, tenang.

Mengikuti Han Yu memasuki PUB yang berisik itu, aku berani bertaruh bahwa pasti dia yang memilih tempat ini.

Suasana di PUB sangat mirip dengan bar yang aku datangi hari itu, gadis-gadis muda semuanya mengenakan pakaian seksi dan minim, dari waktu ke waktu mengambil inisiatif untuk merayu para pria.

Saat Han Yu dan aku berjalan beriringan menuju tempat di mana Han Lei dan Han Si duduk – lokasi mereka berada tepat di depan dek, kami menemukan bahwa Han Lei dengan suasana hati yang buruk sedang sibuk menolaki banyak gadis yang berdatangan untuk memancing percakapan.

Melihat pemandangan ini, aku tak bisa menahan diri untuk menarik lengan baju Han Yu. Begitu dia membungkuk, aku pun bertanya di samping telinganya, “Apa adikmu benar-benar tidak pernah mendekati wanita?”

Han Yu tidak menjawabku, hanya dengan tegas menganggukkan kepalanya.

Aku tidak menyerah, sekali lagi bertanya, “Apa kau yakin bahwa dia bukan GAY?”

Dia masih tidak menjawabku, kali ini hanya menggelengkan kepalanya dengan ragu-ragu.

Melihat kemunculanku, Han Lei bersikap seolah sedang melihat sang penyelamat hidupnya, berinisiatif untuk berdiri dan menarikku agar duduk.

Oleh karena itu, di bawah tatapan mengejek Han Yu dan Han Si, aku pun duduk dengan malu-malu.

Tepat setelah aku duduk, seorang gadis muda yang tidak tahu cara membaca raut wajah, mengambil inisiatif untuk duduk di sisi lain Han Lei, mengabaikan tatapan risih Han Lei, lalu sejengkal demi sejengkal mendekatinya.

Han Lei menatap gadis itu sambil bergerak mendekatiku, sampai dia benar-benar menyentuhku.

Sebenarnya, aku sangat berterima kasih pada gadis  yang cukup berani ini, setidaknya dia telah memberiku kesempatan untuk menguji seberapa parah kondisi ‘penyakit’ Han Lei.

Hasilnya, Han Lei memelukku, lalu mengatakan dengan tegas kepada gadis itu, “Aku seorang pria yang sudah beristri; karena itu, berhentilah menggangguku!”

Hei, lihat, ini adalah gerakan yang tanpa sadar dilakukan Han Lei saat dirinya berada di bawah tekanan. Kalau bukan begitu, bagaimana mungkin dia berinisiatif untuk kembali memelukku? Atau jangan-jangan, dia hanya tidak menganggapku sebagai wanita?

Sambil menahan malu, aku lantas memaksakan tawaku pada gadis yang ketakutan itu.

Akhirnya, di bawah tawa tertahan Han Yu dan Han Si yang pecah, dengan sedih aku menyadari bahwa suami kesayanganku ini benar-benar tidak bisa berdekatan dengan wanita!

Bagaimana ini? Sepertinya, perjalananku untuk mendisiplinkannya akan menjadi perjalanan yang panjang dan suli t…

 

 

LAM 8. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita Bag. Kedua

Author: Msyumna

Strict~

Leave a Reply

Your email address will not be published.