LAC 46 – Kesulitan Pahit Yang Tidak Bisa Dikatakan Sangat Menyedihkan

Featured Image

LAC 46 –  Kesulitan Pahit Yang Tidak Bisa Dikatakan Sangat Menyedihkan

Dengan pengetahuan dasarnya di dunia sebelumnya, Chu Qing Yan tidak merasa sulit; tapi kemudian kritik tajam datang dari Sang Guru Gunung Es.

“Jaga jarimu tetap stabil, telapak tanganmu harus kosong dan tegak, pergelangan tangan harus rata, tetap stabil”.

Chu Qing Yan tersipu malu, guru yang sangat keras.

“Jari yang menulis membutuhkan kekuatan, persendian harus mengahadap keluar, dekat tapi tidak longgar. Lima jari harus menggunakan kekuatan pada saat bersamaan sehingga akan kuat. Kau juga harus memperhatikan memegang kuas, tapi kelonggaran dan keketatan harus sesuai. Jika terlalu ketat, gerakan tidak akan luwes; terlalu longgar, kau tidak bisa menggunakan kekuatan yang cukup”.

Chu Qing Yan tanpa sadar menambahkan lebih banyak kekuatan, “Slap—” Sebua penggaris mendarat di punggung tangannya dan garis merah muncul. Setelah itu, dia merasa sakit yang sangat menyengat dan tidak bisa menahan diri untuk mengangkat matanya, tatapan penuh kilauan air mata mengarah pada sang pelaku.

Xiao Xu langsung mengabaikan tatapannya dan berkata “Jari-jari tidak boleh gemetar. Konsentrasi!”

Chu Qing Yan mengatupkan giginya. Dibanding dengan guru gunung es ini, dia berpikir kalau gurunya di dunia sebelumnya sangat lembut dan bijaksana.

Guru gunung es melihat tangannya dan berkata, “Ruang antara ibu jari dan jari telunjuk harus lebih lebar”.

Setelah mendengar itu Chu Qing Yan memeisahkan kedua jari itu, tapi sayangnya sang guru tidak puas. Setelah mengkritiknya dalam waktu yang lama dan dia masih belum mencapai persyaratannya, dia melihat alisnya sedikit merajut. Chu Qing Yan mengira dia sudah menyerah, tapi tidak disangka-sangka dia malah memanggil Lan Yi untuk masuk.

“Bawakan Benwang telur mentah”.

Lan Yi menatap Chu Qing Yan dengan bingung, lalu ia segera mengangguk dan mengundurkan diri.

Chu Qing Yan berpikir kalau Xiao Xu lapar dan menginginkan camilan, tapi ketika dia mempikirkannya lagi, dia sadar kalau dia (XX) tidak meminta telur matang!

Setelah Lan Yi memberikan telur, Xiao Xu berbalik dan membuatnya memegang telur, dia memiliki perasaan yang tidak enak.

Seperti yang diharapkan–

“Tempatkan telur di telapak tanganmu dan pegang kuas dengan benar. Kalau telurnya jatuh maka jangan berpikir untuk makan malam ini!” Guru gunung es duduk di kursinya dengan santai. Tapi, kata-kata yang dia katakan membuatnya merasa kalau orang ini benar-benar harus di pukul!

Telur itu terasa dingin di telapak tangannya dan hawa dingin menembus ke dalam hatinya. Apa Xiao Xu ini akan merasa senang kalau menyiksanya?

Perut dan hatinya penuh dengan api yang tidak bisa dibuang. Tapi setelah dia tenang, Chu Qing Yan mengakuinya, metode ini sangat efektif dalam melatih posturnya untuk memegang kuas, hanya saja ini membuat tangannya sakit.

“Gunakan semua kekuatan tubuhmu, pertahankan posisi pergelangan tanganmu, arahkan kuas secara vertikal. Jangan biarkan pergelangan tanganmu bersandar di atas meja!”

