LAC 116 – Kiamat Bagi Roh Kayu Tiba

Featured Image

LAC 116 – Kiamat Bagi Roh Kayu Tiba

 

Setelah melatih Chu Qing Yan selama setengah hari, Roh Bumi merasa agak haus. Kebetulan, teh untuknya telah diletakkan di atas meja batu. Dia tidak curiga dan menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri.

Ayah Chu menonton aksinya dari kejauhan, hatinya sangat gugup menonton adegan ini, juga penuh dengan harapan.

Tepat pada saat ini, seseorang berjalan ke sisinya.

“Apa yang Anda lihat?” Suara yang jelas dan dingin terdengar.

“Menonton Hantu Hitam minum air.” Ayah Chu bahkan tidak berpikir sebelum menjawab.

“Apa yang menarik sampai Anda menontonnya?” Suara yang jelas dan dingin bercampur dengan ketidaksetujuan.

“Karena… hehe” dengan tawa nakal. “Aku memasukkan bubuk cabai panas ke dalamnya!”

Ketika dia selesai berbicara, orang yang duduk di meja batu itu tiba-tiba menyemburkan auman yang berapi-api. “Ahhh——”

Kemudian dengan suara yang berderu, dia berlari keluar dari halaman untuk mencari air!

Ayah Chu mendorong kembali rambutnya yang tertiup angin saat Roh Bumi berlari melewatinya, dan berkata dengan nada penyesalan. “Benar-benar memberi perasaan senang!”

“Membuat masalah!”

Dan hanya pada saat inilah Ayah Chu akhirnya kembali sadar, dia berbalik dan melihat ke arah orang di sisinya. Dia terkejut. “Menantu, menantu, Kau telah kembali!”

“Emm..” Xiao Xu sudah terbiasa dengan hal-hal yang dia lakukan yang mengejutkan orang.

Xiao Xu berjalan ke arah Chu Qing Yan yang melakukan kuda-kuda.

“Gunung Es, kapan Qing Yan benar-benar bisa mulai belajar gerakan bela diri?” Ini adalah pertanyaan yang selalu ingin dia tanyakan.

“Pertama mulai dari dasar, jangan mencoba untuk berlari sebelum kamu bisa berjalan.” Faktanya, Roh Bumi sudah mengatakan kepadanya bahwa berdasarkan kecepatan belajar Chu Qing Yan, beberapa hari lagi dia bisa mulai belajar keterampilan memanah dan pedang.

Chu Qing Yan memberi tanggapan setuju. “Em.. Qing Yan ingin belajar lebih cepat.”

“Tidak perlu terburu-buru.” Xiao Xu berbalik dan duduk di kursi batu.

Ayah Chu juga berjalan di sekitarnya, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu.

“Katakan, ada apa?” Kata Xiao Xu.

Ayah Chu menggaruk kepalanya. “Menantu, Cai Cai masih sangat muda, dan kamu ingin dia belajar bela diri, bukankah dia tidak bisa tumbuh tinggi?”

“Tidak bisa tumbuh tinggi?” Xiao Xu mengerutkan kening.

“Kamu lihat karung pasir yang terikat di kakinya, dia juga punya seember air di kepalanya, bagaimana dia bisa tumbuh tinggi! Dia sangat ditekan sehingga dia tidak akan bisa tumbuh dewasa!” Kata Ayah Chu serius.

Bibir Xiao Xu bergerak-gerak. “Tidak mungkin. Dengan cara ini, dia bisa tumbuh lebih cepat dan lebih baik!”

Ayah Chu selalu percaya kata-kata Daun Bawang Yang Terbalik tanpa keraguan.

“Jadi begitu. Aku selalu berpikir hitam kecil terlalu pendek, saat kembali, aku akan mencobanya!” Ayah Chu memutuskan rencana ini.

Hitam kecil adalah seekor anjing yang dibesarkannya dalam keluarga Chu.

