LAC 6. Prospek Masa Depan Tidak Jelas Membuat Hati Sulit Merasa Aman

Featured Image

-oOo

Tanpa berhenti untuk beristirahat, mereka berjalan selama setengah bulan. Chu Qing-Yan merasa seluruh tubuhnya akan terlepas karena tersentak-sentak oleh kereta kuda. Ibu juga dengan ringan memijit bahu dari waktu ke waktu. Untunglah, Ayah merasa terhuyung-huyung kesana kemari sangat menyenangkan, seluruh tubuhnya melompat-lompat dengan semangat dan sepertinya tidak pernah kehabisan tenaga.

Hanya saja, hati Chu Qing-Yan memiliki sedikit ketidaknyamanan. Wanita Tua Li dan kelompok ini tergesa-gesa menerobos angin dan hujan, bahkan tidak berhenti untuk beristirahat. Mereka melaju menuju Ibukota seolah-olah hidup mereka bergantung padanya. Hal ini membuatnya merasa tidak percaya, seolah-olah dia dan orang tuanya tidak dipungut untuk dipertemukan kembali dengan keluarga Chu. Sebaliknya, mereka dilarikan ke Rumah Besar untuk makan jamuan yang disiapkan untuk membunuh mereka, pikiran ini membuatnya gemetar dari kepala hingga ujung kaki.

Tepat pada saat ini, kereta kuda berhenti. Chu Qing-Yan mengangkat alisnya dengan bingung. Segera setelah itu, dia mendengar suara kuku kuda mendekat. Chu Qing-Yan mengangkat tirai jendela di kereta, hanya melihat Wang Ting duduk tegak di atas kuda. Ketika melihat kepala Qing-Yan terulur untuk mengeksplorasi, dia langsung berkata, “Nona kesembilan, hari ini, setelah melewati puncak gunung ini, kita akan sampai di Ibukota. Pelayan ini datang untuk memberitahumu ini.”

Chu Qing-Yan menganggukkan kepalanya, lalu ia membiarkan tirai itu turun.

Wang Ting melihat bahwa Nona Kesembilan ini selalu memperlakukan orang dengan dingin dan jauh dengan kata-kata yang sangat sedikit. Sebelumnya, dia berpikir bahwa ini karena gadis kecil dari pedesaan ini tidak mengerti etika. Namun, dalam waktu singkat berhubungan dengannya, dia menemukan Nona Kesembilan tidak banyak bicara, tapi setiap kali dia berbicara, dia selalu memukul paku tepat kepala. Mengetahui kapan harus maju atau mundur lebih tepat, benar-benar tidak tampak seperti orang yang tumbuh di alam liar dan ladang. Dengan menggunakan tindakan itu dari sekarang sebagai contoh, meskipun dia tidak mengatakan apapun, tatapan terang dan dingin itu telah membuatnya, seseorang yang menjadi pelayan selama lebih dari duapuluh tahun, merasa sedikit ketakutan. Wang Ting memikirkannya, meski seluruh keluarga Nona Kesembilan yang kembali ke keluarga Chu bisa dikatakan tidak bermartabat. Namun, karena inilah yang disebut kesedihan ekstrim berubah menjadi sukacita, mungkin Nona Kesembilan bisa terbang ke puncak cabang untuk menjadi burung phoenix. Dia seharusnya tidak bersikap kasar seperti sebelumnya, bagaimanapun juga, tidak seperti dia akan rugi sedikit daging karena sedikit lebih sopan. Kalau-kalau, kapan waktunya tiba, dia bisa mengendarai kesuksesannya dan juga bisa meminta pekerjaan yang bagus.

(Memukul paku tepat di kepala = langsung pada tujuan/tepat sekali)

(Terbang ke puncak cabang untuk menjadi phoenix= Ini berarti menikahi keluarga kerajaan, naik ke puncak untuk menjadi ratu. Atau seorang perempuan rakyat biasa yang menikah ke tingkatan masyarakat bangsawan)

Akibatnya, Wang Ting memutuskan, dia tidak akan seperti Wanita Tua Li yang sopan di permukaan tapi diam-diam menghina seluruh keluarga ini.

Chu Qing-Yan tidak tahu bahwa tindakan ceroboh yang dia keluarkan akan menghasilkan hasil seperti ini. Meski, setelah ini, Wang Ting lebih memperhatikannya, membuatnya sedikit curiga. Tapi semua perhatiannya terfokus pada mereka untuk tiba besok untuk bertemu keluarga.

