LAC 38. Jahe Tua lebih Pedas dari Jahe Muda

Featured Image

(Jahe tua lebih pedas dari jahe muda= seseorang yang lebih berpengalaman lebih lihai/licik daripada orang baru)

Karena tidak perlu pergi ke pengadilan pagi ini, makan siang terasa sangat lama. Setidaknya, di mata Chu Qing Yan, itu benar-benar tak ada habisnya.

Tapi, Chu Qing Yan menemukan bahwa bangsawan aristokrat benar-benar makan dengan keanggunan yang halus. Lihat saja bagaimana Ying wang makan, tidak terburu-buru, dengan sumpit di tangan kanannya tidak pernah menyentuh meja sepanjang waktu dan tidak menghasilkan sedikitpun suara. Tidak seperti dia, bahkan hanya minum sup, tidak peduli seberapa hati-hati dia meminumnya, sedikit suara akan dilepaskan. Ini membuat Chu Qing Yan, yang memamerkan dirinya sebagai wanita bijaksana dan berbudi luhur, tersipu malu.

Pada saat yang sama, Chu Qing Yan sedikit bingung. Dia mendengar bahwa Ying wang ini selalu berada di luar, berperang sepanjang tahun, melindungi perbatasan, bagaimana mungkin dia tidak tercemar oleh kebrutalan dan ketidaksopanan militer?

“Apakah ada bunga di wajah benwang?”

Satu kalimat itu tiba-tiba menyadarkan pikiran Chu Qing Yan. Sambil mengingat kembali, matanya sekali lagi bertemu dengan sepasang mata Xiao Xu, mata hampa. Seolah-olah dia dipukul tepat pada target oleh panah es, lima jeroan dan enam perutnya bergetar karena kedinginan. Chu Qing Yan buru-buru memasang ekspresi tersenyum, “Tidak. Hanya saja Chu Qing Yan, melihat wangye begitu bijak dengan keterampilan militer seperti dewa, tidak bisa tidak menatap dengan bodoh.”

(lima jeroan dan enam perut = jiwa raga)

Omong kosong! Ketidakpercayaan ditulis di mata Xiao Xu.

Huang Yi, yang berdiri di samping menunggu untuk melayani, mendengar ini dan menahan diri, tidak berani tertawa.

Jika kata-kata ini berasal dari mulut nona matang yang mulia, maka mungkin itu masih bisa dipercaya. Sayang sekali bahwa Ying wangye masih mengenakan topeng, kebohongan semacam ini terbukti dengan sendirinya.

Chu Qing Yan menyadari itu adalah langkah terlambat dan tidak bisa tidak meludahkan lidahnya. Dia baru saja tiba-tiba mengatakannya.

Untungnya, Xiao Xu tidak sering menyindirnya tentang topik ini, jadi Chu Qing Yan berpikir bahwa dia tidak mendengar kesalahan dalam kata-katanya. Bahkan, dia tidak tahu bahwa Xiao Xu berpikir bahwa menjadi serius dengan gadis kecil itu benar-benar menurunkan keanggunannya, dengan demikian, dia membiarkannya lepas begitu saja.

Setelah makan, Chu Qing Yan, dengan kesengsaraan yang ditahan-tahan, diperintahkan oleh Xiao Xu untuk datang ke meja dan menggiling tinta seperti sebelumnya.

Sebelum ini, sudah ada seorang pelayan yang mengenakan pakaian berwarna biru muda yang merapikan meja. Melihat Xiao Xu membawa Chu Qing Yan ke dalam, dia langsung memberi salam. Kemudian, mengetahui bahwa Chu Qing Yan akan menggiling tinta, dia segera melangkah maju untuk menyiapkan batu tinta dan batang tinta sebelum menarik diri ke samping.

Chu Qing Yan menatap sekilas pelayan itu dan hatinya sedikit kagum. Wanita yang pendiam dan lembut ditutupi dengan aroma samar buku. Mungkin penampilan itu tidak terlalu luar biasa, tetapi hanya berdiri di sana tidak bergerak, sudah sulit bagi orang untuk mengabaikannya.

Chu Qing Yan sekali lagi melemparkan ekspresi iri pada Xiao Xu. Ini benar-benar seluruh ruangan yang penuh wanita cantik, dan itu semua jenis dari berbagai jenis wanita.

Xiao Xu mengabaikan tatapan aneh di matanya, mengangkat matanya untuk meliriknya, “Apa yang kau lakukan di sana, melamun?”

