LAC 43. Sikap dingin Wangye, Kepanikan Qing Yan 

Featured Image

-oOo

Ketika Chu Qing-Yan melangkah ke halaman Taman Giok, pandangan belakang sosok di ruangan itu menyapa matanya. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela dan dengan lembut membelai kain muslin, memberi seseorang ilusi bahwa dia sederhana dan anggun seperti kabut. Dia dengan santai duduk di kursi, rambut hitamnya lurus terang. Mata tajamnya menyipit sedikit, bibirnya yang tipis terpahat mengerucut ringan. Topeng perak menyembunyikan arogansi es yang dingin dan kesepian yang mengancam akan keluar. Berdiri sendiri, ia memberikan kebencian akan dunia yang mendominasi.

Chu Qing-Yan tiba-tiba memiliki dorongan untuk merobek topeng dingin tipis itu dan melihat wajah yang tertutup. Namun, ide ini hanya terlintas dan sangat cepat ditekan olehnya. Dia tahu tentang desas-desus yang melayang di luar, bahwa wajah pria itu rusak terkena api besar. Dari nasehat tulus Xi Ning, dia tahu bahwa ini adalah salah satu tabu di Wangfu. Itu juga salah satu garis bawah Xiao Xu yang seharusnya tidak disentuh.

Hanya dalam lamunan ini, dia merasa Xiao Xu melontarkan pandangan yang tidak mencolok. Dia dengan cepat memasang ekspresi tersenyum naif. Siapa yang tahu bahwa setelah pihak lain melihat ini, tatapannya berubah dalam ketidaksukaan.

Chu Qing-Yan terbatuk ringan dan buru-buru duduk. Jadi, ternyata dia tidak sengaja menatapnya untuk waktu yang lama. Mereka yang tidak tahu akan mengira dirinya menatap seseorang dengan bodoh karena sedang jatuh cinta. Chu Qing-Yan agak kesal

Dia baru saja menarik kursi untuk duduk ketika dia mendengar orang di sampingnya dengan malas berkata, “Sekarang tidak ada sakit kepala, demam atau bagian tubuh yang merasa tidak enak?”

Chu Qing-Yan sadar bahwa dia berbicara sinis tentang tindakannya selama beberapa hari terakhir ini dan tidak bisa menahan senyum malu, “Pelayan ini berhutang budi kepada Wangye karena perhatian yang anda berikan, Qing-Yan sudah pulih sepenuhnya.”

Orang hanya melihat sedang Xiao Xu tertawa kecil. Tidak dapat mendengar kegembiraan atau ketidaksenangan dibalik tawa ini, Chu Qing-Yan bingung dalam hatinya; orang ini sangat tak terduga.

Piring sudah di atas meja. Seperti yang diharapkan, membandingkannya dengan makanan pagi ini sama seperti membandingkan langit dan bumi.

Xiao Xu melirik penampilan Chu Qing-Yan dengan sinar terang di matanya. Dia tampak seperti anak anjing yang baru saja melihat tulang kemudian meneteskan air liur. Senyum tipis melayang di kedalaman matanya yang bahkan dia sendiri pun tidak sadar.

Hanya setelah mabuk kau akan tahu kekuatan minuman keras; Tidak sampai kau mencintai, kau akan menyadari betapa dalamnya perasaan itu.

Pada saat ini, Chu Qing-Yan akhirnya menyadari, setelah makan sesuatu yang tidak menarik, barulah dia menyadari kelezatan hidangan. Hanya satu kali makan bisa membuatnya sepenuhnya menyadari keahlian Huang Yi. Hanya dalam beberapa hari yang singkat, perutnya sudah kenyang karena Huang Yi.

