LAC 4. Menyulitkan Ibu yang Lemah dan Ayah yang Bodoh

Featured Image

-oOo

Melihat kedua orang ini tetap diam, pria tinggi dan kurus itu merasa tidak puas. Dia mencengkram kendali kuda, mengangkat pecut kuda untuk menakut-nakuti mereka dan berkata, “Hei, pada akhirnya, apakah kalian mengenal orang ini atau tidak?”

Pada saat ini, Ayah Chu perlahan berdiri, meletakkan tali di tangannya di belakang punggungnya. Dia ingin meniru Tuan Tanah Li membelai jenggotnya, tapi dia tidak punya janggut. Dia hanya bisa membelai dagunya, lalu menunjukkan wajah serius, berkata, “Bolehkah saya bertanya masalah apa yang anda semua miliki, untuk mencari orang yang rendah ini?”

Chu Qing-Yan ada di samping, dan tidak tahan untuk tidak bertepuk tangan dan bersorak. Tiruan ayah benar-benar seperti Tuan Tanah Li!

“Apa, kau, kau adalah Chu Huai-Yuan? Bukankah dikatakan bahwa kau orang tolol?” Pria tinggi dan kurus itu menatap sampai bola matanya hampir terjatuh.

Setelah mendengar apa yang dikatakan, Chu Qing-Yan langsung menyipitkan matanya. Orang ini berbicara tanpa rasa hormat, dengan mata anjingnya memandang rendah orang. Dia juga mengucapkan kata-kata fitnah, sepertinya dia datang tanpa niat baik.

“Cai Cai, apakah ayahmu keren?” Ayah Chu berbalik untuk bertanya kepada putrinya sambil tersenyum gembira.

Pria tinggi dan kurus itu awalnya tenggelam dalam keterkejutan, sekarang, saat melihat Ayah Chu meraih tangan gadis kecil itu dan melompat setinggi satu meter, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak marah. Orang idiot ini benar-benar bermain-main dengannya untuk bersenang-senang!

Chu Qing-Yan melihat pria itu mulai marah dan segera bangkit, dan dia memimpin untuk melangkah keluar, “Ayahku adalah Chu Huai-Yuan, apa masalah kalian hingga mencari kami?”

Dengan pengingat dan juga desakan suara datang dari kereta kuda tak jauh dari situ. Pria tinggi dan kurus itu mengingat bisnis sebenarnya yang membuatnya datang. Dengan sangat terburu-buru, dia menyingkirkan ekspresi marahnya.

Akibatnya, di dalam pondok jerami keluarga Chu, menyambut sekelompok tamu tak terduga.

“Tuan Tertua, Nyonya Tertua, nama belakang wanita tua ini adalah Li. Ini Wang Ting, kami berdua adalah pelayan di bawah Nyonya Kedua. Karena baru-baru ini, Tetua Chu rindu untuk melihat seluruh keluarga Tuan Sulung Chu, jadi Nyonya Kedua secara khusus menunjuk wanita tua ini dan Wang Ting untuk datang ke desa Mao, secara khusus meminta anda semua untuk kembali ke keluarga Chu.” Wanita tua itu memiliki sebuah tahi lalat di sudut mulutnya dan berusia sekitar tiga puluh tahun, dengan mulut terbuka, memperlihatkan gigi seri berwarna kuning. Dia mengatakannya dengan sangat lancar.

(Tuan tertua. Cara lain untuk mengatakan bahwa itu adalah tuan muda yang tertua. Jadi, dalam keluarga tradisional China, keluarga besar tinggal di halaman yang luas dengan banyak rumah individu/paviliun, kecuali kepala rumah tangga dari generasi sebelumnya meninggal dan keturunannya memutuskan untuk membagi rumah tangga. Dalam kasus ini, Ayah Chu adalah putra sulung dari rumah tangga ini, jadi dia harusnya mewarisi seluruh rumah secara langsung.)

“Ini -” Ibu Chu melihat sekelompok orang ini dengan bingung dan dengan ketidakpastian. Seakan pie daging jatuh dari langit, tapi juga dengan tak percaya.

