LAC 8. Hal-hal yang Tidak Normal Pasti Ada Hantunya

Featured Image

-oOo

“Seperti yang diharapkan dari seseorang yang tumbuh di pedesaan. Lihatlah lengan dan kaki kecil itu, tanpa setengah kilogram pun daging. Bawa dia keluar dan orang akan mengira dia anak laki-laki.” Suara keras yang mereka dengar dari ambang pintu terdengar lagi. Chu Qing-Yan menatap dan melihat bahwa itu ternyata bibi ketiga dengan matanya lebih tinggi dari langit. Dia tidak bisa tidak mencemooh, di desa Mao, tiga kali makan sehari, dia tidak akan bisa kenyang. Mampu tumbuh aman dan sehat sudah cukup bagus. Masih berharap dia dibesarkan untuk menjadi putih dan gemuk, itu hanya mimpi sia-sia.

Bibi ketiga yang juga dikenal sebagai Nyonya Wang, ejekannya yang tajam dan dingin segera menerima persetujuan semua orang. Chu Qing-Yan mengerutkan kening, dia tidak mengerti mengapa semua orang menatap tubuhnya.

“Lupakan saja, pada akhirnya, dia masih nona keluarga Chu, karena lebih baik ada daripada tidak ada.” Nyonya Tua berbicara saat ini, sebuah ekspresi kejam berkedip di matanya.

“Apa yang Ibu katakan benar, ada baiknya orang-orang ini datang.” Bibi Kedua, dengan nama Nyonya Xing, juga ikut dalam percakapan tersebut dan dengan senyuman berkata.

“Meskipun pakaiannya sedikit jelek, dan dia sedikit kurang punya kecantikan, tapi selama kita membesarkannya selama dua hari di keluarga Chu, dia tetap akan diterima untuk keluar dan bertemu orang-orang. Ibu dan Ayah bisa merasa tenang ” Baginya, Nyonya Wang seperti sedang memetik sayur di pasar makanan dan mengatakannya dengan sangat pilih-pilih. Seolah-olah tampang Chu Qing-Yan benar-benar tidak layak untuk tampil di depan orang lain.

Sebenarnya, ini tidak benar, meski Chu Qing-Yan sedikit kurus dan lemah. Namun, penampilannya masih tidak jelek. Nyonya Wang, yang telah melihat banyak orang, sekilas, bisa melihat bahwa Chu Qing-Yan adalah benih yang bagus untuk wanita cantik. Membiarkannya tumbuh seiring waktu, dia pasti akan melampaui beberapa anak perempuannya. Hasil nya. Nyonya Wang tidak tahan melihat sisi baiknya, jadi dia akan menginjaknya dengan kasar.

Chu Qing-Yan baru saja merasakan ketrampilan berbicara dari seluruh keluarga ini, jadi setelah itu, dia sudah terbiasa. Hanya saja, hal itu sangat menyulitkan ibunya. Melihat putrinya sendiri sangat dikritik dari kepala sampai kaki tapi dia tidak bisa membalas, ekspresinya sangat jelek.

“Karena kita telah melihat orang-orang ini, Nyonya, kau bertanggung jawab mengatur tempat tinggal mereka. Aku masih memiliki lukisan yang belum selesai aku lihat, jadi aku akan pergi dulu.” Tetua Chu tidak melirik kelompok Chu Qing-Yan lagi dan melangkah pergi, mengurus bisnisnya sendiri.

Setelah Tetua Chu pergi, Nyonya Tua Chu dengan ketat mengumpulkan mereka, dan berkata kepada Nyonya Xing, “Keluarga tertua kedua, Ibu sedikit lelah, semuanya akan tergantung pada mu untuk mengaturnya!”

“Ya.” Nyonya Xing segera setuju.

Akibatnya, Nyonya Tua Chu juga berhak pergi.

Setelah kedua tetua itu pergi, Paman Kedua Chu bangkit, menepuk-nepuk lengan bajunya dan pergi. Paman Ketiga Chu dan Nyonya Wang juga keluar dengan dagu mereka di udara. Dan Paman Keempat Chu berdiri di samping, disebut Chu Zhi-Zhi, dan istrinya Nyonya Lin juga mengambil kepergian mereka.

Akibatnya, ruang utama yang tidak begitu besar sekarang menjadi lebih luas. Hanya keluarga Nyonya dan Chu Qing-Yan yang ketiga yang tertinggal.

