LAM 4. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita [Bag. Kedua]

Featured Image

Aku menepuk lengan Han Lei dengan penuh semangat dan berhasil mendapatkan perhatiannya. Dengan riang, aku pun menunjuk nama perusahaan di sisi kop surat dan bertanya: “Apa kau juga seorang staf di perusahaan kami?”

Jelas sekali bahwa topik ini mampu menarik perhatiannya. Dia menutup buku yang sedang dibacanya dan mengangguk dengan wajah penuh senyuman.

“Ya ampun! Kebetulan sekali! Aku dari Departemen Desain, bagaimana denganmu? Kau dari departemen mana? ”

“Aku…” dia merenung, “Seharusnya sih aku ada di Departemen Sumber Daya Manusia (HRD).”

“Pantas saja aku belum pernah bertemu denganmu,” aku berhenti sejenak, beralih memasang wajah bodoh untuk mulai membicarakan gosip, “Hey, apa kau pernah bertemu presiden kita? Kudengar, dia adalah seorang pria yang sangat muda.”

Matanya sekilas berkedip, sebelum berkata sambil tersenyum, “En, pernah bertemu kok beberapa kali, orangnya cukup baik.”

“Lalu, apa sekretarisnya benar-benar seorang pria?”

“En, apa itu tak pantas?”

“Tentu saja! Bukankah kebanyakan presiden, biasanya menyukai sekretaris wanita yang cantik-cantik? Selain itu, bukankah mereka seharusnya memiliki tim sekretaris yang juga terdiri dari para wanita cantik, yang cakap dan menarik, dan juga … hehe … ” dengan konyol, aku malah menunjukkan senyuman nakal dan ambigu.

Melihat ekspresiku, Han Lei tak bisa menahan tawanya, dan akhirnya menyimpulkan, “Kau terlalu banyak membaca novel roman, siapa bilang sekretaris presiden harus seorang wanita cantik. Soal alasannya memilih sekretaris pria … jika sudah saatnya, kau tanyakan saja sendiri padanya! ”

Aku menatapnya dengan frustasi, tanpa daya berkata, “Ya kalau aku punya kesempatan. Dengan peranku yang begitu kecil ini, tak mungkin aku bisa memiliki kesempatan untuk menanyakan pertanyaan bodoh semacam ini secara langsung kepadanya.”

Han Lei tak menjawab, hanya tersenyum misterius.

Selanjutnya, kami berbincang mengenai hal-hal menarik yang telah terjadi di perusahaan selama beberapa saat dan menemukan bahwa ada banyak hal yang bisa kami bicarakan satu sama lain, yah, benar-benar sebuah fenomena.

Selama mengobrol, aku menyadari bahwa Han Lei sebenarnya adalah pria yang sangat menawan, sopan, lembut, lucu, dan tenang. Tapi, ada hal yang tak bisa kupahami, Han Lei jelas bisa dianggap sebagai pria berkualitas tinggi, lalu, kenapa dia tak tertarik dengan wanita? Benar-benar membingungkan.

Tepat ketika kami sedang asyik mengobrol, ponsel Han Lei tiba-tiba berdering, dia melirik untuk melihat identitas si penelepon, lalu mengerutkan kening dan menjawabnya. Selama panggilan itu berlangsung dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Pada akhirnya, dia kembali mengerutkan kening dan menutup teleponnya.

Dia lantas berdiri, meminta maaf kepadaku dan berkata, “Maaf soal barusan, kakak pertama dan kakak keduaku mengajakku keluar sebentar, apa kau mau ikut pergi denganku?”

Mendengar itu, aku mengedipkan kedua mataku, lalu berkata sambil tersenyum, “Aku tak mau mengganggu pertemuanmu dan saudara-saudara laki-lakimu. Santai saja dan pergilah. Sementara kau pergi, aku akan mengobrol dengan teman-temanku melalui MSN.”

(MSN: MSN yang dirujuk Xia Ying adalah MSN MESSENGER atau Windows Live Messenger, sebuah program pengirim pesan instant buatan Microsoft.)

Senyumku tampak sangat berseri-seri, jelas sekali mengandung harapan. Ya, aku memang berharap Han Lei akan pergi keluar.

Menyaksikan Han Lei meninggalkan rumah, aku tak bisa menahan senyum jahatku.

Berdiri di depan pintu kamar tidur Han Lei, aku mencoba memutar gagang pintu kamar itu. Sesuai dugaanku, pintu itu tak berhasil kubuka dengan tanganku. “Bagus sekali, yakin bahwa dengan mengunci pintu sudah cukup untuk menghalangiku masuk, hah? Heh, heh …” aku menyeringai mengejek dua kali dan bergegas kembali ke kamarku untuk mengambil harta karunku dari dalam sebuah kotak kecil dan berlari kembali ke pintu kamar Han Lei.

Benda di tanganku yang kusebut harta karun itu sebenarnya hanyalah sebuah kawat, tapi, jangan meremehkannya, kawat itu adalah alat paling efektif untuk mencungkil lubang kunci. Mengingat kembali ke masa lalu saat aku masih di universitas, seorang senior wanitaku lah yang telah memaksaku mempelajari keterampilan ini – mencungkil lubang kunci; pada akhirnya, aku dipaksa untuk menerima harta karun itu. Siapa sangka, aku akan memilliki kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan harta karun warisan ini. Wahai kakak senior, aku mencintaimu!

Aku berjongkok di depan pintu kamar Han Lei bak seorang pencuri, dengan serius berusaha mencungkil lubang kunci. Tak perlu waktu lama, dan akhirnya … “ka cha”, pintu itu terbuka. Aku pun tertawa, merasa bangga pada diriku sendiri.

LAM 4. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita [Bag. Pertama]
LAM 4. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita [Bag. Ketiga]

Leave a Reply

Your email address will not be published.