LAC 2. Menemukan Seorang Pria Tampan dan Membawanya Pulang

Featured Image

-oOo

Hari ketiga setelah tiba di zaman kuno ini, Chu Qing-Yan akhirnya mengerti arti benda yang ada di atas kertas selalu terasa dangkal. Dia menyadari bahwa hal ini, dia harus melakukannya sendiri.

(Hal yang diterima di atas kertas selalu terasa dangkal: Di atas kertas terlihat hebat namun tidak memiliki arti dalam kehidupan nyata.)

Ada baiknya dia punya ide, tapi menjalankannya sangat sulit.

Apa itu persilangan genetis untuk padi sawah? Apa itu pupuk adalah raja. Apa bisnis konstruksi menjadi kaya. Teruslah bemimpi!

(Menyadari semua ilmu abad duapuluh satunya tidak dapat di manfaatkan)

Awalnya, dia berpikir bahwa mengandalkan tangannya untuk menjadi kaya akan menjadi masalah yang mudah, tapi melihat tangannya, karena kekurangan gizi jangka panjang, bahkan tidak bisa menyembelih ayam, Chu Qing-Yan merasa sangat kalah.

Tanpa kondisinya, tanpa uang, malah memberi makan perut pun menjadi masalah.

Chu Qing-Yan mengusap perutnya, sepertinya dia lapar lagi. Hampir tidak ada makanan yang tersisa untuk dimasak di rumah. Sehari-hari, bisa meminum semangkuk bubur dengan beberapa butir beras sudah cukup bagus. Dengan hanya empat dinding kosong untuk rumah, tingkat kemiskinan mereka telah melampaui imajinasinya.

Tepat saat Chu Qing-Yan terengah-engah, sebuah roti bundar yang kotor muncul di depannya. Dia menatap kosong, lalu tidak tahan mengikuti roti kukus itu untuk melihat ke atas. Dia hanya melihat ayahnya tersenyum cemerlang seperti sinar matahari, menatapnya dengan cara mencoba memenangkan hatinya.

“Ayah, dari mana kau mendapatkan ini?” Di saat berikutnya, jantung Chu Qing-Yan mengencang. Mungkinkah Ayah sekali lagi menyambar barang orang lain!

Orang tidak bisa menyalahkan Chu Qing-Yan karena berpikir seperti ini. Dalam tiga hari ini, setiap hari, dia mengikuti ayahnya untuk membersihkan kekacauannya. Jika tidak menabrak rak pakaian keluarga di barat, maka itu mengejar anjing pemilik lahan. Luka-luka menyedihkannya masih belum sembuh, dan dia harus mengikutinya, mengembara ke seluruh desa. Sepanjang waktu, dia berjaga-jaga di sisi ayahnya, jika tidak, uang yang dibuat Ibu dari mencuci pakaian orang lain bahkan tidak cukup untuk membayar kompensasi.

Ayah Chu tersenyum nakal, “Bibi Guo memberikannya padaku.”

(Bibi adalah cara yang sopan menyebut wanita lebih tua yang sudah menikah di China. Tidak selalu ada hubungan keluarga.)

Dia tidak akan pernah memberi tahu Cai Cai bahwa ini adalah hasil dari dia menongkrongi dapur keluarga itu, mengemis. Jika tidak, Cai Cai pasti akan marah!

Chu Qing-Yan melihat roti kukus yang tidak dia ketahui telah berguling berapa kali di tanah. Rasa hangat timbul, menyebar melalui hatinya. Dia mengangkat kepalanya untuk bertanya, “Kalau begitu, apakah Ayah sudah makan?”

“Sudah makan duluan.” Ayah Chu menatapnya, menelan seteguk air liur. Setelah itu, dia mengalihkan kepalanya dan bersenandung.

Dengan sekilas saja, Chu Qing-Yan tahu, Ayah Chu enggan memakannya dan memberikan roti itu padanya. Dengan air mata, dia menerimanya dari ayahnya, setelah itu dia membelah roti kukus itu menjadi dua bagian, “Ayah, untukmu.”

Ayah Chu, dengan sangat gembira, menerimanya dan menggigitnya.

Chu Qing-Yan, melihat ini, juga menggigit, tidak peduli betapa kotornya roti kukus ini, saat memakannya, dia masih bisa merasakan jejak rasa manis di mulutnya.

Seorang teman yang membutuhkan tetaplah seorang teman, ayahnya, tidak peduli apakah itu di dunia modern atau yang bodoh saat ini, tidak pernah melupakan kekhawatirannya dan merawatnya.