Saat itu, saat Ayah menjadi tentara, berperang untuk membawa kehormatan kepada keluarganya. Mereka menganggap Ayah sebagai pahlawan dalam keluarga. Namun, ketika Ayah kalah perang dan menjadi sasaran kecaman orang biasa, mereka tidak berdiri di depan Ayah untuk melindunginya. Sebagai gantinya, mereka mengusir Ayah yang terluka parah, keluar dari keluarga Chu, bahkan mengusir Ibunya yang lembut dan dirinya yang baru berusia dua bulan.

Ini disebut ‘Mudah menambahkan bunga pada sesuatu yang sudah dihias dengan sempurna. Tapi sulit untuk menemukan seseorang yang memberikan bantuan saat kita membutuhkan’.

Chu Qing-Yan menarik diri dari pikirannya dan berbalik untuk melihat ibunya yang lelah dan tidur siang dan ayahnya dengan mata terbuka lebar. Dia tidak bisa menahan diri untuk menghentikan tangan Ayah yang baru saja akan menarik rambut Ibu. Ekspresinya menjadi ganas untuk menakutinya dan berkata.

“Ayah, Ibu lelah, jika ayah membangunkannya, maka anak perempuan ini akan mengabaikan ayah mulai sekarang.”

Ayah Chu segera menarik tangannya dan mengeluarkan lidahnya pada putrinya sendiri. Setelah itu, dia patuh duduk di sana dengan benar, wajah yang penuh dengan ketidakbersalahan saat dia menatapnya, “Cai Cai, baru saja, ‘wajah besar kuda’ itu berkata, kita akan segera tiba di Ibukota. Tidakkah itu mengatakan aku bisa melihat ‘sisipan daun bawang yang terbalik’ sebentar lagi?”

Wajah besar kuda? Chu Qing-Yan tidak tahan untuk tidak tersenyum. Julukan yang dipilih ayah untuk Wang Ting cukup pas. Namun, setelah mendengar kalimat berikutnya, senyum di wajahnya, langsung membeku. Dia awalnya mengira ayah tidak menyebutkan orang berwajah ungu itu sejak lama karena dia telah melemparkannya ke bagian belakang ingatannya. Bagaimana dia bisa tahu bahwa dia akan menyebutkannya lagi sekarang juga. Tiba-tiba, dia tidak tahu bagaimana seharusnya dia menanggapi.

“Itu, itu ….”

Belum terdeteksi ekspresi malu putri nya, ayah Chu, dengan ekspresi penuh kerinduan, terus berkata, “‘Sisipan daun bawang terbalik’ pastilah sudah selesai menenun jaring dan menungguku. Bila waktunya tiba, aku akan mengajak kalian berdua untuk pergi memancing!”

Sudut mulut Chu Qing-Yan tidak bisa menahan diri untuk tidak berkedut. Dia berharap bahwa ketika saatnya tiba, Ayah yang tidak kecewa akan lebih baik.

Matahari yang terbenam di puncak gunung sekali lagi naik. Hari lain telah berlalu, dan rombongan Chu Qing-Yan telah tiba di Ibukota Kekaisaran Xuan Barat.

“Tuan tertua, Nyonya Tertua, berjalan melewati jalan ini, kita akan sampai di Rumah Besar kita.” Wang Ting mengendarai kuda di sepanjang sisi kereta dan berkata.

Chu Qing-Yan sudah mengangkat tirai jendela saat mereka memasuki kota. Dia menikmati Ibukota Kekaisaran Xuan yang paling hiruk pikuk dan ramai. Itu layak menjadi Ibukota. Entah itu orang-orang yang berjalan di jalan atau penjaga toko, mereka semua memberi perasaan berbeda-beda. Seperti saat dia pergi bepergian ke Shanghai sebagai turis selama liburan musim panas. Hanya ketika dia menempatkan dirinya dalam aroma kuno ini, dengan penampilan kuno dan ibukota kuno yang semarak, barulah dia akhirnya menerima kenyataan bahwa dia telah benar-benar menyeberang selama seribu tahun, ke negara ini yang telah tenggelam dalam sungai sejarah.

Toko-toko yang mempesona membuatnya mengingat ‘Tiga Alun dan Tujuh Jalur’. Hanya saja, bangunan di depannya memberi kesan bahwa ini nyata. Bukannya dipisahkan oleh arus waktu yang panjang, di mana dia akan berjinjit berkhayal tentang bagaimana orang-orang kuno hidup, itu karena di depan matanya, ini semua sedang terjadi.

(Tiga Alun dan tujuh jalur adalah blok kota yang terawat baik di pusat Fuzhou, China. Daerah ini penuh dengan rumah-rumah kuno sepanjang jalan dari Dinasti Ming.)