Chu Qing-Yan menatap wanita tua yang berbicara. Bola mata wanita itu melirik sana-sini, jari-jarinya terus-menerus meremas saputangan itu, seolah mengatakan hal yang tidak disukainya. Atau mungkin untuk mengatakan bahwa dia hanya acuh tak acuh. Chu Qing-Yan tidak bisa menahan diri untuk mempersempit matanya. Tetua Chu ini tidak memikirkan hal ini lebih awal atau lambat, tapi hanya datang untuk menjemput orang setelah sepuluh tahun. Orang yang tidak bertanggung jawab dan penuh perhatian ini pasti menyembunyikan niat jahatnya. Namun, dia berbalik untuk melihat bahwa ekspresi Ibu tampak sedikit bahagia. Dia mengerti dengan jelas, mungkin diasumsikan bahwa Ibu juga berpikir untuk kembali.

(Tetua Chu: Ini adalah gelar yang diberikan kepada orang yang saat ini bertanggung jawab atas keluarga tersebut. Biasanya, ini adalah ayahnya Ayah Chu, dan jika ayahnya meninggal, gelar ini bisa diberikan kepada pamannya (alias saudara ayah).

Melihat Ibu Chu ragu-ragu, Wanita Tua Li melirik Wang Ting. Wang Ting segera mengerti dan melangkah maju, berkata pada Ibu Chu, “Nyonya tertua, anda dan Tuan tertua yang tinggal di sini pasti sangat sulit. Lihatlah ruangan ini, bisa digambarkan sebagai ruangan dengan empat dinding kosong. Bagaimana bisa memberi nona kesembilan kehidupan yang stabil? Nyonya kami mengatakan bahwa selama keluarga beranggotakan tiga orang mu, kembali bersama kami, anda akan dapat menikmati posisi dan kekayaan yang tinggi. Anda tidak perlu khawatir tentang makanan dan pakaian selama sisa hidup Anda.”

Chu Qing-Yan menatap Wang Ting dan pidatonya yang tidak tulus. Saat dia mengucapkan kalimat terakhir, nadanya sepertinya melayang. Mendengar saja, kau bisa tahu bahwa ini adalah kata-kata kosong. Sebelumnya, saat dia masuk dalam persatuan mahasiswa, dia telah merekrut administrator selama beberapa tahun untuk kelas. Berkaitan dengan melihat melalui niat orang, dia sedikit berwawasan. Oleh karena itu, mungkin diasumsikan kedua orang ini menipu mereka.

Namun, dia tidak mengerti, seluruh keluarganya, satu ibu lemah dan satu ayah bodoh, apa yang mungkin bisa mereka inginkan dari orang lain? Mungkinkah dia terlalu memikirkan hal ini?

Dan tepat pada saat ini, tatapan Wanita Tua Li mendarat di tubuhnya, seolah melihat daging di papan potong. Matanya berbinar-binar dengan warna keserakahan hijau tua, “Ini pasti Nona Kesembilan! Dia terlihat sangat cerdas, jika Nyonya Tetua melihat Nona Kesembilan, dia pasti akan sangat senang.”

Alis Chu Qing-Yan berkerut, dia sama sekali tidak menyukai tatapan yang wanita tua ini gunakan untuk melihatnya. Sambil menatap kosong dan berdiri di sana, bagaimanapun juga, dia adalah seorang gadis liar dari pedesaan. Sangat normal jika dia tidak mengerti sopan santun.

Melihat Chu Qing-Yan bermain dan mengurus urusannya sendiri, dia sepertinya tidak berniat untuk menyambut mereka. Senyuman muncul di mata Wanita Tua Li. Benar saja, dia benar-benar anak kecil yang tumbuh di pedesaan tanpa sedikit sopan santun atau peraturan.

Beberapa orang berbicara sedikit lagi, sekarang, warna langit sudah gelap. Ibu merapikan sebuah ruangan dan memberikannya pada orang-orang ini untuk beristirahat. Chu Qing-Yan dengan jelas melihat ekspresi benci di mata dua orang ini setelah mereka melirik ke ruangan. Dia marah sampai dia tertawa. Orang-orang ini benar-benar orang sok yang di besarkan di Rumah Besar Keluarga Chu.

Karena ruangannya tidak besar, dan kamar Chu Qing-Yan dipinjamkan ke laki-laki yang mereka dapatkan hari ini, sebagai hasilnya, Ibu Chu membiarkan Ayah Chu terjepit di sebuah ruangan bersama pria itu untuk satu malam. Dan dia akan tidur di kamar yang sama dengan putrinya.

Ibu Chu dan Ayah Chu masuk ke kamar untuk mengambil beberapa selimut. Chu Qing-Yan masuk ke kamarnya sendiri untuk melihat pria tak sadar itu.

