LAC 28. Tunangan bagai Batu Es Besar

Featured Image

-oOo

Nada yang digunakan untuk membuat laporan itu tidak nyaring, namun karena hari ini ulang tahun Tetua, semua orang telah menurunkan suaranya untuk berbicara. Dari waktu ke waktu, mereka akan meliriknya, sekarang, semua telinga terangkat, mendengar kabar ini, yang membuat semua orang lepas kendali.

Tampaknya Ying Wangye tidak menghadiri perjamuan seperti ini dalam waktu lama!

Dia kadang-kadang hanya hadir untuk perjamuan yang diadakan oleh Keluarga Kekaisaran.

Hari ini, dia benar-benar muncul disini?

Satu demi satu, kepala orang berpaling untuk melihat ke langit. Sepertinya matahari terbit dari barat hari ini, juga hujan merah turun dari langit.

Apakah salah dengar?

Mereka tidak bisa menahan jari ke telinga dan mulai membersihkan.

Seakan memvalidasi berita tersebut, gaun bersulam putih muncul di ambang pintu halaman depan. Saat ini musim semi, bunga-bunga peoni berbinar gembira, tapi di bawah sosok mirip salju itu, mereka tiba-tiba kehilangan semua warna mereka. Ujung pakaiannya menyapu melewati lempengan hijau, melewati lapisan ratusan bunga di puncak tebing. Rasanya seperti embusan angin sepoi-sepoi, mengusir semua kebisingan dan asap berdebu di ruangan itu.

Chu Qing-Yan sama sekali tidak memikirkan pesta itu. Setelah dia mengucapkan salam, dia menyisipkan senyuman di wajahnya. Dia mengosongkan pikirannya dan hanya menunggu perjamuan itu berakhir. Akibatnya, saat pelayan mengumumkan, dia sama sekali tidak menyadarinya. Baru ketika dia menatap tajam pandangan mata-mata disekeliling yang menatapnya, tiba-tiba, menarik diri dengan suara menabrak, tiba-tiba dia merasa sedikit terkejut. Menyadarkan kembali pikirannya, dia dengan sembarangan mengikuti tatapan setiap orang dan melihat —

Seseorang seperti teratai salju di gunung yang turun dari puncaknya, dengan aura dingin dan jelas yang tak terkalahkan. Seperti makhluk surgawi yang selalu berdiri sendiri, meninggalkan kehidupan duniawi, gaun putihnya melayang dan berayun, membentuk lengkungan demi lengkungan di udara. Sambil menyihir seperti kabut di antara lautan awan, ia menambahkan aura misteriusnya, tapi juga memisahkannya dari kerumunan.

Karena Keluarga Chu tidak mengantisipasi bahwa begitu banyak orang akan menghormati pesta kali ini dengan kehadiran mereka, mereka dengan terburu-buru mengatur perjamuan di luar rumah, di halaman depan. Untungnya, sinar matahari di bulan April tidak begitu terik, sebaliknya, membuat orang merasa lebih nyaman.

Jadi, Chu Qing Yan duduk dengan punggungnya menghadap cahaya dan melihat orang yang berjalan maju menuju cahaya. Dia tidak bisa melihat wajah orang ini dengan jelas, tapi sinar lembut cahaya membentuk lingkaran cahaya yang kabur di sekitar orang ini. Sinar cahaya memantul dari pakaiannya dan rambutnya dengan cara nakal.

Chu Qing-Yan, untuk sepersekian detik, tiba-tiba merasa bahwa orang ini bahkan lebih mempesona daripada matahari di cakrawala yang jauh.

“Hormat kepada Ying wang.”

(wang = wanye/ lebih singkatnya)

Ketika orang itu berdiri tegak di tengah halaman, semua orang kembali sadar satu per satu dan langsung berlutut untuk menghormatinya. Suara ‘plop’ yang terjadi begitu cepat sehingga jantung Chu Qing Yan bergetar karena takut. Apakah ada kebutuhan untuk berlutut begitu dalam?

Namun, melihat wanita kelas atas yang bercanda di depannya sebelumnya, sekarang berlutut dengan wajah pucat dan bibirnya gemetar, Chu Qing Yan tiba-tiba teringat sesuatu yang telah terlempar ke belakang pikirannya. Tunangannya dikenal kejam di luar bagai iblis!