Sambil mengalihkan tatapannya, dia berbalik untuk melihat kegembiraan di mata Ibu dan keingintahuan pada wajah ayah. Tiba-tiba dia merasa mungkin, keputusan untuk datang ke Ibukota adalah benar.

Semakin mereka berjalan di sepanjang jalan ini, semakin terpencil jadinya. Aliran orang menjadi semakin jarang. Chu Qing-Yan mengerti bahwa keluarga yang lebih kaya dan lebih mulia, tempat tinggal mereka akan lebih tenang.

Sepasang mata Chu Qing-Yan menatap lingkungan sekitarnya, terus menggunakan alasan ini untuk menghibur dirinya sendiri. Namun, semakin mereka melanjutkan perjalanan ini, semakin dia tidak dapat dengan tenang mempercayai kebohongannya sendiri.

Rumput liar, ubin atap yang rusak, pintu dan dinding berlumut, dasar yang penuh dengan lubang ….

Apakah ini benar-benar daerah kediaman kaya dan mulia? Ini seharusnya dianggap sebagai permukiman kumuh, bukan?

Kereta kuda melewati sebuah gang kecil, lalu, banyak pengemis berkerumun di sekitar, menghalangi kereta bergerak, ingin mengemis sedikit makanan untuk dimakan. Kaum wanita semua ketakutan sampai mereka semua pindah untuk bersembunyi di dalam kereta kuda. Wang Ting dan pelayan muda laki-laki segera mengusir orang banyak, baru kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka dengan cara normal.

Ibu Chu menepuk dadanya dengan ringan dan berkata, masih dalam keadaan panik, “Sudah jelas, sepuluh tahun yang lalu, tempat ini masih subur. Bagaimana ini menjadi begitu sunyi sekarang?”

Setelah mendengar kata-kata Ibu, Chu Qing-Yun tidak bisa tidak bertanya, “Ibu, sepuluh tahun yang lalu, seperti apa tempat ini?”

Begitu dia menyebutkan masa lalu, kilau muncul di mata Ibu Chu. Dia meraih tangan putrinya dan berkata, teringat kenangan itu, “Sebelumnya, ini dikenal sebagai jalan para jenderal. Setiap rumah tangga telah menghasilkan jenderal, banyak orang sering datang dan pergi ke jalanan ini. Itu sangat meriah. Orang-orang biasa semua merasa bahwa itu adalah kehormatan untuk tinggal di sini, baru setelah itu — “

Berbicara menjelang akhir, ekspresi Ibu Chu menjadi suram, “Baru, tahun itu, ayahmu hilang dalam perang, dengan seluruh tentara tersapu bersih. Dan perwira tinggi dan tentara biasa yang dikorbankan, kebanyakan berasal dari jalan ini. Setelah kejadian itu, istri dan anak-anak keluarga tentara tersebut tidak dapat menerima penghakiman dari orang-orang biasa. Takut, orang-orang yang bisa pindah, pindah, beberapa berserakan, dan tempat ini menjadi semakin suram.”

“Namun, putri ini ingat bahwa keluarga Chu kita menghasilkan pejabat sastra pemerintah, bagaimana kita bisa tinggal di sini?” Chu Qing-Yan bertanya dengan ragu.

Ibu Chu menghela napas, setelah mendengar apa yang dikatakan, “Keluarga Chu, selama bertahun-tahun, tidak menghasilkan pejabat sastrawan pemerintah. Perlahan-lahan, hampir sampai pada titik menghilang, hingga ayahmu membuat nama untuk dirinya sendiri setelah pertempuran. Ayahmu mendapat perhatian dari kaisar dan dianugerahi tempat tinggal ini. Baru setelah itu keluarga Chu pindah ke sini.”

”Apa? Makna Ibu adalah bahwa keluarga Chu yang hampir akan dikeluarkan dari catatan menteri sebenarnya tinggal di kediaman ayah?” Mata Chu Qing-Yan terbelalak lebar.

Ibu Chu meratap dan mengangguk.

Chu Qing-Yan benar-benar penuh dengan kemarahan, jadi, ternyata ketiganya diusir dari rumah mereka sendiri, lalu mereka disapu keluar pintu! Bagaimana mungkin dia tidak marah!

Kemudian, dia harus bertemu dan melihat sendiri keluarga tak tahu malu ini!

LAC 5. Bunga Fu Gui Terbuka Dijalan Menuju Ibukota
LAC 7. Semua Orang di Keluarga Chu Sangat Keterlaluan

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.