LAC 136 – Emosi Orang Tua Itu Tak Terbatas Seperti Hujan yang Lebat

Featured Image

LAC 136 – Emosi Orang Tua Itu Tak Terbatas Seperti Hujan yang Lebat

 

Ketika Xiao Xu mengikuti prajurit Yu Lin ke Istana, gerbang Istana Kekaisaran segera ditutup.

Perlahan Xiao Xu mengikuti prajurit Yu Lin dan beberapa pelayan yang membawanya ke ruang belajar kekaisaran.

Ketika dia tiba di depan pintu ruang belajar kekaisaran, pelayan yang berada di sana mengatakan kepadanya bahwa Yang Mulia Kaisar pergi ke Istana Matahari Terbit dan belum kembali sehingga pelayan itu meminta Xiao Xu untuk menunggu di sini.

Istana Matahari Terbit adalah Istana Selir Yue dan Pangeran Keempat.

Tatapannya menyapu sekitar yang dijaga ketat, lalu dia mengangkat kakinya dan hendak pergi.

“Ying Wang, ke mana Anda akan pergi?” seorang pelayan segera menghalanginya dan bertanya dengan cemas.

“Benwang ingin pergi ke Istana Matahari Terbit untuk mengunjungi adik laki-laki keempat. Kenapa Benwang harus membutuhkan izinmu?” Mata dingin Xiao Xu menyapu.

Pelayan itu ketakutan sampai dia gemetar. Rumor mengatakan bahwa tatapan Ying Wang sangat dingin, satu pandangan akan menakuti seseorang sampai mati. Meskipun rumor yang menyebar itu berlebihan, tapi hal itu ada benarnya.

Tetapi ia diperintahkan untuk membuat Ying Wang tetap berada di sini, jika dia membiarkan Ying Wang pergi, lalu bagaimana dia menjelaskan hal ini kepada Yang Mulia Kaisar nanti.

Seolah-olah pikirannya terlihat, bibir Xiao Xu menyeringai dingin. “Apa? Di matamu Benwang telah menjadi seorang pembunuh keji? Jangan lupakan identitas Benwang. Selama keputusan akhir belum ditetapkan, jika Benwang ingin pergi ke mana pun, kau tidak memiliki hak untuk menghalangi.”

Pelayan itu ketakutan dan segera mundur. Apa yang dikatakan Ying Wang itu benar. Yang Mulia Kaisar hanya memanggil Ying Wang ke Istana Kekaisaran dan belum membuat keputusan akhir. Jadi dia tidak bisa terburu-buru menyinggung Ying Wang, kalau tidak, dia bahkan tidak akan tahu bagaimana dia mati.

Tanpa ada yang menghalangi jalannya, Xiao Xu mengambil langkah besar menuju Istana Matahari Terbit.

Di sepanjang jalan, penjagaan sangatlah ketat. Dia menduga pembunuhan kali ini bukan masalah kecil. Tetapi dibandingkan dengan kecurigaan, dia lebih khawatir dengan kondisi adik laki-laki keempat.

Anak kecil yang suka menggodanya kini telah menjadi dewasa. Tapi perasaan sayangnya sebagai kakak tidak pernah berubah.

Saat dia mengetahui bahwa Xiao Ran mengalami percobaan pembunuhan, jantungnya berdetak kencang karena panik. Dengan kasih sayang dari Kaisar dan Selir Yue, Xiao Xu tidak perlu khawatir dengan keadaan Xiao Ran di Istana. Hanya saja saat membicarakan ‘Harem Istana’ hatinya masih mengkhawatirkan Xiao Ran.

Dia tiba di Istana Matahari Terbit yang terang benderang. Terdapat banyak prajurit yang berjaga di sini. Di pintu Aula Istana, para Tabib Kekaisaran keluar-masuk dengan ekspresi panik.

Xiao Xu berdiri di luar Istana menunggu pelayan menyampaikan pesan bahwa dia ada di sini.

Tak lama dia menunggu, bukan pelayan yang datang, melainkan Yang Mulia Kaisar yang mengenakan jubah kekaisaran berwarna kuning cerah dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Dia (XX) menurunkan suaranya dan bertanya. “Fuhuang, bagaimana kondisi adik laki-laki keempat? Apakah lukanya cukup parah?”