Chu Qing-Yan melihat ke aula utama yang dikosongkan dalam sekejap mata. Di dalam hati, dia mengangkat alis, melihat sikap semua orang sejak saat ini, dia sama sekali tidak merasa disambut. Sebaliknya, di dalam dan di luar kata-kata yang diucapkan, mengungkapkan sedikit keanehan. Bertemu satu sama lain sepertinya mengalami formalitas belaka.

Seolah ada sesuatu yang terencana!

Biasanya, Chu Qing-Yan tidak peduli banyak hal, bagaimanapun, intuisinya tidak pernah salah. Jadi, dia segera menguatkan sarafnya dan meningkatkan kewaspadaannya. Tatapannya beralih ke satu-satunya orang yang tersisa di aula utama, bibinya, yang baru saja, bernama Nyonya Xing.

Nyonya Xing masih tersenyum tak henti-hentinya seperti sebelumnya dan berkata pada Ibu Chu, “Kalian terburu-buru sepanjang perjalanan ke sini, aku pikir kalian sudah lelah. Aku akan menyuruh seseorang membawa kalian ke tempat untuk beristirahat dulu!”

Tanpa menunggu Ibu Chu menjawab, Nyonya Xing sudah menoleh ke arah gadis pelayan senior di sisinya untuk berkata, “Bao Chun, kau akan membawa Tuan Sulung, Nyonya Tertua dan Nona Kesembilan ke suatu tempat untuk beristirahat!”

“Ya, Nyonya.” Bao Chun menerima perintah tersebut dan memberi hormat kepada mereka. Setelah itu, dia membimbing mereka untuk meninggalkan aula utama.

Akibatnya, kelompok Chu Qing-Yan mengikuti di belakang Bao Chun untuk berjalan menuju kamar mereka.

Setelah mereka meninggalkan aula utama, sudah ada orang yang menunggu di sana. Itu adalah gadis pelayan Shan Cha yang telah pergi tadi untuk melaporkan kedatangan mereka. Bao Chun berkata pada Shan Cha, “Shan Cha, kau membawa Nona Kesembilan ke ruangan di sayap timur. Aku akan membawa Tuan dan Nyonya Tertua ke ruang sayap barat.”

Setelah mendengar apa yang dikatakan, Chu Qing-Yan langsung berdiri untuk bertanya, “Maksud mu untuk memisahkan aku dan orang tua ku, dan ruangannya tidak bersama?”

Bao Chun menatapnya sekilas, “Sebelumnya, Nyonya Tua sudah menginstruksikan, Nona Kesembilan sudah berumur sepuluh tahun, dia harus menghindari kecurigaan. Karena itu, kamarnya tidak diatur untuk bisa bersama.”

“Tapi ….” Chu Qing-Yan masih ingin mengatakan sesuatu tapi dihentikan oleh ibunya. Seseorang hanya bisa melihat Ibu dengan lembut berkata kepadanya, “Pertama, taat, jangan memulai konflik.”

Chu Qing-Yan tidak tahan untuk tidak diam. Dan Bao Chun dengan mengejek mengangkat alis padanya, kemudian, dia berbalik untuk pergi bersama Ibu Chu dan Ayah Chu.

Dan saat ini, Shan Cha sudah berkata kepadanya, “Nona Kesembilan, tolong ikuti pelayan ini untuk berjalan kearah ini.”

Ibu dan Ayah sudah berjalan jauh, jadi dia hanya bisa mengikuti dibelakang Shan Cha.

Meskipun dia sedikit merasa bahwa keluarga Chu mencoba memisahkan tiga orang keluarga ini, namun mereka berada di bawah atap orang lain, jadi mereka tidak punya pilihan selain menundukkan kepalanya. Sebaiknya dia lebih dulu memahami situasi saat ini sebelum membuat rencana.

Shan Cha menoleh untuk melirik Nona Kesembilan yang mengikuti di belakangnya dengan tenang dan diam. Dia tidak bisa tidak sedikit penasaran. Bukankah Nona kesembilan ini berasal dari pedesaan? Bagaimana mungkin dia tidak tampak seperti itu sedikit pun? Dia tampak seperti orang yang terpelajar, sangat tenang dan mantap. Dia juga memberikan kesan tak tergoyahkan yang susah di jelaskan. Bahkan nona-nona muda di rumah besar tidak memiliki ketenangan dan keheningan yang diberikannya.

