LAC 47 – Jangan mencoba menebak pikiran Wangye

Featured Image

LAC 47 – Jangan mencoba menebak pikiran Wangye

 

Kembali di malam hari, dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk mandi atau pun berganti baju. Chu Qing Yan mengedipkan matanya yang bengkak karena menangis. Kenapa pengalaman ini berbeda dari apa yang ia bayangkan?

Bukankah Xiao Xu adalah Wangye yang penyendiri, acuh tak acuh, dan berdarah dingin? Bukankah dia seharusnya bersikap sombong, selalu menjaga jarak dengan orang lain? Bukankah dia seharusnya meremehkannya, menjauhinya dan tidak memperhatikannya?

Kenapa begitu dia memasuki Fu, dia di suruh-suruh dan di perlakukan buruk dengan berbagai cara oleh Wangye?

Ahhhh–

Chu Qing Yan menatap langit dan mendesah. Kenapa semuanya sangat aneh, sampai-sampai dia bingung harus melakukan apa!

Dan sekarang Xi Ning yang meremas-remas handuk sambil tersenyum menatapnya dengan ekspresi senang, “Nona, kelihatannya Wangye memperlakukan anda dengan sangat baik, sangat spesial. Pelayan ini telah berada lebih dari setengah tahun di Fu dan belum pernah melihat Wangye memperlakukan siapa pun seperti ini”.

“Xi Ning, tidak beradab itu tidaklah menakutkan. Tapi menggunakan idiom secara acak itu tidak baik. Dari mana kau lihat Wangye memperlakukanku dengan baik?” Chu Qing Yan ingin memutar matanya.

Xi Ning memasang wajah polos, “Kedua mata pelayan ini melihatnya! Selain itu, pelayan ini bahakan tidak tahu cara membaca, tentu saja saya tidak beradab. Bagaimana saya bisa seberuntung Nona yang diajari oleh Wangye”.

Chu Qing Yan mengangkat tangannya dan menyolek alis gais kecil itu, sudut mulutnya tersenyum mengejek kemudian dia berkata, “Sebagai tuanmu apa aku tidak memberikan martabat apapun? Kau benar-benar berani berkata seperti itu?”

Xi Ning tertawa sambil melambaikan tangannya, “Bagaimana mungkin pelayan ini berani? Nona, anda adalah bos terbesar. Juga, anda adalah orang yang paling, paling, paling di kagumi oleh pelayan ini. Jika Nona menunjuk ke timur, pelayan ini tidak akan berani pergi ke barat!”

Chu Qing Yan menggelengkan kepalanya. Gadis ini menjadi lebih ceria sejak ikut dengannya.

Di sisi halaman, Halaman Jade.

“Wangye, saya mendengar kalau Nona Keluarga Chu menjatuhkan batu tunta hari ini dan memecahkan kuas giok favorit anda. Dia sangat tidak disiplin!”

Cheng Yi memegang pakaian dan menaruhnya di lemari. Dia berbalik dan berjalan ke sisi Xiao Xu yang acuh tak acuh dan mengatakannya dengan nada marah. Kabut menutupi matanya. Beberapa hari ini, Wangye sangat peduli pada Chu Qing Yan, membuat hati Cheng Yi kesal. Ini pertama kalinya dia melihat Wangye membiarkan seorang gadis dekat dengan tubuhnya. Meski dia hanya gadis menjijikan yang basah di belakang telinga, dia tetaplah istri Wangye dalam nama. Cheng Yi sudah bertahun-tahun berada di sisi Wangye, dia langsung memberinya obat tetes mata tanpa berpikir terlebih dahulu. Dia ingin Wangye membenci Qing Yan.

Memberikan obat tetes mata – berbicara buruk tentang seseorang yang cemburu atau mencoba menarik bulu mata orang lain.

Xiao Xu yang matanya tertutup dan sedang beristirahat, bergeming setelah mendengar kata-katanya, “Apa Wangfu ini sudah pada tahap yang tidak mampu membeli sebuah kuas?”

Cheng Yi tidak menyangka kalau Wangye akan menjawab seperti itu. Mungkinkah Chu Qing Yan sudah menempati tempat di dalam hati Wangye?

