LAC 9. Mata Tajam dan Hidung Tajam Mengendus Rencana Sinis

Featured Image

-oOo

Teh panas itu terbalik, ditumpahkan di atas meja, Shan Cha segera mulai merapikannya dengan bingung. Saat dia sedang merapikan, dia juga menanggapi dengan terburu-buru, “Tidak ada yang terjadi di rumah ini. Semua sangat bagus.”

“Oh?” Chu Qing-Yan menatap Shan Cha yang jelas-jelas terguncang oleh kata-katanya. Dia mengangkat alis dan nadanya menjadi lebih kuat.

“Shan Cha canggung, Nona Kesembilan, maafkan saya. Shan Cha akan menuangkan secangkir lagi untukmu.” Shan Cha, karena merasa bersalah dengan nada menyesatkan Nona Kesembilan, segera menuang secangkir teh lagi untuk menyembunyikan suasana hatinya saat ini.

Chu Qing-Yan tersenyum dangkal, “Tidak malasah.”

Menerima cangkir the yang Shan Cha sekali lagi sajikan, Chu Qing-Yan dengan ringan menyesap seteguk. Dengan cara mendiskusikan sesuatu yang biasa, dia berkata dengan tidak sengaja, “Shan Cha, tahukah kau mengapa Tuan Tua Chu tiba-tiba ingin menyambut seluruh keluarga kami untuk kembali?”

“Seharusnya karena Tetua Chu merindukan Nona, Tuan Tertua dan Nyonya Tertua.” Shan Cha menanggapinya dengan mata tertunduk.

Rindu?

Terkikih, Chu Qing-Yan tidak bisa menahan diri untuk diam-diam mencibir di hatinya. Saat itu, Wanita Tua Li juga mengatakan hal yang sama di Desa Mao. Namun, saat ini, di aula utama, dia hanya melihat Tetua Chu dengan ekspresi kuno dan perlakuan acuh tak acuh terhadap Ayah dan Ibu. Dia bahkan tidak menghangatkan kursi dengan lama sebelum ingin pergi. Mungkin di matanya, mereka bahkan tidak sepadan dengan lukisan yang ingin dia nikmati karena kegembiraannya. Karenanya, dimana dia masih memiliki penampilan yang rindu? Jika dia masih tidak bisa melihat ini, maka dia benar-benar telah berubah menjadi orang buta.

“Shan Cha, aku mendengar bahwa aku memiliki beberapa kakak laki-laki dan perempuan yang lebih tua. Mengapa aku tidak melihat mereka hari ini? “Jelas, Shan Cha ini tahu sesuatu, jadi Chu Qing-Yan memutuskan untuk menggunakan jalan memutar untuk membuka fakta darinya.

(Brother dan sister= merujuk pada sepupunya, secara tradisional, orang-orang dalam keluarga yang sama dari generasi yang sama saling memanggil kakak dan adik pada yang lainnya meskipun mereka adalah sepupu.)

“Tetua telah mengundang seorang guru untuk tuan-tuan muda dan nona-nona. Akibatnya, tuan-tuan muda dan nona-nona semuanya bersekolah. Tunggu sampai kelas selesai, Nona Kesembilan akan bisa melihat mereka.” Melihat Nona Kesembilan tidak terus bertanya tentang masalah itu, Shan Cha melepaskan napas lega dan langsung menjawab dengan riang.

Perubahan suasana hati Shan Cha tidak luput dari mata Chu Qing-Yan. Dia mengerti dengan jelas di dalam hatinya. Dia duduk di kursi dengan kedua tangan memegangi dagunya, wajah penuh kepolosan saat dia bertanya, “Kalau begitu di masa depan, aku juga bisa pergi ke sekolah bersama saudara laki-laki dan perempuan ku?”

“Aku takut di masa depan Nona Kesembilan tidak akan bisa …” Kata-kata yang diucapkan segera dihentikan. Shan Cha menatapnya dengan ekspresi sangat canggung dan mengikuti dengan cepat untuk mengatakan, “Nona Kesembilan, pelayan ini ingat bahwa airnya masih mendidih di dapur, saya akan pergi dulu untuk melihatnya.”

Selesai berbicara, dia bahkan tidak menunggu jawaban Chu Qing-Yan sebelum dia meninggalkan ruangan. Seolah ada anjing yang mengejarnya.

