LAM 7. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita Bag. Pertama

Featured Image

Hari kedua pernikahanku jatuh pada hari Minggu, maka, aku pun memutuskan untuk melakukan kegiatan yang sangat menyenangkan, yaitu tidur hingga terbangun dengan sendirinya.

Meskipun pada malam sebelumnya aku menderita kekalahan yang cukup telak, aku masih bisa tidur dengan nyenyak, dan baru membuka mataku setelah tengah hari.

Usai menyegarkan diri di kamar mandi sebelah, aku berjalan keluar kamar dengan hanya mengenakan sehelai kaus longgar dan sepotong celana pendek, bermaksud mencari makanan di dalam kulkas di dapur.

Dapur rumah Han Lei sangat luas dengan konsep terbuka, sampai-sampai meja makan pun termasuk bagian dari interior. Begitu memasuki dapur, secara tak terduga aku menemukan sosok Han Lei sudah lebih dulu berada di sana. Dia tampak sedang menyiapkan sebuah mangkuk dan sumpit di atas meja makan. Melihat kedatanganku, Han Lei membeku sesaat, lalu berbalik dan mengambilkan mangkuk serta sepasang sumpit lainnya untukku.

Dengan konyol aku terus saja berdiri beberapa meter dari meja makan, merasa kalah. Saat itu, aku jelas sedang mengenakan celana pendek seksi, sehelai kaus longgar yang hanya menutupi sampai ke bokongku yang mungil, dan dengan murah hati memamerkan sepasang kaki mulus nan indah – aku jelas berpenampilan menggoda. Namun, Han Lei hanya melirikku sekali dan secara tak terduga … mengabaikanku!

Han Lei meraup dua mangkuk nasi dan menoleh pada sosokku yang konyol. Dia tak bisa menahan tawanya dan berkata, “Sungguh, aku tak tahu kau cukup pandai untuk bangun di saat yang tepat. Kau bangun tepat setelah aku selesai masak, apa, perutmu tak lapar? ”

Mendengar perkataannya, perasaan gagalku sebagai wanita seketika menghilang. Aku pun berinisiatif untuk bergegas dan duduk di meja makan, lalu menatap empat hidangan mewah dan semangkuk sup. Hidangan itu, ah, aroma itu, ah, menatap mereka hanya akan membuatku semakin berselera.

Aku lantas menatap Han Lei dengan ekspresi terkejut, tak mampu mengekspresikan diriku dengan benar. Sungguh, tak bisa memang, menilai seseorang hanya dari penampilan mereka semata. Sama sekali tak terpikir olehku bahwa Han Lei akan memiliki keterampilan memasak sehebat ini, sungguh merupakan perwujudan seorang pria baik-baik lagi teladan yang sempurna.

Etiket makan Han Lei sangat bagus. Dia tak banyak bicara saat makan, jadi, aku pun harus menutup mulutku dan berkonsentrasi menyantap makananku. Yep! Keterampilannya dalam memasak memang sangat, sangat bagus!

Selesai makan, aku bergegas mencuci piring. Bagaimanapun, aku harus membalas budi baik dengan budi. Aku tak bisa mempermalukan wanita lebih banyak dari ini, dan yang kulakukan merupakan cara ampuh untuk membangun citra wanita Cina yang ramah, lembut, dan pekerja keras.

Karena kamarku terletak di ujung, jika aku ingin kembali ke kamar, aku harus melewati: pertama, ruang kerja, dan kedua, kamar tidur Han Lei.

Selesai mencuci piring, awalnya aku berencana untuk kembali ke kamarku, namun, saat aku melewati ruang kerja yang tak tertutup, tanpa sengaja aku melihat sosok Han Lei. Aku terpancing untuk menghentikan langkahku dan memperhatikan Han Lei yang sedang membaca buku sambil menimbang-nimbang situasi.

Han Lei sedang mengenakan kacamata tanpa bingkainya, dan poninya agak menutupi sekitar matanya. Dia duduk tepat di depan meja kerjanya, dengan sebuah komputer yang menyala di sampingnya. Dia membaca buku di atas meja dengan ekspresi serius, sementara sinar matahari menyinari sosoknya melalui tirai yang terbuka. Pemandangan di dalam ruang kerja itu nampak seperti lukisan minyak yang begitu hidup, indah, mempesona, dan menawan.

Mungkin, tatapanku yang terlalu kuat memancing Han Lei untuk mendongak, sehingga matanya kemudian berpapasan dengan tatapanku.

Karena aku memandanginya terang-terangan, dan tujuanku toh memang hendak menemuinya, aku jadi terlalu malas untuk menunjukkan sikap malu-malu atau membuat gerakan yang dibuat-buat seperti tersentak begitu melihatnya menatapku.

Han Lei menatapku lekat-lekat, dan tiba-tiba menunjukkan ekspresi seolah baru saja menerima pencerahan, dia lalu berkata dengan suara yang terdengar menyenangkan, “Apa kau juga ingin menggunakan ruang kerja? Kalau begitu, masuklah, mejaku cukup besar kok, kau bisa memakai setengahnya!”

Baiklah, karena dia mengundangku dengan tulus, aku akan masuk dengan senang hati dan melihat-lihat. Ngomong-ngomong, buku apa yang sedang dia baca? Aku sangat berharap, buku itu adalah versi luar negeri ‘Hua Hua Gong Zi’.

(Hua Hua Gong Zi: artinya Playboy, telusuri Google untuk detail lebih lanjut)

Tentu saja, Han lei tidak sedang membaca versi luar negeri ‘Hua Hua Gong Zi’, bahkan bukan versi domestik ‘Nan Ren Zhuang’. Ternyata dia sedang membaca sebuah buku mahakarya terkenal dunia, dan versi bahasa Inggrisnya.

(Nan Ren Zhuang – For Him Magazine)

Karena bosan, mataku mulai menelusuri benda-benda di permukaan mejanya, dan secara tiba-tiba melihat kop surat khusus milik perusahaan tempatku bekerja.


Translator Note:

Maaf lama nunggu, msyumna baru bisa posting lagi nih, msyumna masih berusaha membangun mood untuk mau menerjemah secara rutin seperti dulu lagi. Huhu… Nah, bagi teman-teman yg mau mendukung msyumna dan buku-buku favorit kalian, LAM, SPUC, PTBS, kalian bisa lakukan dengan berdonasi melalui Go-Pay, barcodenya bisa kalian cari di halaman setiap buku, hehe… jangan lupa tinggalkan note berisi nama penerjemah yang ingin kalian dukung! Semakin banyak donasi, semakin cepat bab-bab baru dari buku favorit kalian dikeluarkan… terima kasih.

with ♥,

msyumna

LAM 6. Aliansi Ibu Mertua dan Menantu Wanita Bag. Kedua
LAM 8. Suamiku Tidak Bisa Berdekatan dengan Wanita Bag. Kedua

Author: Msyumna

Strict~

Leave a Reply

Your email address will not be published.