Huang Yi masih menunggu di samping. Melihat dia begitu terpesona dengan masakannya sendiri, hatinya sangat bahagia. Sebagai seorang juru masak yang paling penting adalah masakannya sendiri dapat menerima pengakuan dan Nona kesembilan keluarga Chu menggunakan bahasa tubuh untuk menunjukkan persetujuannya atas keterampilan kulinernya. Tidak seperti tahun-tahun ini, ketika keluarga Wangye menyantap masakannya, mereka tidak pernah mengungkapkan ekspresi gembira atau terkagum-kagum seperti Nona kesembilan keluarga Chu, ini selalu membuatnya merasa sangat kesepian. Sekarang, setelah bertemu dengan seseorang yang baik, bagaimana mungkin dia tidak bahagia?

Chu Qing-Yan sendiri tidak tahu dia telah menyusup ke hati Huang Yi. Setelah makan tiga mangkuk nasi, akhirnya dia berhenti sendiri. Kemudian, dia dengan sedikit menyesal mencuri pandang ke orang di depannya. Tidak tahu apakah selera makannya yang besar telah mengejutkannya. Bagaimana jika dia merasa bahwa dia membuang-buang biaya makanan, apakah dia akan memotong jatah makanannya?

Xiao Xu melihat dia meletakkan mangkuk dan sumpitnya, lalu menatapnya dengan ekspresi hati-hati. Dia tidak bisa tidak menaikkan alis. Dia membersihkan lengan bajunya dan berdiri, “Ke ruang studi .”

Sudah waktunya menggiling tinta lagi.

Chu Qing-Yan segera berdiri untuk menyusulnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan terbesit dibenaknya dan harus ia tanyakan padanya.

Setelah kedua orang itu pergi, Huang Yi bersenandung sedikit sambil merapikan meja. Cheng Yi secara kebetulan masuk dan menatapnya. Bibirnya melengkung dan berkata, “Kau tampaknya berada dalam suasana hati yang baik?”

Karena suasana hatinya sedang baik, Huang Yi tidak memperhatikan hawa dingin dalam kata-katanya dan mengangguk, “Setiap kali aku melihat Nona kesembilan keluarga Chu, memakan makanan yang aku masak, aku akan merasa puas. Apalagi hari ini, untuk pertama kalinya, Wangye juga makan semangkuk nasi ekstra, itu pasti karena pengaruh Nona kesembilan keluarga Chu. Bagi ku , ini adalah hal yang memberi ku rasa bangga yang luar biasa! “

Cheng Yi dengan tidak setuju berkata, “Hal kecil seperti itu membuatmu sebahagia ini? Apakah kau tidak terlalu kekanakan ? “

Huang Yi terlalu malas untuk berdebat dengannya dan mengatakan beberapa kata asal saja sebelum dia membawa mangkuk dan sumpit dan pergi.

Setelah Huang Yi pergi, Cheng Yi melihat ke arah ruang studi , kilatan cemburu melintas dimatanya. Kebajikan atau kemampuan apa yang dilakukan Chu Qing-Yan ini harus memenuhi syarat untuk berbagi meja yang sama dengan Tuan untuk makan? Ini hanyalah seekor katak yang ingin makan daging angsa. Selama ada kesempatan, dia pasti akan menggunakannya untuk menempatkan katak ini kembali ke tempatnya.

(Seekor katak yang ingin makan daging angsa = Seseorang yang ingin bersanding dengan orang yang bukan levelnya.)

Jendela itu menghalangi tatapan berbahaya yang datang dari halaman utama. Orang di dalam ruangan itu tidak tahu bahwa dia sedang merencanakan sesuatu.

Hong Yi, yang berdiri di luar ruangan, menangkap kilatan di mata Cheng Yi dan sedikit tercengang. Dia berdiri disana sejenak dan berbalik pergi, sudut mulutnya berubah membentuk kerutan aneh.