Mendeteksi ketidakpuasannya, Chu Qing Yan segera berlari ke tinta taat dan patuh.

Mengabaikan penampilannya yang patuh, Xiao Xu meraih sebuah buku untuk dibaca dan dengan sembarangan membalik-baliknya.

Chu Qing Yan tanpa daya menghela nafas di dalam hatinya. Kapan hari-hari seperti ini akan berakhir?!

Setelah urutan kegiatan ini diulang selama tiga hari, Chu Qing Yan merasa bahwa dia benar-benar tidak tahan lagi. Setelah hari lain bangun di tengah malam untuk menemaninya makan sarapan, Chu Qing Yan memutuskan untuk meletakkan semua kartunya di atas meja padanya.

(Meletakkan semua kartunya di atas meja= idiom inggris yang artinya; Blak-blakan/ terang-terangan mengungkapkan semua niat. Kartu yang sama artinya dari ‘pegang kartu seseorang’)

Akibatnya, Chu Qing Yan dengan cemas menunggu dia untuk kembali dari pengadilan pagi. Sudah hampir siang ketika Xiao Xu dengan tenang kembali.

Untuk makanan ini, Xiao Xu memperhatikan bahwa dia sangat perhatian. Sebagai contoh, ketika dia pulang, dia memujinya sebagai pohon giok di angin, lalu dia dengan penuh semangat memperkenalkan setiap hidangan dan bahkan mendesaknya untuk makan lebih banyak. Meskipun biasanya, selama makan, dia kadang-kadang mengucapkan beberapa kata, ini tidak tampak seperti dirinya yang patuh.

(Pohon Giok di angin = Idiom ini sering digunakan untuk menggambarkan bakat seorang pria muda serta penampilan fisiknya. Tinggi dan terhormat bagai giok terbawa angina sepoi.)

Ketika hal-hal yang tidak biasa terjadi, pasti ada hantu yang terlibat!

Namun, sudut bibir Xiao Xu tertarik ke atas. Dia benar-benar menantikan apa yang akan dia lakukan.

Chu Qing Yan berencana untuk benar-benar menyanjung dan membuatnya bahagia dulu, dan kemudian mengeluarkan ide yang dia putuskan. Bagaimana dia tahu bahwa sebelum dia bisa menerapkannya, itu sudah terlihat jelas.

Setelah berpikir bahwa dia telah menenangkan bulu pihak lain untuk menjadi lebih menyenangkan, sambil menggosok tinta, Chu Qing Yan memutar pergelangan tangannya dan membuka mulutnya untuk mengatakan, “Wangye, Qing Yan memiliki masalah yang ingin dibicarakan dengan anda.”

Xiao Xu tatapannya sangat melekat pada buku yang sedang dia baca dan menjawab dengan nada datar, “Katakan.”

Chu Qing Yan meliriknya, lalu melanjutkan dengan nada menyalahkan diri sendiri, “Wanye, Qing Yan menyadari bahwa jika anda terus menunggu saya untuk sarapan bersama, mungkin menunda waktu anda untuk sampai ke pengadilan pagi. Untuk menghemat waktu anda, Qing Yan tidak akan menemani anda untuk sarapan mulai sekarang. Jika tidak, jika anda terlambat, dan wajah naga Kaisar marah dan menyalahkan anda, bukankah itu dosa Qing Yan?”

Sementara Chu Qing Yan mengatakan ini, dia juga memperhatikan dengan gugup untuk reaksinya.

“Oh.” Suara ini berlarut-larut terlalu lama, begitu lama sehingga menyebabkan hati Chu Qing Yan menggigil, lalu dia mendengarnya dengan tidak terburu-buru berkata, “Kuda raja ini adalah satu-dalam-seribu kuda yang baik. Menempuh seribu mil dalam sehari bukanlah masalah, apalagi jarak yang sangat dekat. Tapi kau berpikir seperti ini juga penuh pertimbangan, mulai sekarang, membiarkan para pelayan memanggilmu setengah dupa waktu lebih cepat akan cukup.”

¼ kati menyingkirkan seribu kati. Dia langsung menolak permintaannya.

(¼kati menyingkirkan seribu kati – Sebuah ungkapan dari filosofi gaya bertarung Tai Chi. Kekuatan kecil bisa menang melawan kekuatan besar. Artinya gerakan ringan dapat menjatuhkan/menyingkirkan lawan berat.)