Chu Qing-Yan menatap sosok Shan Cha yang panik, dan tubuhnya yang melengkung di meja perlahan diluruskan. Senyuman tak berdosa di wajahnya juga berangsur-angsur mundur. Tatapannya dengan tenang menatap teh di tangannya, hati dalamnya sudah dalam kekacauan total.

Baru sekarang, dia hanya menggunakan kata-kata untuk menyelidiki Shan Cha, dia tidak berharap untuk benar-benar mendapatkan beberapa petunjuk.

Sesuatu yang besar pasti terjadi pada keluarga Chu baru-baru ini, akibatnya, seluruh keluarga kecil mereka dibawa kembali. Bukan karena keluarga Chu merindukan mereka, melainkan karena konspirasi. Jika tidak, Shan Cha tidak akan terkungkung dan terbungkuk, dan dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak memiliki kesempatan untuk pergi ke sekolah bersama dengan saudara laki-laki dan perempuannya.

Jika tebakannya benar, target sebenarnya keluarga Chu adalah dirinya. Karena, sejak awal, saat dia masuk keluarga Chu, tatapan semua orang tertuju pada sekujur tubuhnya. Namun, tidak peduli berapa banyak yang dia pikirkan, dia tidak mengerti apa yang mungkin keluarga Chu rencanakan untuk tubuhnya? Dia tidak memiliki seni bela diri yang luar biasa, juga tidak memiliki peta harta karun, apa yang mungkin di inginkan oleh orang-orang itu?

Inilah bagian yang tidak bisa dia mengerti setelah banyak berpikir.

Dia duduk di ruangan itu untuk sekitar waktu yang dibutuhkan untuk membakar sebatang dupa sebelum Shan Cha perlahan-lahan kembali lagi. Kali ini, dia membawa makan malam, meski hanya sayuran acar dan tahu, tapi lebih kaya daripada makanan yang dia miliki sejak menyeberang ke dunia ini. Baru sekarang, masalah itu berat dalam pikirannya, jadi dia sama sekali tidak memiliki selera makan, dan dia dengan santai hanya menyantap dua suap.

Dan Shan Cha yang menunggunya di samping diam-diam menatap kakinya sendiri. Sore harinya, dia hampir diakali oleh orang yang tampaknya mudah diintimidasi, tapi sebenarnya sangat pandai dan cakap Nona Kesembilan. Sebelum kedatangan seluruh keluarga Nona Kesembilan, semua orang di rumah besar diperintahkan agar mulut mereka tertutup rapat. Mereka sama sekali tidak diizinkan menyebutkan masalah itu kepada Nona Kesembilan, jika tidak, mereka akan dihukum dengan menggunakan hukuman keluarga. Hanya berpikir tentang hal itu membuatnya takut.

(Semua keluarga besar di China Kuno memiliki sistim hokum sendiri, jika melakukan kesalahan biasanya hukumannya antara menyalin 100 lembar ayat Budha, berhari-hari berlutut di ruang nenek moyang yang lantainya keras dan dingin, di cabuk, pukulan dengan tongkat kayu dll.. setiap keluarga bervariasi, biasanya di tetapkan oleh kepala keluarga)

Chu Qing-Yan makan dengan melamun, sementara Shan Cha di sisinya ketakutan tanpa ampun. Takut dia akan menanyakan sesuatu yang akan menyentuh topik tabu itu lagi.

Setelah selesai makan, warna langit sudah semakin gelap.

Chu Qing-Yan berdiri, dan Shan Cha segera bertanya, “Nona Kesembilan, apakah anda berniat untuk mandi?”

“Tidak, aku hanya makan dan sangat kenyang. Aku ingin sedikit berjalan untuk membantu mencerna makanan. Bagaimana jika Shan Cha membawa ku ke tempat Ibu dan Ayah untuk berjalan-jalan?” Chu Qing-Yan sekali lagi memulihkan ekspresi wanita muda yang polos dan naif itu. Dengan menggunakan sepasang matanya yang besar, berkedip polos pada Shan Cha.

Shan Cha awalnya ingin mengatakan bahwa waktu sudah larut, mereka akan berangkat besok. Namun, dengan sepasang mata murni yang polos, dia tidak bisa mengatakannya. Meski kedua Nyonya telah menjelaskan bahwa mereka tidak bisa membocorkan masalah itu kepada Nona Kesembilan, tapi juga tidak membatasi kebebasanNona Kesembilan. Akibatnya, dia menganggukkan kepala dan berkata, “Kalau begitu, pelayan ini akan membawamu ke sana.”

