LAC 3. Orang Dari Keluarga Chu Dengan Niat Tak Jelas

Featured Image

-oOo

Saat Ayah Chu meletakkan ‘sisipan daun bawang terbalik’ di ranjang, dia langsung berlari keluar. Mengatakan bahwa dia akan menemukan jaring ikan untuk ‘sisipan daun bawang terbalik’, dalam beberapa saat, dia akan bisa membantunya menangkap ikan.

Chu Qing-Yan menganggapnya lucu dan membiarkannya pergi. Akan lebih baik asalkan Ayah tidak keluar untuk memprovokasi orang lain.

Segera setelah itu, dia menyalakan api untuk menyiapkan air panas untuk mencuci wajah pria itu. Baru setelah hujan musim semi, jadi kayu bakar yang mereka ambil sedikit lembap. Dia mencoba menyalakannya beberapa kali sebelum mulai terbakar. Chu Qing-Yan tidak sempat membersihkan mukanya yang penuh abu hitam. Dia membawa air panas dan masuk ke kamar.

Dia meletakkan air panas dan berbalik untuk melihat laki-laki di atas tempat tidur jerami. Orang ini memiliki lengan dan kaki yang panjang, meski dia bukan tipe yang tinggi dan kokoh, dia sehat dan kurus. Dia pasti akan dianggap Mr. Perfect di antara teman-teman perempuannya. Namun, Chu Qing-Yan baru saja menyeberang ke dunia ini, dia memiliki banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Karena itu, dia tidak sempat menemukan betapa menariknya sosok pria ini, hingga membuat hidung seseorang berdarah.

Dia hanya merasa bahwa orang besar seperti itu, yang dijejalkan di tempat tidur kecil keluarganya, sepertinya benar-benar telah menganiaya orang ini.

Chu Qing-Yan tidak punya waktu untuk memperhatikan hal-hal lain, dia memelintir kainnya untuk menyingkirkan kelebihan air dan menyeka wajah ungu tua kemerahan pria itu, seolah mencoba membersihkan wajahnya. Namun, tidak peduli bagaimana dia mengelapnya, tidak ada indikasi bahwa warna di wajahnya memudar. Chu Qing-Yan tidak bisa menahan cemberut, mungkinkah dia dilahirkan dengan wajah ungu ini?

Sayang dia tidak bisa mengajak orang untuk berkonsultasi sekarang, Chu Qing-Yan dengan bingung memukul dahinya sendiri. “Sepertinya aku mengambil benda yang merepotkan.” Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri, “Orang itu hidup tapi hanya tidak bisa bergerak, tampak seperti orang dalam keadaan vegetatif. “

(Vegetatif= Tidak bisa bergerak, seperti koma, tetapi masih bernyawa seperti sayuran.)

Meski suaranya jengkel, dia tetap hati-hati mengusap wajah dan tangan pria itu dengan bersih. Dan, tepat pada saat ini, terdengar suara dari luar pintu. Mata Chu Qing-Yan menyala, Ibu telah kembali! Akibatnya, dia membawa baskom air dan langsung keluar.

Setelah Chu Qing-Yan pergi, sepasang mata tertutup rapat itu perlahan membuka. Dalam sekejap, cahaya samar melintas di matanya, memperlihatkan secercah cahaya seperti yang ada di waktu fajar.

Dia ingin mengangkat tangan tapi menemukan bahwa seluruh tubuhnya kekurangan kekuatan. Dalam pikirannya, ia berpikir bahwa efek obat itu masih belum memudar, dia tidak bisa menahan cemberutnya. Segera setelah itu, matanya bergerak untuk mengatasi situasi saat ini. Di depannya hanya ada dinding lumpur kuning yang berantakan, begitu pula atap yang ditumpuk dengan rumput sogon yang tidak tertutup rapat. Terkadang, angin musim semi nakal akan mengalir ke sekeliling ruangan sebelum pergi.

Ini benar-benar ruangan sederhana.

Baru sekarang, di gunung, dia telah mendengar semuanya dengan sangat jelas dari dialog ayah dan anak tanpa akhir ini. Jika tubuhnya tidak diracuni dengan Dupa Berapi Dunia Bawah dan dia tidak bisa bergerak dalam dua puluh empat jam, bagaimana dia bisa membiarkan orang-orang mendekati tubuhnya.

(Dupa Berapi Dunia Bawah = nama racun)

Untung. Dia dijemput oleh pasangan ayah dan anak perempuan ini, dan bukan musuh-musuhnya. Jika tidak, berdasarkan kondisi saat ini, sangat mungkin, situasi akan sangat suram.

Dan, pada saat ini, percakapan antara ibu dan anak perempuan juga melayang ke dalam ruangan.

“Ibu, mengapa ibu pulang ke rumah begitu pagi hari ini?” Chu Qing-Yan menerima nasi yang telah Ibu beli, menarik Ibu Chu ke sebuah kursi dan membantunya duduk. Lalu, dia mengulurkan tangannya untuk membantu memijat pundak ibunya.