Setelah berbagi roti kukus, tubuhnya memiliki sedikit kekuatan. Akibatnya, Chu Qing-Yan menepis debu di tubuhnya, lalu berkata kepada ayahnya, “Ibu pergi untuk melakukan sesuatu, kita berdua sebaiknya mendaki gunung untuk mengambil kayu bakar!”

Ini adalah sesuatu yang dia pikirkan saat ini, yang bisa membebaskan Ibunya dari beberapa bebannya.

Melihat ayah melompat dan berloncat-loncat di depan sambil memberi isyarat untuk bersukacita, Chu Qing-Yan tersenyum membawa keranjang bambu di punggungnya. Dia berpikir bahwa mungkin, keberuntungannya akan bagus dan dia bisa menggali beberapa sayuran liar dan jamur. Lalu, akan ada sesuatu untuk dimasak untuk makan malam ini.

Untungnya, pada kehidupan lalu, saat liburan musim panas, dia baru saja mengikuti pelatihan bertahan hidup di hutan. Pada saat ini, kebetulan ini sangat berguna.

Hujan musim semi baru saja lewat. Waktu yang tepat bagi jamur untuk tumbuh.

Setelah Chu Qing-Yan dengan hati-hati membedakannya, dia memilih yang tidak beracun untuk dimasukkan ke keranjang bambunya. Kemudian, dia menggali beberapa sayuran liar, dan setelah setengah hari, keranjang bambu itu hampir penuh.

Dia dengan senang hati mengusap keringat, setelah itu, dia langsung berdiri untuk melihat ke arah ayahnya. Dia hanya melihatnya melompat dan berloncat, sebentar-sebentar berhenti untuk membantunya mengambil cukup banyak kayu bakar. Mereka semua dilempar ke lahan kosong dengan cara yang tidak teratur.

Setelah beberapa saat, dia akan membiarkan ayahnya membawa keranjang bambu ini di punggungnya, dan dia akan membawa kayu bakar itu. Setelah itu, mereka bisa pulang.

 

Chu Qing-Yan mengambil langkah cepat ke arah ayahnya. Tapi berjalan di tengah jalan, dia mendengar ayahnya tiba-tiba berteriak keras, “Cai Cai, aku mengambil kayu bakar hitam besar!”

Kayu bakar hitam besar Chu Qing-Yun, dengan was-was, mempercepat langkahnya untuk berlari. Dengan sangat cepat, dia bisa melihat kayu bakar hitam besar yang ayahnya sebutkan.

Sudut mulut Chu Qing-Yan berkedut sedikit, “Ayah, ini bukan kayu bakar hitam besar. Ini adalah orang. “

“Seseorang!” Ayah Chu segera menghampiri sisi putrinya dengan ekspresi seperti telah disalahi, “Lalu mengapa dia terbaring di sana dengan seperti tertidur, berpura-pura menjadi kayu bakar hitam besar untuk menipu ku?”

Chu Qing-Yan melihat orang yang tidak bergerak itu terbaring telungkup di rumput. Hatinya tumbuh sedikit rasa prihatin. Sementara ayahnya dan dia melakukan percakapan ini, dia tidak melihat adanya gerakan darinya. Chu Qing-Yan sedikit tidak nyaman, tidak tahu apakah orang ini sudah meninggal atau hidup.

Dia ingin maju untuk memeriksanya, tapi melihat bahwa orang ini mengenakan jubah panjang hitam dengan kerah bulat yang terbuat dari sutra sulaman. Di pergelangan tangannya, lengan baju berwarna biru itu terlipat-lipat. Sebuah sabuk merah bertatahkan batu giok ada di pinggangnya. Selain itu, desain dekoratif berwarna emas dan ungu seluruhnya disulam dengan tangan. Itu terlihat sangat indah dan cantik. Hanya berdasarkan apa yang dia kenakan, dari kepala hingga ujung kaki, ditetapkan bahwa dia orang kaya dan terhormat. Hanya saja, orang seperti ini tiba-tiba muncul di desa sederhana dan kasar ini, tidak bisa tidak membuat Chu Qing-Yan lebih waspada. Dia tidak ingin memancing pertengkaran dan mati setelah baru saja menyeberang.

Akibatnya, Chu Qing-Yan menarik ayahnya yang berputar di sekitar ‘kayu bakar hitam besar’ itu, dan berencana berbalik untuk pergi.

Seseorang hanya bisa melihat Ayah Chu berbalik untuk melirik putrinya, dan mengatakan dengan cara meminta pendapat, “Cai Cai, Ibu Dan mengatakan bahwa orang-orang perlu ditutupi selimut saat tidur. Jika tidak, mudah terserang flu. ‘Kayu bakar hitam besar’ sedang tidur di sini, bolehkah aku membawa beberapa pakaian untuk menutupinya terlebih dahulu?”