Di dalam ruang belajar, kedua orang itu seperti biasa, yang satu berdiri sementara yang lain duduk, putih dengan hitam, kecil dengan besar, lembut melawan kuat, saling mencerminkan yang lain, tanpa diduga sangat harmonis

Sambil menggiling tinta Chu Qing-Yan merenung bagaimana memulai untuk bertanya tentang rumor skandal korupsi yang melayang di luar. Dia ingin tahu apakah dia tidak bersalah, karena ini juga menyangkut masa depannya. Kau tidak bisa menyalahkannya karena khawatir, karena di dunia ini, di mana yang kuat melahap yang lemah, berdasarkan dirinya sendiri, dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Selain itu, sebagai perempuan dan juga sebagai aksesoris bagi seorang pria, satu kesalahan akan memberinya akhir yang tragis. Dia baru saja tiba di dunia ini dan bersatu kembali dengan orang tuanya. Dia sangat menghargai kesempatan ini dan tidak ingin itu direnggut oleh siapa pun. Akibatnya, semakin dia peduli, semakin dia merasa cemas.

“Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah secara langsung. Berhenti berbelit-belit. “

Suara dingin tiba-tiba terdengar, menakut-nakuti Chu Qing-Yan dan membuat tangannya gemetar, hampir melemparkan tinta ke rok putihnya. Menunggu sampai dia memantapkan dirinya, dia sedikit tersipu. Dia tidak pernah menduga bahwa pikirannya akan terlihat dengan mudah. Seperti yang diharapkan, pengalaman dan latihannya tidak cukup!

Bahkan, pemikiran Chu Qing-Yan salah. Bukan karena dia tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya, melainkan karena di depan seseorang dengan cermat mengamatinya, bahkan perubahan sekejap dalam ekspresi sulit untuk lolos dari matanya. Apalagi, orang di depannya adalah seorang Perwira Tinggi yang mengendalikan jutaan pasukan ganas; kemampuannya untuk membedakan bahasa tubuh turun ke detail terkecil. Untuk melihat pikirannya, dia hanya perlu waktu sebentar.

Chu Qing-Yan juga tidak terlalu memikirkan dan mengangkat matanya untuk melihat orang di depannya. Setelah hanya berinteraksi sebentar, dia tahu bahwa dia membenci orang-orang yang bersenandung dan menguap, jadi dia juga tidak bertele-tele.

“Saya mendengar alasan Wangye tidak pergi ke pengadilan pagi terkait dengan masalah kasus korupsi, apakah ini benar?”

Meskipun dia bersikap jujur ​​dan terbuka, dia masih tidak melupakan identitasnya saat ini, dan mempertahankan ekspresi yang kebingungan dan menggemaskan.

Mendengar ini, Xiao Xu langsung mengangkat kepala kemudian menatapnya, ekspresi tak terduga di kedalaman matanya, “Apakah kau prihatin tentang Benwang atau,” dengan nada mengejek sedikit, “khawatir jika dirimu terlibat?”

Ini adalah pertama kalinya dia melihat perasaan lain selain ketidak pedulian di mata Xiao Xu. Es dingin menembus seolah bisa melihat melalui kedalaman jiwa seseorang, memenjarakan jiwa dan tidak membiarkannya bergerak!

Chu Qing-Yan merasa dia kedinginan karena tidak bisa tidak mundur selangkah. Sayang dia lupa bahwa meja itu ada di belakangnya. Karena tidak siap, dia tersandung kaki meja dan seluruh tubuhnya jatuh ke belakang tanpa ada dukungan. Dia melemparkan tangannya dalam ketakutan tetapi dia tahu itu akan menjadi tragis ah, karena tidak ada yang akan menariknya untuk berhenti, terutama tidak orang ini di depannya yang menatapnya dengan tatapan dingin.

Tepat ketika dia akan menutup matanya, menerima kenyataan ini, ia sepertinya melihat sosok hitam memasuki penglihatannya.

LAC 42. Mudah Menghindari Tombak Ditempat Terbuka
LAC 44. Drama Palsu itu Menjadi Lelucon Kecil Nyata

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

One thought on “LAC 43. Sikap dingin Wangye, Kepanikan Qing Yan ”

Leave a Reply

Your email address will not be published.