Ibu Chu tersenyum lembut, “Hari ini tamu datang ke Rumah Li, oleh karena itu, pengawas mengizinkan kami untuk kembali lebih awal. Oh ya, baru saja, akku mendengar ayahmu di ambang pintu, mengatakan bahwa dia membawa pulang seikat daun bawang. Ada apa ini? “

(Daun – Istilah ini seperti bahasa gaul Cina untuk kurus, ramping, bahkan lembut saat menggambarkan wanita. Jadi dalam hal ini menggambarkan tipe tubuh seorang pria akan kurus atau, tinggi dan kurus tapi tidak terlalu kurus.)

Garis hitam segera muncul di dahi Chu Qing-Yan, deskripsi Ayah terlalu jauh dari kenyataan. Bagaimana ini bisa menjadi seikat daun bawang, ini hanyalah seikat kayu bakar! Orang ini tinggi dan kuat.

Namun, dia masih menceritakan semuanya kepada ibunya. Lagi pula, saat ini, ayahnya seperti anak kecil, satu-satunya yang bisa membuat keputusan dalam keluarga ini adalah Ibu. Meski usianya tidak muda, tapi di sini, dia masih gadis kecil yang baru berumur sepuluh tahun.

“Cai Cai, masalah ini, kau terlalu berani!” Setelah mendengar apa yang dikatakan, wajah Ibu Chu berubah. Meskipun dia masih tampak lembut, tapi dia memiliki sikap seorang ibu yang tegas dan ketat.

Chu Qing-Yan segera mengeluarkan lidahnya tapi dengan patuh mengakui kesalahannya, “Ibu aku salah.”

Segera setelah itu, dia melirik Ibu, mengedipkan matanya dan berkata, “Pada saat itu, melihat dia terbaring di sana terasa sangat menyedihkan, terlebih lagi, Ayah kebetulan hadir, jadi kami membawanya kembali.”

Ibu Chu berpikir bahwa anaknya melakukan ini dari hati baiknya, meski dia tidak menyetujuinya, tapi dia juga tidak ingin memukul jatuh niat baiknya. Dia tidak bisa menahan tangan untuk menyentuh hidung putrinya, “sekali ini saja!”

“Ya!” Segera, Chu Qing-Yan tersenyum.

“Bawa Ibu untuk melihat orang ini.” Ibu Chu berkata, dan Chu Qing-Yan segera membawanya ke ruangan itu.

Seseorang yang ada di sudut mendengar bahwa ibu dan anak ini akan masuk, dan sekali lagi dia memejamkan mata.

Melihat orang itu di tempat tidur, Ibu Chu hampir terlonjak ketakutan, “Wajahnya?”

Chu Qing-Yan dengan tak berdaya berkata, “Putri mu telah mencoba membantunya mencucinya, tapi tidak bisa mencucinya. Putri mu berpikir bahwa jika setelah malam ini, dia masih belum terbangun, besok, aku akan pergi ke Kakek Yao untuk memeriksanya.”

Kakek Yao adalah satu-satunya dokter di desa tersebut, walaupun keahlian medisnya tidak tinggi, dia masih sangat dihormati oleh masyarakat di desa tersebut. Hanya saja anak ini mendengar hari ini, kakek itu sedang mengunjungi pasien dan belum kembali. Akibatnya, dia melepaskan gagasan untuk mencarinya hari ini.

“Itu juga bagus!” Ibu Chu menepuk tangannya dan berkata, Segera setelah itu, dia menghela napas, “Cai Cai keluargaku sangat baik hati. Aku berharap ke depan, kau bisa mendapatkan berkat dan perlindungan Sang Buddha.”

Anak perempuan di depannya memiliki wajah oval yang cantik, anggun dan halus. Di bawah alis ramping, sepasang mata hitam pekat bersinar. Meski usianya masih muda, sudah ada tanda-tanda kecantikan. Hanya saja, kekurangan nutrisi jangka panjang telah menyebabkan wajahnya menjadi kuning dan kurus. Hatinya tak henti-henti merasa terganggu dengan ini, jika saat itu, masalah itu tidak terjadi, putrinya juga akan menjadi nona muda keluarga pejabat pemerintah. Dia akan lebih mulia dan cantik daripada wanita muda dari Rumah Li.

Dia merasakan ekspresi menyalahkan diri dari ibunya, dan Chu Qing-Yan menebak apa yang sedang dipikirkannya. Memang, dia harus memperbaiki keadaan keuangan keluarga ini sesegera mungkin! Namun, dia berbalik untuk menarik tangan ibunya, membawanya ke dapur, “Bu, meski anak perempuan itu baik hati, dengan penampilan secantik bunga mekar, sehingga rumput akan membungkuk saat mereka melihat bunga ini, namun aku masih tidak tahan lapar ah, mari kita pergi dulu menyiapkan makanan!”