Hitam kecil yang berjongkok di sudut tiba-tiba bersin. Segera, ia dengan waspada melihat sekeliling, tidak melihat siapa pun di sekitarnya, kemudian merasa cukup yakin untuk berbaring dan kembali tidur. Ia mengira Ayah Chu datang lagi, ia ketakutan sampai mati.

Tapi bagaimana itu bisa diketahui, latihan kejam sudah dekat!

Berhubung Ayah Chu berbicara pada dirinya sendiri, Xiao Xu tidak mengambilnya dalam hati.

Hari kedua, Chu Qing Yan melihat bibir Roh Bumi membengkak seukuran sosis, dia benar-benar harus bekerja keras untuk menahan diri agar tidak tertawa.

Roh Bumi benar-benar kesal, pagi ini Roh Api telah menertawakannya. Dalam perjalanan ke sini, dia ditunjuk-tunjuk oleh para pelayan, sehingga kemarahannya hampir mencapai titik didih. Sekarang, melihat Chu Qing Yan yang menahan tawanya itu bagai menambahkan minyak ke api. Jika bukan karena ayahnya, dia tidak akan menjadi seperti ini!

“Tambahkan 2.5kg karung pasir!”

Tangan Chu Qing Yan bergetar, ia ingin menangis tetapi tidak memiliki air mata, menambah karung pasir menjadi 5kg. Sekarang dia membawa 10kg saat berlari!

Menyaksikan Chu Qing Yan yang berlari dengan susah payah, Roh Bumi merasakan kemarahannya lenyap setengahnya!

Kemudian ketika dia melihat Ayah Chu mengambil langkah besar untuk datang berkunjung lagi, Roh Bumi merasakan bibirnya mulai sakit lagi!

Para pelayan saat ini memberikan teh untuk minuman.

Kali ini Roh Bumi dengan bijaksana tidak menyentuh air, hanya memakan beberapa potong kue.

Ayah Chu dengan tergesa-gesa berjalan ke depan putrinya sendiri, lalu dengan senang hati menemaninya berlari.

“Ayah, Ayah harus pergi dan duduk di bawah naungan pohon. Matahari sangat keras!” Saran Chu Qing Yan.

“Tidak, aku ingin berlari!”

Melihat ayahnya sangat bertekad, Chu Qing Yan mengizinkannya melakukan apa yang diinginkannya.

“Berlari dengan bebas, penuh kebebasan adalah jalan yang harus diikuti. Mengejar kekuatan guntur dan penerangan, memasukkan samudra tanpa akhir ke dadaku. Bahkan kapal layar terkecil bisa melakukan perjalanan jauh … ”

Ayah Chu bernyanyi dengan nyaring, di sini Roh Bumi baru saja akan mengejek gaya bernyanyinya yang tidak jelas, tapi semburan gemuruh datang dari perutnya. Segera diikuti oleh rasa sakit, wajahnya menjadi pucat saat dia melihat kue-kue itu. Setelah itu dengan kecepatan tinggi ia terbang, bergegas ke kamar mandi.

“Ayah, apa yang kamu lakukan kali ini?” Chu Qing Yan melihat Roh Bumi pergi seperti angin.

Ayah Chu memiliki wajah penuh kepuasan saat dia berkata. “Obat pencahar, aku menaburkan sebungkus di atas kue kering!”

Sudut mata Chu Qing Yan berkedut. Itu…!

Ayah Chu tersenyum jahat. Si kecil, apakah aku begitu bodoh untuk main-main dengan teh lagi! Sangat bodoh!

Faktanya, di dalam Ying Wangfu, bukan hanya Roh Bumi yang ingin menangis tetapi tidak memiliki air mata. Bahkan Roh Kayu juga seperti itu.

Roh Kayu berada jauh di tepi Sungai Huai Liu ketika dia menerima surat dari Wangye, meskipun dia curiga dengan Wangye memanggilnya untuk kembali, dia tetap bergegas kembali tanpa istirahat.

Awalnya, dia pikir sesuatu yang besar telah terjadi, dia bergegas selama tiga hari tiga malam menguras habis tenaga dua kuda sekaligus. Ketika dia tiba di Wangfu, dia bahkan tidak punya waktu untuk berganti pakaian sebelum pergi menemui Wangye untuk menanyakan apa yang terjadi.