Kaisar Xuan Barat diam-diam menahan kemarahan di dadanya, dadanya bergerak naik dan turun dengan keras. “Serius atau tidak, kau pasti mengetahui itu, bukan? Berani sekali kau datang ke sini!”

Xiao Xu mendengar ini dan ia mengerutkan keningnya. “Fuhuang, sebenarnya, bagaimana kondisi adik laki-laki keempat?”

Sekarang bukanlah saatnya untuk bertanya kenapa Fuhuang selalu bersikap begitu jahat kepadanya. Dia mengkhawatirkan keadaan adik laki-laki keempat. Melihat Fuhuang sangat marah seperti ini, pasti luka yang diderita Xiao Ran tidak ringan.

“Jangan munafik! Jangan berlagak perhatian dengan luka Ran’er!” Di dalam sana dia (Kaisar) tidak tahu apakah putra kesayangannya akan hidup atau mati dan kini saat ia melihat Xiao Xu, amarahnya tiba-tiba meledak.

Fuhuang——” Dia hanya ingin tahu kondisi adik laki-laki keempat.

“Berlutut!” Perintah Kaisar Xuan Barat, tidak mengizinkannya menjelaskan.

Xiao Xu bingung selama seper sekian detik, lalu segera menyingkirkan jubahnya dan berlutut di tanah. Batu-batu bata di awal musim gugur itu cukup kedinginan, tetapi itu semua tidak sedingin hatinya saat ini.

Setelah itu, Kaisar Xuan Barat langsung meninggalkan Xiao Xu yang berlutut di tanah, lalu ia kembali masuk ke dalam Istana Matahari Terbit.

Di dalam, Istana Matahari Terbit geraman Kaisar Xuan Barat terdengar. “Jika Ran’er tidak bisa diselamatkan, zhen akan mengubur kalian semua bersamanya. Apa gunanya zhen menerima kalian sebagai Tabib Istana!”

***

Tiba-tiba Xiao Xu teringat sebuah kejadian di masa lalu, di mana selama tiga bula ia tidak kunjung melihat Yang Mulia Kaisar karena ia (Kaisar) selalu berada di Istana Matahari Terbit untuk merawat adik laki-laki keempat yang sedang sakit. Dia (XX) ingin mendapatkan perhatian dari Yang Mulia Kaisar, jadi dia mandi dengan air dingin setiap malam agar ia masuk angin. Permaisuri pun memerintahkan para pelayan untuk memberi tahu Yang Mulia Kaisar, pada akhirnya ia hanya mendapatkan satu kata, yakni ‘pulihlah’ dari Yang Mulia Kaisar. Pada saat itu, dia tidak mengerti dan hanya berpikir bahwa dia tidak cukup baik sebagai seorang anak. Setelah pulih dari sakitnya, ia memiliki tekad yang kuat, ia belajar dengan giat, berlatih menulis dan seni bela dirinya dengan susah payah. Tetapi ketika api besar itu menyala dan ia berada dalam keadaan antara hidup dan mati, Yang Mulia Kaisar hanya mengunjunginya sebentar, lalu ia (Kaisar) segera pergi ke Istana Matahari Terbit karena Pangeran Keempat yang berusia tiga tahun saat itu memakan sesuatu yang buruk dan sakit perut.

Penerjemah : Xiao Xuuuuuu TvT

Para pelayan, penjaga, dan prajurit kekaisaran yang berdiri di gerbang istana menatapnya (XX) dengan pandangan aneh. Dia, seseorang yang juluki Dewa Perang yang Agung di seluruh bangsa ini, seorang pangeran yang lahir dari Permaisuri, dimaki-maki dan diminta untuk berlutut. Mungkin ini adalah pemandangan yang jarang terlihat sejak berdirinya Kekaisaran Xuan Barat!

Dia (XX) tiba-tiba teringat bahwa ini bukan pertama kalinya ia di hukuman untuk berlutut.

Dan setiap kali hal itu terjadi pasti itu ada hubungannya dengan adik laki-laki keempat.