Saat anak perempuannya menangis dia lapar, hati Ibu Chu mengencang. Dia berjalan lebih tergesa-gesa daripada putrinya, “Hari ini, pengawas memberi kami sekantong beras. Aku akan memasak semangkuk nasi putih untukmu!”

Melihat sosok ibu bergerak cepat di kejauhan, mata Chu Qing-Yan melengkung.

Ibu sedang sibuk di dapur yang dibangun dari beberapa lempengan papan kayu dan lumpur, sedangkan ‘daun bawang’ di ranjang tidak menunjukkan perubahan. Akibatnya, langkah kaki Chu Qing-Yan, dengan belokan, keluar dari pintu untuk mencari ayahnya.

Dia mencari cukup lama sebelum menemukan ayahnya duduk di pintu gerbang ke desa. Dia memiliki seutas tali di tangannya. Dia tidak yakin apa yang dia buat dan tidak bisa tidak mendekatinya.

Ayah Chu, melihat putrinya sendiri yang belum menikah, segera melambaikan tangannya untuk memberi isyarat kepadanya, mengatakan dengan cara memamerkan sebuah harta karun, “Cai Cai, kemarilah. Kau lihat di sini, aku sedang menjalin jala.”

Chu Qing-Yan melihat dan berpikir bahwa tali yang digunakan untuk jala buatan tangan ini tampak ia kenal, “Ayah, dari mana ayah mendapatkan tali ini?”

“Oh, ini digunakan untuk mengikat sapi Liu Da-Jia.” Ayah Chu memain-mainkan tali yang penuh minat, benar-benar melewati ekspresi putrinya sendiri seperti melihat kekacauan di tengah angin.

Chu Qing-Yan memegang keningnya, lupakan saja, Liu Da-Jia ini selalu mengolok-olok ayah karena idiot. Pikirkan ini karma baginya, nanti, ketika ayah sudah cukup bermain dengannya, maka dia diam-diam akan mengembalikan tali itu.

Tepat pada saat ini, sekelompok orang yang mengendarai dua kereta kuda perlahan mendatangi mereka. Suara kuku kuda yang menghentak tanah itu bergema, seolah takut orang lain tidak tahu bahwa mereka telah tiba.

Namun, ayah dan anak keluarga Chu bermain sangat bahagia, sama sekali tidak memperhatikannya.

Rombongan orang tiba di gerbang desa. Melihat kedua orang dengan pakaian kasar berjongkok di persimpangan, seorang pria tinggi kurus naik ke punggung kuda, dengan mata dan hidungnya di udara, berkuda. Dengan dagunya terangkat tinggi, berkata dengan nada menghina ayah dan anak keluarga Chu, “Hei, kalian, apakah ini Desa Mao atau tidak?”

Chu Qing-Yan hanya mengangkat kepalanya saat mendengar suaranya dan melihat seorang pria bertubuh tinggi di atas seekor kuda besar. Meski wajahnya jelas penuh penghinaan, tapi dia masih mengangguk.

Melihat wajah orang itu berubah menjadi gembira, dia langsung bertanya lagi, “Pengemis kecil, apakah desa mu memiliki keluarga dengan nama belakang Chu?”

Pengemis kecil?

Chu Qing-Yan menunduk untuk melirik bajunya, meski polos, masih bisa dianggap rapi dan bersih. Orang yang tinggi terlalu meninggi oke!

Namun. Chu Qing-Yan tidak bertengkar dengannya tentang ini, “Setidaknya ada tiga keluarga di desa Mao dengan nama terakhir Chu. Bisakah saya bertanya, siapa anda, dan siapa yang anda cari?”

Mungkin, dia tidak pernah berpikir bahwa di sebuah desa kecil, sebenarnya ada begitu banyak keluarga dengan nama belakang Chu. Ekspresi orang itu menjadi kesal, bagaimanapun, nadanya masih sangat sombong saat dia berkata, “Kami berasal dari keluarga Chu di ibukota, rumah besar pemerintahan daerah Ding Yan. Jika aku mengatakan namanya, itu akan membuat kau takut sampai mati. Namun, melihat bahwa kau masih muda, aku tidak akan menakut-nakuti mu dengan namanya. Selama kau memberitahu aku apakah keluarga Chu Huai-Yuan tinggal di desa ini atau tidak. Aku, kakekmu, akan memberimu pahala yang besar! “

(Kakek di sini maksudnya bukan benaran anggota keluarga, tapi seseorang yang harus lebih di hargai. Cth: Tetua, Bapak. Dengan makna ‘saya harus lebih di hargai seperti nenek moyang’)

Chu Huai-Yuan?

Chu Qing-Yan tanpa sadar menatap ayahnya sendiri yang telah mengangkat kepalanya dengan bingung setelah mendengar namanya.

Ayah, mereka mencarimu?

LAC 2. Menemukan Seorang Pria Tampan dan Membawanya Pulang
LAC 4. Menyulitkan Ibu yang Lemah dan Ayah yang Bodoh

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.