Chu Qing-Yan melirik pakaian yang ditambal di tubuh ayahnya, lalu melihat pakaian mewah orang lain itu. Dia mendesah di dalam hatinya, mungkin pakaian ayah, di mata orang itu, bahkan tidak memenuhi syarat untuk menyeka tangannya!

Namun, langkah kakinya masih terhenti. Menyerahkan diri pada nasibnya, dia berbalik. Seharusnya tidak, karena kejadian- kejadian seperti itu terjadi, maka setelah itu, saat melihat orang tua jatuh, dia tidak berani membantu. Bagaimanapun, ini adalah kehidupan manusia. Dia tidak bisa duduk-duduk dan menonton sambil tetap acuh tak acuh. Jika dia benar-benar menemukan serigala di dekat tembok luar kota, maka bisa dianggap bahwa dia memiliki nasib buruk.

“Ayah, kau membantuku membalikkannya, aku perlu memeriksa apakah dia masih hidup.” Chu Qing-Yan merasa masih bisa bernapas, tapi tubuhnya kecil dan sangat lemah. Jadi, dia tidak bisa menggerakkan pria ini yang memiliki kaki dan lengan panjang.

Ayah Chu segera berlari untuk mengulurkan tangannya, hanya saja, dia menggunakan terlalu banyak kekuatan. Orang itu dibalik dan dilempar ke tanah, begitu saja.

Chu Qing-Yan terbatuk-batuk dua kali, baru saja, dia lupa mengingatkan ayahnya untuk menggunakan sedikit kekuatan. Dia benar-benar merasa kasihan pada seonggok ‘kayu bakar hitam besar’ ini. Namun, saat melihat ke arah pria di tanah, dia menemukan bahwa wajah orang ini sepertinya telah diolesi cat. Seluruh wajahnya berwarna ungu, warnanya sama sekali berbeda dari lehernya yang putih. Namun, dia bisa melihat garis besar fitur wajahnya dengan jelas. Wajahnya dingin dan tampan, dengan alis tebal, jembatan hidung lurus yang tinggi, dan bibir yang sangat indah. Secara keseluruhan, dia membuat orang merasa sedikit kedinginan dan kaku. Chu Qing-Yan berpikir bahwa jika mereka berada dalam sebuah kartun atau anime, dia benar-benar akan menyerupai peri ungu yang menawan. Namun, sekarang bukan saatnya memikirkan hal ini. Chu Qing-Yan mengulurkan tangannya untuk menguji napasnya. Napasnya terus-menerus dan panjang, jadi dia masih hidup. Selain itu, sepertinya tidak ada luka lain di tubuhnya, tubuhnya tampak seperti biasa tidur normal.

Namun, dia tahu itu tidak benar, karena tidak ada orang normal yang tidak bereaksi setelah dilempar seperti itu beberapa saat yang lalu.

Pada saat ini, ayahnya sudah mengulurkan tangan untuk menyodok pria itu, “Cai Cai, mengapa dia terlihat seperti terong?”

“Kurasa dia makan terlalu banyak terong!” Chu Qing-Yan menjawab tanpa berpikir.

Dan orang yang terbaring di tanah, sudut mulutnya tidak bisa menahan diri untuk tidak berkedut sedikit pun. Namun, kelengkungan gerakan itu sangat kecil, sangat kecil sehingga tak ada yang menyadarinya.

“Kalau begitu, mulai sekarang, aku tidak akan terlalu berisik untuk memohon Ibu Dan makan terong. Aku tidak ingin menjadi seperti dia.” Ayah Chu bergumam pada dirinya sendiri.

Chu Qing-Yan tertawa pelan, setelah itu, dia memalingkan muka untuk bertanya, “Ayah, ayo bawa dia pulang!”

“Kenapa?” Tanya Ayah Chu.

Chu Qing-Yan memiringkan kepalanya, berpikir untuk menggunakan alasan apa yang bisa membujuk Ayahnya. Orang ini setinggi 1,8 meter. Tubuhnya yang kecil ini tidak bisa menariknya untuk bergerak sedikit, dia membutuhkan ayah untuk membantu. Apakah dia harus mengatakan bahwa mereka harus membawanya kembali untuk menanamnya di kebun dan tahun depan, banyak terong akan tumbuh?

Dan tepat pada saat ini, Ayah Chu, yang sedang berputar mengelilingi ‘terong’ ini, tiba-tiba bertepuk tangan. Wajahnya penuh kegembiraan saat dia berkata kepada putrinya, “Aku tahu, karena dia ingin mendatangi keluarga kita sebagai menantu laki-laki yang disisipkan ke dalam daun bawang terbalik!”