“Slap–”

Penggaris di jatuhkan lagi dan karena jari-jarinya tidak memegang dengan erat, telur di telapak tangannya terjatuh begitu saja, mendarat di atas meja dan hancur. Kuning telur berwarna emas dan dalam sekejap cairan kental transparan tersebar di atas meja. itu bagaikan terik matahari di cakrawala, memprovokasi kasih sayang yang lembut. Tapi sekarang, Chu Qing Yan tertegun karena dia berpikir kalau dia tidak akan makan malam ini.

“Ah… Kasihan sekali”. Nada acuh tak acuh terdengar di telinganya, seolah-olah mengasihani telur ini, tapi juga tampak mengasihaninya. Namun, di telinga Chu Qing Yan itu terdengar seperti ejekan.

Chu Qing Yan melihat pita merah bersilangan di punggung tangannya. Dia telah berlatih postur selama dua jam tanpa istirahat. Sekarang dia haus, lelah, dan lapar. Tiba-tiba kesedihan dan kemarahan keluar dari lubuk hatinya, dia berbalik untuk melihat orang dihadapannya dengan marah, “Kenapa Wangye selalu memaksa Qing Yan untuk melakukan hal-hal yang tidak Qing Yan sukai?”

“Kalau kau tidak bisa memberikan alasan untuk meyakinkan Benwang, maka Benwang tidak akan memaksamu untuk belajar membaca”. Xiao Xu tidak terlihat marah dan terus bersandar di kursinya, menatapnya dengan tenang.

Mata Chu Qing Yan tiba-tiba berkilat. Apa orang ini mencoba bernalar dengannya? Matanya berubah dan segera mengatakan apa yang ingin sekali dia katakan sejak tadi “Seperti pepatah, kebajikan wanita adalah tidak memiliki bakat, jadi Cai Cai tidak membutuhkan pengetahuan dan kemampuan yang luar biasa. Qing Yan hanya perlu memahami bagaimana cara membantu Wangye dalam mengelola Fu, itu saja sudah cukup baik!”

Setelah dia selesai bicara, dia mendengar cibiran kecil.

“Benwang tidak akan pernah membiarkan orang yang tidak berguna disisinya”.

Chu Qing Yan takut dengan nada suaranya, itu bagaikan udara dingin yang menyentuh telinganya. Itu membawa kesombongan, ketidak pedulian, dan ejekan–

Dia tidak bisa melakukan apapun selain menatap orang dihadapannya. Saat ini, Xiao Xu tanpa tergesa-gesa mengalihkan pandangannya, tatapan dinginnya terasa ragu, “Qing Yan, apa kau pikir Benwang tidak bisa memiliki orang yang bisa mengelola Fu? Jangankan mengatakan seseorang yang tidak bisa berbuat apa-apa!”

Kata-kata ini berhasil membuat Chu Qing Yan memikirkan Bai Hu yang bekerja keras mengelola halaman dengan Hong Yi yang mengurus halaman belakang. Dia tidak bisa membantu selain merasa malu. Memang, orang ini memiliki tangan kanan dan kiri yang mampu, kenapa dia membutuhkan orang lain? Namun, dia jelas hanya bersikap sopan, oke? Dia hanya ingin memberinya beberapa wajah agar dia bisa mundur, orang ini sedikit tidak masuk akal!

Mungkin karena nada suaranya terlalu berat, wajah orang dihadapannya memucat, seolah-olah takut padanya. Xiao Xu tidak bisa melakukan apa-apa selain merasa sakit kepala. Dia memerintah orang-orang disekitarnya. Selain itu, orang-orang disisinya juga terbiasa dengan bagaimana dia menangani masalah; tapi orang dihadapannya tidak sama dengan orang-orangnya, bawahan, dan pelayannya dimasa lalu. Menjadi ketat tidak berhasil dan dia tidak bisa menjadi lunak, jadi dia tidak pernah merasa begitu kalah seperti sekarang ini. Sepertinya dia benar-benar tidak berbakat mengajar anak-anak. Dia jelas menahan kekuatannya, tapi dia tidak tahu apa apa karena penggaris begitu keras atau karena kulitnya terlalu lembut, kulit di punggung tangannya memerah.