Orang itu tetap berada dalam posisi yang sama sehari ini, tanpa bergerak, berbaring di sana. Chu Qing-Yan kadang merasa bahwa jika bukan karena bernafas dari hidungnya, dia akan mengira pria itu sudah meninggal.

Chu Qing-Yan berjalan mendekat, mengeringkan kainnya dan sekali lagi dengan lembut mengusap wajahnya. Dia tiba-tiba menemukan bahwa warna kulitnya tidak seungu seperti sebelumnya, hanya saja, belum benar-benar hilang. Ketika dia hendak terus membersihkannya, Ibu tiba-tiba memanggilnya. Dia segera meletakkan kainnya dan berjalan keluar dengan langkah cepat.

Pada saat Chu Qing-Yan pergi, sepasang mata tertutup itu terbuka sekali lagi. Dia mencoba menggerakkan tangannya dan menemukan bahwa Dupa Api Dunia Bawah di tubuhnya sudah menghilang. Keempat anggota badannya bisa bergerak dengan bebas, dan dia perlahan-lahan duduk tegak.

Pada saat ini, sebuah bayangan melintas muncul di hadapannya, “Tuan, bawahan ini tiba terlambat.”

Pria itu melambaikan tangannya, matanya mengamati sekeliling. Rumah memang sangat sederhana dan kasar.

Orang berpakaian hitam itu tidak tahu apa yang Tuannya lihat, dan berkata dengan suara rendah, “Tuan, apakah anda ingin bawahan ini ‘mengurus’ semua orang di rumah ini?” Jejak tuannya tidak dapat diungkap, hal terbaik untuk menghapus orang-orang ini sepenuhnya. Untuk menghindari meninggalkan masalah.

“Tidak perlu, tinggalkan beberapa perak, dan kita segera pergi.” Suara pria itu berkata dalam hati.

Orang berpakaian hitam itu tidak tahu mengapa tuannya akan melakukan ini, tapi dia masih mematuhi dan mengeluarkan beberapa uang kertas yang dihargai perak dari saku dadanya. Dia meletakkan uang kertas di tempat tidur.

Melihat alis tuannya mengencang seolah-olah dia tidak begitu puas, orang berpakaian hitam itu segera mengeluarkan uang kertas terlipat yang dihargai perak dan menambahkannya di atas uang kertas lainnya. Baru pada saat ini alis tuannya melonggar. Sebuah ekspresi puas melayang di wajahnya. Orang berpakaian hitam itu mengelap keringat yang tidak ada di keningnya, hari ini, sang tuan benar-benar aneh.

Kali ini, sekarang ayah dan anak perempuannya memiliki perak, maka mereka tidak akan secara asal mengenali seseorang sebagai anak mertua selipan daun bawang terbalik. Setiap kali dia ingat bahwa dia salah dianggap sebagai selipan daun bawang oleh seseorang, dia akan sedikit tertekan.

“Ayo pergi!”

“Ya.”

Ketika Chu Qing-Yan kembali, dia menemukan bahwa pria berwajah ungu itu telah lenyap tanpa bekas. Meninggalkan dua puluh lembar uang kertas, masing-masing berharga seratus tael perak. Mungkin orang itu benar-benar memiliki identitas atau latar belakang yang tidak bisa dia ceritakan pada orang, sehingga pergi diam-diam setelah bangun tidur. Namun, sehubungan dengan Chu Qing-Yan, dia tidak sedikitpun peduli dengan siapa orang ini. Dia bisa segera pergi juga sesuai dengan keinginannya. Lagi pula, sekarang, di dunia yang berbeda ini, identitasnya rendah, dan dia juga tidak ingin menimbulkan masalah dengan orang-orang berstatus tinggi.

Melihat uang kertas di tangannya, Chu Qing-Yan masih sangat bahagia. Dia mendesah dengan sedih, jadi ternyata kau juga bisa mendapatkan uang dari menyelamatkan seseorang. Ke depan, dia pasti akan menyelamatkan beberapa orang lagi, mungkin keluarganya akan kaya dari ini. Hanya saja, ini juga didasarkan pada keberuntungan buta, dia memikirkannya dan memutuskan untuk melepaskannya.