Namun, saat dia mengingat niat Nonya Kedua untuk membawa kembali seluruh keluarga Nona Kesembilan, Shan Cha mulai memiliki perasaan simpatik terhadap Nona Kesembilan.

Meskipun dia dengan tenang berjalan di belakang, itu tidak berarti bahwa ekspresi wajah Shan Cha lepas dari tatapan matanya. Mungkin karena usianya masih muda, jadi Shan Cha tidak menyembunyikan perasaan dari dirinya. Akibatnya, dia bisa dengan jelas melihat rasa kasihan Shan Cha padanya.

Aneh, kenapa kasihan? Baru sepuluh tahun dia tidak menjalani hari-hari yang baik, tapi seharusnya tidak pada tingkat yang akan membuat orang lain kasihan, bukan?

Mengingat perlakuan dingin setiap orang terhadap orang tuanya, tanpa diduga, sepertinya ada lebih banyak mata yang tertuju padanya. Jelas, pada saat dia pergi, dia bahkan belum berusia dua bulan.

Apalagi sekarang, bahkan seorang gadis pelayan pun bersimpati padanya, apakah karena ada sesuatu yang sulit diantisipasi menunggunya?

Tepat saat dia secara tidak sadar memikirkan pikiran aneh, Shan Cha sudah berhenti dan berkata kepadanya, “Nona Kesembilan, kita telah tiba. Inilah tempat yang akan anda tinggali mulai sekarang.”

Chu Qing-Yan tiba-tiba mengangkat kepalanya, jalur pemikiran yang rumit di matanya tiba-tiba mundur. Dia kembali pada penampilannya memiliki senyuman dangkal, lalu mengangguk ke arah Shan Cha, “Un.”

Saat ini, ekspresi bijak dan jauh yang melintas di matanya menyebabkan Shan Cha menatap kosong. Kemudian, dalam sekejap mata, dia melihat Nona Kesembilan menatapnya dengan tenang. Shan Cha berpikir bahwa yang baru saja dilihatnya pasti merupakan kesalahan, dan dia segera membuka pintu ke kamar dan membawanya ke dalam.

Chu Qing-Yan dengan cepat mengukur ukuran ruangan, meski tidak besar, ternyata sudah jauh lebih baik daripada kamarnya di desa Mao. Apalagi sebelumnya, seseorang pasti sudah merapikan ruangan, karena sekarang bisa dianggap rapi dan bersih.

“Nona Kesembilan, Nyonya Kedua meminta pelayan ini untuk menemanimu untuk sementara, tunggu beberapa hari, dan seorang pelayan baru akan ditugaskan untukmu.” Shan Cha tersenyum kepadanya.

Dia seusia dengannya dan sudah mulai belajar melayani orang. Chu Qing-Yan tidak bisa tidak meratapi bahwa ini adalah khas masyarakat monarki zaman kuno. Rakyat terbawah tidak memiliki kebebasan dan hak asasi manusia.

Chu Qing-Yan menganggukkan kepala, menunjukkan bahwa ia mengerti. Dia meletakkan bundel pakaian di tangannya di tempat tidur. Shan Cha segera dan dengan sangat cerdik menerimanya, lalu berkata, “Nona Kesembilan, biarkan pelayan ini membantumu membongkar.”

Awalnya, dia ingin menolak, tapi setelah merenungkan sejenak, dia mengizinkannya melakukannya.

Ketika Shan Cha membuka bungkusan itu untuk dibongkar, Chu Qing-Yan berdiri dan berjalan ke seluruh penjuru ruangan.

“Nona, apa anda mau minum teh?” Tanya Shan Cha sambil tersenyum.

Diingatkan oleh Shan Cha, Chu Qing-Yan benar-benar merasa sedikit haus, dan berkata, “Baiklah.”

Maka, Shan Cha mengambil cangkir tehnya dan mulai menuang tehnya.

Chu Qing-Yan berjalan ke sisi meja, dan melihat mata Shan Cha berputar, dan tiba-tiba bertanya, “Shan Cha, kau tahu kejadian seperti apa yang baru saja terjadi di keluarga Chu?”

Saat ini diucapkan, cangkir teh yang baru saja diangkat Shan Cha, dengan suara ‘Tang’, mendarat di atas meja.

LAC 7. Semua Orang di Keluarga Chu Sangat Keterlaluan
LAC 9. Mata Tajam dan Hidung Tajam Mengendus Rencana Sinis

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.