“Cheng Yi salah berbicara”. Dia dengan takut menundukkan kepalanya. Meski nada Wangye tidak biasa, tekanan yang biasanya terakumulasi masih membuatnya ketakutan.

Wangye sangat membenci orang yang berbicara dengan sembrono. Hari ini, tanpa sadar dia mengeluarkan kata-kata, jadi dia langsung menyesalinya.

“Mundur!” Xiao Xu terus beristirahat dengan mata tertutup.

Cheng Yi tidak tahu apa Wangye tidak senang karena kata-katanya, jadi dia mundur, ketakutan. Ketika dia berjalan keluar dari ruang dalam, raut wajahnya berubah menjadi kemarahan. Chu Qing Yan, gadis menjijikan itu, jika dia punya kesempatan, dia pasti tidak akan membiarkannya memiliki waktu yang mudah!

Setelah Cheng Yi pergi, Roh Api dan Roh Bumi berjalan masuk. Melihat raut wajah Wangye mereka sama seperti biasanya, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh kasus korupsi yang ramai di bicarakan di luar, membuat mereka tenang.

“Ada apa?” Xiao Xu membuka matanya sedikit, ekspresinya lesu tapi juga dingin.

“Wangye, Keluarga Wang Chong sudah di gerebek, tapi Yang Mulia (Kaisar) masih belum membuat keputusan untuk menghukumnya”. Roh Api mencabut ekspresinya yang tersenyum dan memasang wajah yang serius.

“Hmph, kali ini Yang Mulia ingin menggunakan Wang Chong untuk mencari bukti bahwa Wangye juga berpartisipasi dalam pelanggaran kriminal ini. Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan Wangye. Saya berharap beliau tidak akan menemukan apapun bahkan jika beliau mencoba!” wajah Roh Bumi penuh dengan cemoohan yang dingin.

Xiao Xu mengangkat alis, tangannya menopang dagu, “Emm”.

Melihat Wangye yang tidak menempatkan ini ke dalam hati, Roh Api dan Roh Bumi saling memandang. Setelah itu, Roh Bumi membuka mulutnya dengan agak khawatir, “Orang yang bertanggung jawab atas kasus ini adalah Lin Feng-Zheng. Jika dia menggunakan semacam trik, kecurigaan Yang Mulia pada anda akan meningkat”.

Lin Feng-Zheng adalah murid mentri pemerintah barat Fu Jian-Rong, dan Fu Jian-Rong adalah ayah dari Selir Kekaisaran Yue.

Xiao Xu dengan sembarangan berkata, “Jangan bertindak tanpa berpikir. Mungkin dia menunggu kita berada dalam kekacauan dan menginjakkan kaki ke dalam”.

Roh Api dan Roh Bumi merasa kalau apa yang dikatakan Wangye mereka sangat masuk akal, tapi jejak kepahitan muncul di sudut mulut mereka. Wangye baik-baik saja, tapi itu karena seseorang melangkah maju untuk memfitnah kalau Wangye bersekongkol dengan Wang Chong, jadi Yang Mulia memerintahkan Wangye untuk kembali ke Fu untuk beristirahat dalam kedamaian. Menggunakan kata-kata indah untuk mempertahankan reputasi yang baik, mengatakan pada Wangye kalau ekspedisi ke selatan pasti melelahkan, jadi beliau memberikan liburan kepada Wangye untuk beristirahat. Tapi semua orang yang bermata tajam bisa melihat kalau Yang Mulia mencurigai Wangye, sehingga mengambil otoritasnya dan membuatnya menjadi boneka.

Melihat Wangye nya tidak tertarik dengan masalah ini, Roh Api mengubah topik, “Wangye, saya mendengar kalau Nona Kecil Keluarga Chu menyebabkan masalah di halaman?”

Ketika kata-kata itu diucapkan, dia mendapat pandangan sekilas dari tuannya. Roh Api bergetar, dan tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum dan berkata, “Wangye, apa yang anda lihat?”

“Tidak melihatmu selama beberapa hari, telingamu sudah tumbuh lebih panjang?”