Saat Ibu Chu melihat begitu banyak uang perak, dia hampir melompat dari ketakutan. Dia menyimpannya dengan sangat terburu-buru dan juga berulang kali memperingatkan putrinya untuk tidak sembarangan memberitahu orang luar tentang ini. Jika tidak, kemungkinan besar akan menimbulkan dan menarik cemburu orang lain, karena dua ribu tael perak ini tidak sedikit.

Chu Qing-Yan tersenyum mengangguk, rejeki nomplok yang melayang, mungkin bisa membiarkan seluruh keluarganya menjalani kehidupan yang nyaman.

Malam itu, Ayah Chu masih pergi dan tidur di kamar Chu Qing-Yan. Ibu Chu dan Chu Qing-Yan, terbungkus dalam selimut yang sama, berbaring.

“Cai Cai, apa kau ingin pergi ke Ibukota?” Ibu Chu bertanya dengan suara lembut.

“Ke mana pun ibu dan ayah berada, di sanalah anak perempuan ini berada.” Chu Qing-Yan dapat dengan jelas mendengar harapan dalam nada Ibu dan mengatakan ini, pergi bersamanya.

Ibu Chu, setelah mendengar apa yang dikatakannya, mengeluarkan napas dan menghela napas, “Cai Cai, Ibu tidak dapat memahami tujuan keluarga Chu untuk datang ke sini. Namun, Ibu merasa bahwa dokter di Ibukota jelas lebih baik daripada dokter di desa kita. Ibumu ingin membantu mendapatkan perawatan untuk ayahmu. Sepuluh tahun yang lalu, seorang dokter terkenal datang ke Ibukota. Sayangnya, pada saat itu, keluarga kita mengalami perubahan besar, jadi kita bahkan tidak bisa melihatnya. Sekarang, mengingat ini, aku merasa sangat menyesal.”

Jadi, ternyata Ibu punya rencana ini. Chu Qing-Yan meraih tangan Ibu, ekspresinya tegas tidak sesuai dengan usianya, “Ibu, awalnya, anak perempuannya tidak mau kembali ke keluarga Chu. Karena anak perempuan juga merasa bahwa tujuan Keluarga Chu untuk datang ke sini tidak bermaksud baik. Namun, penyakit ayah, anak perempuan merasa bahwa kita benar-benar perlu pergi ke kota yang lebih besar untuk melihatnya. Mungkin kita benar-benar bisa menemukan dokter terkenal yang Ibu sebutkan. Apalagi sekarang kita punya uang di tangan kita. Perawatan medis dan biaya pengobatan tidak menjadi masalah. Mungkin juga diasumsikan bahwa keluarga kita tidak memiliki apa pun yang diinginkan keluarga Chu. Mengapa tidak kembali dan melihat-lihat, jika itu benar-benar tidak akan berhasil, kita akan kembali lagi.”

“Baiklah.” Sebelumnya, suami nya bodoh dan anak perempuannya adalah anak yang lemah. Menghadapi masalah, hanya ada dia yang meneteskan air mata dan mengepalkan giginya untuk mengambil keputusan. Tidak ada pasangan yang bisa dia ajak berbicara. Sekarang, mendengar kata-kata putrinya, hati Ibu Chu yang digantung, goyah di udara, sekarang punya tempat untuk menetap. Akibatnya, dia tidak memperhatikan kemantapan putrinya sendiri yang melampaui usianya.

Chu Qing-Yan melihat ke dinding dengan kotoran kuning mengelupas, meski dia tidak bisa menjalani kehidupan yang baik di sini, setidaknya dia hidup dengan bebas. Hanya saja ketika dia mengingat penyakit Ayah, sepasang tangan kasar dari Ibu, dia akan langsung memiliki pemikiran untuk pergi keluar saja. Meski tubuhnya berusia sepuluh tahun, tapi jiwanya berasal dari abad kedua puluh satu. Bahkan jika dia tidak bisa memberi ibu dan ayah kehidupan dengan kekayaan dan status tinggi, tapi di era ini, tidak akan menjadi masalah yang sulit baginya untuk membangun pijakan yang mantap.

Hanya saja, Chu Qing-Yan tidak akan pernah membayangkan, takdir selalu suka mengubah pola dan melemparkan seseorang dari ujung ke ujung. Juga, karena dia masuk ke keluarga Chu, sejak saat itu, hidupnya telah terbalik.

LAC 3. Orang Dari Keluarga Chu Dengan Niat Tak Jelas
LAC 5. Bunga Fu Gui Terbuka Dijalan Menuju Ibukota

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.