Tiba-tiba Xiao Xu juga tidak berkata apa-apa.

Maka, kedua orang itu saling berpandangan dalam keheningan.

Akhirnya, Chu Qing Yan menggoyangkan lengannya yang sakit, lalu tanpa berkata-kata dia memegang kuas itu lagi.

Melihat punggung kakunya, Xiao Xu bingung ingin mengatakan apa. Lalu, raut wajahnya melunak. Dia berdiri, mengambil penggaris dan berjalan ke sisinya. Kemudian, dia mengangkat sedikit lengannya dan memperbaiki posisinya, “Telapak tangan harus vertikal sehingga kuasnya akan lurus. Saat kuas lurus, itu bisa menunjuk dengan benar. Ketika itu diratakan dengan benar, kau bisa mengubahnya di empat arah dengan mudah”.

Chu Qing Yan mengangguk, menerima instruksinya.

Pelatihan ini berlangsung sampai matahari terbenam di barat.

Hasil dari terlalu konsentrasi adalah waktu berubah menjadi pasir, tergelincir karena tidak sadar.

Lan Yi memasuki ruangan untuk memberi tahu mereka kalau sudah waktunya untuk makan malam. Chu Qing Yan melirik ke arah Xiao Xu sebelum meletakkan kuas di tangannya. Sekarang, dia merasa seperti lengan kanannya bukan miliknya lagi.

“Posturnya hampir tidak memenuhi standar. Besok, Benwang akan mengajarkanmu sapuan kuas sederhana”. Xiao Xu berkata samar.

Chu Qing Yan mengangguk, tampak seperti murid yang bersemangat. Bayangan dari tatapan yang menyeramkan sejak siang tadi sudah tidak ada.

Melihat Xiao Xu mengangkat kakinya, ingin pergi, Chu Qing Yan menunduk dan mengusap perut kecilnya. Sepertinya malam ini aku akan membiarkan kau disalahkan dan menyanyikan lagu strategi kota yang kosong.

(Strategi kota kosong – Zhuge Liang menampilkan dirinya sebagai orang yang tidak terganggu sambil menunjukkan kalau kotanya tidak terlindungi, berharap musuh akan mencurigai kalau itu adalah perangkap. Kota itu benar-benar tidak terlindungi, sehingga itu hanyalah sebuah gertakan).

“Apa yang kau lakukan? Apa kau akan membuat Benwang menunggumu untuk makan?” Xiao Xu berbalik dan menatapnya dengan cemberut.

“Ah–” Mata Chu Qing Yan berbinar dan dia segera menyusulnya.

Sepertinya guru gunung es ini masih bisa sedikit didekati.

Lan Yi memperhatikan saat siluet besar dan kecil itu semakin menjauh, sudut bibirnya tersenyum, seolah dia belum pernah melihat pemandangan yang begitu menarik.

Dia berbalik untuk memasuki ruang belajar dan merapikan puing-puing telur yang pecah di atas meja.

Sejak Nona Keluarga Chu memasuki ruang belajar, akan ada hal-hal tak terduga yang patah secara misterius. Yang mengejutkan adalah Wangye tidak marah sama sekali.

Ini benar-benar menarik!

 

 

Wangye : Pangeran dari pangkat pertama

Benwang : Aku, digunakan oleh Wangye

Fu : Rumah, tempat tinggal Wangye

LAC 45 - Panduan Pangeran Gunung Es
LAC 47 - Jangan mencoba menebak pikiran Wangye

2 thoughts on “LAC 46 – Kesulitan Pahit Yang Tidak Bisa Dikatakan Sangat Menyedihkan”

Leave a Reply

Your email address will not be published.