Hati Chu Qing Yan segera terasa dingin. Ini hanya disiksa sampai mati ah. Bergerak setengah waktu dupa lebih awal setara dengan dia hanya memiliki enam jam tidur permalam? Hei, beauty sleep-nya, ah!

(beauty sleep = tidur yang dibutuhkan agar tetap cantik.)

Dia ingin membalas, tetapi konsentrasi pihak lain untuk membalik halaman buku dengan jelas menunjukkan bahwa masalah ini telah selesai.

Chu Qing Yan mengatupkan giginya dan menahannya.

Jika satu rencana gagal, maka buatlah rencana baru.

Keesokan harinya.

Pelayan itu kembali dari halaman kecil Chu Qing Yan yang terengah-engah.

Xiao Xu melihat bahwa hanya pelayan Chu Qing Yan yang mengikuti di belakangnya dan tidak dapat menahan untuk menaikkan alis.

“Melapor kepada wangye, nona, nona keluarga saya lalai dan terkilir pergelangan kakinya kemarin di jalan pulang. Saya khawatir dia tidak akan dapat melihat wangye hari ini.” Xi Ning tidak berani melakukan kontak mata dengan wangye bertopeng perak di depannya. Dia bergetar saat selesai menyampaikan apa yang dikatakan nona tadi malam.

“Gu Rong.”

“Bawahan ada di sini.”

Xi Ning tidak mengerti mengapa wangye akan memanggil pengawal kekaisaran setelah memberi tahu dia tentang situasi nona.

“Bawa Nona keluarga Chu ke sini.” Xiao Xu mengancingkan lengan bajunya dan berkata tanpa warna atau rasa asin dalam nada suaranya.

Gu Rong sedikit terkejut tetapi dia masih segera menjawab, “Sesuai yang anda perintahkan.”

Xi Ning sangat takut sehingga dia hampir lemas di tempat. Dia berbalik untuk melihat wangye. Meskipun pada saat ini, dia hanya berdiri di sana acuh tak acuh, mengapa punggungnya terasa sedikit dingin?

Chu Qing Yan, yang tertangkap di tanah mimpi, terbangun dengan kejam. Ketika dia membuka mata yang mengantuk dan kabur, apa yang memasuki penglihatannya adalah sedan (tandu duduk), dan itu setelah melihat senyum Gu Rong yang tidak ‘tersenyum’, dia mengerti situasinya. Dia hampir memutar matanya dan kehilangan kesadaran.

Hantu Xiao Xu ini benar-benar berkeliaran dan tidak mau bubar!

Tapi itu tidak masalah, dia masih punya banyak tipuan.

Hari ke tiga.

Pelayan hanya membawa Xi Ning kembali seperti sebelumnya.

Meskipun Xi Ning tidak menyetujui praktik nonanya, dia masih dengan hati-hati dan teliti melaporkan kata-kata yang nona ajarkan kepadanya secara realistis, “wangye, kemarin, nona keluarga saya terkena flu, jadi dia tidak sehat hari ini.”

“Tidak enak badan?” Xiao Xu mengulangi kata-kata ini tiga kali.

“Ya, dia telah mengalami diare sejak semalam.” Xi Ning merasa bahwa dengan tinggal di sisi nona, keterampilannya berbohong telak telah membaik dari hari ke hari.

“Oh.” Xiao Xu masih penuh makna menyeret keluar suara sederhana ini.

Chu Qing Yan menunggu kabar baik Xi Ning dengan mata setengah tertutup. Ketika dia melihat dia kembali sendirian sambil megap-megap menghirup udara, dia tidak bisa tidak merasakan sukacita besar di dalam hatinya. Sepertinya rencananya berhasil.

Tapi dia melihat Xi Ning memegang sekantong barang di tangannya dan tidak bisa menahan senyum dan bertanya, “Apa itu di tanganmu?”

Xi Ning menahan nafas, dan dengan rasa takut berlama-lama, dia berkata, “Ini adalah apa yang diperintahkan wangye kepada pelayan ini untuk diberikan pada anda.”

Chu Qing Yan dengan curiga menerimanya dan dengan lembut membuka tas, hanya untuk menemukan bahwa itu diisi dengan kacang kecil berwarna hijau.

Croton pencahar!!!

(Croton= sejenis tanaman pencahar untuk obat.)

LAC 37. Sebuah Pesta untuk Mata, Membuat Makanan Lebih Mudah Ditelan
LAC 39. Hati-hati Ketika Binatang kecil Itu Meledak

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.