Berpikir dengan hati-hati, dia menyadari kalau Wangye mengolok-oloknya. Roh Api tertawa nakal, “Sebagai bawahan, tentu saja kami harus memperhatikan setiap gerakan dan kata-kata tuannya, itu benar bukan, Ah Tu?”

Ah Tu – Nama panggilan, (Ah) panggilan yang diberikan pada orang yang akrab. (Tu) karakter cina untuk Bumi. Panggilan ini juga bisa berarti orang udik. Roh Api dan Roh Bumi benar-benar tidak akur.

Berhadapan dengan kedipan Roh Api, Roh Bumi sangat acuh tak acuh. Dia kemudia berbalik ke tuannya dan bertanya dengan ragu. “Tuan, tampaknya anda memperlakukan Nona Keluarga Chu sedikit berbeda dari biasanya, apa itu karena anda sudah punya rencana?”

Rencana?

Xiao Xu tenggelam dalam kontemplasi yang dalam. Tiiba-tiba, wajahnya memancarkan kelembutan dan kasih sayang. Tampaknya dia tidak memiliki rencana untuknya, dia hanya merasa puas, tidak lebih.

Melihat tuannya tidak menjawab, Roh Bumi mengerutkan bibirnya dan tidak bisa melakukan apa-apa selain memanggil, “Wangye?”

Xiao Xu mengingat kembali pikirannya, Sekarang aku tidak punya pekerjaan, hanya mencari sesuatu untuk dilakukan”.

Roh Api yang mendengar hal ini, tidak bisa menahan senyum. Jadi Wangye tidak melakukan apa-apa, dia hanya menggoda wanita kecil itu untuk bersenang-senang! Dia hanya bisa bersimpati untuk Chu Qing Yan!

Roh Bumi tidak mengatakan hal lain, kecuali kesannya tentang Chu Qing Yan menjadi lebih buruk. Secara tidak sadar dia merasa kalau siapapun yang dimasukkan oleh Yang Mulia ke dalam Wang Fu bukanlah orang baik. Karena itu, dia selalu memendam ketidakpuasan padanya (QY).

Keesokan harinya, Chu Qing Yan kembali datang untuk melapor.

Karena dia akan berlatih menulis, Chu Qing Yan menggulung lengan bajunya, mengikatnya dan dengan kuat mengancingkannya ke pergelangan tangannya agar nyaman untuk di gerakan.

Xiao Xu melihat persiapannya, tapi dia tidak mengatakan apapun. Kemudian, dia berbalik untuk mengambil kuas dan perlahan mulai menulis di kertas yang tersebar.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat Xiao Xu menulis. Gaun hitamnya tak terkendali, tubuh kurusnya berdiri tegak seperti batu giok. Jari-jarinya yang ramping melewati lengan untung memegang kuas. Topeng yang menutupi wajahnya membuat ekspresinya tidak terbaca, tapi melalui mata yang tajam, cukup untuk mengatakan kalau sikapnya santai dan terasa lesu. Lengan yang terkulai ke bawah mengikuti gerakan pergelangan tangannya dan mengambil kesempatan untuk menyapu di atas meja, seolah-olah itu menyikat melewati hatinya, membuatnya tergelitik.

Kalau kau mengamati dengan hati-hati, itu bukan karena dia menulis dengan perlahan, melainkan karena di ruang belajar yang tenang, suasana tampak membeku. Sampai-sampai setiap gerakannya tampak dimainkan dalam gerak yang lambat, membuatnya merasa terobsesi.

Dia tidak pernah membayangkan kalau akan ada seseorang yang membuat tulisan yang sangat indah!

Hanya saat Xiao Xu meletakkan kuas itu, akal sehat Chu Qing Yan akhirnya kembali. Dia lebih mendekat untuk melihat apa yang dia tulis.

 

Wangye : Pangeran dari pangkat pertama

Benwang : Aku, digunakan oleh Wangye

Fu : Rumah, tempat tinggal Wangye

LAC 46 - Kesulitan Pahit Yang Tidak Bisa Dikatakan Sangat Menyedihkan
LAC 48 - Memberi Riak Saat Chu Qing Yan Belajar Menulis

6 thoughts on “LAC 47 – Jangan mencoba menebak pikiran Wangye”

Leave a Reply

Your email address will not be published.