Wajah Chu Qing-Yan segera penuh kegembiraan saat dia mengikutinya untuk berjalan menuju tempat tinggal Ibu dan Ayah.

Berjalan di sepanjang jalan, selain jauh, tempatnya terpencil. Itu hanya bisa dikatakan sebagai halaman terbengkalai. Ekspresi Chu Qing-Yan menjadi semakin berat, sampai Shan Cha memberitahunya bahwa di kamar sederhana dan kecil di depan, tinggal ibu dan ayahnya, dan dia mempercepat langkahnya untuk berjalan melewati Shan Cha dan memasuki ruangan.

Pada saat ini, Ibu Chu dan Ayah Chu baru saja makan malam, melihat anak perempuan mereka masuk, Ibu Chu dengan segera berkata kepadanya, “Cai Cai datang.”

Dan Ayah Chu juga melambaikan sumpitnya ke arahnya, mengungkapkan kegembiraan di hatinya.

Chu Qing-Yan melangkah maju untuk memeluk Ibu, lalu memeluk Ayah, sebelum mengungkapkan ekspresi tersenyum. Namun, saat melihat makanan di atas meja dari sudut matanya, ekspresi senyum di wajahnya menjadi kaku lagi.

 Dia berjalan ke sisi meja, mengambil roti kering yang kaku, dingin dan bau, dan nasi yang dicampur dengan kerikil. Kemudian, dia mengamati ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba, dengan jendela-jendela lusuh yang tidak bisa menghalangi angin, dan dia tidak bisa menahan diri untuk merasa marah.

“Cai Cai, itu tidak masalah. Mampu makan sampai kita kenyang itu bagus. “Ibu Chu menepuk tangannya, dan berkata dengan nada menghibur.

Setelah mendengar apa yang dikatakan, Chu Qing-Yan tidak dapat menahan diri untuk memeluk Ibu dengan mata basah, “Bu, mengapa saat kalian kembali ke keluarga Chu, dan menjalani kehidupan yang lebih pahit daripada di desa Mao. Mungkin lebih baik kita kembali sekarang!”

“Anak bodoh, omong kosong apa yang kau katakan? Kita sudah datang, bagaimana kita bisa mengatakan kata-kata merendah diri semacam itu dari masalah sepele seperti ini? “Ibu Chu tersenyum lembut, membelai rambutnya yang panjang dan berkata pelan.

Karena Shan Cha berdiri jauh dan dialog antara ibu dan anak laki-laki dikatakan dengan suara rendah, dia pikir itu karena Nona Kesembilan baru saja tiba di tempat yang aneh dan matanya merah karena dia benci berpisah dari orang tuanya. Jadi, dia tidak mendeteksi ada yang tidak beres dengan Chu Qing-Yan.

Chu Qing-Yan tiba-tiba teringat bahwa ada orang luar di sisinya, dia meluruskan tubuhnya dan kemudian berkata pada Shan Cha, “Aku ingin mengatakan beberapa kata-kata pribadi kepada ibu ku. Kau menunggu di luar untuk kami, dan jaga pintu. Jika seseorang datang, ketuklah pintunya.”

“Ya.” Shan Cha menjawab dan menarik diri, sambil melewati, dia menutup pintu yang hampir roboh itu.

Chu Qing-Yan tidak memiliki harapan bahwa Shan Cha akan membantu untuk memberi tahu dan mengungkapkan informasi kepadanya. Dia hanya memanfaatkan kesempatan untuk mengusirnya.

Hanya tiga keluarga mereka yang tinggal di ruangan itu, sebelum Chu Qing-Yan langsung mengerti dan berkata, “Bu, apa ibu tidak merasakan ada yang aneh? Bukan karena keluarga Chu benar-benar merindukan kita dan kemudian menjemput kita untuk membawa kita kembali ke Ibukota. Apalagi tatapan setiap orang saat melihat kita tampak sedikit aneh. Mengambil langkah mundur untuk mengatakan, tempat putri mu ini jelas jauh lebih baik daripada rumah ibu. Hal ini membuat putri mu ini merasa, ini sangat tidak masuk akal.”

(Pada masa itu, seorang anak saat sangat menghargai orang tuanya akan memanggil diri sendiri dengan “putra mu ini”, “putri mu ini”, atau “anak perempuan mu ini” dll dari pada “aku”.)

LAC 8. Hal-hal yang Tidak Normal Pasti Ada Hantunya
LAC 10. Bahkan Belum Tumbuh Dewasa Sebelum Menjadi yang Pertama Dinikahkan

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.