Dia diam-diam mengangkat kepalanya. Dia sudah berdiri di hadapan Tetua Chu. Baru saat ini dia menyadari bahwa pria itu mengenakan topeng di wajahnya. Wajahnya tidak bisa dilihat dari dahi sampai hidung, hanya menampakkan sepasang mata. Sayang, dia tidak bisa melihat seperti apa sepasang mata itu dari tempat dia berdiri.

Jadi, sebenarnya ternyata yang menyilaukan matanya beberapa waktu yang lalu adalah cahaya yang memantul dari topeng perak yang dikenakannya?

Jika ini hari lain, Chu Qing Yan tidak peduli siapa yang datang. Namun, hari ini tidak seperti dulu. Tidak peduli bagaimana dia telah menolak pernikahan ini sebelumnya, pada akhirnya, orang ini masih menjadi calon suaminya. Apalagi dia juga terkenal, jadi dia tetap saja tidak bisa tidak sedikit penasaran.

“Semuanya tidak perlu terlalu bersikap sopan.”

Nada dingin dan tanpa ceria seperti es di tepi kolam di musim dingin. Semua orang menggigil, perlahan kembali sadar setelah setengah detik, sebelum buru-buru bangkit.

Chu Qing Yan adalah seorang audiophile. Mendengar suara ini, tanpa alasan sama sekali, sebuah ungkapan muncul di kepalanya. Suara yang indah sekali!

(Audiophile = orang yang gampang jatuh cinta/tertarik dengan suara/audio)

Meski nada itu datar sampai pada titik di mana terdengar muram, bagaimanapun, sebagai seorang ahli yang terobsesi dengan kontrol suara, Chu Qing Yan sama sekali tidak menyadarinya; Dari lubuk hatinya, dia pikir itu mirip dengan suara alam.

Chu Qing Yan tidak tahu bahwa jika orang-orang di sekitarnya tahu pikirannya saat ini, mungkin pertumpahan darah itu sudah tiga liter penuh!

(pertumpahan darah; di sini khiasan, bukan pertumpahan sebenarnya, maknanya ‘mungkin mereka sudah memuntahkan darah’ karena sangat tidak percaya dan kesal)

Benwang telah menyiapkan hadiah ucapan selamat untuk ulang tahun Tetua Chu yang terhormat. Aku harap Tetua Chu tidak akan tidak menyukainya.” Suara yang jelas dan dingin sekali lagi terdengar. Begitu selesai berbicara, pemberian itu dihantarkan oleh para pelayan di belakangnya ke depan Tetua Chu.

Tetua Chu tidak akan pernah menyangka akan datang suatu hari ketika seorang Pangeran akan datang untuk mengucapkan selamat kepadanya; pada hari ulang tahunnya. Karena begitu terbebani oleh kebaikan ini, dia dengan cepat membiarkan seseorang menaruhnya dengan benar dan segera menjilat dengan mengatakan, ” Ying wang datang sudah menjadi berkat bagi orang tua ini, dan untuk secara khusus menyiapkan hadiah ucapan selamat, orang tua ini benar-benar tidak hidup dengan sia-sia ah.”

Chu Qing Yan mendecakkan lidah dalam hati. Awalnya, dia mengira paman besarnya sudah tua dan tidak suka berbicara. Dia tidak pernah menduga bahwa ketika dia mulai menyanjung seseorang, bakatnya juga benar-benar menonjol dalam hal ini.

Pada saat ini, di bawah topeng perak, sedikit ketidaksabaran melesat melintasi pupil mata hitam itu. Dia menjawab, “Ke depan, kita akan menjadi satu keluarga. Tidak perlu terlalu sopan.”

Begitu kata-kata ini diucapkan, semua orang menahan napas. Sebaliknya, Keluarga Chu sangat gembira dalam hati. Tampaknya Ying wangye tidak menolak pernikahan ini karena rumor tersebut. Mereka tanpa sadar meluruskan punggung mereka dan membusungkan dada mereka. Lihat ini? Ying wangye secara terbuka mengakui pernikahannya, ini berarti, mulai sekarang, dia akan menjadi pendukung Keluarga Chu. Keluarga Chu mereka akan dengan cepat mencapai kesuksesan yang melimpah.