Bagaimana dia bisa tahu misi yang diberikan tuannya adalah membuat mainan yang imut untuk Wangfei Kecil!

Dia bergegas kembali dari tempat yang jauh, hanya untuk ini?!

Roh Kayu segera ingin membuat pertumpahan darah sepanjang satu meter!

Akibatnya, hari ini, Roh Kayu duduk di tangga, satu tangannya memegang pisau, dan tangan yang lainnya memegang balok kayu, memahat, memahat, memahat!

Ayah Chu yang telah berhasil menggoda Roh Bumi lagi, perlahan berjalan mendekat.

“Apakah kau mengupas kayu?”

Roh Kayu mengangkat kepalanya untuk meliriknya. Dia mengenalinya, tidak pernah melihatnya, jadi dia menundukkan kepalanya dan melanjutkan, memahat, memahat, memahat!

“Wow, sungguh menakjubkan, bunga ini terlihat nyata!”

Roh Kayu memandangi bunga gagal yang dibuatnya, lalu melemparkannya ke samping.

“Sayang sekali menyia-nyiakannya!”

Ayah Chu mengambilnya, memberi isyarat sedikit lalu menaruhnya ke kepala Roh Kayu.

Sudut mulut Roh Kayu berkedut, saat dia bekerja, dia paling benci saat orang-orang terus berada di sisinya. Selain itu, orang ini terus menerus mengganggunya, jika dia tidak terburu-buru untuk membuat mainan untuk Wangfei Kecil, dia pasti sudah memberi orang ini pelajaran!

Roh Kayu mengambil bunga kayu di kepalanya, lalu berbalik dan pergi! Entah dari mana orang ini berasal…

Tapi–

“Kau benar-benar hebat. Oh itu benar, selain mengukir bunga, apakah kau tahu cara mengukir hal-hal lain?”

“… ..” Mengabaikan.

“Apakah kau hanya bisa mengukir bunga?” Kembali bertanya.

“……” Kembali mengabaikan.

“Kenapa kau tidak bicara, kau bisu?” Bertanya dengan sopan.

“Tidak.” Kesabarannya habis.

“Ternyata kau bisa berbicara! Selain mengukir bunga, kau bisa mengukir apalagi?” Kembali bertanya dengan sopan.

“……” Lagi-lagi mengabaikannya.

“Jadi ternyata kau hanya bisa mengukir bunga… Tidak perlu malu untuk mengakuinya!” Jelas Ayah Chu.

“Tidak.” Kesabarannya benar-benar habis.

“Jadi seperti itu. Lalu selain mengukir bunga, apa lagi yang bisa kau ukir?”

Sebenarnya dari mana orang yang berisik ini datang! Dan juga siapa dia?!

Roh Kayu tidak bisa menahan amarahnya lagi, belati di tangannya melambai ke arah batu besar di sisinya. Segera, batu itu pecah berkeping-keping!

Awalnya, dia pikir orang di sisinya ini akan takut dan tidak akan terus mengganggunya.

“Wow, ternyata kau bahkan bisa mengukir batu! Lalu apakah kau tahu cara memahat binatang?” Mata Ayah Chu berbinar-binar.

Roh Kayu mencoba melepaskan kemarahan. “Tahu.” Dengan putus asa.

“……”

“……”

Roh Api yang duduk di pohon menyenggol orang di sisinya. “Sepertinya Ayah Chu sudah menggeser targetnya. Sekarang kita hanya harus menghilangkan hawa keberadaan kita!”

Roh Bumi menutup matanya, wajahnya berwarna abu-abu. Jangan bicara dengannya. Setelah berjongkok di toilet selama sehari, dia tidak memiliki kekuatan!

LAC 115 - Perjuangan Mental Roh Bumi ‘ding, ding, ding’
LAC 117 - Peri Kecil Datang dari Langit

Leave a Reply

Your email address will not be published.