Muhou mengatakan bahwa pelaku dari semua bencana yang terjadi padanya adalah adik laki-laki keempat tetapi ia tahu, itu bukan dia (XR).

Sebuah kilat menembus cakrawala, seolah menyadari suasana gugup di Istana Kekaisaran. Pada saat yang sama kilat itu menghantam di hati semua orang, menimbulkan ledakan, menggigil, dan ketakutan.

Dengan cepat hujan pun mulai turun.

Rintik hujan menghantam wajah, bahu, tangan dan itu sangat menyakitkan. Namun dia (XX) bahkan tidak merasakan rasa sakit itu, sejak dulu entah itu di musim hujan pada bulan desember atau pun di musim panas saat matahari bersinar sangat terang. Ia sudah terbiasa dengan semua ini.

Di depan matanya, sepasang sepatu bot halus dan mahal muncul dan dia mengangkat kepalanya. Di antara kabut dari hujan lebat, dia melihat Ibunda Permaisuri-nya sangat marah.

Muhou, hujannya sangat deras, Muhou tidak boleh berdiri di sini dan basah.”

“Putraku berlutut di sini, apakah kau pikir Bengong dapat beristirahat dengan tenang di dalam Istana?” Permaisuri Liang tidak bisa menahan amarahnya dan berkata.

Muhou, putra ini tidak berbakti dan membuatmu khawatir.” Air hujan mengalir mengikuti pipi Xiao Xu seolah-olah ia seperti sedang menangis.

“Jika kau benar-benar tidak ingin membuat Bengong khawatir, maka kau harus menjelaskannya kepada Fuhuang-mu. Bersihkan kecurigaannya padamu!” Kata Permaisuri Liang.

Luo Yun yang memegang payung segera menepuk punggung Permaisuri Liang untuk membantunya melepaskan kemarahan di dadanya.

Muhou jangan marah.” Xiao Xu mengerucutkan bibirnya. “Fuhuang masih sangat marah, tidak peduli apa yang putra ini katakan, itu tidak akan berguna. Tunggu sampai keadaan adik laki-laki keempat stabil barulah hal ini dibicarakan.”

“Xu’er apakah kau mau membuat Muhou-mu ini mati karena marah? Dengan kemampuanmu, bagaimana bisa kau tidak dapat menyelidiki kejadian ini? Muhou tidak mempercayainya!” Permaisuri Liang marah dengan gigi yang terkatup.

“Anak ini masih belum tahu situasi keseluruhannya, jadi anak ini tidak tahu siapa pembunuhnya.” Tatapan Xiao Xu sedikit melintas pada akhirnya dia masih menundukkan kepalanya.

“Bagus, bagus, bagus——” Permaisuri Liang mengucapkan tiga kali berturut-turut sebelum menghempaskan lengan bajunya dan pergi.

Tatapan Xiao Xu mengikuti sosok Ibunda-nya yang pergi, hatinya menjadi pahit. Hatinya memang memiliki kecurigaan, tetapi dia tidak bisa——

Ia memiliki hati tetapi ia juga tidak berdaya.

Menghadapi Fuhuang yang sangat percaya bahwa dia adalah pembunuh, maka semakin banyak ia berbicara maka ia hanya akan semakin dicurigai.

Dia mengangkat kepalanya. Istana Matahari Terbit tiga kata ini bersinar di bawah sinar bulan yang bersinar lemah, berkedip dengan bintik cahaya.

Matahari Terbit, dua kata ini adalah kata-kata yang dipilih oleh Fuhuang untuk adik laki-laki keempat, yang mewakili cahaya yang paling terang.

Mungkin dalam hati Fuhuang, adik laki-laki keempat adalah bintang paling terang di hatinya.

Bulan pada tanggal lima belas Agustus sangatlah bulat, menerangi tanah. Cahaya bulan yang terpantul di permukaan air membuat orang-orang merasa sangat dingin.

Penerjemah : Siapa saja dari kalian yang ingin ‘MENAMPOL’ Kaisar?!!!

LAC 135 - Kembali ke Ying Wangfu dan Mengambil Alih Situasi
LAC 137 - Hati Yang Mulia Kaisar Telah Miring

Leave a Reply

Your email address will not be published.