Jika Chu Qing-Yan mengetahui pemikiran mereka saat ini, dia akan mengira bahwa ketiga nilai (pandangan dunia, nilai-nilai layak dan filosofi tentang kehidupan) harus ditulis ulang lagi. Dia telah melihat orang-orang yang tak tahu malu, tapi tidak pernah ada orang yang bahkan membuang harga diri mereka.

“Ya, ya, ya, tunggu sampai Chu Qing Yan menikah dulu, kita akan menjadi satu keluarga.” Nyonya Tua Chu setuju di sampingnya, wajahnya penuh dengan rona kemerahan karena merasa bangga pada dirinya sendiri.

“Hari ini, orang yang dirayakan adalah tetua Chu. Benwang tidak akan terus mencuri perhatian.” Setelah Xiao Xu selesai berbicara, dia mencari sebuah sudut dan duduk.

Hal ini menyebabkan Tetua Chu, yang berencana untuk mengatur kursi teratas untuknya, menjadi bingung mencari kata-kata. Dia buru-buru mengirim beberapa pelayan untuk melayaninya dengan benar, kemudian, dia mengumumkan kelanjutan perjamuan tersebut.

Melihat bahwa Ying wang telah duduk, semua orang mengikutinya dan duduk. Hanya saja, suasananya sudah berubah, tidak seperti keriuhan yang tak terkendali seperti sebelumnya. Bagaimanapun, seorang Buddha besar saat ini duduk di sana, membuat semua orang agak gelisah.

(Seorang Buddha besar= maknanya seseorang yang penting sekali/boss)

Chu Qing-Yan merasakan suasana hati semua orang dan tidak bisa tidak melirik orang yang duduk di pojokan, seperti tidak terlibat setelah memberikan hadiah ucapan selamat. Perasaan seperti membuat riak air di kolam, lalu pria itu dengan linglung melihat dari samping dengan tangan di belakang punggungnya.

Rambutnya diikat mahkota batu giok dan jatuh di belakang tubuhnya, kontras dengan pakaian putih saljunya, dan warnanya tampak lebih hijau daripada hitam pekat. Bersulam dengan benang emas yang menggambarkan awan yang disusun di kedua sisi, membelah dari kerah, berkilau dan bersinar di bawah sinar matahari, persis seperti awan yang melayang di cakrawala, memberi kesan yang bersih dan mulia pada orang-orang.

Mungkin karena dia lupa menyembunyikan tatapan yang biasa dia gunakan untuk menilainya, sosok yang kepalanya tertunduk sepertinya telah merasakan tatapannya. Pria itu mengangkat matanya dan mata gadis itu bertemu langsung.

Tiba-tiba, mekar di tengah bulan April berakhir, dan suhu turun sekaligus.

Untuk pertama kalinya, Chu Qing Yan merasakan seperti apa rasanya disiram air dingin dari atas kepalanya dan merasakannya tumpah. Rasa dingin yang menusuk menembus jantung.

Baru saja!

Dia tidak bisa melihat sedikit kehangatan pada sepasang mata indah itu. Rasanya seperti bintang yang terdiri dari lapisan kristal es, dengan keindahan yang melebihi mutiara yang ditambang. Hanya saja, tanpa alasan sama sekali, hal itu memberi kesan bahwa udara dingin dilepaskan.

Tak heran kalau paman dan bibi besar itu sangat sopan saat ini dan masih tidak berani menatap lurus ke matanya. Dan orang-orang yang hadir juga mengalihkan pandangan mereka dalam ketakutan. Ternyata orang ini memiliki aura yang menimbulkan ketakutan pada setiap orang. Hal itu membuat orang tidak dapat berbicara atau bergerak, membuat mereka berkeringat dingin dari kepala sampai kaki dan melahirkan rasa takut yang datang dari hati.

Yama yang menakutkan, Raja Neraka; Jelas, reputasinya memang layak!

LAC 27. Ying Wang tiba, Sama Sekali Tidak Memberi Peringatan
LAC 29. Pertama Kali Bertemu, Aku Sangat Sopan!

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.