Chu Qing-Yan tersipu, “Ayah, itu untuk menikah dan tinggal dengan keluarga mempelai wanita. Tapi mengapa ayah tiba-tiba mengatakan ini? “

(menantu laki-laki yang dimasukkan ke dalam daun bawang terbalik: Ayah Chu salah mengatakan ‘daun bawang’ yang seharusnya ‘pintu keluarga wanita’. Secara tradisional seorang wanita menikah dengan rumah suaminya. Tapi di zaman kuno ketika keluarga kaya atau berkuasa hanya memiliki seorang anak perempuan, seorang pria akan menikah dengan keluarga wanita untuk memperpanjang garis keturunan dengan anak-anak yang memiliki nama belakang sisi perempuan keluarga tersebut. Jadi ini berarti laki-laki menikah dengan keluarga perempuan dan mengambil nama keluarga perempuan.)

Orang bisa melihat Ayah Chu dengan bangga mengangkat kepalanya, “Karena Bibi Guo mengatakan bahwa kakek keluarga Li menemukan seorang menantu laki-laki yang disisipkan daun bawang untuk putrinya, dan diperintah-perintah sesuai keinginan putrinya. Jika dia juga sisipan daun bawang terbalik, maka dia bisa membantu Cai Cai memilih sayuran dan mengumpulkan kayu bakar. Selain itu, bantu Ibu Dan cuci pakaian. Dia juga bisa membantu aku menangkap ikan di kolam. Hanya berpikir tentang hal itu membuatku bahagia.”

‘Orang yang disisipkan ke dalam daun bawang terbalik’ di tanah, tidak tahan, dan ujung mulutnya sekali lagi berkedut sedikit.

Chu Qing-Yan ingat bahwa kakek keluarga Li adalah seorang pemilik tanah yang terkenal di Kota Kecil. Namun, Ayah jelas-jelas berpikir terlalu banyak, hanya saja, dia tidak punya metode bagus untuk menghancurkan khayalan Ayahnya. Jika tidak, pada saat itu, dia tidak membantunya membawa orang ini akan menjadi buruk.

“Benar, itu benar. Itulah alasannya!” Chu Qing-Yan merasa bahwa dia sudah semakin ahli berbohong terang-terangan.

Setelah menerima tanggapan setuju putrinya, Ayah Chu melompat setinggi satu meter, tanpa sepatah kata pun, ia mengambil keranjang bambu yang dibawa putrinya dan meletakkannya di punggungnya. Lalu, dia membungkuk di pinggang untuk mengangkat orang itu dai tanah. Setelah itu, dia mendesak, “Cai Cai, cepat-cepat angkat kayu bakarnya, kita akan kembali ke rumah.”

Chu Qing-Yan melihat betapa mudahnya ayahnya mengangkat orang itu dan tidak bisa tidak mengacungkan ibu jarinya. Memiliki ayah yang jenderal itu sangat mengagumkan! Kemudian, dia berbalik untuk mengambil kayu bakar di tanah, dan kedua orang segera bergegas menuruni gunung.

“Cai Cai, aku ingin mendengarkan lagu.”

“Baiklah, Ayah, lagu apa yang ingin kau dengarkan?”

“Harimau besar!”

“Oke, dua harimau, dua harimau, berlari sangat cepat, berlari sangat cepat. Seseorang tidak memiliki mata, yang lain tidak memiliki telinga, sangat aneh, sangat aneh …. “

(Lagu anak-anak dari China)

Lirik kekanak-kanakan dan nyanyian nyanyian yang manis, melayang di antara pegunungan.

Mengatakan bahwa kau sisipan  daun bawang terbalik, jangan segera menyangkalnya. Mungkin akan ada hari dimana kau benar-benar akan menjadi sisipan didaun bawang terbalik!

Orang tertentu tidak akan pernah membayangkan, akan ada satu hari dia akan menjadi ‘kayu bakar hitam besar’, tak berperasaan dan berwajah hitam, yang dingin dari Yama, Raja neraka. Kemudian, ‘terong’, dan sekali lagi, berubah menjadi ‘sisipan daun bawang terbalik’, bahkan dibawa ke pelukan seseorang seperti wanita muda. Terlebih lagi, orang ini, yang membawa dia dengan gaya putri akan menjadi calon mertuanya.

LAC 1. Jiwa-jiwa yang Menyeberangi Semua Tipuan
LAC 3. Orang Dari Keluarga Chu Dengan Niat Tak Jelas

Author: RandomAlex

support us by reading this book only at translateindo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.